Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Sakit



“Sakit!” Lula berusaha menyela niat Frans yang hendak bersuara. Berusaha menahan supaya pria itu tidak menceritakan apapun yang diketahuinya tadi. Dia tersenyum penuh isyarat ketika pria itu menatapnya dengan sorot heran. “Iya, Lula sedikit demam, Yah!” jelas Lula lagi berusaha meyakinkan Rainer.


“Sedikit? Kenapa justru jalan-jalan ke rumah sakit.” Meletakan punggung tangannya ke kening Lula. Pandangannya menajam ke arah Frans, seakan menuntut pertanggung jawaban dari pria itu. “Hati-hati kalau demamnya tinggi, temani Lula terus Frans,” pesan Rainer, dia bisa merasakan suhu tubuh Lula sedikit naik. Gadis itu benar-benar sedang demam.


“Ya, pasti. Dia istriku aku akan menjaganya.”


“Ayah ngapain ke kantin?” selidik Lula, tidak biasanya sang ayah keluyuran di jam kerja seperti ini.


“Lapar, tadi nggak sempat sarapan!”


Tentu saja jawaban itu membuat Lula curiga. “Bunda sakit?”


“Tidak. Cuma tadi bangunnya kesiangan.”


“Tumben bunda kesiangan.” Lula tertawa geli, kompak banget dengan apa yang dialaminya pagi tadi.


Dan Rainer hanya meringis, tidak mungkin dia mengatakan jika istrinya sedang tidak enak badan. Khawatir gadis itu akan menghawatirkan kondisi istrinya, padahal Lula sendiri sedang tidak enak badan.


Rainer berjalan mendekati meja etalase untuk memesan makanan. Sedangkan Lula menatap Frans tajam, seakan-akan dia tengah melemparkan ancaman supaya suaminya itu tidak membongkar apa yang baru saja diketahui.


“Iya, Daddy tidak akan mengatakan apapun,” ucap Frans yang paham dengan keinginan Lula. "Tenang saja, apapun akan aku lakukan demi Lula. Seperti yang sudah Lula lakuin untuk Daddy."


“Udah ada obat penurun demam? Lula biasanya pakai sirup. Dia tidak biasa menelan obat-obat. Kalau pun terpaksa, biasanya pakai nasi hangat baru bisa.”


“Iya, udah, Ayah. Ini hanya demam biasa!” Lula memperingati supaya sang ayah tidak begitu mengkhawatirkan kondisinya.


“Kalau tambah parah, atau kamu tidak bisa mengatasinya. Telepon aku, Frans! Aku stand by 24 jam,” pesan Rainer.


“Tak perlu khawatir. Aku bisa merawat Lula.” Merasa tersinggung, karena Rainer meragukan skill-nya. “Kamu makannya sudah? ayo kita pulang!” ajak Frans. “Kita masih punya janji dengan ART yang akan bekerja di rumah,” sambungnya. Dia ingin terbebas dari situasi tak menyenangkan ini.


Frans menangkap sinyal mematikan yang dipancarkan oleh Lula. Entah untuk apa dia memandangnya seperti itu.


“Mas Frans nggak sopan banget. Nggak tahu kalau ayah mertuamu lagi makan?! Apa perlu aku pesankan makanan lagi supaya menemani kalian ngobrol?”


Frans merasa terpojokkan. Dia pun mengalah, menghubungi seseorang untuk menunda pertemuannya dengan ART yang hendak datang ke rumah. Sejenak fokusnya teralihkan ke layar ponsel. Membalas pesan orang kantor yang masuk ke nomor pribadinya.


“Kamu enggak terlambat haid, kan, Sayang?” Rainer mulai curiga, jangan-jangan demam yang dialami Lula adalah tanda awal kehamilan. Jika benar begitu, gawat dong!


Frans yang semula fokus ke layar ponsel, mendongak menanti jawaban Lula. Dia mendengar apa yang baru saja ditanyakan mertuanya, dan jujur sangat penasaran dengan jawaban Lula.


“Hamil juga tidak apa-apa, kan Yah. Ada suami juga kok.” Lula menjawab santai, ditutup dengan tawa kecil yang membuat Frans semakin bingung.


Sedangkan aktivitas di bawah meja, Rainer menendang keras kaki Frans, seolah menyalahkan pria itu jika Lula beneran hamil. terjadi.


"Sakit, BEGO!" keluh Frans seraya mengusap tulang kakinya. Dia juga bingung, pikirannya mulai memikirkan siapa yang berhasil menghamili Lula? Dari jawaban yang diberikan Lula seakan tidak membantah kabar kehamilannya. Padahal dia belum sempat meniduri gadis itu? Levin? Atau kekasih Lula? Sialan! Isi kepala Frans mulai berisik, menuntut jawaban dari pertanyaan yang mendadak muncul. Rela tidak rela, kalau benar Lula hamil, berarti? Apakah aku akan merawat bayi yang bukan anakku?


Dada Frans bergemuruh, tidak terima karena diselingkuhi Lula sampai sejauh ini. “Emang kamu hamil beneran?” selidik Frans ingin memastikan jawaban Lula.


“Secret! Biar kejutan aja.”


Kan? sialan nih? Gimana bisa aku yang polos begini diminta tanggungjawab atas apa yang tidak pernah kulakukan. Sabar, Frans! Sabar ya! Kenapa malah terjebak begini sih. Keluhan demi keluhan terus mencecar pikiran Frans, hingga Rainer beranjak dari bangku karena sarapannya sudah habis. Bahkan mengabaikan kentang gorengnya yang belum habis dimakan.


“Bayarin punya ayah sekalian!” minta Rainer, lalu berlenggang pergi meninggalkan kantin.


Lula akhirnya terbebas dari tekanan batin. Bibirnya membuang napas lega, lalu menatap lekat ke arah Frans. “Jangan bilang ke Ayah! Ayah itu pelit, selalu korupsi uang yang dikasih kakek ke aku. Katanya untuk masa depan Lula,” kata Lula memperingati.


Frans tidak tertarik lagi membahas itu. Dia harus menemukan jawaban tentang prediksi yang tadi dilontarkan Rainer. “Kamu hamil?”


Lula justru tertawa lepas, dia tidak mengira jika suaminya menganggap serius apa yang tadi dikatakan.


“Hamil sama siapa?” Lula balik bertanya, kemudian beranjak dari bangku, “Udah ayo, kita harus siap-siap mengikuti pemakaman.


“Lula?! Jawab dulu! kalau hamil entah dengan siapapun itu. Artinya selamanya kita bakalan terikat, mereka bakal mengira kalau itu anakku.” Frans berusaha mengejar langkah Lula, dia harus menemukan jawaban dari rasa penasarannya. “Siapa ayah biologisnya, bilang ke daddy!”


Lula tidak menjawab. Langkahnya tetap melenggang keluar dari area kantin, diikuti Frans yang terus mencercanya dengan berbagai kalimat.