Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Tawaran Levin



Raut kesal tergambar di wajah Frans ketika mendapati Levin sudah berdiri di bibir pintu. Baru saja dia hendak beranjak menemui pria itu, menuntut tentang maksud kedatangan pria itu ke rumahnya. Tapi, melihat noda kecemasan yang muncul di raut Levin saat ini, membuatnya mengalah, dia mengerti dan akhirnya membiarkan Levin memasuki kamar Lula.


"Selamat pagi, Om! Waw, baru makan ya? Kebetulan sekali aku juga belum makan," sapa Levin dengan intonasi menggoda, pria itu melangkah mendekati ranjang. Dia ingin tahu kondisi kesehatan Lula saat ini. Jujur sejak kemarin, dia selalu teringat kejadian di mana ia meninggalkan Lula di trotoar, dan mendengar Lula sakit, ia jadi menyalahkan diri sendiri.


Lula yang duduk di ranjang mengikuti gerakan tubuh Levin. Pria itu masih mengenakan seragam sekolahnya. Hal yang membuat Lula, heran karena seingatnya Levin tidak pernah melakukan itu sebelum hari ini tiba. Dia pria teladan, selain pintar dia juga tampan. Jika tidak tampan Lula tidak akan jatuh cinta padanya.


“Makan yang banyak Lula, biar cepat sehat. Nanti kalau kamu sudah sembuh aku jemput deh, kita berangkat bareng ke sekolah!”


Levin seperti bukan Levin yang biasanya. Dia sedikit ramah, memberikan sapaan yang justru membuat Lula heran. Lula melirik ke arah Frans yang masih terduduk di tepi ranjang.


“Daddy ke atas dulu, ya! Ada pekerjaan yang harus Daddy selesaikan.” Frans paham Lula dan Levin tidak nyaman akan keberadaanya. Dia tahu kalau Lula jatuh hati pada Levin dan dia berusaha memberikan waktu untuk mereka berbicara. Mungkin, dengan cara ini mereka berdua bisa lebih akrab lagi.


“Levin! Pastikan bubur ini dimakan dengan baik oleh Lula!”


Levin mengangguk. Dua orang itu kini seperti bukan musuh, berbeda jauh dengan pertemuan Frans dan Levin di depan gerbang.


“Jangan khawatir, Om!” kata Levin, seiring langkah kaki Frans yang berjalan keluar kamar.


Untuk menghindari hal buruk yang bisa saja dilakukan Levin, Frans sengaja membuka pintu kamar Lula lebar-lebar. Selain itu dia juga bisa memantau kondisi Lula saat ini. Lupakan alasan ingin menyelesaikan pekerjaan, itu hanyalah alibi, demi menghindari cecaran pertanyaan dari Lula.


"Mungkin aku bisa meminta bantuan Levin supaya membantu membuat Lula bahagia," gumamnya seraya mendaratkan bo'kongnya di sofa.


Frans justru menghubungi Ibnu, meminta pria itu untuk mengosongkan jadwalnya minggu depan. Ada hal penting yang perlu diurus. Jika Rainer tidak memberitahunya, dan Lula tidak mau mengatakan padanya. Dia akan bertanya langsung pada Priscilla. Dia ingin tahu semuanya.


Di dalam kamar, Levin melangkah ke samping ranjang, tangannya menarik kain gorden yang masih tertutup rapat. Dia sengaja membuka jendela kamar, membiarkan udaranya berganti dengan udara segar.


“Kabarnya tante Cecil gimana? Operasinya? apakah semuanya lancar?” tanya Lula, melihat Levin sudah kembali duduk di sampingnya.


Levin mengernyit heran, bisa-bisanya Lula menanyakan kondisi Tante Priscilla di saat dia sendiri butuh perhatian. Padahal Lula tahu, sejahat apa rencana Tante Priscilla padanya.


“Sudah. Semua berjalan lancar, rahimnya sudah berhasil diangkat. Dan sekarang, tinggal pemulihan.”


Lula meletakan mangkok bubur yang tadi diserahkan Frans padanya. Dia membalas tatapan Levin yang tengah memandanginya lekat. “Sebagai seorang perempuan, aku sangat paham bagaimana sedihnya tante Priscilla saat ini. Sampaikan salam maafku padanya. Karena aku tidak bisa membatu Tante Priscilla. Katakan padanya juga untuk segera kembali. Menjelaskan secara jujur pada Daddy, apa yang sebenarnya terjadi. Tidak akan berakhir baik jika hubungan mereka dimulai dengan kebohongan. Katakan padanya untuk jujur, Daddy pasti paham, mungkin juga ada kompensasi untuk merencanakan pernikahan ulang.”


“Kamu sendiri, gimana?”


“Sudah aku katakan, tidak akan baik jika diawali dengan kebohongan, Levin! Aku membohongi keluarga besar ku, dengan pura-pura mencintainya supaya bisa menggantikan posisi tantemu!" Kata Lula sedikit emosi.


"Jika Tante Cecil benar-benar merebut apa yang kamu miliki saat ini? Apa yang akan kamu lakukan?"


Lula tertunduk dalam, dia belum menemukan jawaban soal itu. Meski dalam pikirannya ingin menyerahkan semuanya. Tapi saat ini, satu pertanyaan mendadak muncul, apa dia bisa sepenuhnya ikhlas?


"Lula, menurutmu arti pernikahan itu apa sih?"


Lula mendongak, kembali melemparkan tatapan ke arah Levin, lalu tersenyum tipis, yang nyaris tak disadari oleh Levin. Tidak mungkin dia memberikan jawaban yang sama dengan kalimat beberapa bulan yang lalu ketika Frans bertanya padanya. Sekarang dia cukup tahu, apa yang penting dalam hubungan pernikahan.


"Dasar utama pernikahan itu adalah cinta. Dua orang yang saling mencintai, menjalin komitmen, berjanji pada Allah saling menjaga hati. Aku dan Daddy tidak memiliki itu. Hari-hari kita justru dihidupkan layaknya hubungan ayah dan anak. Yang satu berusaha melindungi, yang satu merasa nyaman saat berada di sampingnya."


Levin tidak mengira Lula akan menjawab dengan kalimat itu. Padahal dia juga menyiapkan pertanyaan berikutnya jika Lula menjawab dengan sebuah kalimat, bersama, menghabiskan waktu sampai maut memisahkan.


"Apa itu mudah buatku, tanyakan sendiri padamu! Kamu bahkan langsung menolakku hari itu?" Lula terkekeh membuat Levin semakin miris karena tawa Lula tidak seperti biasanya. Dia ingat dengan detail kejadian siang itu, saat dirinya menolak Lula di depan teman sekelasnya. "Enggak mudah, Levin. Kamu tahu penyebab tantemu menikah dengan pria yang pertama? Itu karena Daddy memutuskan hubungan. Daddy kesal karena tahu tantemu pernah mencelakaiku! Padahal aku tahu jelas Daddy masih mencintainya. Daddy patah hati, ia pikir Tante Priscilla akan memohon padanya untuk kembali. Tapi Tante Priscilla justru menikah dengan pria lain. Enam tahun setiap aku bertemu daddy. Aku seperti melihat mayat hidup, tanpa ekspresi. Kamu tahu, aku adalah orang pertama yang merasa paling bahagia saat mendengar mereka berdua akan menikah. Sayangnya harus kembali pupus. Dan aku rasa tawaran Daddy hari itu menguntungkan buatku! Hanya enam bulan, jika semuanya berjalan dengan baik."


Levin menarik napas dalam-dalam, kini keputusannya semakin bulat untuk berada di pihak siapa. "Kamu tidak lelah, membohongi dirimu seperti ini?" Levin kembali melemparkan pertanyaan.


"Bohong?"


"Padahal jika kamu mau, kamu bisa meminta uang pada kakekmu. Jika mereka tahu apa yang kamu lakukan itu bukan untuk diri kamu sendiri, tidak hanya lima juta, bahkan mereka bisa memberimu lebih. Mulai hari ini tanyakan lagi pada hatimu, setiap pagi, setiap waktu, carilah jawaban yang sebenarnya, untuk apa sih kamu ngelakuin semua ini? Benarkah hanya karena uang, atau kamu sudah mengubah perasaanmu pada om Frans? Bukan lagi sebagai ayah!"


"Levin ...."


"Hei Lula, kalau kamu benar-benar tidak mencintainya. Setelah semua selesai, setelah kamu lulus nanti, ikutlah denganku! Kamu bisa memulai kehidupan barumu. STOP mikirin kebahagian orang lain! Mulai saat ini pedulikan kebahagiaanmu sendiri!"


Lula tak berbicara lagi. Sejauh ini, dia belum merencanakan tentang apa yang akan dia lakukan setelah lulus SMA nanti. Padahal belum lama dia mendengar Frans mengatakan jika pria itu tidak akan kembali pada Priscilla. Tapi Lula juga memiliki alasan, itu karena Frans tidak tahu kondisi tante Priscilla saat ini. Jika tahu, mungkin pria itu akan mengubah keputusannya.


"Jadi kamu melawan keputusan tantemu?"


"Aku akan mendukung mana yang menurutku benar."


"Kamu tidak memaksaku untuk hamil dengan daddy?" Tanya Lula lagi.


"Itu hakmu! Aku sudah mengatakan jika itu mutlak keputusanmu, Lula!"


"Kamu akan berada dalam masalah, Vin!" Lula teringat jelas, ancaman yang diberikan untuk Levin jika dia tidak mau melakukan apa yang mereka perintahkan.


"Lebih baik aku yang berada dalam masalah, dari pada menempatkan mu dalam hubungan rumit. Untuk sekarang, jalani apa yang menurutmu tepat. Mereka terlalu egois, mementingkan kebahagian Tante Priscilla. Tanpa peduli denganmu. Oleh karena itu stop mikirin kebahagian mereka!"


"Tapi, Tante Priscilla tidak bisa punya anak."


"Kalau mereka saling mencintai, anak bukanlah prioritas utama! Mereka usianya aja yang banyak, tapi pikiran tetap jauh lebih dangkal dari yang seharusnya."


“Lupakan sejenak masalah tante Priscilla, fokus pada kesembuhanmu saat ini.” Levin berusaha menasehati Lula, dia tidak ingin membuat Lula memikirkan tentang tantenya yang egois itu. Dia tahu tantenya sudah salah, tidak berkata jujur dan membuat Lula terlibat dari masalah ini.


“Sembuh dulu, nanti kalau sudah sembuh aku janji ngajakin kamu nonton film.” Levin berkata tegas.


Lula menggeleng, menolak tawaran Levin. “Aku takut nanti saat kita sedang asyik menonton, dilabrak sama pacarmu. Bisa celaka, disebut kecil-kecil jadi pelakor. Padahal kan enggak!”


Levin tidak merespon, dia mengambilkan air putih di atas meja. Memberikannya kepada Lula. Obrolan mereka berubah topik, sedikit demi sedikit mulai mencair, hingga menimbulkan tawa dari bibir keduanya.


Frans yang berniat masuk ke kamar Lula, sampai harus menghentikan langkahnya di bibir pintu. Dia justru menikmati wajah Lula yang sedang tertawa lepas bersama Levin.


"Aku semakin yakin menarik Levin untuk masuk dalam kehidupan Lula!" Frans menatap Levin lekat, dia bisa melihat cara pandang Levin kepada Lula, benih cinta mulai menguncup di sorot matanya. Dia bisa melihat itu, dari perlakuan Levin yang begitu lembut.


Tapi sayangnya, Frans sendiri tidak bisa menyadari apa yang saat ini dirasakan. Antara rela dan tidak rela, siap tidak siap jika suatu hari nanti Lula benar-benar meninggalkannya.