Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Tisu Majic



“Kita ke kantor Daddy dulu. Kebetulan ada hal penting yang harus Daddy selesaikan,” ucap Frans menyambut Lula yang baru saja duduk di sampingnya.


Setelah menunggu hampir tiga puluh menit, dari yang hanya mobilnya sendiri lalu beberapa mobil melewati, hingga saat ini sudah sepi lagi. Akhirnya gadis yang dinantikan sudah berada dalam pengawasannya. Padahal dia sudah hampir keluar dan menyeret Lula pulang.


“Antar aku ke rumah sakit dulu, Dad! Aku mau jemput kakek!” Lula menolak saat teringat janjinya dengan Ken.


“Tidak bisa. Jamnya sudah mendekati deadline. Kamu mau Daddy kehilangan proyek? Lagian di sana sudah ada Rainer sama Zahira, jadi jangan terlalu dipikirkan!”


“Daddy, tapi aku harus ke rumah kakek, aku juga sudah janji sama—" tunggu- tunggu! hampir saja aku keceplosan. Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku sudah membuat janji dengan Elkan.


Frans yang menyadari sikap Lula turut menimpali, "Janji dengan siapa?!"


“Tidak! Aku … aku kan, udah janji sama kakek mau datang dan menginap. Gitu maksud Lula!”


“Telepon Kakekmu sekarang juga. Pasti dia paham kalau suami lebih berhak atas apapun yang hendak dilakukan istrinya! Toh Daddy nggak ngelarang kamu pergi. Daddy cuma ingin kamu nungguin Daddy kerja sebentar saja. Terus nanti Daddy anterin!”


Frans kembali fokus menyetir. Sungguh melelahkan sekali membujuk Lula ini. Tujuannya satu tidak ingin kencan pertama Lula dan kekasihnya itu berhasil. Dan akan terjadi kencan di hari setelahnya. Jadi dia memilih membawa Lula ke kantornya, terserah dia mau apa yang penting kencan itu harus batal.


Lula yang duduk disamping kemudi hanya bisa pasrah. "Jangan lupa gajiku ditransfer ya, Dad!" kata Lula seraya memejamkan mata.


"Apa iya uang kemarin sudah habis? kok cepet banget."


Lula pura-pura terlelap, dia memilih diam dari pada nanti salah bicara dan membuat rahasianya terbongkar.


"Lula?! jangan pura-pura! Daddy tanya kamu, serius!" desak Frans, ia heran baru beberapa hari yang lalu ia mengirimkan lima juta kepada Lula masih sudah habis.


"Kalau begini caranya, Daddy ngasih uangnya saat kontrak kerja kita selesai saja!"


Meski sedikit takut dengan ancaman Frans, tapi Lula tidak merespon. Dia justru bertingkah, membuat suara ngorok yang terdengar begitu keras.


Frans yang memiliki segudang ide di pikirannya, mencoba menarik perhatian Lula. Dia sengaja menginjak remnya secara mendadak. Bahkan kening Lula nyaris membentur dasboard. Ternyata ide Frans begitu cemerlang, gadis itu kini sudah membuka matanya lebar. Pandangannya menatap kesal ke arah Frans.


"Lap dulu ilernya!" perintah Frans, memberikan tisu basah kepada Lula.


Bulu mata Lula berkedip berulang kali, berusaha meyakinkan diri jika Frans benar-benar memberikan kemasan tisu basah itu padanya.


"Tisu majic?! Daddy mau buat bibir Lula menegang?!"


Kini Frans yang dibuat bingung, bisa-bisanya Lula tahu manfaat tisu majic? Jangan-jangan gaya pacaran Lula sudah—oh, tidak Rainer rupanya sudah kecolongan! gerutunya dalam hati.


"Hei anak kecil! tahu dari mana tisu majic buah negangin?! emang itu aja manfaatnya? itu mengandung antiseptic, siapa tahu kan kamu belum gosok gigi, terus jigongnya banyak kumannya, sekalian kan dibunuh."


Lula diam seraya menatap Frans lekat. Lalu bertanya, "Apa Daddy pasang CCTV di dalam kamar mandiku? kok tahu aku belum gosok gigi?!"


"Iya, penyadap juga ada!" ketus Frans mulai lelah menghadapi sikap Lula.


"Penyadap apaan? Aku tahunya penyedap masakan. Ow, Dad mau ngasih aku penyedap gitu? iya sih tadi pagi aku lupa ngasih penyedap ke masakan."


Astagfirullah, capek ya Allah. Perubahan kecil dalam kehidupan Frans setelah menikah dengan Lula. Pria itu lebih religius, sering menyebut nama Penciptanya, ketika mendapati sesuatu yang tidak dikehendaki. Contohnya sikap gadis di sampingnya ini.


"Dad?!"


"Sudah diam! bisa berubah putih semua rambut Daddy!" nyerah, tidak penasaran lagi dengan keberadaan uang 50 juta yang sudah diberikan kepada Lula.


Dalam hati Lula mulai lega, akhirnya dia terbebas dari pertanyaan mematikan itu. Di dalam mobil Maserati milik suaminya, Lula berusaha menikmati perjalanan, menatap kemacetan dari balik kaca jendela.


Tiba di area parkir VVIP kantor Pagara Group, Lula mendadak ragu untuk turun. “Daddy, kalau ada orang bertanya tentang statusku, aku harus jawab apa?”


“Tanya soal apa?”


“Soal hubungan kita.”


“Mereka tahunya, kamu anak sahabat Daddy. Jadi jangan berpikir aneh-aneh.” Frans menjawab sebelum turun dari mobil. Dia berdiri di depan kap mobil menunggu istri kecilnya itu keluar.


“Tapi Mas Ibnu tahu tentang statusku.” Lula ragu Ibnu bisa menyuntikan semuanya.


“Ibnu berada di pihakku, dia tidak akan melakukan apapun jika tidak kuminta. Sudah lebih baik kamu bersikap seperti biasa! Kita pura-pura-nya kalau di depan keluargamu dan keluarga Pagara saja! Supaya mereka mengira kita itu benar-benar jodoh!”


Lula melangkah saat tangan pria itu menariknya. Dia mengikuti langkah Frans yang berjalan menuju pintu lift.


“Emma, panggilkan OB ke ruanganku!” Frans memberi perintah pada pegawai yang berpapasan dengannya.


Lula memang pernah mendatangi kantor Frans. Tapi itu dulu, saat masih ada tante Priscilla. Tepatnya lima bulan yang lalu, saat Frans belum menempati ruangan ini. Dulu ruangannya tidak semewah sekarang. Hanya saja kelengkapannya nyaris sama, memiliki perpustakaan kecil, kamar pribadi.


Bahkan memorinya mengingat dengan baik saat tante Priscilla dan Daddy Frans masuk ke kamar. Anehnya, dia hanya diminta duduk di sofa, menunggu dua orang itu selesai ber-cinta.


Astaga, ternyata aku benar-benar bodoh! batin Lula.


“Duduk atau mau tiduran dulu di kamar!” Frans menunjuk ke arah pintu kamar yang berada di sudut ruangan.


“Duduk saja!”


Frans yang mendengar jawaban Lula, mulai mengambil duduk di balik meja kerjanya. Kembali sibuk dengan pekerjaan yang sempat ditinggalkan hanya untuk menjemput istrinya.


Sedangkan Lula, dia tengah berbicara dengan OB yang tadi dipanggil Frans. “Gado-gadonya enak nggak?” tanya Lula.


“Lumayan, sih, Mbak!”


“Ah, tapi aku nggak mau. Beliin pizza aja. Sama lemon tea.”


“Baik, Mbak!”


Frans yang mendengar obrolan mereka hanya melirik saja. Lalu membiarkan pria itu pergi untuk membawa pesanan Lula.


Suasana ruangan Frans benar-benar tenang. Lula paham kalau Daddy nya itu tidak bisa diganggu saat bekerja. Jadi dia memilih sibuk mengirim pesan ke nomor Elkan. Memastikan jika mereka akan bertemu di rumah kakek Ken tepat pukul tujuh.


Sepertinya, acara chatting Lula dan Elkan berlajut. Terbukti gadis itu masih saja terkekeh setelah membaca pesan singkat yang masuk ke nomornya. Suara tawa Lula semakin keras, membuat telinga Frans mulai panas karena suara itu tak kunjung berhenti.


“Mandi sana, udah sore!” perintah Frans.


“Nggak bawa baju ganti, Dad!”


“Ada itu di lemari.”


“Ogah, pakai bekas tante Priscilla.”


“Baju Cilla tidak ada di sana, ada tu di ruang bawah lantai dua, mau?”


“Bo’ong!”


“Ya, sudah. Pokoknya mandi, terserah mau ganti atau nggak yang penting mandi.”


“Ayo pulang saja! Daddy udah selesai kan?” protes Lula, yang sudah mulai jengah, terlebih saat ini jarum jam sudah menunjukan pukul empat, dia tidak kencan perdananya dengan Elkan batal.


Frans yang semula terlihat santai kembali menatap layar laptopnya. “Pekerjaan Daddy belum selesai!”


“Daddy sih, kerja apa nggosip!? Dari tadi nggak kelar-kelar,” cibir Lula, kesal.


“Emang Daddy kamu! suka nggosip!” sanggah Frans, merasa kesal. Dia kembali diam, dan saat melirik ke arah Lula, gadis itu berjalan ke arah pintu kamar.


Setelah mandi, Lula kembali berbaring di kursi sofa. Suhu rendah dari pendingin membuat rasa kantuknya menyerang. Dia kembali terlelap menunggu Daddynya selesai bekerja.


Sayangnya, tidak ada yang membangunkan Lula ketika Elkan meneleponnya. Frans justru menerima panggilan dari Elkan.


“Saya daddy-nya Lula. Mohon jangan menelepon lagi karena gadis itu sudah tidur. Kamu bisa berkencan dengannya lain waktu.”


“Gitu ya, Om?! Ya, sudah .. untung aku belum berangkat.”


“Hm, nggak usah berangkat!” jawab Frans tegas, seraya melirik ke arah Lula yang masih tertelap.


Baru saja panggilan dari Elkan ditutup oleh Frans, kini justru ponselnya yang kembali berdering. Saat ia menarik ponselnya dari saku jas celana tertera nama Rainer di layar.


“Lo dimana woey, mertua gue udah nungguin! Dasar menantu nggak guna!” maki Rainer dari ujung panggilan.


“Masih di kantor.” nggak guna gimana, gue baru saja nyelamaetin Lula dari kencan pertamanya.


“Buruan istri gue keburu ngambek, lihat putrinya enggak datang-datang.”


“Tunggulah! Lula sudah tidur, jadi butuh waktu untuk mengangkat tubuhnya.”