Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Tugas Ibnu



Marah, kesal, sedih adalah bentuk luapan emosi dari diri Frans saat ini. Dia termakan oleh argumen, yang menuduh istrinya tanpa bukti, menelan bulat-bulat apa yang dikatakan Priscilla hari itu. Dia sudah lama mengenal Priscilla, tahu gelagat gadis itu antara berkata jujur dan bohong. Dan kemarin, pertemuan tanpa sengaja dengan Lula, seolah bukti konkrit dari ucapan Priscilla.


Siapapun yang berada di posisi Frans saat ini, mungkin akan melakukan hal yang sama, menuntut penjelasan dari Lula! tapi bukannya penjelasan yang didapat, melainkan sikap diam dan bingungnya Lula. Gadis itu tengah berpura-pura polos, tidak tahu menahu makna dari ucapannya. Dan Frans berjanji tidak akan percaya lagi.


Dari bangku kemudi Frans memukul stir begitu kuat. Sayangnya emosinya tidak berkurang sedikitpun, dia justru semakin emosi saat melihat Lula berbicara dengan Levin.


"Awas saja kau, Lula!"


Dendam Frans semakin membara. Dia tidak bisa begini terus. Dia harus membicarakan ini dengan Lula, secepatnya. Andai hari ini Lula sedang tidak latihan ujian, Frans akan menarik lengan gadis itu dan membawanya kabur.


Melihat Lula sudah memasuki gedung sekolah, Frans menginjak pedal gas mobilnya dalam-dalam. Dengan kecepatan tinggi dia mengemudikan mobilnya menuju kantor.


Tangan Frans begitu lincah memainkan klakson, meminta orang yang menghalangi jalannya untuk menyingkir. Tak ada toleransi sedikitpun terhadap pengguna jalan lain.


“Semua wanita memang tidak ada yang bisa dipercaya, semuanya bedebah!" umpatnya kesal. "Apa kabarnya dengan Rainer, jika tahu tentang semua ini! apa dia akan memukulku?! Atau dia yang akan menghukum Lula?!” gumamnya seraya menggeleng kepala.


“Sialan! Kenapa pikiranku justru dipenuhi gadis itu!” Frans semakin emosi, tangannya kembali memukul stir kemudi sampai menimbulkan suara klakson yang terdengar begitu nyaring. Dan apa yang dilakukan, membuat semua orang yang berhenti di lampu merah, terkejut.


"Dasar orang kaya! kalau nggak sabar silakan terbang! atau sekalian lewat jalur langit!" begitulah kalimat umpatan yang tak mampu didengar oleh Frans, mereka menggerutu karena sikap Frans yang semena-mena terhadap pengendara lain.


Andai lampu merah belum berubah menjadi hijau, Frans akan turun, dan memukul pengendara pria yang menatap tajam ke arah mobilnya. Seolah menantang, dirinya untuk keluar, dan beradu kuat. Beruntung Frans masih bisa sabar, melupakan tatapan tajan pria yang tak dikenalinya itu


Tiba di gedung kantor, untuk pertama kalinya Frans menginjakan kaki setelah beberapa hari absen. Pandangan dari pegawai yang dilewati seakan mengulitinya, paham jika sang atasan kini sedang bad mood.


Sembari berjalan ke arah ruangan, Frans tak luput berucap dengan suara kasar, memberikan tugas apapun saat melewati divisi mana saja yang dilewatinya.


“Buatin saya kopi, tanpa gula!” sarkasnya ketika melihat seorang OB tengah membersihkan kaca. "Jangan pake lama!" imbuhnya. Tanpa menunggu jawaban, Frans terus melangkah, tangannya membuka pintu ruangan Ibnu yang saat ini dilewati, tanpa melangkah masuk dia memberi perintah supaya Ibnu datang ke ruangannya.


Sembari menunggu Ibnu datang, Frans berdiri di samping jendela. Mematikan api ke ujung rokok yang baru saja dikeluarkan. Sejenak ia menikmati aroma tembakau yang baru saja terbakar api. Hingga pintu ruangan didorong pelan oleh Ibnu, Frans baru mengambil duduk di singgasananya.


Tanpa diminta Ibnu mulai menjelaskan agenda hari ini, seperti biasa yang setiap hari ia lakukan saat sang bos baru saja tiba. “Nyonya besar meminta saya untuk mengosongkan jadwal Anda hari ini, Pak!”


Frans mengernyit, bingung dengan laporan Ibnu hari ini. “Alasannya?!”


“Nyonya besar memajukan acara peresmian jabatan. Dan acaranya akan diadakan nanti malam!” Ibnu berusaha menjelaskan dengan hati-hati, takut berita yang disampaikan akan semakin menyulut emosi atasannya.


“Eyang bahkan tidak memberitahuku! Padahal tadi kita bertemu.”


“O, ya?” Ibnu merasa heran, tidak seperti biasanya Nyonya besarnya itu, bersikap demikian, merubah jadwal tanpa berunding dulu dengan cucunya.


Frans tahu acara itu, tapi masih dalam kurun waktu satu Minggu lagi. Yang sekarang ia tanyakan, ada apa dengan Eyang? kenapa dia memajukan acara itu? “Jadi hari ini tidak ada agenda apapun?”


Ibnu menganggukkan kepala. "Benar, Pak!" Ibnu menegaskan lagi.


“Baguslah, jadi aku bisa mengurus kucing liarku itu!” gumam Frans lirih.


"Bagaimana, Pak?" Ibnu berusaha bertanya, karena suara Frans tidak begitu jelas.


“Gimana dengan tugas yang aku berikan padamu?!” Frans mulai bisa mengatur emosinya.


“Tugas, yang mana, Pak?" Ibnu balik bertanya, perasaan dia sudah menyelesaikan tugas yang diberikan atasannya itu.


Frans bersikap hati-hati. Dia tidak ingin Ibnu curiga tentang apa yang saat ini dirasakan. “So—soal Lula! Kamu sudah mendapatkannya, kan? atau kamu lupa karena sibuk dengan tugas kantor?!” cecarnya, emosinya kembali naik saat melihat reaksi Ibnu bahkan kini dia sudah berdiri di depan Ibnu.. “Dasar! Nggak ada aku, kamu seenak jidat sendiri! walaupun itu bukan tugas kantor, apapun yang aku minta harus kamu lakukan, paham?!” Frans mengangkat telunjuknya ke arah wajah Ibnu. Aura murka tergambar jelas di wajah Frans saat ini dan itu sulit sekali dikendalikan.


“Mau alasan apalagi, KAMU!” sentak Frans, menyela, saat bibir Ibnu terbuka hendak menjawab. “Aku enggak mau tahu, cari informasi apapun yang sudah dilakukan oleh Lula dan Levin! Secepatnya!” semakin panas saat membayangkan bagaimana pertemuan Levin dan Lula beberapa menit yang lalu.


“Pak!” panggil Ibnu.


Napas Frans naik turun, heran dengan semua orang yang ditemuinya hari ini yang selalu membuatnya naik pitam.n "Jangan beri aku alasan apapun! cepat selesaikan apa yang sudah aku minta padamu!" sentak Frans.


“Pak, saya sudah menyelesaikan tugas itu! Dan sudah saya laporkan melalui email!”


Frans terdiam, hanya matanya yang bekerja seakan mencari makna kejujuran dari ucapan Ibnu.. “Email? Apa tidak bisa kamu bicara langsung padaku?! Kuotamu habis? Hah!” sarkasnya semakin emosi. Padahal, dia tahu itu adalah kesalahannya yang mengabaikan informasi apapun dari media elektronik, karena kemarin sibuk mencarikan dokter psikolog untuk Priscilla.


“Saya khawatir telepon saya menganggu kebersamaan Bapak den—


“Tutup mulutmu! Hitungan ke lima kamu harus segera keluar dari ruanganku!” kata Frans, kembali ke tempat duduk semula. “Satu …


Belum juga hitungan ke tiga, Ibnu sudah keluar dari ruangan kerja atasannya. Frans menilik ruangan Ibnu dari cctv, melihat pria itu sudah masuk ke ruangan dia menghubungi pria itu melalui sambungan interkom.


“Jangan ada yang masuk ke ruanganku. Siapapun itu!” peringkatnya, dengan tegas.


“Baik, Pak!”


Frans menutup sambungan interkom. Bersiap mencari email yang kemarin dikirimkan Ibnu. Karena banyak sekali email yang masuk, dia perlu menemukan nama Ibnu di daftar email baru. Hingga ketika sudah menemukan Frans lekas membuka email itu.


Frans mengulangi beberapa baris kalimat yang disampaikan Ibnu.


Nona kecil menolak tawaran Levin. Bahkan Levin sendiri yang mengatakan jujur itu pada orang suruhan saya.


Di buku tabungan nona kecil memang ada mutasi uang masuk. Sejumlah 100 juta, tapi itu dari pak Ken Adhitama.


Frans memperbesar lampiran yang dikirim Ibnu. Yang berisikan foto buku tabungan beratas namakan Lula, Frans melihat saldo buku tabungan Lula yang menyisakan 75 juta.


“Apa kemarin dia menggunakan uang itu?”


Frans menjambak rambutnya cukup kuat. Jelas di sini berarti Priscilla lah yang menginginkan dirinya berpisah dengan Lula. Dia yang sudah memutar balikan fakta itu, hingga membuat Lula yang menjadi kambing hitam di sini.


Frans terbayang dengan sikapnya pada Lula beberapa menit yang lalu. Sungguh dia menyesalinya saat menyadari kesalahan yang sudah dilakukan. “Aku harus datang lebih awal untuk menjemputnya.”