Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Wajah Ini Lagi



Hari ini, Frans begitu sibuk dengan pekerjaan di kantor. Dia tidak bisa menyerahkan tugasnya pada Ibnu, mengingat yang hendak dikerjakan adalah proyek besar dari perusahaan Pion Group.


Semakin tinggi jabatan yang dipegang Frans, semakin tinggi pula tanggungjawab yang harus dilaksanakan. Frans harus berjuang mempertahankan proyek sebelumnya, sekaligus menemukan klien baru untuk bekerja sama dengan perusahaan Pagara. Bukan hanya demi keuntungan keluarga. Melainkan, untuk ratusan pegawai yang bernaung di bawah nama Pagara.


Dan pekerjaan hari ini sungguh melelahkan, Frans harus pergi ke luar kota untuk meninjau lahan yang hendak dikerjakan. Belum lagi menemui CEO dari Pion Group, hingga dia sendiri lupa menanyakan kabar Eyang Ano pada Bu Juned.


Pukul delapan lewat lima menit, Frans dan Ibnu baru saja tiba di area rumah sakit. Mereka berjalan bersisian, menelusuri koridor rumah sakit. Langkah Frans tampak tergesa begitupun dengan Ibnu, mereka tidak sabar untuk menemui eyang, meski sebenarnya Frans tahu di jam segini sang Eyang sudah terlelap.


“Kamu antar bu Juned pulang! Malam ini aku akan tidur di rumah sakit.” Frans sudah merancang tugas untuk Ibnu, ketika langkah mereka sudah tiba di depan pintu ruangan Eyang Ano.


"Siap, Pak."


Begitu tangan Frans mendorong handle pintu, pandangannya disuguhi tubuh Lula yang terlelap di atas kursi. Tangan gadis itu menggenggam telapak tangan eyang Ano. Sedangkan kepalanya sudah terkulai di tepi ranjang.


“Sejak kapan dia di sini, Bu?” tanya Frans, cukup terkejut mendapati Lula berada di samping eyang Ano. Andai dia tahu Lula berada di rumah sakit, ia tidak akan pulang selarut ini.


Bu Juned sendiri tidak mengabari jika ada Lula di sini. Jadi menurutnya, ini adalah kejutan yang mampu mengusir sedikit rasa lelahnya.


“Dari pagi, Pak! Pukul 9 kurang dikit, nyonya Lula sudah datang,” jelas Bu Juned.


“Apa dia sudah makan?” tanya Frans, lagi.


Bu Juned mengangguk. “Tadi nyonya sempat izin ke kantin, katanya mau makan.”


Setelah cukup puas dengan jawaban Bu Juned, Frans memberi isyarat pada Ibnu untuk mengantarnya pulang. “Besok jangan lupa bawakan aku baju ganti,” pesan Frans sebelum Ibnu dan Bu Juned pergi.


"Baik, Pak," sahut Ibnu. Lula menuntun Bu Juned keluar ruangan.


Setelah memastikan dua orang itu sudah pergi. Frans melangkahkan kakinya mendekati kursi yang ditempati Lula. Netranya memandangi eyang dan Lula bergantian. Lalu tersenyum tipis saat melihat simpul ikatan rambut yang dikenakan Lula. Tangannya sudah gatal melihat rambut Lula tampak acak-acakan. Sialnya, itu sama sekali tidak mengurangi sisi cantiknya.


Frans berjalan mundur, mengambil jas- yang tadi sempat diletakan di punggung sofa. Kemudian, menutupkan jas itu ke tubuh Lula. Sebenarnya dia ingin memindahkan tubuh Lula ke sofa. Tapi dia khawatir Lula justru terganggu saat dia melakukannya.


Frans cukup lama memandangi wajah Lula, bungkam sembari berulangkali meyakinkan diri; apa benar, aku mulai jatuh cinta pada gadis kecil ini? Apakah yang kurasakan bukan kasih sayang kepada Lula seperti biasanya? Sejujurnya, aku merasa kehilangan. Hari-hariku terasa hampa saat kamu menjauh, La. Tapi apa pantas Daddy bilang cinta ke kamu? Bukankah kamu juga berhak mendapatkan pria yang jauh lebih muda dariku. Bukan pria yang seumuran ayahmu! Dilema sekali Frans saat ini. Cinta, tapi sulit untuk mengungkapkan.


Menyadari gerakan tubuh Lula, Frans perlahan menjauh dari kursi, berjalan mundur menuju sofa, lalu merebahkan tubuhnya di sana. Dia tidak ingin Lula tahu jika sedari tadi ia menunggunya terlelap.


Lula tampak kebingungan saat matanya terbuka lebar. Aroma parfum yang sudah dihapal membuat matanya terbelalak. Dia meraih jas yang menutupi di tubuhnya. "Daddy," ucapnya dengan suara lirih. Ia berusaha mencari keberadaan pria itu, berharap pria itu tidak akan mengusirnya.


Saat melihat Frans sudah terlelap di sofa, Lula beranjak dari kursi. Dia mengembalikan jas pria itu, dengan menutupkan ke tubuh suaminya. Bibirnya tersenyum simpul melihat Frans begitu nyenyak di sofa.


Akhirnya melihat wajah ini lagi! Lula menghela napas lega. Sudah satu Minggu ini wajah pria itu selalu mengotori pikirannya. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, karena dia sendiri belum paham kemauan dirinya.


“Apa Daddy sudah makan?! Kenapa datang nggak bangunin aku?!” tiba-tiba saja Lula teringat ucapan eyang Ano tadi pagi. Tentang suaminya yang sering mengabaikan sarapan.


Lula memutar pandangannya ke arah sekeliling, tak lagi menemukan keberadaan bu Juned di dalam ruangan itu. Setidaknya jika ada Bu Juned dia bisa bertanya apa pria itu sudah makan atau belum.


“Izin tidur di sini ya, Dad! satu malam saja?” Lula bermonolog, sama sekali tak berharap jawaban dari Frans. Dia terpaksa tidur di rumah sakit. Tidak mungkin dia meninggalkan eyang Ano di sini sendirian.


“Iya! sudah sana! tidur di kamar mandi atau di kursi!” Lula pura-pura berperan menjadi Frans. Lalu terkekeh saat menatap wajah polos pria itu. Terlihat menggemaskan dengan bulu-bulu tipis di dagunya.


“Apa Daddy kangen Lula?” hembusan napas kasar Lula lakukan. “Aku berharap saat menulis jawaban soal latihan ujian tidak salah menuliskan nama Daddy. Jangan tertawa ya!” Lula memasang wajah marah, lalu dengan drastis suasananya berubah menjadi sedih. “Setiap saat aku selalu memikirkan mu, Dad! aku sudah meyakinkan diri jika ini tidak wajar! Tapi, hatiku ngeyel banget! Aku bingung harus gimana? Daddy pasti juga sudah bahagia dengan tante Priscilla, kan? Tidak papa, aku bisa mengatasinya, meski mungkin akan membutuhkan waktu yang lama.”


“Semoga Daddy bahagia ya? Selamanya bersama dengan wanita yang daddy cintai. Biar Lula sendirian, berjuang menghilangkan perasaan ini.” Setelah puas mengatakan itu Lula mulai menjauh dari sofa, melangkah menuju toilet untuk sekedar mencuci muka.


Sedangkan di atas sofa, perlahan Frans membuka mata saat mendengar suara pintu kamar mandi tertutup rapat. Bibirnya tersenyum simpul mengingat setiap kalimat yang diungkapkan Lula.


“Dia berharap nggak salah menulis namaku di soal ujian? Apa dia juga kacau?” bibir Frans semakin tersenyum lebar, ucapan Lula terus terngiang-ngiang di kepala.


Dia buru-buru memejamkan mata saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Dia tidak ingin Lula menyadari jika dia tidak tidur. Sepertinya dia perlu tempat yang tepat untuk mendengar pengakuan Lula.