Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Tidur Serumah



Suasana pagi hari terlihat begitu khas dari balik jendela yang ada di dalam kamar Lula. Sinar mentari yang menyorot malu-malu, jendela kaca yang mengembun, serta kicauan burung gereja di luar sana, mengiringi gerakan tangan Lula yang tengah sibuk mengikat rambut panjangnya. Hari ini Lula, mengenakan ikatan rambut warna hijau, serasi dengan tali sepatu yang akan ia kenakan untuk pergi ke sekolah.


Lula mende*sahkan napas ke udara. Tubuhnya masih terasa begitu lelah, sendi-sendinya terasa nyeri akibat kelelahan perjalanan kemarin bersama Zola. Lula merasa waktu istirahatnya semalam terlalu singkat, baru saja dia terlelap, tapi suara teriakan sang bunda sudah memenuhi area kamarnya. Berteriak membangunkannya untuk lekas mandi dan pergi ke sekolah.


Setelah selesai dengan urusannya, Lula berjalan ke lantai satu, berniat untuk sarapan bersama anggota keluarganya.


Namun, suasana pagi ini terasa begitu berbeda. Ia Bahkan tidak menemukan Ben di meja yang biasa adiknya tempati.


“Sepi banget, Bun? Ayah ada operasi dadakan ya?” tanya Lula, saat Zahira mengambil duduk di sampingnya.


“Enggak! Tuh lihat!” Zahira menunjuk ke teras belakang, di mana ada Rainer dan Frans yang tengah duduk bersama.


Pandangan Lula mengarah ke area taman, seketika dia melihat Frans yang tengah menegangkan pakaian Rainer. Tatapan Lula menilai ke arah pria itu. Terlihat berbeda dengan celana selutut dan kaus warna putih. Sedangkan di tangannya, terselip batang rokok yang masih mengepulkan asap. Lula kembali menatap Zahira.


“Daddy Frans tidur sini, Bun?” selidiknya penasaran.


“Iya. Tidur di kamar adikmu. Ben semalam ikut Zola, dan pagi ini berangkat dari sana.” Zahira menjelaskan singkat.


Semalam, setelah Zola mengantarnya pulang, Lula memang tidak keluar kamar lagi. Jadi, tidak tahu jika pria itu datang ke rumahnya, apalagi Ben yang ikut pergi bersama Zola.


“Sebenarnya mau jemput kamu! Tapi kamu sudah tidur, jadi bunda meminta dia pulang. Eh, karena Frans datangnya kemalaman ayah kamu justru mengizinkan dia tidur di kamar Ben.”


Lula tak merespon dia buru-buru mengambil sarapannya karena jam masuk sekolah semakin dekat. “Aku nanti dianterin Ayah, kan, Bun?”


“Coba tanya sama ayahmu! Dari tadi mereka asyik banget ngobrolnya. Ngeselin, ayah kamu aja sampai habis kopi dua cangkir.” tampak jelas ekspresi Zahira yang kesal. Lula yang melihat hanya mampu menahan tawa.


“Gini aja, deh, gimana kalau bunda pesenin taksi online saja, takutnya Lula ganggu obrolan daddy sama ayah.” Lula mengalah, tidak mungkin juga dia merengek meminta diantar sekolah.


“Nggak, biar salah satu dari mereka yang mengantarmu, bunda akan lebih khawatir kalau kamu naik taksi.”


Setelah mengatakan itu, keduanya diam menikmati sarapan, meninggalkan para pria yang masih saja sibuk berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan, keduanya terlihat begitu serius, sayangnya Lula tidak mampu mencuri dengar apa yang tengah didiskusikan dua orang itu.


“Barang-barang kamu sudah kamu bereskan, Lula?” tanya Zahira, di sela mereka menikmati sarapan.


“Belum, Bun. Lagi badmood.”


“Kalau begitu, biar bunda yang membereskan barangmu. Nanti sekalian biar dibawa sama Frans.”


Lula meletakan kedua sendoknya. Beralih fokus ke arah Zahira. “Bunda akan sering menemui Lula, kan?” Lula khawatir saat dia meninggalkan rumah Rainer, maka hilang sudah rasa cinta mereka terhadap dirinya.


“Iya, bunda akan mengunjungimu kalau bakery sepi.”


Zahira membalas dengan mengusap rambut Lula, di selalu tersentuh setiap Lula mengatakan itu padanya. Menurutnya Lula gadis yang menyenangkan, meski dia tidak pandai dan cepat tanggap, tapi gadis itu ringan tangan. Memiliki hati lembut, meski jika sedang kambuh bisa saja ngamuk tidak jelas.


“Tas kamu mana, sayang ... masa iya sekolah nggak bawa tas?” tanya Zahira curiga saat Lula tak membawa apapun.


Lula meringis, tanpa dosa. “Ketinggalan di kamar, Bun.”


“Astaga Lula!” Zahira menggeleng pelan, “Masih muda tapi sudah pikun! Udah kamu pamit saja sama ayahmu sana! Biar bunda yang mengambilkan tas mu.”


“Oh, tidak! Tidak! Lula bisa mengambilnya sendiri!” cegah Lula. Dia tidak ingin ketahuan jika kemarin membolos saat jam pelajaran berlangsung. Lebih baik dia terlambat dari pada harus diomeli bunda.


Setelah berhasil mengambil tas-nya, Lula menghampiri dua pria yang saat ini tengah duduk di taman. Lula berpamitan pada Rainer yang duduk di samping Frans. “Berangkat dulu, Yah!” ucapnya seraya mencium punggung tangan pria itu.


“Naik apa?” timpal Frans.


“Diantar sama ayah,” jawab Lula, tanpa melirik ke arah Frans.


“Ow. Ya sudah,” balas pria itu, ringan. “Nggak pamitan sama Daddy?” sambungnya memprotes saat Lula hendak berlalu.


Lula menahan langkahnya, kemudian menatap pria itu tajam. “Enggak, tangan Daddy bau rokok!” sahut Lula. Dia tidak menyukai pria penikmat nikotin, rasanya itu hanya membuat udara di sekitarnya kotor.


“Nih, udah Daddy buang?” Pria itu mematikan api rokoknya.


“Tetap saja, coba cium jari Daddy!” perintah Lula, ngotot enggan mencium tangan Frans. "Nanti nempel di baju Lula!"


“Udah ayo berangkat!” ajak Rainer, lalu menatap Frans dengan sorot tajam, kesal karena pria itu berusaha menahan Lula, dia tidak tahu bisa saja Lula terlambat pergi ke sekolah karena ulahnya. “Ingat omonganku, Frans!” pesan Rainer sebelum menarik tangan Lula dan membawanya pergi.


Sedangkan Frans hanya mencebikkan bibirnya. Dia teringat dengan pertanyaan-pertanyaan Rainer yang ditujukan untuknya, dan terpaksa dia harus mengakui jika kepergiannya ke Singapura hanyalah untuk menemui Priscilla.


Sayangnya, ketika pria itu bertemu dengan Priscilla, menanyakan alasan Priscilla kabur di hari pernikahan, itu membuat harapannya sirna. Rasa cintanya, penantiannya semua sia-sia karena Priscilla tidak bisa lagi mencintainya.


Mendengar penjelasan Priscilla membuat Frans menyadari, jika cinta memang tidak bisa dipaksakan. Selama ini, gadis itu hanya berpura-pura jatuh hati padanya. Menganggap kegiatannya di atas ranjang adalah syarat keduanya menjalin hubungan.


Dan detik itu juga Frans menyerah, berjanji akan menjauh dari kehidupan Priscilla. Dia tengah meyakinkan diri jika dia mampu melakukan itu.


Melihat ikat rambut Lula yang bergoyang seiring langkahnya, membuat Frans memikirkan hal penting dalam hidupnya.


“Bukan Lula, aku yakin bukan dia! Dia hanya akan hadir sesaat!” lirih Frans, tersenyum masam. Rasa kesalnya terhadap spesies bernama wanita meningkat. Sudah berulangkali ia dikecewakan Priscilla dan kali ini ia merasa semua wanita itu hanya pandai bersandiwara, semuanya sama berpura-pura mencintai padahal kenyataanya tidak.


“Sarapan dulu, Frans!” suara perintah dari Zahira menarik perhatian pria itu. Tak beda jauh dari Zahira, bahkan Rainer sempat mencurigai dulu Zahira pernah berselingkuh dengan Aslan.