Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Kecewa



Lula lekas berlari ke luar gedung sekolah saat terdengar bel pulang. Tak ada lagi yang menunggunya untuk berjalan bersama dan tak ada lagi pula yang ditunggu. Baik Levin maupun Elkan kini sibuk dengan kisah cintanya masing-masing. Meninggalkan Lula seorang diri.


Lula kini memupus kisah asmaranya. Mengganti dengan kesibukannya, fokus dengan masa depannya.


Ketika langkah Lula tiba di depan pagar, pandangannya langsung tertuju ke arah mobil maserati hitam mengkilat yang terparkir di sisi kanan jalan. Sayangnya, sosok yang berdiri di depan kap mobil bukan lah suaminya. Melainkan Om Ibnu.


Lula sedikit kecewa. Sebenarnya dia sudah merencanakan hal baik untuk pria itu. Meski pernikahan mereka tidak dilandasi perasaan cinta. Ia ingin merayakan peringatan satu bulan pernikahannya. Sebutkan! Adakah undang-undang yang melarang? Tidak, kan? mumpung masih bisa ia lakukan, jadi Lula hanya ingin menikmati perannya menjadi istri pria itu.


“Daddy sibuk ya, Om?” tanya Lula, ketika sudah berada di dalam mobil.


“Ya, begitulah!” jawab Ibnu ringan, mulai menyalakan mesin mobilnya, siap mengantar Lula pulang.


Wajah Lula terlihat murung, dia jadi harus membatalkan pertemuannya dengan ibu Yayasan hari ini. Tangannya merogoh ponsel di dalam tas. Sejanak sibuk mengirimkan pesan kepada pimpinan yayasan.


“Tenang saja, Pak Frans nanti pulang kok! Dia tidak akan menginap. Dia cuma berpesan supaya saya menjemput nona kecil di sekolah.” Ibnu berusaha menghibur Lula, paham dengan wajah yang terus ditekuk, seakan tidak terima jika Frans pergi. "Apakah pak Frans tidak meminta izin?"


Lula menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis kepada Ibnu, seakan memerintahkan Ibnu supaya tidak berpikiran macam-macam. Dalam diamnya Lula berusaha menikmati perjalanan siang ini. Terasa begitu lama, karena tidak ada candaan yang tercipta. Padahal jika dia pulang bersama daddy Frans perjalan terasa begitu singkat.


“Emangnya Daddy kemana sih, Om? Tadi pagi juga sepertinya buru-buru banget.”


“Emangnya, Daddy tidak bicara ke kamu sebelumnya?”


“Bicara apa? Enggak ada, kok!” Lula sampai mengubah posisinya sangking penasaran dengan jawaban Ibnu.


“Daddy itu pergi ke Singapura, tadi terbang pukul 9 pagi.” Ibnu menjelaskan.


“Singapura?” tanya Lula memastikan jika gendang telinganya tak salah menangkap jawaban dari Ibnu.


“Iya. Singapura.”


“Ada kerja sama dengan orang di sana?” Lula berusaha menebak meski kini jantungnya berdebar lebih cepat, sebab keyakinannya memberitahu jika suaminya hendak menemui mantan kekasihnya.


Ibnu tertawa sumbang, bingung hendak jujur atau mengatakan alasan lain. “Ya, dia akan menemui Priscilla.”


Bibir Lula melebar, berbanding terbalik dengan perasaanya saat ini. Sedangkan pikirannya mulai berkeliaran, membisikan hatinya jika saat ini, posisinya terancam. Eh, bukan posisinya, tapi kondisi kakek Ken. Kapanpun dia rela melepas statusnya, tapi dia tidak bisa membiarkan kakek sakit.


Lula menduga pasti suaminya ingin menjemput mantan kekasihnya. Lula harus waspada dengan kondisi kakek Ken. Lebih baik dia memberitahu kakek Ken sekarang dari pada pria itu mendengar kabar dari orang lain. Terlebih jika sang kakek bertemu dengan mereka berdua. Lula tidak bisa membayangkan betapa marahnya sang kakek nanti.


“Om Ibnu! Tolong tepi kan mobilnya. Aku ada urusan mendesak!” minta Lula.


“Maaf, Lula! Om tidak bisa."


"Om ...."


"Lula, jangan membuat pekerjaan saya lebih sulit dari ini. Tugas saya menjemput dan memastikan nona kecil tiba di rumah dengan baik, setelah itu saya wajib melaporkan ke bapak.”


“Kalau begitu, antarkan Lula ke rumah kakek Ken.”


Bola mata Ibnu membulat sempurna, tentu saja dia keberatan karena jarak saat ini dengan pak Ken Adhitama cukup membentang. Belum lagi kemacetan yang menghambat, akan sampai jam berapa nanti.


Ibnu bimbang, antara mengantar atau menurunkan Lula di pinggir jalan. Hingga akhirnya, dia memilih memutar arah, mengantar Lula ke rumah pak Ken Adhitama.


Mengetahui perjalanan masih cukup jauh, Lula memilih memejamkan mata, berusaha tidur. Sayangnya, dia tetap tak bisa. Isi kepalanya begitu ribut, memikirkan keputusan suaminya yang pergi tanpa izin lebih dulu darinya. Harusnya pria itu pamit padanya. Dia juga tidak mungkin melarang suaminya pergi menemui Priscilla. Bagaimana pun, tante Priscilla adalah cinta pertamanya Daddy.


Lula pura-pura terlelap, dalam mobil itu hanya terdengar music yang mengalun lembut disepanjang perjalanan. Ibnu yang biasa cerewet kini turut bungkam fokus dengan jalan.


Hingga mobil mereka memasuki kediaman kakek Ken, Lula baru membuka matanya lebar.


“Masuk dulu, Om Ibnu. Minum dulu, temui kakek, ngobrol dulu sama Kakek!” tawar Lula, ramah.


“Tidak perlu, banyak pekerjaan yang menanti di kantor. Nanti bisa dimarahi kalau tidak diselesaikan.” Ibnu menolak.


Mendengar itu, Lula memilih segera keluar dari mobil suaminya. Bibirnya tersenyum hambar, dia masuk rumah saat mobil yang ditumpangi Ibnu menghilang di balik pintu gerbang.


Lula menyingkirkan segala perasaan yang tidak nyaman dalam dirinya. Dia bersiap menemui kakek Ken. Dia harus terlihat seperti biasanya, mengambil hati pria itu dan pelan-pelan berkata jujur pada sang Kakek.


“Kakek!” teriak Lula, tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Dia berjalan memasuki rumah, mencari-cari keberadaan pria tua itu. Hingga dia menemukan Ken tengah duduk di taman. Menatap kolam ikan di sana. Lula yang melihat sang kakek kesepian hanya bisa memandanginya. Dia merangkul leher pria itu. Lalu mengecup pipi keriput sebagai tanda sayang.


“Kenapa tidak menyahut? Lula teriak sampai tenggorakan Lula sakit.” Lula mengeluh dan hanya ditanggapi tawa kecil dari pria itu.


“Sama siapa kamu datang? Apa Frans ikut juga?”


Lula menggeleng. “Dia kan CEO, Kek, sibuk terus.”


Ken paham, dia pernah berada di posisi Frans. “Kenapa nih, tumben datang tanpa Kakek minta.”


Lula tersenyum simpul. “Lula mau menginap di sini boleh? Lula kesepian.”


“Tumben tidak ke tempat ayahmu.”


“Sama saja, di sana juga sepi, ayah ke rumah sakit, bunda ke toko. Mendingan di sini ada teman mengobrol.”


“Emang apa yang mau diobrolin? Paling minta jatah bulanan.”


“Enggak Kakek.” Lula melihat wajah Ken, tampak lebih bugar dari saat terakhir pertemuan mereka. Mungkin ini adalah waktu yang pas untuk mengatakan semuanya pada kakek Ken.


“Kakek, dulu kakek cerai sama nenek Oca alasannya apa?”


Pandangan Ken berubah, seakan menusuk mata Lula. “Kenapa tanya begitu?” mulai curiga jangan-jangan Lula akan melakukan hal sama dengannya.


“Hehehe, tanya aja, Kek!”


“Jangan ada perceraian di antara kamu dan Frans. Takutnya penyesalan turut menghampiri kalian.”


“Sekalipun Lula tidak bahagia?”