
Gumpalan es cristal di dalam gelas milik Lula sudah mencair. Kini menyisakan rasa dingin saat dinikmati. Wangi dari teh pun tak sepekat ketika baru saja disajikan. Lula tersenyum ironis, mengabaikan rasa teh tawar yang baru saja diteguk.
Huft!
Lula menghela napas panjang, seraya menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi. Restoran yang ada di dalam mall itu terasa begitu ramai, penuh, sesak, semakin lengkap dengan kepulan asap rokok di mana-mana. Lula benci menunggu, apalagi tanpa kabar dari si pembuat janji.
"Apa aku tadi terlalu bersemangat." Lula bergumam lirih, lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Sengaja, membaca ulang pesan yang tadi dikirim Elkan.
Sudah satu jam dia duduk menunggu. Sesekali Lula mengalihkan tatapannya ke arah pemandangan sore. Sayangnya, langit warna jingga di luar sana sama sekali tidak menarik perhatiannya.
Entah kenapa? Di memilih melirik searah jarum jam tiga. Di mana seorang pria tengah duduk sembari sibuk dengan ponselnya. Sesekali pandangan mereka bertemu, lalu senyum pria itu terbit begitu indah. Dan Lula justru berpaling, berpura-pura tidak merespon.
Padahal dia tahu jantungnya nyaris melompat dari tempatnya, bingung bagaimana menyikapi senyuman itu. Ada rasa kesal sekaligus takut jika pandangan mereka bertemu. Takut keramahan pria itu hanyalah sandiwara.
Merasa lelah, Lula memutuskan untuk menghubungi Elkan. Baru percobaan pertama, panggilan Lula langsung dijawab oleh operator provider. Nomor Elkan sekarang justru tidak aktif. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Elkan, tapi dia kesal sekali karena pria itu tidak menepati janjinya.
"Sepertinya Elkan tidak akan datang," gumamnya ingin menyerah, tapi dia bingung alasan apa yang akan disampaikan ke Frans. Takutnya, jika bibirnya salah bicara suaminya itu akan marah-marah dan mencari keberadaan Elkan. Tahu, sendiri sikap kasar pria itu.
Elkan, please! Datanglah, wajah pria di sana jauh lebih menyeramkan saat menyadari kamu tidak datang. Batin Lula, saat menyadari tatapan Frans.
Lula berusaha abai, masih ingin menunggu kedatangan Elkan. Kalau pria itu benar-benar jatuh cinta padanya, pasti tidak akan mengabaikannya seperti ini.
“Masih mau menunggu?”
Suara Frans membuat Lula tersentak, dia terkejut karena pria itu tiba-tiba berdiri di sampingnya. “Ya.” Lula masih saja menjawab singkat. Bahkan, sedari tadi dia mengabaikan pertanyaan Frans tentang sikapnya yang terus menerus diam.
“Gimana kalau kita jalan-jalan dulu?!” tawar Frans.
“Enggak!” Lula menggeleng, mempertegas jawabannya.
“Serius? Daddy bisa beli’in apapun yang kamu mau? Khusus untuk hari ini! anggap saja reward karena kamu sudah bekerja dengan baik.”
“Tapi aku tidak ingin apapun, dan tidak berniat jalan-jalan dengan pria yang lebih tua dariku!”
Frans sudah tidak sabar lagi, mendengar ucapan Lula yang tepat tapi juga menusuk dadanya. Padahal dia sudah berusaha menyesuaikan penampilan, tapi tetap saja dibilang TUA. Siapa juga yang terima?!
Frans mengambil duduk di samping Lula, menangkup wajah gadis itu, dengan kedua tangan kokohnya, memaksa Luka untuk fokus menatapnya. “Kenapa gini terus sih? Daddy tahu Daddy salah. Udah dong, La!” bujuk Frans, berusaha menyelami keinginan Lula lewat sorot matanya. "Lula maunya gimana?"
Lula tidak menjawab. Dia berusaha membalas tatapan suaminya. Terlihat jelas pria itu sedang frustasi, tapi karena apa? Apa dia terlalu berlebihan mendiamkan pria itu?!
“Bilang sama Daddy apa yang kamu inginkan?” ulang Frans.
Lula menggeleng. “Lula nggak mau apa-apa?” menunduk lagi, menghindari pandangan Frans.
Frans tak hilang akal, dia mengangkat dagu Lula. “Kamu marah sama Daddy?”
Lula kembali menggelengkan kepala.
“Lalu kenapa?!”
“Ta—takut.” Lula mengalihkan pandangannya ke balik tubuh Frans, sepasang manusia sedang makan bersama di sana.
“Takut?” Frans tiba-tiba menggigit lengan Lula, cukup kuat dan membuat Lula terkejut dengan tingkahnya. “Apa sakit? Kenapa harus takut! Daddy tidak akan menyakitimu,” tanya Frans usai menjauhkan gigi taringnya dari lengan Lula. mengabaikan bekas gigitan yang cukup ketara.
Lula mengusap sejenak bekas gigitan itu, cukup nyeri, entah apa maksud pria itu. “Menyakiti bukan hanya dengan tindakan, Dad! Tapi jari dan bibir, kalau tidak diatur juga bisa membuat orang sakit hati.”
Frans yang semula menggebu-gebu ingin membela diri, mendadak bungkam. Dia tahu kesalahannya, dan dia ingin Lula melupakan kesalahannya itu. “Okay, Daddy minta maaf!” kata Frans melepas tangan Lula. “Daddy minta maaf sama kamu.” Frans berusaha merendahkan diri.
Sedangkan Lula justru membuang wajahnya. Mendadak dia begitu cengeng, bahkan air mata sudah mengancam ingin terjun bebas. Lula pengen berteriak, menangis, tapi malu karena ini di tempat umum.
“Kok malah nangis?!” kata Frans nyaris frustasi melihat sikap Lula saat ini. Dia manarik beberapa tisu lalu membantu mengeringkan air mata Lula. “Apa sih yang buat kamu sedih, Sayang?! udah cup-cup!” Frans memeluk Lula, berusaha menenangkan.
Cukup lama dalam posisi seperti itu. Mereka tidak menyadari jika sudah menjadi pusat perhatian pengunjung restoran.
Setelah tangis itu mereda Lula mendongak memandangi suaminya. “Apa Daddy benar-benar meminta maaf?”
“Ya.”
“Apa besok Daddy tidak akan mengulanginya lagi?”
“Ya.” Frans menjawab diiringi anggukan kepala.
“Lula akan melupakan itu, tapi daddy harus janji jangan bersikap kasar lagi sama Lula. Ayah tidak pernah membentak Lula. Ayah juga selalu menghargai apapun yang diberikan Lula, sekalipun apa yang Lula berikan tidak berarti apa-apa untuknya. Bukan bermaksud membedakan antara Daddy dan ayah. Tapi suara bentakan, teriakan, wajah amarah, itu terlalu baru untuk Lula. Kecuali—
Lula tidak ingin melanjutkan ucapannya, karena ini menyangkut Priscilla dan hubungannya dengan pria itu. Dia akan tetap menyimpannya untuk diri sendiri. Tidak ada yang tahu jika Priscilla pernah memakinya, mereka hanya tahu jika wanita itu mengurungnya di dalam salah satu sangkar.
Frans yang mendengar itu merasa kasihan, dia semakin erat memeluk tubuh Lula. “Daddy janji nggak akan mengulangi. Jangan menangis lagi! jangan tunjukan wajah jelekmu ini pada Daddy! Tetaplah jadi Lula yang ceria.”
Lula mengangguk, tangisnya perlahan memudar, dan segera dia menjauhkan diri dari Frans saat menyadari jika mereka sedang berada di tempat umum. Terlambat, bahkan banyak orang yang sudah mengambil gambar mereka berdua.
“Pesanlah makanan, lebih baik kita makan di sini sekalian.”
“Sepertinya kekasihku tidak datang!” kata Lula, memberanikan diri untuk mengakui. Mustahil Elkan akan hadir.
“Baguslah, itu artinya kita bisa berkencan.”
“Apa?” Lula sedikit terkejut dengan ucapan pria itu, kencan?
“Ah, maksud Daddy, kita bisa makan bareng, lalu jalan-jalan ke manapun kamu inginkan.” Frans menyahut sekenanya. Heran, kenapa bisa salah tingkah begini?! batin Frans, sembari mengendurkan kancing lengan jaket denimnya. Ini Lula, ANAKMU! seakan kembali diingatkan.
“Kenapa Daddy nggak jalan sama calon pelakor itu, ini kan, akhir pekan?”
Kedua alis Frans terangkat, tidak paham dengan arah pembicaraan Lula. "Calon pelakor?"
“Jangan pura-pura tidak paham. Dua orang di dalam ruangan tertutup, ngapain kalau tidak berbagi keringat dan kenik*matan?!” sambung Lula, berusaha menjelaskan.
Frans terpingkal, dia ingin meredakan tawanya dulu sebelum menanggapi ucapan istrinya. “Lula … sudah hampir sebulan loh kita serumah, kita juga selalu ada kesempatan untuk melakukannya, tapi Daddy nggak ngelakuin apa-apa tuh ke kamu.”
“Itu karena Daddy udah terikat janji denganku! Sama ibu Silvya kan belum.”
“Jadi, kamu menilai kita berdua ngelakuin kaya itu?”
“Ya.” Lula menyahut cepat.
“Terserah, deh!”
“Nah, emang iya!”
“Ya, anggap saja begitu.” Frans mengalah, tidak ingin berdebat lagi.
“Nyebelin. Jangan ber-zina di rumah. Sekali lagi aku lihat ibu Silvya masuk ke ranah pribadi. Aku viral kan kalian berdua!” keberanian Lula sudah kembali, menggebu-gebu seakan amarah yang kemarin ditahan, meluncur begitu saja.
"Bagus dong! nanti bagi hasil ya, kalau Daddy masuk tv!" respon dari Frans membuat Lula semakin kesal. Dia memilih diam, sambil memeriksa ponselnya. Namun, lagi-lagi dia tak menemukan kabar apapun dari Elkan.
“Mau jalan-jalan tidak. Kalau tidak ingin, lebih baik kita cari tempat yang lebih nyaman. Taman, hotel, makan di rooftop sambil melihat keindahan kota sepertinya menyenangkan.”
Lula tampak menimbang jalan mana yang hendak dipilih. Sebelum akhirnya memutuskan untuk menuruti Frans. Menyerahkan tujuan selanjutnya pada pria itu.