Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Kesempatan Kedua



Frans Agung Pagara, sepanjang sepuluh tahun terakhir, dia begitu sibuk dengan pekerjaan di kantor. Bahkan, dua kali Priscilla pergi meninggalkannya, dia justru semakin rajin mencari-cari pekerjaan untuk diselesaikan.


Namun, kali ini dia tidak bisa melakukan hal yang sama. Fokusnya benar-benar terganggu dengan potongan suara tangis istrinya. Helaan napas berat yang dilakukan Lula, wajahnya yang terlihat lembab, kejadian malam itu masih terasa jelas, seakan baru beberapa menit terjadi, meski sebenarnya waktu sudah berjalan satu Minggu lamanya.


Selama itu pula, mereka berdua tak ada yang berusaha memberi kabar. Seringkali Frans membuka room chat milik Lula, membaca pesan terakhir gadis itu yang meminta izin untuk mengambil barang-barangnya. Dia tidak membalas, karena sebelumnya sudah tahu laporan dari Bu Juned.


Bukan sekali dua kali Frans mengetikan pesan di room chat milik Lula. Sayangnya, pesan singkat itu kembali dihapus. Seperti sore ini, pesan pertanyaan yang berisikan ajakan untuk bertemu kembali dihapus tuntas oleh jemarinya. Frans bingung apa yang hendak dibicarakan saat nanti bertemu dengan Lula. Rasanya tidak penting, karena Lula akan tetap pada keputusannya.


Frans berusaha mengartikan perasaannya, masih menyangkal tentang rasa cinta yang mulai tumbuh dalam hatinya. Menurutnya, Lula adalah anak dari Rainer, perasaanya sama seperti Rainer, hanya sebatas kasih sayang ayah dan anaknya.


“Apa, Bapak akan lembur lagi malam ini?!” suara Ibnu mengudara, mengejutkan Frans yang sedang melamun di balik meja kerjanya.


Sangking dalamnya Frans memikirkan Lula, dia sampai tidak menyadari kehadiran Ibnu di dalam ruangannya. “Tidak. Aku harus bertemu dengan dokter yang menangani Priscilla!" sekalian dia akan meminta resep untuk meredakan flu, karena kurang tidur, Frans jadi mudah terserang penyakit.


“Apa Bapak akan kembali pada Nyonya Priscilla?!"


"Apa tidak ada pertanyaan lain yang lebih berbobot?" balas Frans, mulai kesal dengan pertanyaan yang diajukan Ibnu. Dalam hatinya tidak ada niatan untuk balikan sama Priscilla, dia hanya ingin membantu meringankan beban gadis itu.


"Sebaiknya, Bapak tidak peduli lagi padanya! Apa yang Bapak lakukan saat ini, sama halnya memberi harapan pada Nyonya Priscilla." Ibnu jauh lebih bisa berpikir jernih ketimbang atasannya. Dan dia tidak ingin hubungan Frans dengan Priscilla yang sudah putus kembali terjalin lagi.


“Aku hanya ingin mendengar laporan dari dokter yang menanganinya. Aku tidak ingin mentalnya yang sakit itu, semakin menganggu kehidupanku!”


Ibnu sungguh tidak percaya, dia khawatir niat Frans justru akan membawanya masuk ke masalah yang lebih rumit.


"Kau sudah selesai bicara? jika sudah pergilah!" usir Frans, saat Ibnu tidak lagi berbicara.


Ibnu masih berdiri di tempat, matanya berusaha mencari-cari apa yang dibutuhkan Frans malam ini. Pria itu belum makan malam, dia justru mengkonsumsi kopi.


“Pak Frans!”


“Hm?” sahut Frans tanpa menoleh ke arah Ibnu.


“Maaf, tapi saya penasaran dengan jawaban ini. A-apa Bapak jatuh cinta dengan Nona Kecil?” tanya Ibnu ragu-ragu.


Frans langsung mengangkat kepalanya, menatap Ibnu lekat. Dia khawatir, apa yang dirasakan saat ini terlihat jelas di mata Ibnu. “Apa menurutmu seperti itu?”


Ibnu justru tertawa kecil. “Selama satu minggu saya amati. Saya rasa, Bapak sudah jatuh cinta kepada Nona kecil. Saya juga melihat jika Bapak begitu kehilangan nona kecil. Banyak pekerjaan bapak yang perlu saya revisi ulang, meski sudah selesai.”


Seburuk itukah aku!? Frans bertanya pada diri sendiri. Rasanya masih belum percaya jika dia akan sekacau ini. Frans berdehem pelan, demi mengusir rasa tak nyaman yang perlahan berusaha mengambil alih. “Hanya kehilangan kebiasaan. Mungkin karena biasanya ada dan sekarang dia tidak ada. Jadi aku butuh waktu untuk menyesuaikan kembali." Frans berusaha mengambil pulpen di atas meja. Menulis apapun yang tidak penting di atas kertas kosong. "Lagian, apa kamu lupa? Dia Lula. Putri dari sahabatku! Apa pantas aku jatuh cinta padanya? Sekalipun pantas usia kita jauh berbeda!”


Ibnu tersenyum simpul, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam. “Jika dinalar pakai akal sehat, rasanya mustahil sih, Pak! Tapi, bukankah seseorang tidak bisa menghindari jika sudah terkena virus cinta?”


“Pak! Maaf nih, ya! mungkin kalimat saya ini, bisa jadi motivasi untuk Bapak.” Ibnu mengambil langkah ke arah samping meja, berusaha menjaga jarak demi menghindari jika nanti Frans akan memukulnya. “Hal yang paling menyakitkan itu adalah penyesalan. Sebelum Bapak mengajukan perceraian ke pengadilan agama, apa tidak sebaiknya Bapak meminta kesempatan kedua terlebih dahulu? Akui kalau memang ada perasaan cinta untuk nona kecil, jujur kalau selama ini Anda tidak berniat kembali pada Nyonya Priscilla. Jika perceraian Anda dan nona kecil benar terjadi dan pada akhirnya Bapak menyesal! Maaf, Bapak harus menunggu status nona kecil menjanda untuk yang kedua kali! menunggu dia menikah dan gagal lagi. Dan belum tentu juga itu akan terjadi. Kejar sebelum terlambat! Pertahankan apa yang sebenarnya perlu dipertahankan! Cinta tak mengenal rupa, apalagi usia! kalau sudah jodoh memang akan sulit untuk dipisahkan! Sebaliknya, jika tidak jodoh, mau didekatkan sekuat apapun usahanya, ujungnya juga akan pisah.”


Frans tidak marah, dia justru menimbang ucapan Ibnu. Benar juga yang dikatakan Ibnu, aku harus menunggu Lula janda lagi baru bisa menikahinya ulang. "Sepertinya aku harus meminta kesempatan kedua!" Gerakan Frans yang tiba-tiba begitu mengejutkan Ibnu. Pria itu berdiri dari kursinya, meraih jas nya lalu berlari keluar ruangan. Masa bodoh dianggap gila oleh Ibnu, toh karena ucapan pria itu juga dia jadi semakin kacau.


Frans lekas mengemudikan Maserati hitam miliknya. Dia melajukan mobilnya menuju rumah Rainer. Rasa ingin bertemu Lula semakin menggebu. Dia akan menjelaskan kepada Rainer dan Lula. Memintanya secara baik-baik! bukan sebagai anak, tapi sebagai istrinya. Berbagai rencana sudah bermunculan di kepala Frans saat ini.


Sayangnya, saat tiba di rumah Rainer, semuanya sirna. Tak ada keinginan yang terucap dari bibirnya, karena sepertinya rumah itu kosong. “Di mana, Rainer, Bu?” tanya Frans, pada ART yang saat ini membuka pintu untuknya.


“Bapak? Dia sedang keluar kota, Mas! Sudah dua hari ini beliau ambil cuti.”


“Lula diajak juga?”


“Iya.” Wanita itu menjawab singkat.


“Kapan mereka pulang, Bu?”


“Rencananya, cuma mau liburan empat hari. Mereka sudah berangkat sejak dua hari yang lalu, mungkin kalau nggak besok ya lusa.”


Okay, Frans sepertinya harus lebih sabar lagi menunggu mereka kembali. Bukankah ini termasuk perjuangan, semoga perjuangannya akan membuahkan hasil yang baik.


“Ya sudah, saya permisi! jangan bilang kalau saya datang ke rumah! saya permisi dulu!” pamit Frans, lalu kembali ke mobilnya.


Malam sudah semakin larut untuk sekedar menenangkan pikirannya di tepi jalan. Frans pun memilih untuk segera pulang ke rumah.


Lebih baik dia beristirahat mempersiapkan kata-kata yang pas untuk mengatakan semuanya pada Lula.


Frans begitu mudah memasuki alam mimpi. Dia terlelap begitu cepat meski pikirannya saat ini sedang kacau. Hingga keesokan harinya dia dibangunkan oleh dering panggilan masuk dari ponselnya. Saat belum sepenuhnya sadar Frans mengangkat panggilan itu.


“Ini masih pagi, loh, Ibnu! Kenapa kau menganggu ku!” protes Frans, saat mendengar suara Ibnu dari seberang panggilan.


“Pak Frans, Nyonya besar dibawa ke rumah sakit!”


"Apa?! Eyang masuk rumah sakit?” tanya Frans berusaha memastikan jika dirinya tidak salah mendengar.


“Iya, Pak! Ini sudah berada di ruang ICU.”


"Kirimkan nama rumah sakitnya!" perintah Frans. Lalu memutus sambungan teleponnya.