Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Amarah



Lula masih berdiri di ruang keluarga, menunggu suaminya masuk ke dalam rumah. Sembari netranya memandang ke arah pintu utama, tangannya sibuk mencari lolipop yang tadi diambil dari pedagang asongan. Tepat ketika dia menemukan benda itu, terdengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya.


Dengan sigap Lula memutar tubuhnya menghadap Frans. Senyumnya bermekaran, lalu berkata, “Oleh-oleh buat, Dad—


Lula tidak melanjutkan ucapannya, lidahnya mendadak kehilangan kekuatan saat Frans menampik kasar tangannya, membuat dua buah lolipop itu tergolek ke dinginnya lantai marmer. Bahkan satunya sudah tidak membentuk love lagi, hancur.


Lula berusaha meredam debaran kesal dalam dirinya. Dia mengikuti ke mana permen itu terjatuh. Lalu beralih menatap Frans. Ia butuh penjelasan dengan sikap yang ditunjukan Frans. “Ap—


“Apaa!” bentak Frans, memotong Lula yang hendak berbicara. Matanya sudah syarat akan emosi yang siap untuk diledakkan. “Sebelum bertindak, Lo pernah mikir nggak apa yang lo lakuin ini benar atau salah!”


Suara teriakan itu menggelegar, memenuhi gendang telinga Lula, sampai-sampai meninggalkan suara dengung yang menyakitkan. Tangannya ingin sekali menutup telinganya, sayang dia tidak mampu karena Frans mencengkram kuat pergelangan tangannya. Memintanya untuk menatapnya yang tengah marah. Menakutkan! satu kata itu yang ada di kepala Lula saat melihat bagaimana Frans saat ini.


“Bisa nggak lo ngabarin gue! Gue setengah mati memikirkan keberadaan lo! Apa susah telepon ke nomor lo sendiri buat ngasih tahu posisi lo di mana! Mikir dikit bisa nggak! DIKIT SAJA!! Gue ngebebasin lo pacaran tapi bukan begini!"


Teriakan itu masih saja menggema, membuat Lula merasa jika dirinya sudah melakukan kesalahan besar. Dia tidak membalas ucapan Frans, dia tidak bisa menyela sedikitpun, untuk memberi penjelasan pada pria itu.


“Lo sengaja bikin gue marah! Dan merasa bersalah sama lo! Lo mau hubungan gue sama bokap Lo hancur!! IYA! BODOH!” Amarah Frans benar-benar tak terkendali malam ini.


Lula menggeleng seraya menunduk, air matanya sudah mengancam untuk meluncur bebas. “Maa—aaf.” Hanya itu yang bisa dikatakan Lula, ketika orang mencaci dan menyadarkan jika dia sudah salah.


Bayangan itu kembali hadir, Lula ingat dengan kejadian malam itu, saat Priscilla memakinya habis-habisan. Saat wanita itu memaksanya untuk masuk ke sangkar burung. Wajah wanita itu sama, berselimut kemarahan. Dia bilang, jika tidak ada Lula hidup mereka akan lebih baik. Lalu ketika mesin gondola dinyalakan. Wanita itu justru tertawa lebar, tanpa peduli jika dia berteriak meminta tolong.


“Maafin, Lula …” ulangnya sedikit memohon. Merasakan tarikan di pergelangan tangannya mengendur, Lula berusaha menariknya. Tubuhnya mulai gemetar, rasa dingin menyerang rasa panas, rasa kehilangan akan sosok Daddy yang bisa melindunginya, yang mungkin tidak akan melakukan ini pupus saat itu juga. "Maafkan, aku ..." Lula berbalik, berusaha keras berlari memasuki kamar.


Tanpa melepas seragam yang masih membalut tubuhnya Lula menjatuhkan diri ke atas ranjang. Tubuhnya seperti possum yang meringkuk dalam kantung, bersembunyi di bawah selimut tebal. Sedangkan bibir tipisnya masih mengeluarkan isak tangis. Dia sampai susah untuk bernapas saat membayangkan wajah amarah yang ditunjukan Frans.


“Ayah … Lula mau pulang … Ayah …” sebut Lula dalam isaknya. Tangisnya justru semakin menjadi, saat menyadari sang ayah tak pernah sekalipun melakukan ini padanya. Rasa sesak kian memeluknya, enggan terlepas. "Ayah, Ayah ... Lula mau pulang ..." Lula meredam tangisnya dengan menggigit selimut tebal yang kini digunakan untuk menutup tubuhnya. Rasanya menyiksa sekali setelah sekian lama dia tidak melihat kilatan mata amarah dan kini dia melihatnya lagi.


Lula masih menangis di bawah selimut. Tidak ada yang tahu apa yang dia lakukan di dalam kamar itu. Bahkan Frans sendiri langsung masuk ke kamar usai melihat Lula masuk ke kamarnya.


Tiba di dalam kamarnya, Frans mendengar dering ponsel di sakunya menyala. Nama Rainer tertera di layar ponselnya. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum mengangkat panggilan dari Rainer.


“Sudah.” Frans memejamkan mata, merasa lelah sekaligus lega karena gadis itu sudah kembali ke rumahnya. “Dia baru saja pulang,” sambungnya, tidak mungkin dia menceritakan jika dia pulang bersama Levin.


“Frans, jangan marahi dia! Kamu boleh nasihati dia tapi bicarakan semua dengan kepala dingin. Istirahatlah dulu, baru besok kamu bisa bertanya padanya ke mana saja dia malam ini!”


Terlambat, karena Frans sudah memaki Lula, habis-habisan.


“Frans, kamu ingat dengan trauma Lula, kan? jangan sampai kamu membuatnya mengalami itu lagi.” Rainer kembali berbicara saat tidak mendengar respon apapun dari Frans.


Rasa bersalah terbit begitu saja. Semua sudah terlanjur terjadi. Jujur dia emosi sendiri melihat Lula pulang bersama laki-laki, dan dengan penuh percaya diri berkata, ini oleh-oleh. Dan sekarang dia menyesal kenapa tidak memberi ruang untuk Lula menjelaskan semuanya.


“Ya, aku akan bertanya baik-baik padanya. Besok pagi.” Frans memberi jawaban yang bisa melegakan perasaan Rainer. Mungkin dengan begitu pria itu akan berhenti mengkhawatirkan Lula.


"Ya, sudah, aku tutup teleponnya!"


Setelah panggilan dari mertuanya terputus, Frans kembali turun ke lantai satu. Dia berniat mendatangi kamar Lula, untuk melihat kondisi gadis itu.


Saat ayunan langkahnya tiba di ruang keluarga, Frans berhenti sejenak. Netranya menyisir lantai marmer, menemukan dua butir permen yang tadi sempat tersentak oleh perbuatannya. Frans memungut kembali permen berbentuk "love" itu. Bibir Frans tertarik ke samping. Tak ada rasa bersalah sedikitpun dalam dirinya.


“Dia masih kecil, Frans! Apa salahnya menemaninya menikmati permen ini!” gumamnya seolah mengingatkan diri sendiri, yang harus memaklumi kondisi Lula saat ini. Sikap Lula yang masih suka keluyuran. Sikap Lula yang masih terlalu kekanakan.


Frans melanjutkan langkahnya menuju kamar Lula. Dia tidak langsung masuk, masih ingin mendengar apa yang dilakukan Lula saat ini. Dia berusaha menempelkan telinganya di daun pintu. Saat tak mampu mendengar apapun dari kamar Lula, Frans memilih segera memutar gagang pintu.


Sayangnya ketika memasuki kamar Lula, kondisi ruangan tampak temaram. Lampu utama kamar sudah padam. Frans menggeleng saat melihat Lula bersembunyi dibawah selimut tebal. Frans menyalakan pendingin udara khawatir Lula akan kepanasan.


Frans tidak memiliki keberanian untuk menyingkap selimut Lula. Jadi dia hanya berdiri di samping ranjang. Seolah sedang menunggu Lula membuka selimut yang dikenakan.


Namun, yang di dapatkan Frans, gadis itu justru mendengkur pelan. Dia memilih meletakan dua permen itu ke atas meja, sekaligus ponsel Lula supaya dia tidak kebingungan lagi untuk mengabarinya.


“Tidurlah, kita bisa bicara baik-baik besok,” gumam Frans, lalu berjalan meninggalkan kamar Lula.