Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Kamar Bougenville



Lula kembali mendekati Rainer yang masih setia duduk di sofa. Dia tidak ingin kakek Ken memaki sang ayah setelah tahu jika dugaannya saat ini, benar adanya.


“Bunda hamil?” tanya Lula, dengan setengah suara. Keterangan tentang dokter yang menangani kesehatan sang bunda adalah ayahnya sendiri. Sedangkan sang ayah adalah seorang dokter kandungan. Jadi, Lula bertanya tentang kemungkinan besar yang terjadi pada bunda Zahira.


Rainer menoleh ke arah sang mertua. Tampak pria itu masih sibuk menanyakan apa yang saat ini dirasakan istrinya.


"Ayah! yang ngajak bicara ayah itu Lula, jadi tatap Lula, jangan kakek!" peringat Lula, hatinya sudah setengah mati penasaran. Tapi sang ayah seakan enggan memberikan jawaban.


Rainer tersenyum simpul, baru saja hendak menjawab pertanyaan Lula. Terdengar pintu kamar dibuka kasar dari arah luar. Seketika ruang Bougenville yang ditempati Zahira mendadak riuh. Rainer menggaruk kulit kepalanya saat anggota keluarga besarnya satu persatu memasuki kamar.


Satu kebodohan terbesar Rainer adalah membuat story tentang infus, itu sama hal nya memberikan pengumuman pada anggota keluarga besarnya jika dia sedang tidak baik-baik saja.


Tentu saja, meski dia tidak mendapatkan pesan pertanyaan. Tersangka utama yang menjadi pewarta berita adalah bunda Naura. Dia pasti menjadi kejaran informasi dari mereka semua.


Melihat ada pak Ken yang tengah duduk di samping ranjang, semuanya berubah tenang. Tawa yang semula tak terkendali kini lebih terhormat. Obrolan mereka membaur, membahas ini itu tentang keriwuhan sebelum keberangkatan mereka ke rumah sakit. Beginilah malas Rainer kalau ada keluarganya yang sedang sakit, bukannya beristirahat, justru diajak ngobrol terus dengan mereka. Tapi dia patut bersyukur, karena tidak semua orang bisa hidup akur seperti ini.


“Jadi, Zahira sakit apa, Rain?” Milen yang datang bersama suami dan anak perempuannya bertanya. Berusaha menyela saat pria itu tengah asyik berbicara dengan Yesa.


“Apa? Enggak sakit kok!” timpal Gwen. Pria yang mengaku sultan, tapi belum menikah sendiri dari deretan keturunan Ramones. Bahkan, sampai Lula menikah pun, dia masih mendapatkan gelar jomblo.


“Sok teu!” Leya menimpali, putri pertama dari ayah Kalun itu kini tinggal melewati masa santai. Tidak ada bayi yang perlu asuhannya. Karena dulu sempat kejar tayang, dan sekarang ke tiga anaknya sudah duduk di bangku sekolah.


“Hamil lagi! Malam-malam Rainer curhat ke Bunda sambil nangis. Katanya Zahira hamil. Dia bingung!” Bunda Naura, penghuni tertua setelah kakek Ken, menerangkan dengan jelas.


Tentu saja. membuat terkejut mereka semua yang ada di ruangan itu. Lula tersenyum simpul karena dugaannya tadi benar adanya. Dia siap mengadopsi adiknya.


“Kayaknya bukan cuma anak-anak opa Erik yang hamil di usia tua! Sepertinya cucunya pun terkena kutukan itu!” Queen menyimpulkan setelah sekian lama bungkam.


“Aku pasang IUD, mana bisa!” Milen menyahut meski sebenarnya ada juga rasa khawatir.


“Sama aku juga ambil suntik satu bulan.” Reina, adik dari Rainer ikut angkat bicara.


“Aku baru saja kemarin suntik ke tempat kak Rainer.” Yuki yang baru saja melahirkan, turut menimpali.


“Mau KB pun, kalau Allah sudah mengatakan Kun fayakun, kita bisa apa!” Yesa menimpali, melirik ke arah Leya. Memberikan tatapan semangat sekaligus mengancam, karena hingga hari ini, istrinya itu belum juga datang bulan.


“Enggak, Sa! Enggak.” Leya menolak keras.


“Aku juga kemarin yakin, Nggak! Mungkin karena Allah tahu aku dan Rainer kesepian jadi dikasih lagi,” kata Zahira melirik ke arah Rainer, jebakannya berhasil. Ternyata seorang dokter tak paham juga kapan istrinya memasuki masa subur.


“Lula nggak paham dengan apa yang om sama tante bicarakan?!” Lula yang sedari tadi berusaha memahami, tapi sampai detik ini masih belum juga mengerti hanya bisa mengeluh.


“Tau, ah Lula nggak paham!” Lula memang pernah melihat video dewasa, tapi tidak mengetahui tentang macam-macam alat kontrasepsi. Dia pun memilih mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Meski sebenarnya dia sendiri tidak memahaminya.


Semakin lama obrolan mereka semakin ngawur. Suasana ruangan tak lepas dari keributan, kini tak lagi sungkan dengan kehadiran sosok mertua Rainer, karena pria itu sendiri mempersilakan mereka untuk melakukan apapun senyaman mereka.


Lula memerhatikan satu persatu dari mereka. Semuanya terlihat bahagia, tertawa lepas, mereka semua pasangan serasi dan romantis. Siapapun pasti menginginkan hubungan yang sedemikian rupa. Termasuk Lula sendiri. Dalam hatinya berusaha memikirkan, apa dia juga akan sama seperti mereka. Melewati hal pahit dulu sebelum menemukan kebahagian. Tapi, pria itu tidak menginginkan dirinya lebih dari sekedar pengganti.


Lula jadi memikirkan tentang Frans yang sejak kemarin belum menghubunginya. Lula tidak tahu lagi harus melakukan apa. Dia berharap suaminya itu akan segera menghubunginya.


Demi mengusir topik tentang Frans, Lula berusaha larut dalam obrolan. Kini dia bisa ikut tertawa lepas dengan mereka. Sampai Gwen bertanya pada Lula tentang suaminya.


"Menantunya kak Rainer, di mana? kok nggak keliatan?"


Semua mendadak bungkam, begitu menantikan jawaban dari Lula. Termasuk Rainer sendiri, pria itu penasaran dengan keberadaan Frans saat ini. Mengingat Frans selalu menghantarkan Lula pergi setelah tahu Lula demam di malam.


"Lagi perjalanan dinas," jawab Lula, pandangan matanya kosong, sayangnya dari sekian banyak orang yang hadir tak ada satupun yang paham perasaanya saat ini.


"Ke mana, wah om boleh dong minta oleh-oleh!"


Lula menoleh ke arah lawan bicara. "Ke Singapura, Om."


Rainer yang mendengar mulai curiga, jika Frans tidak mengurus pekerjaan tapi bertemu dengan Priscilla. Dia masih ingat tentang keberadaan Priscilla saat ini.


"Wah, jauh juga. Kenapa kamu nggak ikut, Lula?!"


Jangankan ikut, dia pergi saja tidak pamit padanya, mungkin takut dia merepotkan, dan menyita waktunya. Batin Lula, spekulasi baru mulai hadir di kepalanya.


"Sekolah, Tante. Sebentar lagi ujian." Lula menjawab sekenanya, sambil melirik ke arah Kakek Ken yang sudah tahu semuanya tentang hubungan pernikahannya saat ini.


Obrolan kembali berganti topik, hati Lula tak sepenuhnya hadir di sana. Hingga tidak lama kemudian, ia melihat ayah Rainer beranjak dari sofa, sedikit menjauh untuk menjawab panggilan teleponnya.


Lula berharap jika yang saat ini menghubungi ayah Rainer adalah suaminya. Tapi, sepertinya bukan, reaksi ayah Rainer saat menerima panggilan itu terlihat begitu antusias. Bukan tipe ayah banget saat bertemu dengan suaminya.


Lula berusaha mengabaikan perasaan gila yang bersarang dalam dirinya. Hingga, panggilan ayah Rainer yang memintanya untuk mendekat membuat Lula semakin kebingungan. "Suamimu telepon! katanya ponselmu sulit dihubungi!"


Lula baru saja ingat, jika ponselnya tertinggal di saku seragam batik yang tadi dikenakan. Tak ingin suaminya menunggu lama, Lula bergerak mendekati ayah Rainer. Dia membawa ponsel itu keluar dari ruangan, menjauh dari keributan yang tercipta di kamar Bougenville.