
Tiga hari terlewati sepertinya Lula belum ingin mengakhiri perang dinginnya dengan Frans. Anehnya, reaksi yang ditunjukan Lula berpengaruh buruk dengan kehidupan Frans.
Raganya tidak begitu kacau, Frans selalu perfect dalam memilih parfum dan berpenampilan. Tapi di setiap kepalanya terasa kosong, tidak memikirkan angka ataupun bahan material yang hendak digunakan untuk proyek baru. Pasti bayangan wajah sendu, manik mata bulat dihiasi bulu mata lentik milik Lula menyelinap masuk dalam kepala.
Memutarkan kenangan makiannya malam itu, dan satu yang Frans sesali, hal ini juga yang akhirnya menyadarkan dirinya akan rasa bersalah, ketika Rainer memberitahu padanya.
Lula dikejar-kejar orang gila! Ada teman laki-lakinya yang kebetulan lewat dan menolong!
Dua kalimat itu menepis bayangan tentang Lula yang bercumbu dengan Levin di semak-semak ataupun di taman gelap diluar sana. Itulah yang Frans cemaskan. Dia hanya khawatir Lula hamil dengan pria lain. Apa yang akan dikatakan pada Rainer, nanti? mengakui jika itu bayinya?! Itu bukan solusi.
Frans tersenyum ironis. Rupanya pikirannya terlalu jauh. Ketakutan demi ketakutan tidak bisa menjaga Lula turut menyertai sampai detik ini. Dia juga takut gagal membawa Lula dalam kebaikan. Dan ketakutannya itu tanpa ia sadari justru menorehkan luka di hati Lula. Sikap yang dikiranya tegas, justru kasar menurut Lula.
Rapat yang diagendakan pagi baru saja ditutup oleh Ibnu. Rasanya ia tidak bisa menangkap semua pembahasan hari ini. Meski begitu ia akhirnya bisa bernapas lega, karena rapat yang begitu menjemukan akhirnya berakhir juga.
“Berikan notulennya ke ruanganku!” pesan Frans sebelum meninggalkan ruang rapat. Dia datang paling akhir, dan pergi paling awal. Tidak peduli dengan pandangan mereka nanti.
Tiba di dalam ruangannya, Frans kembali memutar ulang kejadian beberapa hari ini di rumah mewahnya. Rasanya seperti semedi, hampa dan sepi.
Lula seakan menjaga jarak yang begitu jauh, enggan digapai. Saat pagi hari, di kala dia hendak menyapa, gadis itu sudah menggunakan helm, siap berangkat ke sekolah dijemput oleh Zola.
Siang harinya, karena repot dengan tumpukan pekerjaan, membuatnya memerintahkan anak buahnya untuk menjemput Lula. Dan berakhir, mereka selalu berkata jika Lula sudah pulang denga Zola.
Saat malam tiba, padahal dia selalu berusaha menyelesaikan pekerjaanya lebih awal. Namun, lagi-lagi ketika dia tiba di rumah mewah itu, Lula sudah masuk kamar dengan pintu terkunci rapat, gadis itu sudah tidur. Tak menyahut ketika bibirnya menyebut namanya.
Dia pikir Lula akan seperti gadis kecil lain yang dibelikan barang kesukaan langsung luluh, dan mau berbicara panjang lebar, duduk bercerita seperti biasanya. Tapi gadis itu justru berubah dingin padanya. Menurutnya, lebih mudah meluluhkan Priscilla yang sedang marah ketimbang si Lula yang sedang ngambek.
Padahal, kalau dipikir ulang, bukankah dia yang seharusnya marah?! Lula pergi tanpa kabar dan pamit, pulang malam. Ya, paham sih, lagi-lagi sikapnya malam itu seperti menghantuinya. Memberitahu jika Lula marah karena sikap kasarnya itu.
“Tidak bisa dibiarkan, aku harus meluangkan waktu untuk berbicara dengannya.” Frans yang baru saja mendaratkan bo-kongnya kembali berdiri. Tangannya terkepal kuat, menumpu tubuhnya di atas meja.
Tepat saat itu juga, pintu ruangan terbuka pelan. Pria dengan setelan jas yang terkancing rapi, melangkah mendekati meja Frans. Bibir tipisnya melengkung membentuk senyuman, sebagai sapaan kepada atasan. Sudah beberapa hari ini si bos bersikap layaknya pria yang tengah putus cinta tapi dia tidak berani bertanya, ada apa gerangan? meski jujur, rasa penasarannya setiap hari semakin bertambah.
Ibnu meletakkan buku agenda ke atas meja, menyerahkan notulen rapat hari ini. "Kalau tidak ada yang diperlukan lagi, saya permisi, Pak!"
“Kosongkan jadwal setelah makan siang!” perintah Frans, sebelum Ibnu meninggalkan ruangannya.
“Tapi—
“AKU BILANG KOSONGKAN! Kamu tidak tahu ini akhir pekan? Aku mau berkencan!” Frans heran sendiri dengan ucapannya. Dia menggeleng cepat, “Mak—maksudku aku ingin mengantar Lula membeli buku,” ralatnya, malu kalau sampai Ibnu mencurigai seberapa gugup dirinya saat ini.
“Baik, Pak!” Ibnu mundur perlahan, lalu meninggalkan ruangan atasannya itu.
Jam makan siang masih satu jam lagi, tapi kesabaran yang dimiliki Frans setipis tisu. Dia langsung saja masuk ke kamar, mengganti pakaian sebelum jam pulang sekolah Lula tiba.
Setelah merasa siap, Frans kini yang mendatangi ruangan Ibnu. Bahkan sekertaris pribadinya itu terkejut melihat penampilannya, yang jauh dari usianya. Rasanya ingin sekali tertawa, tapi takut kena SP tiga.
“A—ada apa?!” tanya Frans, diiringi seringai tipis. “Apa aku terlihat mempesona di matamu?!” cecarnya, saat menyadari tatapan menilai yang ditunjukan Ibnu.
“Bapak beneran mau kencan dengan Nona Lula?”
Seolah diingatkan dengan penampilannya. “Apa tidak pantas? Eh, sudah kubilang aku hanya akan mengantarnya membeli buku! Jangan bilang ini kencan! Dia masih kecil, sudah ku anggap putriku sendiri.” Frans mengingatkan, beruntung dia sigap memberi alasan, jika tidak pasti dia akan malu sendiri dengan sikapnya ini.
“O, ya? Jelas lah, aku mau jalan sama Lula bukan sama Eyang Ano.” Kalimat itu seperti pujian yang mampu membuat Frans tersenyum simpul. Senyum yang nyaris satu minggu ini meredup. “Suruh orang buat ngirim motorku!” perintah Frans yang teringat dengan niatan mendatangi ruangan Ibnu.
Pria itu semakin terkejut, “Motor?”
Ya, Frans pikir mereka lebih baik naik motor, sama seperti Zola, siapa tahu Lula tidak menolaknya untuk naik. “Ya, sebaiknya kau juga datangi dokter THT, untuk memeriksa telingamu! Udah tahu sekarang, masih tanya?!” kata Frans seraya menjauh dari hadapan Ibnu.
Jam makan siang sudah tiba. Frans yang sudah kembali ke ruangannya hanya bisa mondar-mandir mengelilingi ruang kerja, ia rasa waktu tak kunjung berputar, terasa begitu lama hingga kejenuhan pun menyerangnya.
“Apa motor sudah datang?” tanya Frans, ketika langkahnya kembali tiba di ruangan Ibnu. Dia sudah tidak sabar.
“Belum, Pak!”
“Jangan sampai aku terlambat gara-gara menunggu motor itu datang!” peringat Frans, dia tidak bisa membayangkan kalau Lula menunggunya di depan sekolah, kepanasan, atau bahkan … kehujanan.
Tepat ketika Frans berjalan menuju pintu, ponsel Ibnu berdering nyaring. Seseorang mengabarinya jika motor yang dipesan sudah tiba.
Tanpa menunggu penjelasan Ibnu, Frans langsung melesat pergi. Dia tidak ingin terlambat menjemput Lula meski dia tahu waktu masih cukup untuk perjalanan ke SMA Barracuda.
Tiba di sekolah, suasana masih terlihat sepi. Bahkan nyaris tidak ada orang yang hinggap di depan pintu gerbang. Frans pikir, mereka belum selesai dari jadwal pelajaran. Dia menunggu, menyandarkan bo-kongnya di jok motor.
Namun, nyaris satu jam menunggu Frans tidak menemukan bayangan tubuh Lula keluar dari gerbang. Bukan hanya Lula, bahkan tak ada satu murid pun yang keluar dari gerbang sekolah.
Merasa lelah, akhirnya Frans mendatangi pos keamanan. Dia bertanya pada penjaga yang kebetulan sedang menonton acara televisi. “Pada belum pulang ya, Pak?!” tanya Frans.
“Bukan belum pulang, Pak! Tapi anak-anak kan memang libur, ini hari sabtu.” pria itu menjawab ringan, bahkan tidak menyadari ekspresi kesal yang ditunjukan Frans saat ini.
"Begitu?!" senyum terdengar menggelikan, Frans tengah menertawakan dirinya sendiri.
"Ya, kukira tadi bapak sedang kencan, jadi nggak aku beritahu!" kata pria itu.
"Baiklah terima kasih." Tanpa berpikir panjang lagi, Frans segera naik ke atas motornya. Dia sedikit menjauh menghindari rasa malu yang semakin menyergapnya. Dia ingin menelepon Lula, menanyakan keberadaan gadis itu.
Tiga kali Frans mencoba menelepon Lula. Sayangnya panggilan itu tidak menerima jawaban dari pemilik nomor. Frans nyaris membanting ponselnya karena Lula tak kunjung mengangkat panggilan itu. Rasa kesalnya semakin memuncak, ia bersumpah jika ini adalah panggilan terakhirnya ke nomor Lula, jika tidak diangkat, selamanya dia tidak akan menghubungi nomor itu.
“Hallo, kamu di mana?” beruntungnya Lula mengangkat panggilan itu, menggugurkan sumpah serapahnya tadi.
“Di rumah.”
Frans diam saja, berarti tadi pagi saat dia tidak menemukan Lula di teras rumah, gadis itu masih berada di dalam kamar.
“Apa kamu tidak bosan?”
“Tidak.”
Frans menelan air liurnya, jawaban Lula begitu dingin dan singkat. “Okay, Daddy akan pulang sekarang.” Frans menatap layar ponselnya yang menandakan total menit panggilan. Panggilan itu diputus sepihak oleh Lula. “Tidak sopan!”
Sambil mengemudikan motor sportnya, bibir Frans tertawa geli, menertawakan sikapnya yang seperti orang gila. Dia merasa tidak perlulah mengenakan jaket denim celana jeans dan sepatu kats warna putih. Ini terlalu berlebihan. Dan Lula pasti akan ke GR-an! Karena penampilannya menyesuaikan selera gadis itu. Tapi akan membuang waktu jika dia kembali ke kantornya.