
Akibat terlalu bersemangat memainkan game arkade, Lula dan Frans sampai lupa waktu. Mereka keluar dari wahana permainan tepat pukul delapan malam. Beruntungnya, kondisi mall saat ini masih terlihat ramai, dipenuhi kawula muda yang baru saja berdatangan.
Kaki Lula serasa mati rasa, dia baru menyadari setelah berhasil memasuki lift mall bersama suaminya. Lula sengaja menyadarkan punggungnya.
Bukan hanya Lula yang merasakan lega karena bisa tertawa lepas. Tapi, Frans, suaminya itu juga melakukannya. Senyum yang sirna sejak puluhan tahun yang lalu kini kembali hadir. Dalam hati Lula berjanji, suatu hari nanti akan membawa pria itu datang lagi ke tempat ini.
Frans tampak bersemangat sekali saat memainkan game. Tapi tetap saja Lula juaranya. Dari game basket, capit boneka, pria itu hanya menghabiskan koin. Karena pada akhirnya boneka di tangannya saat ini dia sendiri yang mendapatkan.
“Ayo keluar,” ajak Frans, ketika lift yang mereka tumpangi berhasil berhenti di area basement.
“Gendong, Dad! Kaki Lula rasanya mau patah.”
“Enggak, jalan sendiri!” Frans menolak seraya melangkah melewati pintu lift yang terbuka lebar. Mengabaikan Lula yang masih nyaman bersandar di dalam lift.
Belum jauh Frans berjalan ke arah parkir mobilnya, ia kembali menoleh ke arah Lula. Sayangnya gadis itu kembali berulah, tak ada siapapun di belakang tubuhnya. Saat pintu lift kembali bergerak, dari sela pintu Frans melihat Lula masih terlihat nyaman di dalam sana.
“Oh, no! Lulaa!" teriak Frans mengiringi pintu lift yang mengunci. "Dasar anaknya Rainer!” Frans terlihat frustasi. Dia kembali berdiri di depan pintu lift, menatap tanda merah yang menunjukan ke mana lift itu berhenti.
“Untung aku sabar,” gumamnya. Melipat kedua tangannya di depan dada.
Hampir empat menit Frans berdiri di sana, akhirnya pintu lift kembali terbuka. Dia bisa melihat Lula tengah meringis ke arahnya. Wajah tanpa dosanya muncul, yang membuat Frans semakin geram.
“Gendong! Kakiku pegal semua, Dad!” pinta Lula.
Frans membuang napas kasar, lalu melangkah mendekati Lula. Tanpa pikir panjang lagi pria itu menggendong Lula, di punggungnya.
“Kan, tadi aku yang menang. Jadi nggak usah mijitin aku.” Lula mengoceh, dia mengalungkan kedua lengannya di leher Frans.
“Bibirnya mirip Daddy.” Gumamnya menggosok gemas bibir boneka duck itu ke wajah Frans. Lula tidak melihat ekspresi Frans saat ini.
“Kan, lancang! Aku turunin nih!” ancam Frans. Dan Lula benar-benar menghentikan gerakan tangannya, memegang dengan benar hadiah capitan yang dia peroleh.
Perasaan tadi dia memarkirkan mobilnya tidak begitu jauh dari pintu lift, tapi kenapa sekarang justru seperti ber mil-mil jaraknya.
Lula diam sebentar saja, kemudian kembali bertanya. “Dad, menurutmu aku cantik nggak?!”
“Biasa saja!” Frans menjawab ketus.
“Em, sama Tante Cecil cantik mana?” selidik Lula, penasaran dengan jawaban Frans.
“Sudah Daddy bilang jangan sebut namanya!”
“Emang kenapa? Kira-kira kalau aku menyebut namanya tiga kali bakalan nongol nggak ya?!” Lula terkekeh, menggoda Frans yang tengah fokus dengan langkahnya.
“Kamu pikir dia cenayang!”
“Nah, kan siapa tahu! buktinya dia ninggalin Daddy sudah dua kali loh! kalau dia manusia kok nggak punya hati banget!” goda Lula yang diabaikan oleh suaminya.
Langkah Frans semakin pelan, dia benar-benar lelah malam ini, kakinya terasa kencang saat melewati sedikit jalan tanjakan.
“Dad!”
“Apa lagi?” ketus Frans.
“Apa arti bayi menurut Daddy?!”
Frans tidak langsung menjawab, dia masih bingung kenapa Lula bertanya begitu padanya. Selain itu dia juga tengah memikirkan jawaban yang pas.
“Sepenting apa kehadiran seorang bayi di mata Daddy?”
"Tapi sekarang Daddy jomblo! dengan siapa Daddy akan mencetak anak?!"
"Kamu nggak berada di samping Daddy 24 jam. Jadi, jangan sok tahu! Jomblo, jomblo. Kamu aja yang jomblo Daddy mah enggak!" Frans kembali menjawab dengan nada kesal.
Lula pikir, Frans tidak mewajibkan memiliki anak. Tapi rupanya dia salah. Dan alasan Frans cukup masuk akal untuk dipahami. Siapa juga yang tidak menginginkan penerus darinya.
“Eh, tapi kenapa kamu tanya begitu? Jangan-jangan malam ini kamu mau—”
Satu pukulan mendarat di pundak Frans membuat pria itu tertawa lebar. “Kalau aku yang jadi anak angkat Daddy gimana?” Lula mengajukan diri.
“Enggak! Daddy nggak mau! Kamu hanya ingin mengambil harta Daddy, setelah Daddy mati, pasti akan langsung kamu habiskan!”
“Jangan mati dulu, lah, Dad! Lula belum menikah yang kedua nih!” goda Lula. "Daddy harus jadi saksi di pernikahan Lula, harus lihat Lula punya bayi, terus bayinya Lula teriak sama Daddy, Opa-opa saranghae! Daddy harus panjang umur!"
Frans tertawa sumbang, satu tangannya merogoh kunci mobil. Membuka pintunya untuk Lula. “Padahal kalau Daddy mati sekarang. Kamu bisa jadi miliuner.”
“Emang Daddy pikir aku seserakah itu?!” kesal Lula, seiring pintu samping yang tertutup rapat. Pria itu memutari mobilnya, lalu duduk di balik stir kemudi.
“Kamu memang pecinta uang, tapi ...siapapun akan memberikan kamu uang jika tahu uang itu kamu gunakan untuk membantu orang.” rupanya Frans mendengar teriakan Lula.
“Masalah aku membantu orang. Jangan sering dibahas, Dad!”Lula mengingatkan. Dia tidak suka kebaikannya terlalu diekspos.
Frans tidak merespon dia kembali fokus ke arah jalanan di depannya. Berharap segera tiba di rumah beristirahat.
Perut mereka sudah kenyang dengan camilan yang tadi dibeli Frans. Jadi saat tiba di rumah. Mereka langsung saja naik ke lantai dua, mengistirahatkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Lula memejamkan mata di atas ranjang, dia begitu cepat terlelap bahkan sebelum Frans keluar dari kamar mandi.
Frans membenarkan posisi tidur Lula, menutupi tubuh istri kecilnya dengan selimut. Malam ini semua aman terkendali, Lula tidak akan menganggu malamnya seperti kemarin.
Frans bersiap untuk tidur. Baru saja hendak merebahkan tubuhnya, nada dering ponselnya mengalun merdu.
“Ada yang penting sampai harus menghubungi di jam segini?” protes Frans, padahal biasanya juga dia masih lembur di ruang kerja.
“Maaf, Pak. Saya cuma mau mengingatkan besok pagi penerbangan pukul 9 pagi.”
Frans menarik napas dalam, ia hampir saja lupa jika besok harus terbang ke Singapura.
“Okay, sekalian pesankan tiket balik ke Jakarta. Aku tidak akan bermalam di sana,” pesan Frans.
“Baik, Pak.”
“Sama satu lagi. Besok wajib kamu yang menjemput Lula pulang sekolah. Aku akan memantau kabar Lula dari kamu.”
“Baik, Pak!”
“Apa masih ada hal penting lagi?!” tanya Frans siapa tahu ada hal penting yang hendak disampaikan Ibnu padanya.
“Cukup, Pak!”
Tanpa berkata lagi, Frans memutus sambungan teleponnya. Dia kembali merebahkan tubuhnya di samping Lula.
Dengkuran halus keluar dari bibir Lula membuat bibir Frans tersenyum simpul. Dia membenarkan posisi tidurnya menghadap Lula, tangannya bergerak pelan mengusap kening istrinya, membiarkan Lula semakin nyaman memasuki alam mimpi.
“Besok Daddy akan pulang telat, kamu jangan nakal ya! Wajib nurut sama Ibnu. Cuma dia yang bisa Daddy percaya untuk menjagamu!” bisik Frans yang tak mungkin mampu didengar oleh Lula. Dia memutuskan untuk memejamkan mata, tubuhnya terasa pegal oleh aktivitas tadi di mall, cukup mudah untuknya terlelap dalam kondisi seperti ini.