Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Tentang Qailula Suha



Rupanya, Frans tidak berbohong. Pria berkacamata itu telah menyiapkan kejutan besar untuk Lula. Dan saat ini, di dalam villa itu, keluarga Rainer yang menunggu kedatangan Lula.


"Selamat atas kelulusanmu, Sayang ...." bunda Zahira dengan perutnya yang sedikit membuncit memeluk tubuh Lula.


"Tapi aku batal bikin ayah dan Bunda bangga! nilai Lula B aja."


"Tidak masalah, kamu tetap terhebat di mata kami!"


Lula melepas pelukan bunda Zahira, menatapnya lekat-lekat.


“Kenapa malah ke sini? Padahal aku nungguin di sana loh!” protesnya.


“Kan, emang acaranya di sini?” Zahira memberitahu kepada putrinya yang kini tengah berpelukan dengan Rainer.


"Selamat yang, Anakku!"


"Terima kasih, Ayah ... maaf ya, Lula belum bisa jadi kebanggaan Ayah!" mata Lula mendadak seperti tertusuk-tusuk jarum. Rasanya perih, dan perlahan selaput matanya mulai digenangi cairan bening.


"Ayo, tamu yang datang sudah lelah menunggu kalian!" ajak bunda Zahira, sambil menuntun Ben.


Lula masih bergeming, dia bingung karena merasa tidak membuat acara apapun di tempat ini. Bibirnya melebar, membentuk senyuman manis, satu tangannya bergayut manja di lengan sang suami. "Daddy ngasih kejutan ya, ke Lula," selidiknya.


Namun, bibirnya langsung terkunci rapat ketika mendapati sang mertua berdiri tak jauh dari mereka. Bukan hanya dia, kakek, nenek, Oma, opung semuanya terlihat hadir. "Apa ini ulang tahu papa Ferdinand, Dad?” bisik Lula, saat jarak dengan mereka semakin dekat.


“Tentu saja bukan, ini kan acara kita!”


“Kita? emang Daddy ulang tahun?" tanya Lula dan langsung dijawab sendiri. "Enggak kok!” dia tahu ulang tahun Frans itu empat tahun sekali, karena jatuh pada tanggal 29 Februari.


“Resepsi pernikahan kita.” Frans menjawab ringan yang dianggap Lula sebagai candaan. Gadis itu terbahak, sama sekali tidak percaya dengan ucapan suaminya.


“Kan, ada-ada saja!” Lula memukul lengan Frans, bukan pukulan keras, hanya wujud sebagai kegemasanya terhadap sang suami.


Frans pun memilih diam, dia menggandeng lengan Lula membawanya bergabung dengan tamu yang hadir. Seketika mata Lula membelalak melihat banyaknya tamu yang hadir di sana. Dan sebagian besar adalah orang kantor suaminya, meskipun ada rombongan dari alumni SMA Barracuda yang turut hadir.


Yang menjadi pertanyaan Lula, di mana mereka memarkirkan mobilnya? Kenapa tidak melihat deretan mobil di depan Villa?


“Mereka ngapain sih, Dad? Habis menang tender ya? jadi ini acara syukuran. Begitu?”


Frans lelah menjelaskan, jadi memilih diam dan biarkan waktu yang menjawab. "lihat aja nanti!" dia masih melangkah pelan menjamu tamu yang datang. Acara digelar lebih santai, karena memang hanya diperuntukan orang terdekat saja. Yang penting ada kamera yang selalu on merekam kegiatan mereka semua.


Detik demi detik berlalu, sinar matahari perlahan mulai condong ke arah barat. Lula dengan baju kebaya warna merah, semakin sibuk menjamu tamu, mengisi perutnya dengan jajanan yang tersaji.


Perlahan dan pasti satu persatu dari mereka mengucapkan selamat kepadanya. Dia pun menyadari, jika suaminya itu tidak berbohong. Ini ACARA UNTUK MEREKA BERDUA.


Akhirnya, saat langkah Lula semakin menjurus ke bibir pantai, matanya mampu melihat barisan mobil yang terparkir tak jauh dari villa. Lalu, pandangannya jatuh pada tulisan Happy Wedding Frans Agung P & QaiLula Suha D.


“Katanya mau menikah di pinggir pantai!” ledek Frans, ketika menyadari ekspresi Lula yang terlihat begitu shock.


“Kan kita udah nikah, Dad masak iya nikah dua kali.”


“Akadnya aja sekali, resepsinya boleh puluhan kali. Anggap saja ini pernikahan kita yang sebenarnya! Dulu, kita cuma pura-pura!”


Lula tertawa malu-malu, menggosok-gosok telapak tangannya berulangkali. Seketika dia ingin berlari mengejar deburan ombak di tepi pantai. Tapi selow Lula kakimu masih sakit! Seseorang seakan memperingati Lula.


“Kapan Daddy ngrencanain ini?” Lula penasaran, dia heran kapan suaminya itu merencanakan pesta ini. Perasaan hampir 24 jam Frans selalu di sampingnya.


“Sebulan yang lalu.”


“Ah, makasih Sayang!” Lula mendadak merangkul pundak Frans meninggalkan kecupan di seluruh wajah pria itu.


“Ih, enggak malu tuh dilihatin keluargamu!” goda Frans meski dalam hatinya merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


“Ah ya nggaklah. Kan kamu suamiku! Halal kok!”


“Cie-cie swami!” sindir Frans, yang mendadak suka sekali menggoda Lula. “Enggak marah lagi, kan?”


“Semua kan demi kamu! Biar kamu nggak ceroboh!” Frans mencubit pipi Lula dengan gemas. Kemudian mengajak Lula menemui teman-temannya yang sudah lebih dahulu hadir di sana, dia tidak ingin hari bahagianya ini diisi dengan perdebatan.


Rupanya acara itu seperti reuni jilid dua. Tentu saja beberapa dari mereka shock mendengar kabar jika saat itu yang dinikahi Frans bukan Priscilla melainkan QaiLula Suha, putri sahabatnya sendiri. Ketika Frans ditanya alasannya apa, itu karena Priscilla kabur saat akad nikah. Dia jujur.


“Jadi, lo bener-bener jatuh cinta dari orok ya, Frans! Bu guru ngidam lo yang nyariin, itu karena ikatan batin lo sama Lula kuat.”


“Iyalah, itu namanya jodoh dari embrio!” Frans menjawab, ketus.


“Sayang, lo lahir nya duluan!”


“Lula, ati-ati lo ya! dia itu ganas banget!” salah satu dari mereka memberitahu Lula.


“Om, nggak boleh loh ngomongin bab ***-*** di sini. Lula masih kecil! Dosa! Nggak boleh kaya gitu!”


Jawaban Lula justru memancing gelak tawa dari rekan-rekan Frans. “Aku nggak bisa bayangin gimana Frans nanti. Kamu yang suhu perkara gituan ngajarin Lula yang sebening embun gini!”


“Heh, jangan salah dia udah jadi suhu sekarang!” timpal Frans tak terima dikatain temannya seperti itu.


“Daddy!” Lula melempar tatapan tajam, yang langsung di sambut gelak tawa rekannya.


“Rain, nggak jadi deh gue incer anak Lo buat dijadiin mantu. Diembat duluan sama Frans.”


“Kalah cepat sih, lo! dia boking udah dari bunda nya Lula ngidam!”


“Tu zahira hamil lagi, ada yang mo boking jadi besan Rainer enggak!”


Obrolan receh itu membuat kericuhan tak kunjung henti. Sampai akhirnya, Frans dan Lula, diminta naik ke panggung pinggir pantai, yang sudah dihiasi kain-kain putih dan bunga. Mereka berdua dituntut untuk mengucapkan janji suci.


“Eh, enggak siap ini!” Frans menolak, karena belum persiapan sama sekali. Dia bukan tipe penyair yang pandai merangkai sebuah kata menjadi kalimat rayuan.


“Sekali-kali lah! Nilai bahasa Indonesia lo kan bagus!” timpal seseorang dari mereka.


“Okelah kalau beg-beg-begitu!” Frans maju sambil menuntun Lula yang malu-malu ketika Frans menggenggam tangannya erat.


“KETAWA GUE LEMPAR KE LAUT!” ancam Frans sambil melempar tatapan tajam ke arah teman-temannya. "MODE SERIUS NIH!"


“Mari kita dengarkan gombalan Frans!” seseorang berseru ketika Frans meraih mic yang dibawa pembawa acara.


Pria itu terlihat menarik napas dalam-dalam mengontrol debaran jantungnya. Hanya dia dan tim teknisi yang tahu jika acara siang ini disaksikan langsung oleh pengikut Pagara Group. Setelah berhasil mengendalikan diri, Frans mulai berbicara. “QaiLula Suha Damanik, lahir di Jakarta kurang lebih 20 tahun yang lalu


… aku biasa menyebutnya Lula, memanggilnya Sayang kalau sedang bermesraan, memanggilnya Bebeb kalau sedang di dalam kamar mandi ….”


Para rekannya terbatuk, batuk yang sengaja dibuat-buat, sedangkan Lula yang berada di depan Frans hanya tertawa malu. Gemas juga dengan gaya Frans yang sok seperti buaya darat. “Daddy ih, nggak pantas! Lula malu ....” lirihnya dan hanya Frans yang bisa mendengar.


Alih-alih berhenti, Frans justru menatap Lula semakin intens. Sengaja mengunci pandangan Lula supaya hanya tertuju ke arahnya. “Katakanlah ... aku mengenalnya sejak dia ada dalam kandungan. Seseru itu perkenalan pertama kami. Dulu, aku ingat dia minta mangga muda, dan tanyakan saja pada ayah mertua, tentu aku yang lebih dulu mendapatkan!" ingatan Frans kini terlempar jauh pada kenangannya beberapa tahun silam. Ketika Zahira yang sengaja disembunyikan Rainer di apartemennya. Karena pria itu ketakutan mengetahui Zahira hamil. "Jika diceritakan terlalu panjang, tentang Lula itu tidak akan pernah habis.” Tahan, Frans menahan ucapannya, untuk menelan air liur. Lalu tersenyum ke arah Lula yang terlihat mempesona dengan kebaya warna merah. Astaga! bolehkah merebahkannya di kasur sekarang? “Boneka pertama, adalah boneka Chucky, yang mungkin sekarang disimpan di gudang oleh ayahnya Coklat pertama adalah Cadbury, yang langsung ditelan habis hingga belepotan dan berujung aku kena semprot bunda Zahira. Permen pertama adalah permen kaki, dress pertama warna hitam, ikat rambut pertama bentuk bunga. Buku pertama adalah buku tulis bergambar boy band smash. Kan nggak pernah habis bercerita tentang QaiLula Suha.” Frans mende -sah kasar.


“Lanjut!” teriak rekannya, setelah itu kembali hening.


“Lula yang dikenal orang, adalah gadis bodoh, teledor, grusah grusuh, keras kepala. Tapi, Lula yang kukenal bukan seperti itu. Dia gadis rajin, pintar masak, pintar ngurus suami, dermawan, lembut, masih suka nangis. Dan beberapa bulan hidup dengannya itu sangat menyenangkan. Awal yang kurasa adalah sebuah kesalahan kini aku seperti menjadi sosok pria paling beruntung yang bisa memilikinya. Banyak rahasia yang dia miliki yang tidak patut untuk diungkapkan, dan kurasa kalau kubongkar di sini, kalian akan jatuh cinta padanya. Jadi lebih baik, aku simpan saja untuk diriku sendiri.”


“Ah, curang!”


"Satu saja, akan kubongkar! Dia terlihat se-xy ketika tertawa!"


"Woalah!!! sadar woey! Bucin Lo ya!"


“Terserah kalian. Tapi yang ingin aku katakan saat ini aku sungguh-sungguh mencintai Lula, mencintainya bukan hanya sekedar hitam di atas putih, bukan sekedar perjanjian kita di awal pernikahan. Tapi hati ini rela berkorban untuknya. Sekian tentang Lula…. Terima kasih!” ucapan itu di akhiri dengan kecupan singkat di bibir merah Lula, yang membuat semua orang bersorak kegirangan. Berbeda dengan Lula yang wajahnya kini justru bersemu merah, menahan bahagia sekaligus malu.


“Lula, giliran kamu dong!” seseorang bersorak lantang, yang disusul tamu lain yang hadir.