
Ken Adhitama terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan Lula. Bagaimana bisa Lula bertanya seperti itu di saat usia pernikahannya baru satu bulan. “Bahagia yang seperti apa yang kamu maksud Lula? Jangan jadi gadis bandel, ya!” balas Kakek Adhitama.
Lula mende-sahkan napas ke udara. Dia tidak ingin buru-buru mengganti seragam yang membalut tubuhnya. Lula justru mendaratkan bo-kongnya di kursi, menemani sang kakek yang tengah kesepian.
“Lula, tanpa masalah, pernikahan itu rasanya hambar! Justru adanya masalah itulah yang akan membuat warna dalam pernikahan kalian. Semua akan meningkat seiring banyaknya masalah yang kamu hadapi. Kedewasaan, cinta—semuanya! dan kamu tahu, masalah ada itu atas seizin-Nya.”
Boro-boro cinta, dia nggak tertarik sama aku, kakek! Apalagi aku. Masa iya? jatuh cinta sama pria beruban seperti dia.
“Ingat, bagian mana yang buat kamu jatuh cinta sama cucu mantuku?” Kakek Ken bertanya, dari nada bicaranya seperti sedang berbicara dengan anak kecil. “Uangnya? Tampannya? Atau mana, cerita sama kakek!” sambungnya tak lepas sedikit pun memerhatikan raut Lula.
“Enggak ada!” Lula memberengut, karena memang tidak ada yang bisa menariknya masuk ke lautan cinta ketika memandangi pria itu. “Lula salah—Lula bohong sama kakek!” kepalanya tertunduk dalam. “Lula terpaksa menikah dengan Mas Frans?!” Lula mengakui kesalahannya. “Aku enggak cinta sama dia, Kek! Dia juga tidak mencintaiku, kita ... kita hanya, hanya pura-pura di depan kalian. Dia masih mencintai mantannya Kek! Maafin Lula! Lula mengakui sudah berbohong pada kalian!” kata Lula dengan suara pelan.
“Astaghfirullah, istighfar Lula! Nyebut, nyebut! Jangan mengambil kesimpulan sendiri tanpa kamu bertanya dulu padanya!" kakek Ken kini tidak percaya dengan ucapan Lula. "Anak itu tidak akan berani menyakitimu! kakek yakin dia mencintaimu!”
“Faktanya begitu, Kek! Dia masih mencintai mantan kekasihnya. Buktinya, sekarang dia pergi ke Singapura, menyusul wanita itu! Kakek lihat saja, pasti sebentar lagi dia bakal nyia-nyiain Lula. Mencampakan Lula, nggak peduli lagi sama Lula. Sakit dia, Kek! manfaatin Lula sampai Lula sakit hati, begini!” Lula terisak-isak di sela aduan yang disampaikan kepada Kakek Ken.
Lula sakit hati mendapati sang suami pergi tanpa pamit. Dikira dia hanya menekin, tidak memiliki perasaan. Dan sekarang, lihatlah! pasti dia sedang sibuk bermesraan dengan Tante Priscilla, sampai lupa tidak mengirimkan pesan apapun padanya.
“Kakek dulu juga begitu? cukup kakek saja yang menyerahkan nenekmu pada Pebinor itu. Kamu jangan sampai melepasnya! kamu harus pertahankan rumah tangga kalian.”
Lula mengusap air matanya, terusik dengan gelar pebinor yang didapatkan kakek Ipam. Mereka memiliki cerita dari sudut pandang masing-masing, dan Lula memahami itu.
Saat menyadari tak ada tanda-tanda penyakit jantung kakek Ken kambuh, Lula pun memberanikan diri menatap pria itu. “Kakek dukung Lula?!” tanya Lula.
“Semua tergantung, kamu! Kakek hanya ingin kamu menikah sekali seumur hidup, sama seperti bundamu. Tahan banting mengurusi ayahmu yang kaya bayi besar itu.”
Lula merasa ucapan kakek Ken itu salah. Ayah Rainer adalah suami dan ayah yang terbaik sedunia. Tidak ada yang bisa menandingi. “Tapi Lula bangga punya ayah Rainer. Jadi dokter, suka menolong orang!”
“Cukup jangan mengalihkan topik pembicaraan. Ceritakan semuanya kepada Kakek sebenarnya apa yang terjadi!”
“Nanti penyakit jantung Kakek kambuh?!”
“Tidak!”
Lula menunduk menghindari tatapan kelam dari kakek Ken. “Lula … Lula dibayar untuk menggantikan posisi tante Priscilla, karena di hari pernikahan, tante Priscilla kabur.”
Tepukan berulangkali di lengannya membuat Lula mendongak ke arah kakek Ken.
“Ah—ambilkan obat Kakek!” perintah Kakek Ken.
“KAKEK!” teriak Lula, histeris saat melihat Kakek Ken mere-mas dadanya.
“Cepat!” seru kakek Ken, emosi.
Mengejutkan, saat Lula tiba di depan pria itu. Kakek Ken masih terlihat bugar, dengan tangan yang bergerak mengambilkan obat. Lula sampai heran, karena kondisi pria itu jauh lebih baik dari yang tadi dipikirkan. Lula berusaha diam, menunggu sang kakek membuka kembali obrolan.
“Sekarang apa mau kamu dan frans?” tanya Kakek Ken setelah kondisinya membaik.
“Kakek nggak marah sama Lula?!” gadis itu justru balik bertanya.
“Enggak, kakek justru marah sama Frans! Aku tidak mengira dia setega itu sama kamu! cucuku kesayanganku dijadikan tumbal. Kamu tenang saja, apapun keputusanmu kakek akan mendukungmu!”
Lula benar-benar lega mendengar itu. “Kakek jangan marahi Mas Frans! Sebenarnya Lula sendiri yang mau menikah dengannya.”
“Kamu sekarang maunya apa?!” tanya kakek Ken, tegas. Dia berusaha mencari tahu niatan Lula.
“Awalanya Lula ingin bertahan. Setidaknya sampai kondisi kakek Ken stabil. Setelah itu kita akan bercerai!”
Kakek Ken memejamkan mata rapat. “Jadi selama ini kalian hanya terlihat baik-baik saja?” dia tidak mengira, Lula berani mempermainkan pernikahan.
“Belum lama, Kakek … hari ini tepat sebulan.”
Berbicara dengan Lula harus ekstra sabar, sering sekali ngeles. “Kalau kamu mau mengikuti saran Kakek, kamu pertahankan rumah tanggamu. Kalau kamu mengikuti kata hatimu sendiri, itu terserah kamu!”
“Kek ….”
“Cukup, Lula! Kakek tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari! Kakek takut kamu akan mengalami hal yang sama dengan yang kakek alami. Biasanya, setelah kehilangan dia baru menyadari seberapa besar orang itu berpengaruh dalam hidupnya! jadi kakek minta, pikirkan seribu kali sebelum kamu memutuskan hal besar!”
“Tapi Lula tidak mencintainya. Jadi, mana mungkin Lula menyesal? Jadi, mungkin perceraian adalah jalan terbaik.”
“Bagaimana dengan dia?” balas Kakek Ken.
“Dia akan kembali pada mantannya. Yang usianya sama dengannya.”
Kakek Ken mengangkat kedua tangannya. “Terserah kamu, Kakek menyerah! Lakukan apa yang menurutmu baik untuk hidupmu.”
“Ya." Lula kembali menunduk. "Lula akan mengambil kuliah ke luar negeri. Setelah lulus nanti, kami akan bercerai, daddy akan kembali pada mantan kekasihnya. Dan Lula akan sibuk dengan materi dan tugas, di universitas," ucap Lula, menerawang jauh tentang apa yang baru saja lewat di kepalanya.
“Tunjuk, universitas mana yang ingin kamu masuki! Kakek bisa mengaturnya.” Kakek Ken menyanggupi.
Lula merasa senang dengan hal itu, Kakek Ken kini sudah tahu, dan terbukti sekarang kondisinya baik-baik saja. Sepertinya Lula akan mulai serius memikirkan semua hal yang berhubungan dengan pendidikannya.
Memulai kehidupan baru ke negeri orang. Membiarkan mereka bahagia dengan kehidupannya masing-masing.
"Kakek mau kan jaga rahasia ini dari ayah sama bunda. Biarkan Lula tetap berpura-pura, sampai waktunya tiba," minta Lula. "Hanya sampai enam bulan, Kek!" bujuk Lula saat pria itu menggeleng, menolak permintaan Lula.