
Frans terusik oleh suara tangisan Lula yang terdengar begitu frustasi. Rasa bersalah perlahan menyelinap, saat menyadari kesalahannya karena sudah melibatkan Lula dalam pernikahan tak masuk akal ini.
Bibirnya menarik napas dalam, sebelum menghampiri mereka. Kaki Frans terayun pelan, keluar dari persembunyian. Lalu menghampiri mereka yang duduk di kursi hitam. Mendapati mata Lula yang masih menangis, jujur Frans bingung harus melakukan apa.
Hingga ide baik muncul, satu tangan Frans merogoh sapu tangannya. "Bersihkan ingusmu!" perintah Frans seraya menyodorkan sapu tangan itu ke arah Lula.
Frans bisa melihat bagaimana Lula membersihkan air matanya. Bahkan gadis itu benar-benar menggunakan sapu tangan milik Frans untuk membersihkan hidungnya.
Setelah menerima kembali sapu tangannya, Frans beralih menatap Rainer. “Bisa pinjam ruanganmu?” tanya Frans pada Rainer.
Pria itu justru menatap Frans curiga, seolah menantunya hendak melakukan hal senonoh dalam kondisi genting seperti ini.
“Aku butuh bicara dengan Lula.” Frans menjelaskan, paham dengan tatapan mertuanya.
Rainer menatap ke arah putrinya, Lula hanya diam sembari memainkan jari jempolnya, terlihat jelas dia tengah mengusir rasa gelisah yang mendera. “Jangan lama-lama!” pesan Rainer, seraya menyerahkan kunci ruangannya ke Frans.
“Pasti.” Frans menyahut cepat, lalu menarik pergelangan tangan Lula. Perlu sedikit memaksa karena Lula enggan beranjak dari kursi.
"Mau ke mana? aku mau nungguin Kakek!" Lula berusaha menolak. Tapi Frans kekeh membawanya ke ruangan Rainer.
Tiba di ruangan praktek Rainer, Frans lekas mengunci pintu ruangan. Dia meminta Lula supaya duduk di ranjang pasien.
Frans sengaja bungkam, memberi Lula waktu luang, siapa tahu gadis itu ingin melanjutkan acara menangisnya. “Nangis saja, Daddy tungguin kamu di sini!” perintah Frans, sembari mengusap kepala Lula.
Tubuh Lula yang semula hanya bersandar di pinggiran ranjang mendadak luruh ke lantai. Dia mengeluarkan tangisan yang begitu membahana diiringi air mata yang begitu deras hingga menghambat saluran pernapasan. Bahkan, Frans sampai meringis, khawatir perawat di luar sana akan mendengar tangisan Lula. "Luapkan! luapkan kekesalanmu!" perintah Frans.
“Ini salahku! Coba aku tidak tergiur dengan uang, pasti tidak akan begini!” Lula kembali menangis, dan Frans hanya bisa menunggu hingga gadis itu merasa puas dan bisa diajak bicara.
Nyaris lima belas menit waktu terbuang sia-sia, hanya diisi tangisan Lula. "Aku harus bagaimana, Dad? Semua tidak bisa kembali seperti semula!" tanya Lula, setelah kelelahan menangis.
“Sekarang Lula mau-nya apa?” tanya Frans lirih. "Apapun yang Lula inginkan, Daddy janji akan mengabulkan!"
“Lula mau berhenti jadi istri, Daddy. Lula mau Daddy mengembalikan status Lula! Aku nggak mau semakin banyak orang yang tahu tentang aku yang menjadi peran pengganti tante Priscilla.”
Frans terdiam cukup lama lalu menggaruk keningnya. Dia sendiri juga pusing memikirkan pernikahan konyolnya dengan Lula. Jadi lebih baik dia menyerah dan membiarkan Lula pergi. Dia akan menjelaskan pada Eyang Ano, pasti eyang akan mengerti posisinya saat itu.
“Okay, besok kita bicara sama ayahmu." Frans menyanggupi permintaan Lula. "Tapi ingat ya, kita harus tetap merahasiakan alasan kamu mau menikah dengan daddy. Setuju!”
Lula mengangguk. Dia menyetujui apapun syarat yang diajukan pria itu. Asalkan bisa mengubah statusnya kembali single.
“Lula, tapi kita perlu menunggu buku nikah kita jadi dulu. Baru kita bisa mengajukan ke kantor pengadilan.” Frans seperti disadarkan jika buku nikah mereka belum juga jadi hingga detik ini.
“Yang penting, daddy menceraikan aku di depan keluarga. Aku nggak peduli dengan urusan di kantor agama. Kita bisa mengurusnya nanti!”
Frans baru menyadari kebodohannya. Selama ini dia memang tidak memikirkan efek baik dan buruk dari pernikahannya dengan Lula. "Maaf kalau kamu kembali menangis karena ulah Daddy!"
Lula tidak merespon, dia sudah untuk 50 juta di sini. Meski harus mendapat gelar janda di KTPnya nanti.
“Ayo kita keluar, kita bisa bergabung dengan mereka untuk mendengar penjelasan dokter tentang Kakek Ken.” Frans sudah sadar, dia menyebut Ken dengan sebutan Kakek.
Lula menurut, dia berjalan mendahului Frans. Tepat ketika langkahnya tiba di ruang ICU, dokter yang menangani kakek Ken keluar dari ICU. Pria itu menjelaskan tentang kondisi Kakek Ken yang masih dirawat di ruang ICU.
“Kondisi pasien mulai stabil. Tapi mohon dijaga baik-baik ya. Jangan diberitahu tentang kabar yang bisa mengejutkannya, itu akan berakibat fatal,” jelas dokter itu.
“Apa kakek saya sudah bisa dipindah ke ruang perawatan, Dokter?” tanya Lula, mencegah dokter yang hendak meninggalkan ruang tunggu ICU.
“Belum bisa. Mohon sabar!” dokter bernama Kirun itu menjawab singkat, lalu melanjutkan langkahnya ke tempat tujuan.
Lula tak ingin membantah ucapan sang dokter. Dia kembali duduk di samping sang bunda. Menyandarkan kepalanya di lengan wanita itu. "Kakek nggak akan mati, kan, Bunda? Lula ... akan berdosa jika kakek pergi!"
"Jangan bicara sembarangan! lebih baik kamu berdoa untuk kesembuhan Kakek." Zahira menjawab lantang, dia tidak bisa membayangkan jika sang papa benar-benar pergi.
“Bawa pulang Lula, Frans! Biarkan aku yang menunggu di sini,” perintah Rainer, dia tidak ingin ucapan Lula justru membuat istrinya stress.
“Enggak!" tolak Lula, tegas. "Mendingan ayah sama bunda saja yang pulang. Lula mau di sini saja, Lula ingin menunggu kakek siuman.”
Penolakan Lula membuat Frans tak bisa berbuat apa-apa. Dia memilih memisahkan diri, duduk jauh dari mereka. Gadis itu tipe keras kepala, sekali tidak tetap tidak.
“Ya sudah kamu tidur di ruangan Milen. Di sana ada ranjang yang bisa kamu gunakan untuk beristirahat. Wajah kamu pucat, jangan sampai kamu sakit, itu lebih menyeramkan dari ini.”
“Suttttt, udah ayah diam saja. Lula mau di sini, nungguin kakek bangun.”
Tepat setelah Lula mengatakan itu, pintu ruang ICU terbuka. Seorang dokter ahli penyakit dalam keluar, hendak mengabarkan berita penting kepada penanggungjawab pasien.
“Pasien menyebut nama Lula, apa dia ada di sini?” tanya dokter itu.
Lula langsung berdiri, “Aku Lula. Aku cucunya!” sahut Lula, cepat.
“Silakan masuk. Tapi mohon jangan bicara aneh-aneh dulu ya!” minta dokter itu.
Lula mengangguk, kemudian mengikuti langkah sang dokter yang membawanya masuk ke ruang ICU.
“Apa tidak apa-apa dia masuk sendiri?” tanya Frans pada Rainer, mendadak ia khawatir Lula akan berbicara ngelantur dan membuat penyakit jantung Kakek Ken bukannya sembuh justru semakin parah.
“Kita cuma bisa berharap Lula bisa memperbaiki semuanya. Dia begitu menyayangi papaku, jadi nggak akan mungkin membiarkan papa Ken drop lagi,” sahut Zahira, putri tunggal Ken Adhitama.