
Dengan pakaian casual yang sudah melekat di tubuhnya, Frans mendatangi restoran yang menjadi tempat janjinya bertemu Priscilla. Frans datang tepat waktu, saat ia mencari-cari keberadaan Priscilla, dia tidak bisa menemukan keberadaan wanita itu.
Frans berpesan pada pramusaji, menyebutkan nomor meja yang hendak ditempati. Siapa tahu Priscilla kesusahan mencari tempat duduknya.
Waktu bergulir begitu cepat, hampir satu jam duduk menunggu, nyatanya belum ada tanda-tanda Priscilla mendatangi mejanya. Frans mulai jenuh. Padahal puluhan pertanyaan sudah ia siapkan. Dan semua itu tentang Lula. Tapi fakta yang terjadi, waktu seolah membantu, melupakan apa saja yang hendak diketahui.
Demi mengisi waktunya, Frans mulai mengetikan pesan untuk istri kecilnya. Jemarinya begitu bersemangat, begitu lincah menyentuh huruf-huruf kecil di layar.
[Lula ….]
[Kamu sudah di rumah?]
[Biar Daddy tebak.]
[🫣🫣🫣]
[Pasti lagi mikirin Daddy, kan?]
[Hayo, ngaku!🧐]
[O, ya Daddy bawa oleh-oleh buat kamu]
[Ih nggak respon?]
[Lagi ngapain sih?]
[Berani mengabaikan Daddy ya?]
[Daddy potong gaji nih!]
[Ah, o iya, uangku kan ada di kamu semua. Daddy kemarin bon sama Ibnu buat beli tiket. Tolong nanti dibayar ya!]
[Sialan, lu anaknya Rainer!]
Rasa semangat itu mendadak berubah menjadi kesal saat Lula tak lagi merespon pesan darinya. Ini kalau di Jakarta sudah pukul delapan malam, masa iya gadis itu masih berada di rumah sakit? sepertinya nggak mungkin, kan? pasti Rainer juga sudah mengusirnya jika tahu anaknya berkeliaran di jam segini. Pikir Frans, kemudian terpecahkan oleh alunan lagu yang menyala dari ponselnya.
Bukan pesan balasan dari Lula, bukan pula telepon dari istrinya itu. Melainkan panggilan suara dari nomor Priscilla. Dengan emosi yang sudah menyala Frans menjawab panggilan itu.
“Lo, di mana, Sil? Jelaskan ke gue?! Kalau lo mau batalin pertemuan ini, setidaknya jangan membuat gue menunggu terlalu lama waktu gue itu berharga!” omel Frans saat panggilan itu tersambung.
“Frans, in—ini tante!”
Frans memejamkan mata, bersiap hendak menyampaikan maaf, tapi wanita di seberang panggilan menyela terlebih dahulu.
“Ma—maaf kan Priscilla yang tidak bisa datang untuk makan malam denganmu. Tapi sekarang dia benar-benar tidak bisa datang, dia marah-marah setelah mendapat telepon dari Levin.”
“Apa maksud tante?” Frans bertanya, karena sejak wanita itu mengoceh dia tidak paham dengan arti ucapannya.
“Sebenarnya Cilla masih sakit, Frans. Kalau tante tidak menganggu waktumu, bolehkah tante minta kamu untuk datang mengunjunginya, mungkin kehadiranmu bisa membuatnya sedikit lebih tenang?”
Frans dilema antara menerima atau menolak, sejenak Frans diam memikirkan. Sampai hati kecilnya terdorong untuk menerima tawaran tante Caca. “Kirimkan alamat rumah tante, melalui pesan singkat. Frans akan menemui Priscilla.”
Frans buru-buru melangkah meninggalkan meja, dengan sibuk jemarinya menghapus semua pesan yang tadi dikirimkan ke Lula. Entah kenapa dia merasa pesan-pesan itu tak pantas saja untuk dikirimkan ke Lula. Beruntung Lula belum membaca pesan yang tadi dikirimkan.
Perasaan Frans mulai tidak nyaman, taksi yang dipanggilnya selalu terisi oleh penumpang lain. Hingga sepuluh menit menunggu, ia pun berhasil mendapatkan taksi. Dia lekas naik meminta sang sopir untuk mengantarnya ke rumah Priscilla.
Frans membaca sekilas pesan yang disampaikan Lula. Ada rasa ingin membalas, tapi kali ini dia memilih menyimpannya terlebih dahulu. Dia akan membalasnya nanti, jika sudah tiba di hotel.
Rupanya jarak yang harus ditempuh cukup jauh dari restoran tempat mereka membuat janji. Frans sampai bosan duduk diam di bangku belakang.
Hingga tiga puluh menit berlalu, mobil yang ditumpangi berhasil tiba di depan rumah sederhana. “Thank you, Sir!” kata Frans, lalu lekas menjauh meninggalkan taksi.
Dari posisinya saat ini, telinganya justru mendengar suara keributan dan teriakan, dari warna suaranya dia tahu jelas jika itu suara Priscilla. "Apa terjadi sesuatu di dalam?" gumam Frans, semakin panik ketika teriakan itu semakin melengking.
Tak sabar ingin tahu kejadian apa yang menimpa Priscilla, Frans lekas membuka pintu itu. Masa bodoh akan disangka pencuri, yang ia pikirkan hanyalah keselamatan penghuni rumah.
"Tante?!" seru Frans, mencari sosok wanita yang ia ketahui selalu menemani Priscilla. Mungkin sangking kerasnya suara Priscilla, Tante Caca tak mendengar seruannya.
Mendengar suara teriakan frustasi dari Priscilla semakin nyaring, Frans langsung berlari menuju sumber suara. “Tante!” Frans menangkap tubuh wanita yang nyaris terjatuh karena dorongan dari Priscilla yang begitu kuat. Pandangannya lekas tertuju ke arah Priscilla, penampilannya terlihat kacau, rambut yang biasa tersisir kini nyaris tak terlihat lagi.
Sedangkan isi kamar sudah berhamburan, Frans menduga jika ini semua adalah perbuatan mantan kekasihnya itu. “Kamu kenapa sih, Sil!” protes Frans ketika melihat amarah yang masih melingkupi wanita itu. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Priscilla, sampai-sampai membuat kondisinya kacau seperti ini.
“Kamu? bukankah kamu menungguku di restoran kenapa sampai di sini?” Priscilla balik protes, tak ada keramahan dari nada bicaranya. Priscilla terlihat tidak menyukai kehadiran Frans yang saat ini berada di dalam kamarnya.
“Tante, ada apa jelaskan kepada Frans!” Frans menuntun tubuh Tante Caca supaya berdiri tegak. Dia ingin mendengarkan sekilas tentang apa yang terjadi dengan Priscilla.
“Kau mau mendengarkan apa yang terjadi padaku!? Apa yang bisa kamu lakukan saat tahu semuanya? Hah! Aku yakin kamu pasti akan menjauh, bahkan tidak mau bertemu denganku lagi!” sahut Priscilla, suaranya terdengar begitu frustasi.
Frans semakin kebingungan, dia butuh penjelasan. Meskipun, ia tidak tahu apa yang hendak dilakukan nanti.
“Priscilla ... dia belum sepenuhnya menerima kondisi fisiknya. Dia belum terima saat menyadari rahimnya sudah angkat.” Tante Caca menjelaskan dengan suara lirih.
Tentu saja hal itu membuat Frans shock. Siapapun wanitanya pasti akan berat menerima hal ini. Frans paham, kenapa Priscilla bersikap seperti ini. “Kenapa tidak ada yang memberitahuku?” protes Frans, menatap kesal ke arah Priscilla.
“Kenapa? Kenapa? Yang kalian pikir hanya menyelamatkan nama baik keluarga! Menyelamatkan harta kalian! tanpa tahu aku di sini tersiksa, kesakitan!” balas Priscilla dengan suara emosi. Dia meraih lampu tidur yang masih tersambung dengan aliran listrik, hendak melemparkannya ke arah Frans.
“Cesil, bukan seperti itu!" cegah Frans, seraya menangkap tangan Priscilla, mencegah apapun yang hendak dilakukan mantan kekasihnya. "Jangan menyalahkan keluargaku! Siapapun pasti akan panik dan jalan utama tentu menyelamatkan nama baik keluarga! Kalau kamu membicarakan ini dari awal, tentu kejadiannya tidak sepert ini! Kamu sendiri yang memilih untuk kabur! Kamu sendiri yang memutuskan untuk pergi! Padahal semua masalah bisa dibicarakan dengan baik!”
"Aku cuma takut kalian tidak mau menerima kekuranganku!" tangis Priscilla pecah. "Aku wanita tanpa rahim! kamu tahu itu menyakitkan sekali buatku, Frans!" ujarnya di sela tangis.
“Pergilah! Rasanya percuma kamu di sini!” Priscilla tertawa keras, padahal air matanya terlihat jatuh berguguran. "Pergi, FRANS! percuma Lo ada di sini!"
“Please jangan buat keributan, Frans!" cegah Tante Caca, ketika Frans hendak membalas ucapan Priscilla. "Please tenangkan Priscilla! Dia terus seperti ini setelah mendapat telepon dari Levin. Jadi, tolong jaga dia untuk tante, sebentar saja!”
Frans bingung, untuk apa dia di sini? Padahal pertemuannya dengan Priscilla hanya untuk menanyakan apa yang sudah wanita itu lakukan pada Lula, tapi kenapa dia justru terjebak lingkup kehidupan wanita itu.
“Kau sudah menyentuhnya?!” Priscilla membuka suara saat melihat tante nya pergi.
Sepertinya mental gadis itu benar-benar kena. Kadang dia menangis, dan dengan cepat bibirnya tertawa keras. Seharusnya mereka membawa Priscilla ke dokter kejiwaan, berkonsultasi, separah apa penyakit kejiwaan yang dialami mantan kekasihnya itu. Pikir Frans.
"Kamu sudah menyentuhnya, Frans?!" ulang Priscilla, seraya duduk di tepi ranjang, kondisi jauh lebih tenang dibandingkan beberapa menit yang lalu.
“Maksud kamu apa?” tanya Frans, tangannya bergerak membereskan barang-barang yang dihamburkan Priscilla.
“Lula menyetujui untuk mengandung bayimu. Setelah itu, kalian akan bercerai denganmu. Dia akan menyerahkan hak asuh anak padamu. Sesuai perjanjiannya dengan Levin. Setelah itu kita akan menikah, kamu akan tetap memiliki anak kandung meski bayi itu bukan lahir dari rahimku.”
Frans diam sejenak, memikirkan sikap Lula yang diam-diam menyetujui perjanjian dengan Levin. Jadi ini alasan kenapa Levin selalu ada bersama Lula? pikir Frans. “Berapa banyak uang yang sudah kalian berikan kepada Lula?” tanya Frans, sedikit emosi mengetahui fakta jika istrinya membuat perjanjian dengan Levin. Bahkan tanpa sepengetahuan darinya.
“Cukup besar. Awalnya aku tidak percaya dengan nominal yang diminta gadis itu. Tapi, mungkin karena dia membutuhkan uang untuk memenuhi gaya hidupnya jadi Lula tega melakukan itu.” tak ada raut kesedihan lagi di wajah Priscilla, kini hanya ketenangan yang mampu ditunjukan dihadapan Frans.
Sebenarnya Frans masih tidak percaya sepenuhnya dengan ucapan Priscilla, mengingat seluruh uang miliknya ada di tangan Lula. Tapi, tak ada wanita yang bisa dipercaya untuk saat ini. Jika benar Lula melakukan itu, dia akan menjadikan semuanya menjadi nyata.
“Tenangkan dirimu! Aku akan mencarikan dokter terbaik yang bisa membantumu pulih!”
“Apa setelah ini kita bisa bersama lagi. Aku ingin selalu bersama denganmu. Tapi, aku tahu banyak kekurangan dalam diriku, Frans. Aku hancur saat dokter menjatuhkan vonis jika aku mengidap kanker rahim, dan ….” Priscilla tak melanjutkan ceritanya dia kembali menangis tersedu-sedu.
Frans yang tidak tega membiarkan Priscilla masuk dalam pelukannya. Menenangkan Priscilla yang masih dilanda kehilangan.
“Tetaplah di sampingku, Frans! Aku mencintaimu! Aku jujur, aku sangat mencintaimu.” Priscilla berkata lirih, suaranya seperi pengemis cinta yang sedang memohon.
Jika dulu, mungkin Frans bisa saja menjawab dengan mudah aku juga mencintaimu. Tapi untuk saat ini, lidahnya sulit sekali digerakkan, bibirnya hanya terbuka sedikit, seolah tidak sanggup mengeluarkan kata-kata yang bisa menghibur Priscilla.