
Pukul sebelas malam, Frans terjaga di depan kamar Lula. Berjalan mondar-mandir, memikirkan keadaan Lula saat ini, kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Mungkin, efek kelelahan setelah mengikuti proses pemakaman Sofya.
Satu jam yang lalu suhu tubuh gadis itu masih berada di angka 38 derajat celsius. Dan saat ini, dia belum lagi memeriksa ulang. Tubuh gadis itu nyaris telan*jang dan itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Yang mulai berdetak tak menentu saat berdekatan dengan Lula.
Suara keras dari dalam kamar mengusik pikiran Frans. Dia lekas melangkah memasuki kamar Lula. Tanpa peduli lagi dengan gairah yang bisa saja terpancing akibat melihat Lula.
Suara Lula yang tengah memuntahkan cairan membuat Frans lekas mendekat ke arah kamar mandi. Tiba di sana, ia tidak tega melihat Lula berjongkok di depan kloset seraya mengeluarkan isi perutnya.
Frans turut berjongkok, membantu Lula membenarkan rambutnya yang menutupi sebagian wajah. Satu tangan Frans memegangi rambut Lula, satu tangan lagi membantu mengusap tengkuknya. “Kita ke rumah sakit, ya?” tawar Frans, tidak tega melihat kondisi Lula yang sudah lemas.
Lula menggeleng, menolak mentah- mentah tawaran suaminya. Dia berdiri, menopang tubuhnya dengan lengan Frans, berjalan ke arah wastafel, membasuh mulutnya.
“Kamu bisa kehabisan cairan kalau kaya gini. Kamu pasti kelelahan.” Jujur Frans tidak pernah mengurusi orang sakit. Ini perdana untuknya, setiap Priscilla sakit, ia selalu menyerahkan ke perawat. Dan sekarang, dia cukup bingung saat menghadapi kondisi Lula seperti ini.
“Lula mau ayah ...” lirih Lula di sisa tenaganya. Cuma ayah Rainer yang bisa dipercaya saat tubuhnya lemah seperti ini. Kelakuan aneh Lula akan muncul saat suhu tubuhnya mencapai 39 derajat. Jadi sebelum itu terjadi, dia harus menghadirkan sang ayah. Selama ini cuma ayah dan bunda yang paham cara menanganinya.
“Ayah Rainer di rumah. Udah sama Daddy saja, ya?” bujuk Frans, tidak mungkin menghubungi Rainer di jam tengah malam seperti ini, yang ada pria itu akan memakinya habis-habisan.
Lula menurut saat Frans mencoba menuntunnya kembali ke ranjang. Dia kembali bersandar di kepala ranjang.
“Daddy buatkan minuman hangat dulu, kamu istirahat!” pesan Frans sebelum meninggalkan kamar Lula.
Pikirannya tak henti menyalahkan diri sendiri. Seharusnya jika dia tahu Lula sedang tidak enak badan dia tidak mengizinkan gadis itu mengikuti acara pemakaman. Tapi, lagi-lagi dia lalai menjaga Lula.
Kali dia sendiri yang kerepotan. Sembari menunggu airnya masak. Frans kembali memikirkan pertanyaan Lula yang enggan ia jawab. "Kasihan dia kalau selamanya berada di sampingku!" Frans tersenyum miring. Kemudian kembali fokus ke arah air panas yang sudah mendidih.
Hampir lima belas menit belalu, akhirnya secangkir teh hangat siap untuk dinikmati. Frans segera kembali ke dalam kamar, berharap Lula masih terjaga.
Namun yang terjadi, saat kakinya melangkah memasuki kamar. Lula tidak ada di atas ranjang. Frans meletakan teh itu ke atas meja, berjalan ke arah kamar mandi untuk memeriksa lagi istrinya. Sayangnya, dia juga tak kunjung menemui Lula.
“Lula!” seru Frans, mencari lagi, memastikan jika Lula belum keluar kamar. “Lula, kamu di mana?” ulang Frans. “Teh nya sudah jadi, ayo minum dulu! Nanti bisa dehidrasi loh!”
Frans berusaha meredam suara langkahnya saat mendengar isak tangis yang samar terdengar. Dia berusaha mencari sumber suara itu, hingga langkahnya berhenti di samping ranjang yang tadi di tempati Lula. Tangannya berusaha membuka rumbai kain seprei yang menjuntai. Dan terkejutnya, dia menemukan Lula bersembunyi di bawah ranjang.
"Lula, ngapain disitu?!" tanya Frans sedikit emosi. Dia sama sekali tidak habis pikir dengan sikap Lula yang justru seperti anak kecil, main petak umpet, padahal sedang demam.
“A—ayah ... A—ya—yah! Enggak, nggak mau! Lula nggak mau pergi! Lula mau di sini saja! Lula takut, Ayah!” Lula menolak saat tangan Frans berusaha meraihnya.
"Daddy?" tanya Lula, masih enggan bergerak dari posisinya. “Takut, Lula takut, di dekat jendela ada monster!” kata Lula, semakin meringkuk di bawah ranjang. Tergambar jelas jika gadis itu sedang ketakutan.
Pandangan Frans beralih menatap jendela yang tertutup rapat. Tidak ada apapun selain kain gorden warna abu yang menjuntai menyentuh lantai.
“Lula, ada Daddy di sini! Tidak ada apapun di dekat jendela!” bujuk Frans, mulai kaki-kakinya mulai pegal, karena terlalu lama berjongkok demi meraih tangan Lula.
“Daddy?” tanya Lula, wajahnya terlihat bingung.
“Ya, ini Daddy. Daddy di sini!” jelas Frans, sedikit melembut, ingin merayu Lula supaya mau keluar.
“Apa ada Tante Cecil, juga?” wajah Lula yang semula takut, berubah cemas, dia berusaha mencari keberadaan Priscilla. Lula menangis lagi, semakin pecah. “Enggak, Lula tidak mau!” Lula menolak ajakan Frans yang hendak menariknya keluar. "Lula mau sembunyi! jangan!"
“Lula demammu semakin tinggi kalau kamu tidak keluar. Di lantai dingin!” bujuk Frans.
Lula justru menangis, tangannya berusaha keras melepas tangan suaminya. Frans pun mengalah, dia memutuskan untuk menghubungi Rainer. Saat baru beberapa langkah meninggalkan Lula, dia justru mendengar rancauan gadis itu.
“Jangan Tante, jangan! Lula takut, Lula nggak mau naik. Lula janji, Lula nggak nakal lagi! Turunin Lula, Lula mau pulang!" Lula terisak sembari menyebut nama Rainer. "Ayah ... Ayah .. Lula mau pulang, Lula takut, di sini dingin, ayah, ayah, ayah, Tante ... tolong Tante! Lula mau pulang! Lula janji, Lula janji nggak nakal, bukain Tante!” ucap Lula di sela isak tangisnya.
Frans semakin kacau mendengar rancauan yang keluar dari bibir Lula. Dia tidak paham dengan apa yang dialami Lula saat ini. Dia semakin mantap untuk menghubungi Rainer, karena jujur dia tidak mampu menangani kondisi Lula saat ini.
“Hallo, Rain! Sorry banget sudah ganggu waktu istirahatnya!" Frans memejamkan mata, menunggu pria di seberang panggilan merespon.
"Ada apa?!"
“Suhu badan Lula semakin tinggi. Dan—aku tidak bisa menanganinya. Bisa kamu datang ke rumah?”
Tidak ada jawaban apapun dari seberang panggilan. Panggilan itu langsung terputus usai Frans mengatakan maksudnya. Berharap Rainer akan segera datang.
Frans memutuskan kembali ke kamar Lula. Tiba di kamar, gadis itu masih bersembunyi di bawah kolong ranjang. Bibirnya masih mengeluarkan rancauan.
“Daddy baik, Tante. Dia Daddy nya Lula! Tante jangan marah-marah sama Lula! Jangan tinggalin Lula, di sini gelap di sini dingin Tante. Lula mau pulang! Lula mau ketemu ayah, Lula takut!”
Frans semakin yakin jika Lula seperti ini pasti ada penyebabnya. “Apa ini ada hubungannya dengan kejadian malam itu? Apa yang sudah Priscilla lakukan pada Lula?” berbagai pertanyaan muncul, Frans tidak tahan untuk segera menemukan jawaban itu. Dia harus menemui Priscilla, meminta penjelasan pada wanita itu. "Apa Rainer juga tahu?"
"Ya, pasti dia juga tahu." Frans terus bermonolog, hingga terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah dia segera beranjak membuka pintu utama rumahnya.