
“Udah ayo! Tangis kamu sudah reda, kan? aku harus mengantar kamu pulang ke rumah.” Levin berusaha mengalihkan topik pembicaraan.
“Levin! Apa kamu dekat denganku karena ada maunya? Katakan, apa yang kamu inginkan dariku! Aku akan melakukan semuanya, tanpa kamu repot-repot dekat denganku! Tapi setelah itu, menjauhlah! Syukur-syukur kita tidak akan berjumpa lagi.” Lula merasa lelah, karena semua orang di sekitarnya hanya pura-pura perhatian, baik padanya karena ada maksud tertentu.
Levin merasa iba dengan Lula, tapi dia harus memiliki pertahanan kokoh agar tidak membongkar apa yang sudah direncanakan. Berat untuk memilih antara Lula atau keluarganya.
“Boleh ngumpat nggak sih, Vin!” Lula nyaris berteriak, menahan rasa geram yang perlahan mulai membentuk akar. Dia tidak tahu apa yang direncanakan Levin dan atasannya. “Ya, sudahlah kalau memang itu sangat privasi. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Terserah kamu lah, aku lelah,” sambungnya.
“Tapi Lula! Mau tidak mau kita harus selalu berhubungan.”
“Harus?” Lula tersenyum remeh, melengos ke arah bangku taman. “Tidak harus, Levin! Kamu musuhku, kita tinggal menunggu siapa yang akan kalah, kamu bekerja untuk memata-mataiku, yang entah untuk apa. Akupun juga bertahan demi mereka.” Lula merapikan tas di punggungnya, bersiap pergi. “Terima kasih atas tumpangannya.”
Lula melangkah menjauhi Levin. Dia berharap dalam hitungan ke sepuluh Levin akan memanggilnya. Sayangnya, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir Levin.
“Lula!” teriak Levin begitu lantang. “Pulang denganku!” sambungnya ketika Lula menoleh.
“Enggak. Terima kasih.”
Melihat Lula kembali melangkah, Levin buru-buru mengejar gadis itu. Dia menghadang langkah Lula. Meminta gadis itu untuk kembali duduk di atas motornya.
“Apa kamu ingin memegang janji denganku?” tantang Levin. Dia harus memastikan Lula tidak akan membocorkan rahasia nya, karena ini sangat privasi.
“Janji apa?”
“Apapun. Apapun yang kamu ketahui setelah ini. Tidak ada yang tahu selain keluargaku dan tante Priscilla. Begitupun dengan kak Frans.”
“Alasan kamu memberitahuku, apa?”
“Bukankah ini yang ingin kamu ketahui?!"
Lula mengangguk.
"Janji?!" tanya Levin memastikan.
"Ya, katakan cepat!"
"Aku ingin kamu lebih berhati-hati. Ke depannya jangan terlalu gegabah mengambil keputusan. Cukup kemarin saja! Sayangi diriku sendiri, jangan cuma menyayangi mereka. Kamu juga berhak bahagia.”
Lula menarik napas dalam, bahkan Levin yang disangka tidak pernah mau mengenalinya, kini tahu sifatnya itu. “Jelaskan padaku!” minta Lula.
“Aku akan mengaku, pria itu yang kamu lihat itu suruhan tante Priscilla. Kamu tahu sendiri, tante Priscilla itu anak dari bibiku. Dia yatim piatu, cuma memiliki kami sebagai keluarganya.”
“Aku tidak tahu tentang itu,” balas Lula ringan.
“Ya, ini aku beritahu, mamaku sudah menganggap Tante Priscilla putrinya sendiri. Jadi apapun itu yang menyangkut tentang dirinya, pasti dia akan melawan. Dia berperan sebagai mengganti kakaknya.”
“Eh, Tante Priscilla minta kamu buat buntuti aku?” ulang Lula, begitulah dia menangkapnya.
“Ya, tepatnya melapor sejauh apa hubungan pernikahan kalian. Jangan heran kenapa aku lebih sering ada di sekitarmu.”
“Termasuk, kamu juga yang menolongku dari kejaran orang gila itu?” Lula mulai paham.
“Kalau itu, aku dapat telepon dari nomormu. Kak Frans yang menanyakan keberadaan mu. Karena aku sudah feeling kamu berada di rumah sakit, aku langsung saja meluncur ke sana.”
Levin terlihat bingung.
“Mak—maksudku kenapa tante Priscilla tidak menemuiku langsung. Justru memintamu mengikutiku? Aku akan menyerahkan daddy! aku akan rela bercerai asal dia kembali pada Daddy! pria itu sangat mencintainya, kamu tahu; setiap saat ada foto tantemu yang menemani, Daddy menyimpannya dalam dompet, pasti akan dipandanginya setiap senggang. Di dalam ruang ganti, ada pakaian yang diperuntukan untuknya, semua tas mewah, sepatu branded, gaun desainer terhebat, itu untuk Tante Priscilla. Bukankah itu keinginan semua wanita? dicintai pangerannya begitu dalam. Dan sebesar itu pula daddy mencintai tantemu. Lantas alasan apa yang membuat dia meninggalkan Daddy?! Sialan aku emosi sendiri jadinya!” Lula mengacak kasar rambutnya, mengingat se-bucin apa pria itu pada Priscilla.
“Tanteku sakit, Lula … dia ke Singapura untuk berobat. Eh bukan, masih tahap pengobatan! Dia masih depresi, belum menerima fakta itu.”
Seketika Lula ingin sekali menarik ucapannya. Dia sedikit terkejut. “Tante Priscilla sakit?” ulangnya berusaha mencari kebenaran.
“Ya, rahimnya harus diangkat. Dan itu menyebabkan dia tidak bisa memiliki anak. Endometriosis, parah! dan itulah satu-satunya jalan keluar, supaya dia tetap bertahan.”
Lula ingin merespon tapi lidahnya kelu, tidak mampu berkata-kata lagi, dia justru membayangkan hal yang tidak-tidak. Jangan sampai Tante Priscilla, meninggal. "Separah itu?" tanya Lula, penasaran.
“Iya, Lula. Jika tanteku menikah dengan kak Frans, selamanya mereka tidak akan memiliki keturunan. Bagaimana dengan keturunan kak Frans, dia tidak ingin itu terjadi. Dia berharap dari pernikahanmu dan kak Frans. Kalian bisa memiliki buah hati. Dan di sini, peranmu!”
Lula menggeleng. “Sumpah, aku tidak mengerti!” ucapnya lambat-lambat. Dia merasa ini terlalu rumit.
“Kalau kamu punya anak dengan kak Frans, setidaknya ada garis keturunan yang akan melanjutkan generasi Pagara. Kalau kamu tahu kak Frans sangat mencintai Tanteku, tentu kamu akan berkorban untuknya, kan? mereka berdua saling mencintai, hanya saja, tanteku takut tidak bisa memberikan keturunan untuk Frans. Dia butuh kamu! orang ketiga yang akan memberikan kebahagian itu!” bujuk Levin.
“Kalau tahu seperti ini, kenapa tante Priscilla tidak jujur saja? Cinta akan menerima semua kelebihan dan kekurangan, Vin. Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kalian. Bisa-bisanya mengorbankan aku yang bodoh ini!”
“Kamu tidak berada di posisi tanteku, Lula!”
“Tapi, apa tantemu paham posisiku?! Benar aku butuh duit, tapi kalau dengan mengorbankan seluruh kebahagian ku—aku tidak bisa.”
“Lula, kamu bisa meninggalkan bayi itu dengan kak Frans! Biarkan mereka hidup bahagia.”
“Lalu aku?”
“Yah, kamu raih cita-citamu! Kita akan pergi ….”
“Kita?” Lula tersenyum remeh, menyiksa sekali jawaban cepat yang diberikan Levin. Seluruh organ tubuhnya mendidih mendengar rencana jahat mereka.
“Kamu dan aku. Sebagai gantinya, aku janji akan buat kamu bahagia. Bukankah kamu mencintaiku?”
“Bagaimana denganmu?” tanya Lula, mengembalikan pertanyaan itu.
“Kita akan mencobanya.”
“Aku bukan bahan percobaan.” Lula semakin emosi, dia merasa sakit hati setelah tahu hanya dijadikan pion.
“Lula, besok tante Priscilla operasi pengangkatan rahim!” teriak Levin berusaha keras membujuk Lula.
Levin tahu kelemahan Lula, gadis baik hati itu tidak akan tega membiarkan orang yang disayanginya tersakiti. “Setelah semua selesai kita akan pergi jauh!”
Lula benar-benar memikirkan ucapan Levin. Dilema, itulah yang dia rasakan saat ini.