
"Apa Lula sudah makan? Dari jam berapa dia tidur? Kok bisa dia di kantormu? Padahal dia janji mau jemput kakeknya!" Rainer mencerca Frans dengan berbagai pertanyaan, tidak peduli jika saat ini, menantunya itu tengah keberatan membawa tubuh Lula.
"Papah mertua, tolong buka pintunya!" perintah Frans setelah langkah mereka sudah berada di depan kamar yang ada di lantai dua.
Rainer menurut, tangannya mendorong salah satu pintu kamar yang ada di rumah papa mertuanya. Suara derit pintu yang terlampau nyaring tak sedikit menganggu ketenangan tidur Lula. Gadis itu masih saja terlelap, bahkan dengkuran lirih keluar dari bibir mungilnya.
"Terima kasih, Papah!" Frans berjalan memasuki kamar untuk meletakan tubuh Lula di atas pembaringan. Setelah berhasil menidurkan Lula, Frans mengajak Rainer untuk ke luar kamar.
"Dia sudah makan." Frans menjawab singkat, ingat kalau istrinya itu sudah menghabiskan pizza satu box di kantor tadi.
"Makan apa?" Rainer bertanya detailnya.
"Pizza ...."
"Itu camilan! Kamu ini gimana, sih!" protes Rainer ia merasa Frans tidak bertanggung jawab atas putrinya.
"Kamu tadi tanya Lula udah makan, gitu kan? kamu pikir Lula bisa menyublim pizza?!"
Rainer menggeleng pelan, dalam hatinya bertanya-tanya, eh baru berapa hari mereka menikah? kok Frans sudah terkontaminasi kocaknya Lula! Dia tidak bisa membayangkan jika seumur hidup mereka bersama, dia yakin Frans akan awet muda karena setiap hari dia tertawa.
"Bangunkan, Lula, suruh dia makan! nanti kalau terserang mag gimana?!" protes Rainer. "Kan tak bertanggungjawab!"
"Rain, istriku makan pizza satu box! SATU BOX!" Frans menekankan nada bicaranya di ujung kalimat. "Lagian tumpukan lemaknya masih bisa buat stok, sekalipun dia tidak makan satu Minggu," sambungnya kesal. Dia sudah lelah oleh pekerjaan, tapi malam-malam begini mertuanya justru mengajaknya debat.
Melihat wajah Rainer yang menegang akibat rasa khawatir, Frans pun ikut trenyuh. "Tenanglah papa mertua! Sana tidur! Bikin adik buat Lula!" usirnya.
"Udah tadi!" sahut Rainer cepat.
"Nambah dong!" goda Frans memberi perintah.
"Nanti lah! Nunggu kamu tidur. Takutnya kamu dengar, kan kamar kita sebelahan." Rainer menjawab ringan disertai senyum jahil yang membuat Frans merinding.
"Mau ke mana, Lo?" tanya Rainer saat melihat Frans menuruni anak tangga.
"Ambil kolor! Baju gantiku masih di mobil! mau ikut?!" jawabnya, menawari Rainer.
"Sialan!" umpat Rainer, kesal.
"Kakek Ken udah tidur, kan?"
Rainer hanya berdehem. "Siap-siap aja besok kena semprot! Kamu tidak tahu saja se-sayang apa dia sama Lula!" peringat Rainer.
Tanpa mendengar omelan Rainer lagi. Frans memilih melanjutkan langkahnya ke arah mobil untuk mengambil pakaian ganti.
Saat Frans kembali ke lantai atas di mana terdapat kamar Lula dan mertuanya, Rainer sudah kembali masuk ke kamarnya. Frans pun memilih langsung masuk kamar, ingin segera mengistirahatkan tubuhnya yang terasa pegal.
Tiba di dalam kamar dia bingung hendak tidur di mana, karena ranjang di sana hanya untuk satu badan itupun sudah nyaris penuh oleh tubuh Lula. Pandangannya tertuju ke arah sofa. "Aku tidak mungkin tidur sambil duduk, kan?" tanya Frans pada diri sendiri. Dengan langkah tegas dia berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.
Setalah itu, Frans merebahkan tubuhnya di samping Lula. Dia berusaha mendorong tubuh Lula dengan badannya, supaya tubuh gadis itu menempel ke tembok.
Hemmm
Lula mele-guh, saat merasakan tempat tidurnya terasa sempit. "Aduh mainanku bisa berdiri kalau dipeluk begini!" keluh Frans saat merasakan tangan Lula berada di atas perutnya, terlebih punggungnya saat ini merasakan sesuatu yang empuk, sepertinya aset Lula menghimpit punggungnya.
"Nak, tidur yang baik yuk! Jangan bangunkan mainanku nanti nggak bisa tidur lagi! kamu mau Daddy mandi air dingin?! hm ...." Satu tangan Frans menepuk lembut kepala Lula. Dia berusaha membujuk halus atas tindakan tidak terpuji yang dilakukan Lula saat ini.
"Aku mau mainan ...."
Frans berusaha menoleh ke arah Lula, dia sedikit shock mendengar Lula menyahut. Melihat mata istrinya masih terpejam rapat ia memastikan jika Lula sedang mengigau. Lagi-lagi kejahilan Frans menyeruak.
"Lula mau dibelikan mainan apa? Barbie?" Frans menanggapi, rasa lelah dan kantuknya seketika lenyap.
"Mainan."
Jawaban Lula membuat Frans semakin bersemangat. Dia mendadak membalikan tubuhnya menghadap Lula. Ingin menjahili Lula lagi. "Mainan apa, Nak?" tanyanya dengan nada lembut, di depan wajah Lula.
"Mainanmu...." Kata Lula ditutup dengan tawa kecil, ditambah lagi gerakan tangannya yang tak sengaja memukul wajah suaminya.
Frans meringis kesakitan. Meski keningnya terasa sedikit panas, tapi melihat cara Lula tersenyum mendadak hatinya merasa senang. "Mainanku bahaya, Nak! Nanti bisa dimarahi ayahmu!"
Lula tertawa semakin lebar, wajahnya tampak malu-malu, "Lato-lato memang bahaya, katanya bisa bikin hamil!"
Lula hanya tertawa dengan mata terpejam. Mendadak Frans curiga jika Lula hanya berpura-pura terlelap, sama seperti saat tadi dia berada di dalam mobil. "Heh, bangun! Nona kecil!" Frans menguncanh tubuh Lula. Sayangnya gadis itu tidak berkutik, rupanya Lula benar-benar terlelap.
Saat merasakan miliknya mulai bereaksi, Frans lekas menjauh dari ranjang. Dia memilih tidur dalam posisi duduk dari pada miliknya dipakai mainan oleh Lula.
Menjelang pagi, Frans masih saja terjaga, dia tidak bisa tidur karena sedari tadi membenarkan selimut Lula yang tersingkap. Hingga jarum jam menunjukan pukul dua malam, barulah dia benar-benar bisa terlelap.
...----------------...
Lula seperti memiliki alarm di tubuhnya. Tepat saat jarum jam menunjukan pukul lima pagi, dia sudah terbangun. Melihat Frans terlelap di kursi, Lula mengambil selimut yang tadi dipakai untuk menutupi tubuh suaminya.
Dia berusaha mencari ponselnya tapi tidak ketemu. Jadi Lula memilih mendatangi dapur untuk membantu sang bunda memasak. Lula yang pengertian membantu apapun yang merasa perlu dikerjakan. Bahkan dia tak segan untuk menyikat lantai kamar mandi saat merasakan kamar mandi dapur terasa licin.
Hampir satu jam Lula berada di dapur, Bunda Zahira meminta Lula untuk bersiap ke sekolah. Yah, bagaimana pun Lula harus pergi sekolah. Mengingat ini bukan tanggal merah maupun musim libur.
Saat langkah Lula tiba di dalam kamar, ia justru kembali mencari-cari ponselnya. "Daddy, di mana ponselku?!" tanya Lula. Tidak peduli jika pria itu masih terlelap.
Merasa tidak mendapat respon, Lula mera-ba tubuh Frans, siapa tahu pria itu menyimpannya di kantong.
"Lula! apa-apaan, sih!" Frans yang masih memejamkan mata berusaha protes.
"Emang kenapa? Aku cuma mau ambil ponselku, Dad!"
Frans membuka matanya lebar. Jarak Lula yang begitu dekat dengannya membuatnya mudah untuk menangkap tubuh gadis itu.
"Lula, jujur sama Daddy, gaya pacaran kaya gimana yang sudah kamu anut? Kamu suka mainan lato-lato?" tanya Frans ingin mendengar penjelasan Lula. Biasanya jika sampai mengigau begitu, pasti pernah terjadi dalam kehidupan nyata.
"Daddy, apaan sih?!" kesal Lula saat tak bisa bergerak sedikitpun, tubuhnya terkena kuncian maut dari Frans, napas pun rasanya berat.
"Jujur Lula!" tegas Frans.
"Nggak mau, Dad! Lula nggak paham sama pertanyaan Daddy!" Lula memekik saat Frans mendekap tubuhnya semakin erat. "Akkk ... lepas, Dad!" teriak Lula sekuat tenaga. "Dad! Lepas! Kumohon" rengeknya yang ingin terbebas.
Lula pun kualahan, dan saat itu juga Frans menggendong tubuhnya, memindahkan ke atas ranjang.
"Aw Daddy sakith, Oey!" keluh Lula berteriak kesal saat gerakan tangan Frans terasa begitu kasar.
"Jujur sama, Daddy! Apa kamu tidak takut hamil?" selidiknya.
"Apaan sih, Dad!" Lula yang tidak tahu menahu, bingung.
"Lula!" Frans menahan kedua tangan Lula hingga gadis itu meronta meminta dilepaskan.
"Sakit, Dad! please lepas!" rengeknya diiringi tangis yang begitu dramatis.
"Enggak mau, makanya jujur dulu!"
Lula kembali berteriak, saat Frans sengaja memeluk tubuhnya begitu erat hingga dia benar-benar kesulitan bernapas.
Sepertinya Frans menemukan bakat terpendam dari Lula. Istri kecilnya itu pantas untuk menjadi penyanyi karena dia hobi teriak-teriak. Cukup merdu di telinganya, apalagi kalau dikarbit oleh musisi ternama. Bisalah! pikir Frans. Tapi tidak tahu jika mereka yang mendengarkan. "Daddy nggak mau lepas ya, kalau kamu tidak mau jujur!" kata Frans, ikut berteriak.
Mereka tidak tahu saja jika kamar Lula bukan kamar kedap suara. Jadi orang di luar sana bisa mendengar suara teriakan pulus tawa Lula yang menggelegar karena geli. Hingga derit suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh ke arah pintu kamar.
"Kamu apain anakku!" sentak Rainer yang tiba-tiba masuk ke kamar Lula.
"Ah, dia tidak mau! on fire!" sahut Frans, sekenanya. Tapi, siapa sangka Lula begitu tanggap dengan drama yang sedang diperankan.
"Mau kok, Lula mau ... Tapi kan ini masih pagi, lagian Lula juga mau berangkat sekolah! Nanti malam ya, Ma-Mas Frans." tersenyum cerah seraya mengecup kening Frans yang masih setia di atas tubuhnya.
Merasa malu sendiri, Rainer pun memilih keluar kamar putrinya. "Jangan lupa pakai penga-man, Lula masih kecil Frans!" pesan Rainer sebelum menutup pintu.
"Ay—ayah! Tolong bawa aku!" mohon Lula, suaranya teredam oleh tangan Frans yang kembali membungkam mulutnya supaya Rainer tidak mampu mendengar.
Mereka kembali berteriak lantang, sepertinya Frans belum menyadari jika suaranya bisa didengar orang di luar kamar.
"Lula ... Lula! dengarkan Daddy!" perintah Frans menahan kedua pipi Lula. "Besok lagi jangan nyi-um kening, ke-cup bibir Daddy, biar mereka percaya! Okay!" Frans membebaskan Lula. Dia menjauh dari tubuh Lula.
"Akhirnya beban berat di tubuhku lenyap!" ucap Lula saat merasakan lega, rambutnya terlihat lembab, keringat bermunculan di kening, dia segera kabur saat melihat pandangan Frans mulai mengancamnya.