
Benar yang dikatakan Zola, semalam ayah Rainer memang mencarinya. Dan saat ini ketika mereka duduk berhadapan, Lula merasa seperti sedang berada di ruang sidang, diwajibkan menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan sang ayah. Sampai-sampai, pizza yang sebelumnya terasa lezat mendadak begitu keras layaknya kue bagel yang sudah dingin. Hingga lidahnya tak mampu menelan lagi. Hanya giginya saja yang mengunyahnya hingga lu-mat.
"Ayah tidak memaksamu untuk bercerita, tapi ayah penasaran, semalam kamu pergi ke mana? Daddy ah, maksud ayah—suamimu! Dia kebingungan mencarimu." Rainer berusaha memancing.
"Lula ada kok," jawab Lula singkat. "Lula ada di rumah sakit."
"Tapi ayah tidak melihatmu, kemarin!" Rainer berharap Lula tidak berani membohonginya. Jangan sampai!
"Ayah ... kemarin Lula lupa ngasih tahu ke ayah. Lula pulang kemalaman. Terus bus nya tidak lewat ...." Lula menjelaskan sama persis dengan penjelasannya pada Zola. Seketika ia menangkap wajah muram dari wajah Rainer.
" ... maafin Lula, bukan maksud Lula membuat ayah dan Da—Masmas bingung mencariku," kata Lula menutup ceritanya.
Rainer menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi, penjelasan Lula cukup jelas, tapi kekhawatirannya tentang Lula yang naik angkutan umum saat malam hari, justru membuatnya cemas. "Habiskan pizzamu!" perintahnya. Dia tak ingin membahas ini dengan Lula, lebih baik membicarakan langsung dengan Frans.
Rainer memandangi Lula yang kembali menikmati pizza. Hatinya merasa senang melihat putrinya itu makan dengan lahap. "Apa rasanya enak?" berusaha menyela.
"Ayah mau?" balas Lula seraya menyerahkan sepotong pizza untuk Rainer.
Rainer menggeleng pelan. "Besok kita bisa datang lagi. Ayah akan mengantarmu setiap kali kamu mau makan pizza."
Senyum Lula terbit begitu cerah, anggukan kepala cepat menandakan semangatnya. Melihat itu saja sudah menjadi obat lelah bagi Rainer. Demi apapun, ia sejujurnya belum rela Lula menikah secepat ini, tapi dia tidak bisa melarang apa yang menjadi keinginan putrinya. “Lula!”
“Ya?”
“Besok lagi kalau mau ke rumah sakit bilang ke ayah! Ayah akan memastikan kamu tiba di rumah dengan selamat. Dan lagi, ini lebih penting, sebelum kamu pergi baiknya izin dulu dengan suamimu!” pesan Rainer.
Lula mengangguk, meski rasanya berat meminta izin pada Frans, dia menduga pasti pria itu tidak mengizinkan dia pergi jika tahu dengan tujuannya.
Setelah Lula menghabiskan pizza nya, Rainer mengantar putrinya kembali ke rumah. Saat mobil yang dikemudikan tiba di rumah Frans. Sebuah mobil yang terlihat asing tampak menganggu penglihatan Rainer. Bukan hanya pandangan, tapi pikirannya ikut menduga hal-hal buruk terjadi di dalam rumah itu.
Belum juga mereka turun dari mobil, sepasang manusia keluar dari dalam rumah. Lula melirik sekilas ke arah wanita yang berdiri di samping tubuh Frans. Jujur dia tidak pernah bertemu langsung dengan wanita itu.
Penampilannya sungguh menggoda gairah para pria, Lula membatin saat melihat betapa mininya dress wanita itu. Semoga ayah Rainer segera berlalu sebelum mengetahui kehidupan rumah tanggaku yang sesungguhnya. Sepertinya dia akan merevisi ulang hukum-hukum pernikahan, menambahkan larangan untuk Frans sebelum semuanya kacau. Dilarang berzina di dalam rumah, kalau mau silakan ke hotel saja, pikir Lula otaknya langsung merespon dengan kejadian yang baru saja dilihat.
"Syukurlah kalian sudah kembali." Frans menghela napas lega, seraya membuka pintu mobil milik sahabatnya.
"Siapa dia?!" sambut Rainer dengan pertanyaan, dia tidak pernah bertemu dengan wanita itu. "Selir?"
Rainer beralih menatap wanita itu dengan tatapan menilai, setelah merasa cukup dia kembali menatap Frans. "Penyakit lo nggak kambuh lagi, kan? Jangan sampai Lo menyakiti putriku!" ancam Rainer, lirih.
"Dia hanya guru private! Pergilah, terima kasih sudah mengantar Lula!" balas Frans, enggan menanggapi omelan Rainer.
Melihat Lula sudah keluar dari mobil, Rainer segera berlalu dari rumah Frans. Dia pikir sebaiknya tidak terlalu ikut campur dalam pernikahan mereka berdua. Frans sudah dewasa pasti bisa menjaga Lula dengan baik.
Saat Lula hendak masuk ke rumah, panggilan Frans berusaha menghentikan langkahnya. "Jangan ke kamar dulu!" peringat pria itu.
Lula berhenti melangkah, tapi pandangannya berusaha bersembunyi dari tatapan suaminya. Jantungnya terentak-entak saat pria itu meraih tangannya, menuntunnya masuk ke rumah.
"Dia akan menjadi guru private kamu. Daddy harap kamu bisa belajar dengannya dengan baik."
Lula mengangguk pelan. "Salam kenal, Bu. Saya Qailula—
"Ya, Qailula. Sepupuku, aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik!" potong Frans, menyela. Jangan sampai Lula melupakan fakta tentang pernikahannya dengan Priscilla.
"Pasti. Sepertinya kamu anak manis. Kalau begitu, kita mulai belajar besok sore, gimana?"
Lula tersenyum masam. Jika sudah begini Lula tidak bisa lagi menolak. "Baik, Tante ..." jawab Lula singkat.
"Naiklah, aku butuh bicara denganmu!" pinta Frans setelah acara perkenalan singkat itu selesai.
"Ya," sahut wanita itu dengan senyum yang begitu sempurna. Dia berjalan terlebih dahulu, menuju anak tangga yang ada di rumah mewah itu. Tak lama kemudian Frans mengikuti langkah wanita itu, mengabaikan Lula yang masih berdiri tegap di ruang tamu.
Samar-samar telinga Lula mendengar nama Tante Priscilla disebut. Sepertinya wanita itu tahu keberadaan Tante Priscilla saat ini. Lula masa bodoh dengan mereka berdua yang mulai memasuki kamar.
Wanita itu memang terlihat begitu cantik, memiliki ukuran dada yang besar, bulat sempurna idaman para pria di luar sana, pinggangnya yang ramping, benar-benar kesukaan Daddy Frans.
Jika sudah memasuki ranah pribadi seperti itu, apa lagi jika akan mereka lakukan selain menumpahkan gairah? Sekali lagi Lula bukan gadis polos yang tidak pernah melihat sepasang manusia berzina. Posisi WOT, Misionaris, Cow girl, Lula pernah menyaksikan itu di depan mata. Tentu itu dilakukan oleh saja sang Daddy dan kekasihnya. Itulah kenapa sesaat sebelum pesta pernikahan itu ayah Rainer berkata, apapun yang kamu ketahui tentang daddymu lebih baik kamu diam.
Merasa sia-sia kenapa harus memikirkan pria itu, Lula memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Mengabaikan dua orang di atas sana. Dia tidak akan mungkin bisa mendengar karena kamarnya kini kedap suara.
Tiba di kamar Lula menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, menatap langit-langit kamar yang terlihat polos. Perutnya sudah penuh oleh pizza, dan tidak butuh waktu lama, tubuhnya sudah berpindah ke alam mimpi. Mimpi yang akan menariknya sejenak dari kenyataan yang menyakitkan ini.
Ya, menurutnya ini menyakitkan, kenyataan yang dilihat cukup membuat guncangan kecil dalam hatinya. Tapi bagaimana pun dia sudah terjebak ke dalam permainan. Dan Lula belum bisa pergi sebelum menyelesaikan pertandingan ini.