Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Spy



Lula yang sudah duduk di bangku, benar-benar tidak menyadari jika panggilan dari Frans baru saja terputus. Saat menyadari Elkan mengecup pipinya tadi, dia begitu marah dan menyimpan ponselnya itu di saku jas almamater.


Menit berikutnya Lula mulai mendengarkan apa yang dikatakan guru yang kini tengah menerangkan materi. Tapi bukan Lula, jika dia langsung memahami penjelasan guru. Dia yang tidak paham berbisik di samping telinga Elkan. “El, Sumanto ngomong apa sih? Sudah empat puluh menit dia bicara, yang kosong otakku apa dia yang bicara— tapi tidak ada garis besarnya?”


“Hah, Ayang! nggak salah tanya aku begitu? Aku aja dari tadi bayangin mau beliin coklat apa ke kamu. Mau cad*bury atau silver*queen.” Elkan menjawab sesuai apa yang dirasakan.


Sirna sudah obrolan yang semula membahas tentang guru pelajaran. Keduanya justru menggosip layaknya ibu-ibu PKK yang tengah kumpul. Bedanya kini yang dibahas justru drama favorit yang sedang berlangsung.


“Kita nonton 18 + aja nanti kalau ke bioskop, kan kita juga udah punya KTP.”


“Cih lah, emang KTP mu udah keluar?” sahut Lula, dengan suara lirih.


“Belum, kan ada KTP mu buat beli tiketnya!”


Lula diam memikirkan, “Berani bayar berapa mau makai KTP kua?” tantang Lula, mendadak akal sehatnya bekerja saat menyadari Elkan memanfaatkannya.


“Ayang kok gitu, sih? Kan, aku yang akan menemanimu nonton!” kata Elkan, tak terima.


“Emang aku mau menemanimu? Lebih baik aku jagain kakek di rumah!” kata Lula, membuat nyali Elkan meredup.


"Ya, sudah nggak usah lihat 18 plus," kata Elkan menyerah.


“Lula, Elkan!” suara pak guru bernama Sumanto itu mengudara. Bibir pria itu menegur saat mendengar obrolan keduanya yang begitu menganggu konsentrasi siswa lain. “Siapa yang dapat arisan? Dari tadi Bapak perhatikan kalian sibuk ngobrol sendiri,” tanya pria itu diiringi wajah kesal.


Lula terlihat biasa saja, bukan sekali dua kali mereka berdua ditegur oleh guru yang sedang mengajar. Begitupun Elkan, dua orang itu sama saja, masa bodoh dengan teguran Sumanto.


“Arisan apa sih, Pak! Orang kita ngomongin film yang sedang tayang kok,” sahut Lula, penuh percaya diri. “Bapak mau apa?!" tantangnya. "Mau Lula aduin ke ayah! Biar dihajar. Bapak teman ayahku, kan?!” ancam Lula membuat pria itu bungkam.


Ya dia memang teman Rainer, tepatnya teman jauh, satu angkatan di SMA Barracuda. Pria yang dulunya dijuluki kutu buku itu, justru menghabiskan waktunya menjadi guru pengajar di SMA Barracuda.


Para siswa yang satu kelas dengan Lula paham, jika itu senjata yang biasa digunakan Lula untuk membela diri.


“Udah lah, Pak! Lanjutin yok! anggap saja mereka anak TK yang lagi study tour di mari!” celetuk salah satu teman Lula.


“Benar, Pak!” Lula tersenyum cerah. “Yang penting Lula lulus nanti dapat ijazah!” sambung Lula.


“Iya, habis itu dapat Ijab sah karena hamil duluan!” celetuk teman wanita yang kesal dengan Lula.


Gadis itu tidak menanggapi, sedangkan Elkan reflek melayangkan kotak pensilnya ke arah wanita itu. Hingga membuat ruangan kembali gaduh.


“Sudah, sudah ... jangan berteman!” Sumanto memberi sindiran supaya mereka berhenti membuat gaduh. Jika tidak begitu, kegaduhan masih akan berlanjut-lanjut.


“Enak aja ijab sah. Pacaran aja baru saja!” bisik Elkan, kembali terlihat bodoh.


Setelah itu suasana kembali tenang, pelajaran kembali dilanjutkan oleh Sumanto. Lula benar-benar bungkam mengikuti pelajaran, meski tak semuanya masuk ke otaknya. Hingga bel istirahat terdengar, ia baru beranjak dari kursi.


“Sayang, kamu di sini dulu jangan ngikutin aku!” peringat Lula saat melihat Levin beranjak dari bangkunya. Dia ingin berbicara empat mata dengan pria itu, tentu mengenai pernikahannya yang sudah terendus oleh Levin.


Langkah kaki Lula sedikit tertinggal dari posisi Levin saat ini. Dia sempat terhenti, saat seseorang menabrak tubuhnya. Karena tidak ingin mencari masalah, Lula kembali mencari keberadaan Levin.


Lula berusaha menarik napas dalam sebelum mendekati Levin. Dia harus mengatakan ini pada pria itu, supaya statusnya tetap terjaga. “Aku butuh bicara berdua sama kamu,” kata Lula, lirih, masa bodoh dengan pandangan mata para rekan-rekan pria itu.


Levin menggerakan dagunya ke arah tempat yang lebih sepi, meminta Lula untuk berjalan lebih dulu.


“Hati-hati Levin nanti dicium!” teriak salah satu teman Levin, mereka seakan memperingati Levin yang bisa saja Lula melakukan hal nekad. "liurnya mengandung kebodohan tingkat dewa!" celetuk seseorang lagi. Lula ingin sekali melihat siapa yang sudah berkata seperti itu.


"Lanjutkan langkahmu atau kita batal bicara!"


Suara Levin yang begitu dingin membuat Lula ketakutan. Dia tidak berani untuk melihat siapa yang sudah mengatainya. Hingga tiba di balik bangunan ruang laboratorium Lula memutuskan untuk berbicara langsung tentang masalahnya.


“Pasti tante priscilla, kan yang udah ngasih tahu kamu. Kalau aku jadi peran penggantinya?”


Levin tidak merespon, dan itu membuat Lula menyimpulkan jika tuduhannya itu benar adanya.


“Levin, aku anggap itu benar! Dan itu artinya, kamu tahu di mana keberadaan tante Priscilla saat ini.” suara Lula melembut. “Daddy sangat mencintai Tante Priscilla, aku yakin dia juga begitu. Jadi aku minta tolong, bujuk dia supaya kembali! Daddy akan memaafkan kesalahan tante Priscilla, aku tahu daddy orang baik.”


Levin menangkis tangan Lula yang hendak meraih tangannya. “Itu bukan urusanku!” ucapnya kasar.


“Bantulah aku, Vin! Setidaknya kalau tante Priscilla kembali, aku akan terbebas dari pernikahan ini.” Lula sedikit memohon.


“Kau yakin mau aku melakukan ini?” tanya Levin, memastikan.


Dan jawaban itu membuat Lula teringat dengan kondisi Kakek Ken saat ini. Dia jadi bimbang, memikirkan ulang apakah keputusannya ini tepat?


“Apa kamu sudah tidak membutuhkan uang?!”


"Levin!"


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan sih? pusing gue bicara sama gadis bodoh seperti Lo!"


"Aku megang kartumu ya, Levin! aku bisa saja mengatakan pada semua orang kalau kamu mata-mata."


Levin tertawa hambar. “Kau mendengar apa yang aku bicarakan dengan pria itu? Dan kamu tahu, gadis yang menjadi targetku?!" selidik Levin. “Dengar ya, LOL! Aku tidak tahu keberadaan tanteku. Dan sejak hari itu, aku juga tidak pernah berkomunikasi dengannya.”


"Aku tahu kamu sudah menjadi pengantin pengganti, karena keluarga kami selalu membicarakan mu!" kata Levin tegas.


Lula ingin bertanya lagi pada Levin, tapi terhalang oleh nada panggilan masuk dari ponselnya. Ia lekas mengambil ponsel itu saat mendapati nama 'Daddy Kesayangan' tertera di layar.


Hem …. Lula berdehem sebagai sapaan pertamanya.


Jangan lupa nanti daddy yang jemput kamu.


Karena panggilan dari pria itu Lula jadi kehilangan kesempatan untuk bertanya pada Levin. Pria itu sudah berlalu dari hadapannya, bergabung dengan genk nya itu.