Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Pangeran Yang Malang



“Aku tidak mau merepotkan Daddy.” Lula berusaha memberikan jawaban yang cukup bisa diterima dengan akal sehat. Dia khawatir pria itu akan kembali berteriak seperti Minggu kemarin.


Frans menarik napas panjang dan dalam, dia ingin meledakan amarahnya. Tapi, dia cukup waras, selalu ingat dengan ucapan Lula yang mengatakan jika asing dengan suara bentakan. Jadi, Frans berusaha berkata selembut yang dia bisa. “Tapi seharusnya bilang sama Daddy. Kalau begini caranya, apa kamu tidak mendengar tadi, gimana cara ayahmu menginjak-injak harga diriku?” Frans meletakan kedua tangannya di depan dada, menatap Lula yang sedang menunduk. “Masih untung aku tidak melempar pakaian-pakaian itu ke arah wajahnya.”


“Terus Daddy mau Lula gimana?” sela Lula lembut, dia tidak ingin mereka berdua ribut perkara pakaian. “Mengembalikan pakaian itu?” sambungnya, pikirannya sedang tidak ingin diajak kompromi. Tapi, jika pria itu meminta demikian, dia akan melakukannya.


“Lula!”


“Lula merasa uang lima juta sudah cukup untuk menghidupi Lula. Lula tidak ingin saat kita pisah nanti apa yang pernah Daddy berikan justru akan membuat Lula semakin berat meninggalkan. Lula akan merasa berhutang budi. Lula juga tidak bermaksud meminta mereka! Itu hanya kebetulan Bunda menawarkan oleh-oleh dari Semarang. Kalau daddy merasa Lula sudah salah, Lula minta maaf.”


Lula paham, jika kewajiban seorang suami adalah bertanggungjawab dalam hal nafkah batin dan jasmani. Tapi dia juga menyadari kalau belum bisa menjadi istri yang sempurna untuk Frans, dia tidak pernah sepenuhnya menjadi istri. Bahkan mungkin tidak akan pernah.


Bayangan momen perpisahan selalu mengingatkannya, dan Lula benar-benar tidak ingin berhutang Budi pada pria itu. Dia ingin bekerja, mendapat bayaran dari hasil kerjanya menjadi istri pengganti. Tidak lama, paling tidak lima bulan lagi. Setelah lulus SMA mungkin dia akan bekerja dengan benar bukan seperti ini. Berusaha mencari kebahagiaanya senditi. Dan semoga saja kakek Ken akan baik-baik saja, saat mendengar kabar perceraian mereka berdua.


“Ke depannya jangan diulangi lagi! kalau kamu butuh sesuatu, bilang sama Daddy! Dari sejak Daddy mengucapkan kalimat qobul kamu sudah bukan tanggungjawab mereka lagi. Tapi tanggung jawabku. Jadi yang lebih kamu utamakan, yang tahu apa-apa saja kebutuhanmu itu Daddy. Paham?”


Lula mengangguk pelan, menyadari pria itu sudah berlalu, akhirnya Lula mampu membuang napas lega. “Kenapa aku selalu saja salah?” Lula meringis, menertawakan sikapnya yang bodoh.


Mendengar suara pintu kamar yang tertutup rapat, Lula kembali menelusuri ruangan itu. Dia masih penasaran dengan lemari kaca di sisi kanan yang sempat dilewatinya tadi.


Seharusnya Lula tidak perlu bersikap seperti ini, rasa penasarannya yang begitu tinggi mendorong tangan Lula untuk membuka lemari di depannya. Pandangannya langsung disambut koleksi pakaian se-xy beraneka warna. Lemari berpintu kaca itu terlihat penuh.


Sedangkan saat tangannya membuka satu kaca lagi, baju-baju pesta wanita begitu penuh digantung di sana. Lula tersenyum masam seraya mengambil salah satu di antara koleksi yang begitu menarik perhatiannya.


Saat menempelkan gaun itu ke tubuhnya, ia tahu benar baju itu bukan untuknya. Ukuran baju itu lebih kecil dari ukuran tubuhnya. Jelas baju dan semua koleksi barang mewah di sana untuk calon pengantin yang lebih dulu kabur. Bahkan, mungkin wanita itu tidak tahu jika sang pangeran sudah menyediakan ini untuknya. "Pangeran yang malang" batin Lula.


Lula membuang napas kasar, Daddy Frans sudah sebaik ini pada wanita itu. Daddy juga mencintai wanita itu. Lantas apa yang membuat tante Priscilla meninggalkannya? Lula berusaha memikirkan jawaban yang tepat.


Namun, tidak menemukan jawaban yang masuk akal. Hingga bayangan Levin muncul di kepalanya. Dia ingat kalau Daddy sempat bilang jika pria itu adalah sepupu tante Priscilla. Mungkin, ia akan mencaritahu tentang wanita itu melalui Levin. "Aku yakin Levin tahu."


“Lula!”


“Adikmu mengantuk, bisa kamu bersihkan kamar tamu dulu? Aku heran apa di sini tidak ada ART?” tanya Zahira, kesal saat melihat rumah sebesar itu tapi sedari tadi tidak menemukan ART yang berkeliaran. Tidak seperti mansion pria berduit.


“Ada kok, Bun. Cuma mereka datang saat pagi saja. Setelah itu mereka pulang.” Lula menjelaskan secara garis besar, melirik ke arah sang ayah yang sedang mendengarkan obrolan mereka.


“Apa mau ayah kirimkan ART untuk membantumu. Biarkan ayah yang membayar gajinya.”


“Ayah, jangan ikut campur deh. Lula bisa menangani ini.”


Rainer berdecak pelan. “Emang kamu tidak lelah, pulang sekolah, masak, bersih-bersih!”


“Aku bisa mengatasinya, Ayah! Dari dulu Lula pengen punya suami yang hobi makan, supaya proses belajar memasak ku tidak sia-sia. Dan alhamdulillah, suamiku mau menikmati masakan Lula. Dan ini kesempatan untuk Lula melakukan yang terbaik untuk suami Lula. Lagian kalau bersih-bersih, ada si embok yang datang setiap pagi. Tinggal masak saja sih gampang, meskipun rasa masakan Lula tak seenak masakan Bunda, tenang saja semuanya aman.” Lula menjelaskan panjang lebar, dia tidak ingin Frans terlihat semakin buruk di depan ayahnya. Yah, meskipun pria itu juga tidak sebaik yang mereka pikirkan. Setidaknya biarkan dia saja yang tahu keburukan pria itu. “Sudah berulangkali mas Frans memberi pilihan untuk Lula, tapi Lula merasa belum perlu.”


Lula menjulurkan tangannya ke arah Ben Sagara. “Ayo, Ben. Kakak kasih tahu di mana kamar yang akan menjadi tempatmu. Kamu bisa beristirahat di kamar sini!” Lula membuka pintu kamar yang biasa digunakan. Aroma parfum khas dirinya langsung menyeruak, menyambut kedatangan Ben dan Lula.


Ranjangnya tidak begitu berantakan, hanya saja, Lula perlu menyingkirkan barang barang penting miliknya. Seperti ikat rambut, jepit, pokoknya Lula harus menyembunyikan itu sebelum Ben curiga jika kamar ini biasa ditempati. Bisa-bisa bocah itu melaporkan semuanya ke bunda Zahira.


“Apa Om Frans jahatin kakak? Jika benar, kita bisa pulang sekarang.” Ben yang merasa kehilangan Lula, kekeh mengajak kakaknya pulang.


“Tidak.” Lula menjawab lantang, “Kamu tahu Om Frans begitu menyayangiku, dari dulu. Sekarang, kakak sudah menjadi istrinya, jadi tidak bisa meninggalkan begitu saja?”


“Ya sudah kalau begitu. Sepanjang perjalanan naik pesawat, ayah sama Bunda ngomongin kakak terus. Mereka khawatir karena kakak meminta bunda dibelikan baju. Emang Om Frans nggak ngasih baju ke kakak.”


“Ngasih kok! Kamu tahu sendiri kebiasaan kakak. Niatan kakak cuma becanda meminta bunda beliin banyak, tapi bunda menanggapinya serius. Bukankah itu hal baik.”


“Syukurlah kalau kakak bahagia,” kata Ben, tangannya lekas meraih lollipop di atas meja. Lula tidak melarang, meski dia ingat untuk siapa dia membeli lollipop itu, dia bisa membelinya lain hari. Jika merasa keadaan sudah kondusif.