Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Ketagihan



“Kenapa Daddy berkata seperti itu di depan tante Cesil? Itu bakal mempersulit jalan Daddy buat ajak dia balikan?” protes Lula dengan tegas, saat mereka sudah berada di dalam mobil, perjalanan menuju rumah Frans.


Frans yang semula bersandar sambil memejamkan mata, kembali membuka matanya lebar. Belum paham juga? Astaga anaknya Rainer! Keluhnya dalam hati, sambil menatap ke arah kaca kecil yang ada di depan kemudi, menyadari Ibnu sedang berusaha menguping, Frans memilih kembali bersandar, berniat menjawabnya saat nanti tiba di rumah.


“Dasar ya! enggak muda nggak juga tua laki-laki semuanya bajindul! cuma ayahku yang baik! pantas saja ditinggalin, pasti dulu Daddy seperti ini juga sama Tante Cesil!” Lula terus menggerutu. Sedangkan Frans berusaha sabar, memikirkan hukuman apa yang pantas untuk istri kecilnya itu.


Lula semakin kesal saat tak mendapat respon apapun dari Frans. “Om Ibnu, ke rumah ayah ya!” perintahnya, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Ibnu.


“Pulang ke rumah.” Frans menyela.


Ibnu melirik ke arah mereka berdua. Jujur dia bingung siapa yang harus dituruti. “Kamu aku yang bayar, jadi antarkan kami ke rumah!” Frans kembali bersuara saat Ibnu tak lekas menjawab.


“Lula janji bakal bayar dua kali lipat dari gaji yang diberikan Daddy! Anterin Lula pulang ke rumah!” Lula sepertinya enggan mengalah, dia terus mengiming-imingi Ibnu dengan bayaran besar.


Dan suara Lula membuat Frans kembali membuka matanya, “Lula, pulang ke rumah!” lirihnya dengan lembut.


“Kita akan cerai, aku nggak mau terbawa perasaan!”


Frans tersenyum canggung. “Siapa yang akan menceraikan mu?! Tidak ada yang berhak memisahkan kita apapun keadaannya.”


Lula mencerna ucapan Frans. Setelah mengerti maknanya, dia berbicara dengan suara pelan. “Dad, tante Cesil sudah berada di Indonesia. Wanita yang daddy cintai dan hendak Daddy nikahi sudah ada di depan mata. Dan ini waktunya Daddy melepaskan aku! jangan menyia-nyiakan kesempatan, karena kesempatan baik tidak akan pernah datang dua kali!"


“Apa aku pernah bilang, akan kembali padanya?! kapan? Tanggal berapa? Jam berapa? Menit berapa? Sejauh ini aku tidak pernah mengatakan itu padamu! kau sendiri yang menyimpulkan kalau aku akan kembali padanya! bukan aku, Lula!” protes Frans, matanya berusaha mengunci pandangan Lula. Berharap gadis itu bisa membaca apa yang dia inginkan untuk saat ini.


“Daddy memang tidak pernah mengatakan apapun ke Lula.” Napas Lula naik-turun menahan emosi yang mendadak melanda dirinya. “Tapi, apa yang Daddy lakuin, itu menunjukan kalau Daddy masih cinta padanya!”


Frans sejujurnya ingin menahan untuk tidak membahas ini di depan orang lain. Tapi, rasanya sudah tidak sabar untuk menyadarkan Lula, jika keberadaan Priscilla tidak berarti apapun dalam kehidupannya baik untuk saat ini maupun ke depannya.


“Sikap yang seperti apa, maksudmu? Aku datang ke Singapura?” tanya Frans disusul tawa jenaka dari bibirnya.


“Nah, itu tahu!” kini Lula berpaling, memilih menatap jalanan yang dilewati.


“Aku tanya ke kamu juga nggak bakalan kamu kasih tahu, kan?” Frans menatap Lula lekat, tampak jelas gadis itu kebingungan. “Andai ayah mertua dan kamu mau ngasih tahu ke aku—rasa penasaranku pasti tidak akan seperti kemarin! Dan tentu aku tidak akan pernah menemuinya lagi, apalagi sampai membawanya pulang ke Jakarta!”


Jawaban tegas itu membuat Lula semakin bingung. Pikirannya mulai berperang, antara ucapan Frans dan pendapatnya sendiri. Memorinya seakan memutar kembali setiap kata-kata Frans yang tersimpan, dan jujur Lula tidak menemukan kalimat yang mengartikan jika pria itu akan kembali pada Tante Priscilla. Apa aku yang sudah salah mengira?! tanya Lula dalam hati.


"Bukan dia yang ada di pikiranku!" Tepat saat Frans mengakhiri ucapannya mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah mewah miliknya.


Mereka berdua turun meninggalkan Ibnu yang menatapnya bingung. Di balik kemudi pria itu hanya menggelengkan kepala. "Apa susah ngomong cinta sih? tinggal bilang aja kok harus drama?!" gerutunya mengikuti langkah mereka yang memasuki rumah.


“Dad!” Lula mengejar langkah Frans. Ia butuh penjelasan dari ucapan pria itu. "Jelasin ke Lula, apa maksud ucapan Daddy!"


Bukan bermaksud mengabaikan, tapi Frans ingin berbicara empat mata saja dengan Lula. Menguncinya di dalam kamar, membuat gadis itu paham tentang semuanya.


"Daddy, STOP!" teriak Lula, saat Frans membuka pintu kamar. Merasa diabaikan, Lula memberanikan diri untuk melewati batas, ikut masuk ke kamar pria itu.


Tiba di dalam kamar, ia melihat Frans melepas kemeja hitam yang sedari tadi dikenakan, menyisakan kaus hitam yang sedari tadi melekat di tubuhnya.


“Tutup pintunya!” perintah Frans dengan suara lantang.


“Aku hanya butuh penjelasan, setelah itu aku akan pulang?!” kata Lula, sedikit khawatir.


“Tutup lalu kunci!”


Suara Frans terdengar tanpa bantah. Lula yang kesal lekas melaksanakan perintah suaminya, berharap Frans tidak melakukan hal-hal menjijikan yang membuat hubungan keduanya harus terikat semakin erat.


Sialnya ketika Lula selesai menutup pintu, tepatnya saat berbalik hendak mendatangi posisi Frans. Tubuhnya justru dihimpit dengan tubuh pria itu, membuat dirinya terpaksa menahan napas untuk sepersekian detik. “Mundur, Dad!” peringat Lula, mulai tidak nyaman saat hembusan napas hangat Frans menerpa kulit keningnya.


“Enggak!”


Lula berusaha berlari, melewati tangan kokoh yang bertumpu di daun pintu. Tapi, tetap saja tubuhnya tidak bisa melewatinya, justru tersangkut di lengan Frans, dan dengan cepat pria itu mengembalikan tubuh Lula pada posisinya, bersandar di daun pintu dengan jarak yang cukup dekat.


“Aku akan membebaskanmu, asal kamu mau jujur!”


Lula mengerutkan kening, selama ini dia tidak pernah berbohong, kecuali soal perasaanya. Apa yang ingin pria itu ketahui? “Soal apa?” tanya Lula, sudah tidak sabar ingin segera terbebas dari kukungan Frans.


“Kejadian yang hampir sepuluh tahun yang lalu, sampai membuatmu trauma seperti itu! Dan anehnya, kenapa kamu dan keluargamu tidak pernah memberitahu aku?!”


Pikiran Lula langsung terhubung dengan kejadian malam itu. Hanya itu tragedi menyedihkan sepuluh tahun yang lalu. “Tidak penting. Semua sudah berlalu dan Lula sudah melupakannya.”


“Belum! Kamu tidak akan pernah melupakan itu! Kalau sudah, tidak mungkin saat kondisi tubuhmu naik, kamu seperti berada di masa itu.”


Lula menunduk, paham kalau saat ini, suaminya itu tahu semua tentangnya. Bohong pun rasanya percuma karena suatu hari nanti dia harus membuka nya juga.


“Jelaskan, atau aku akan memaksa Priscilla untuk mengakui apa yang sudah dilakukannya padamu?!”


Lula terdiam, apa ini artinya daddy pergi ke Singapura hanya untuk mendengar penjelasan itu? bukan untuk menjemput Tante Priscilla karena operasinya sudah selesai? “Sejak kapan Daddy tahu?” tanya Lula pelan.


“Setelah dari pemakaman, suhu tubuhmu naik drastis, dan aku terpaksa memanggil ayahmu.”


Lula membuang napas kasar hingga mampu menghangatkan pipi Frans. Mungkin, Daddy juga sudah mengetahuinya dari ayah Rainer.


“Tante hanya memintaku naik.”


“Naik ke mana?”


“Ke bianglala. Dia hanya meminta petugas menyalakan mesin dan menghentikan mesinnya di saat Lula berada di atas. Bianglala sengaja berubah status menjadi rusak, jadi tidak ada yang mendekat setelah Lula benar-benar sendirian. Me—mereka meninggalkan Lula.”


Dulu mereka memang berangkat bertiga, tapi karena ada urusan Frans tidak menemaninya sampai akhir. Dia hanya ingat kalau Lula hilang dan sesaat kemudian dia dikabari Lula sudah berhasil ditemukan.


"Lula memang nakal, Lula yang sudah membuat Tante Priscilla cemburu karena terlalu dekat dengan Daddy, sampai-sampai dia nekad melakukan itu pada Lula. Tapi ketahuilah, Dad! Lula merasa bersalah saat tahu Daddy dan Tante putus. Lula menyesal sudah membuat hubungan Daddy dan Tante berantakan! sampai Tante menikah dengan pria lain!"


"Kami putus bukan karena kamu! Dia yang sudah selingkuh dengan pria lain!"


Lula membulatkan matanya, baru ini dia tahu alasan mereka putus. Dan baru ini pula dia mengetahui bukan dirinya yang membuat hubungan mereka berakhir.


“Pasti malam itu kamu ketakutan?!” tanya Frans setelah cukup lama terdiam.


Lula yang sedari menunduk, kini mengangkat kepalanya, kemudian mengangguk pelan. Melihat air mata Lula yang sudah membasahi pipi, Frans membawa tubuh gadis itu masuk ke pelukannya. Bukannya tenang tapi tangis Lula semakin jelas.


“Sudah terlambat untuk meminta maaf sekarang. Tapi, ini lebih baik dari pada tidak sama sekali. Maaf, sudah meninggalkanmu bersama Priscilla.” Pelukan Frans semakin erat, sama halnya dengan Lula yang mencengkram pinggang pria itu semakin kuat. “Mulai hari ini, tidak akan ada lagi yang berani menyakitimu?! Setelah ini Daddy akan menjagamu! Kamu bisa pegang janjiku!”


Tangan Lula melingkar di perut Frans, rasa hangat semakin membuatnya merasa nyaman, sampai-sampai membuat dirinya lupa dengan rencana perceraian yang hendak mereka lakukan.


Semakin lama Lula semakin menikmati kehangatan itu. Rasa cinta yang tumbuh semakin terasa jelas. Lula semakin paham jika yang kini dirasakan adalah perasaan cinta.


“Sampai kapan kamu akan memelukku seperti ini? jujur dari kemarin aku belum mandi, apa tidak bau?”


Kalimat yang dilontarkan Frans membuat Lula sadar dan menjauh. Tapi siapa sangka Frans justru kembali menariknya untuk mendekat, merangkum pipi Lula dengan kedua tangannya.


Mengerti Lula juga sedang menatapnya dengan sorot tegang, Frans justru merasa geli sendiri. Apa yang sedang di pikirkan anakmu ini, Rain? sepertinya dia mengharapkan sesuatu dariku, nakal sekali! rancaunya dalam hati.


Sampai akhirnya dia sendiri yang tidak tahan untuk mendaratkan kecupan di bibir merah yang sedikit terbuka itu, membuat mata Lula semakin membulat sempurna. Bibirnya semakin terbuka lebar, bingung hendak merespon gimana, sekaligus kacau, dia menuntut arti ciumaan yang baru saja didaratkan Frans padanya.


Ekspresi yang ditunjukan Lula membuat Frans semakin gemas. Merasa ketagihan dengan rasa bibir Lula, Frans berusaha mengulanginya lagi. “Jangan membahas tentang Priscilla lagi! Mengerti?" ujarnya setelah sepersekian detik menjauhkan bibirnya dari Lula. Frans berusaha mengunci pandangan Lula. Lalu berkata, "Karena duniaku bukan lagi tentang dia melainkan tentang kamu.”