
Kicauan burung membelah kesunyian pagi ini. Udara sejuk berusaha menembus kalbu, membuai sosok gadis yang bersembunyi di bawah selimut. Mata Lula terasa begitu lengket, dia baru tidur beberapa jam yang lalu. Bahkan, pukul dua dini hari, telinganya masih mampu mendengar alunan jam.
"Apa dia menghubungiku?" Lula terjingkat dari posisi tidurnya, tangannya mera-ba, berusaha mencari keberadaan ponselnya.
Bibir Lula tersenyum masam, saat tak mendapatkan notifikasi apapun di layar. "Tenang, Lula! semua akan baik-baik saja! Kalau Tante Priscilla kembali ke Jakarta. Kamu tinggal pergi saja, BERES! toh, kakek juga sudah tahu!" gumam Lula, menguatkan diri sendiri.
Lula tidak ingin tenggelam dalam kesedihan. Buat apa juga? dia tidak memendam perasaan apapun kepada Frans, seharusnya semua kan baik-baik setelah semua ini berakhir? pikir Lula.
Seakan mendapat kekuatan, Lula menyingkap selimutnya, berjalan gontai menuju kamar mandi. Dia harus pergi ke sekolah, hari ini dia tidak ingin terlambat, dia harus jadi cewek baik-baik yang bisa dibanggakan kedua orang tuanya.
Setelah siap, Lula berjalan menuruni anak tangga. Seragam motif burung merak, khas identitas sekolahnya sudah membalut tubuhnya. Pandangan Lula tertuju ke arah sang kakek yang sudah duduk di meja makan.
“Lesuh banget cucuku satu ini? Kenapa lagi, sakit?” Kakek Ken mendaratkan punggung tangannya ke kening Lula. Dia tahu di saat Lula demam, itu adalah kondisi paling genting, dan dia harus waspada.
“Enggak, Kek. Cuma kurang tidur saja!” kata Lula.
"Mau membolos?"
Lula menggeleng tidak ingin melewatkan masa mudanya. Di bertekad membuat bangga kedua orang tuanya.
Kakek Ken tersenyum penuh arti. Sepertinya dia mulai yakin dengan perasaan Lula saat ini. “Baru juga ditinggal sehari! udah rindu aja!" cibir kakak Ken."Apa jadinya jika kalian bercerai?!"
Lula mendaratkan bo-kongnya di salah satu kursi. Menunggu Mbok Ratih mengambilkan sarapan untuknya. Sembari menunggu siap, Lula meraih ponsel di sakunya, melihat notifikasi layar, siapa tahu Frans menghubunginya. Sayangnya, tidak ada apapun yang ia dapati di layar tersebut.
Sebenarnya, selama ini, ponsel Lula selalu sepi. Yang paling sering ia hubungi tak lain adalah Zola, ayah, Bunda pokoknya masih lingkup keluarga Ramones.
Lula membuka story dari kontak yang disimpan di ponselnya. Siapa tahu suaminya membuat status tentang keberadaannya saat ini. Namun, lagi-lagi Lula hanya bisa diam tanpa kata setelah tak menemukan apapun.
Lula masih fokus menatap layar ponselnya, dengan jari yang bergerak begitu cepat. Hingga gerakan jarinya terhenti saat melihat story' dari sang Ayah.
“Ayah sakit ya, Kek?!” tanya Lula, membuat Kakek Ken kebingungan karena tidak ada kabar apapun dari Rainer.
“Tidak ada kabar apapun dari ayahmu!”
Perasaan Lula mulai tidak nyaman. Dari pada penasaran Lula lekas menelepon pria itu. perlu beberapa kali sampai pria di seberang sana menjawab panggilannya.
“Ayah? Siapa yang sakit?” tanya Lula tanpa basa-basi terlebih dahulu. Tak ada jawaban, Lula mendesah kecewa saat pria itu justru berbicara dengan seorang wanita yang ada di seberang panggilan. “Ayah!” panggil Lula sedikit kasar.
“Hm?”
“Siapa yang sakit?”tanya Lula menuntut jawaban.
“Bunda. Tapi sekarang dia tidak apa-apa, cuma kecapekan aja kok. Kamu tenang, ayah bisa mengatasinya.” Suara Rainer terdengar lirih.
Lula melirik ke arah sang Kakek, pria itu terlihat begitu penasaran dengan informasi apapun yang saat ini disampaikan Rainer.
“Sejak kapan?”
“Bisa-bisanya Ayah enggak ngasih tahu ke Lula tentang apa yang dialami bunda kemarin!" Lula tak terima dengan sikap sang ayah... "Apa mungkin ini yang dinamakan ikatan batin? Lula sampai enggak bisa tidur karena gelisah!” padahal Lula tahu jelas jika dia memikirkan suaminya, bisanya mencari alasan seperti itu.
“Tidak parah, jadi nggak papa, kamu tenang saja!” pria di seberang berusaha menenangkan.
“Kebetulan hari ini Lula tidak masuk sekolah. Setelah ini Lula akan ke rumah sakit.”
Kakek Ken yang menyaksikan sikap Lula hanya mampu menahan tawa. Bisa-bisanya cucunya itu bersikap demikian. Tadi saja disuruh bolos nggak mau! pikirnya.
Pihak keluarga yang tidak pernah menuntut banyak dari Lula, hanya diam saja saat tahu gadis itu sering membolos sekolah. Mereka tidak ingin Lula tertekan apalagi sakit gara-gara mikirin pelajaran.
Setelah panggilan itu terputus, Lula menjelaskan pada sang Kakek tentang kondisinya Zahira. Pria itu panik, seakan akan ingin melompat dan menemui putrinya langsung.
“Sarapan dulu, Kek! Ayah bilang kalau bunda baik-baik saja, kok! Tidak begitu parah.” Jelasnya berusaha menenangkan sikap Kakek Ken yang tak jenak menikmati sarapannya. “Jangan terlalu khawatir! Ada ayah di samping bunda yang bisa diandalkan.”
Lula menikmati sarapan dengan buru-buru, dia harus mengganti pakaian terlebih. Bisa ditangkap satpam jika ke rumah sakit mengenakan seragam saat jam sekolah berlangsung.
Saat Lula sudah kembali turun, dia melihat sang kakek sudah berada di dalam mobil. Sepertinya, pria itu shock berat mendengar putrinya sakit, bahkan melebihi dari saat dia tahu hubungan pernikahan Lula dan frans hanyalah pura-pura belaka.
Dalam perjalanan ke rumah sakit pun kakek Ken terlihat gelisah. Kakinya terus saja bergerak-gerak, seolah ingin segera berlari ke rumah sakit. Padahal, kan seharusnya dia bisa lebih sabar lagi dari ini.
“Kakek tenanglah. Kepanikan kakek bisa-bisa menular ke aku, kalau ayah bilang bunda tidak apa-apa berarti bunda baik-baik saja! percaya sama ayah!”
“Bagaimana bisa kakek percaya sama ayahmu!” balas Kakek Ken tanpa melihat ke arah Lula.
Kakek Ken memang sedikit kesal dengan ayah. Beberapa tahun belakangan ini, kakek Ken meminta ayah untuk mengurus perusahaan, demi menggantikannya. Tapi ayah Rainer tidak mau karena merasa itu bukan passion-nya. Ayah Rainer lebih memilih terjun di dunia kesehatan, yang tak lain sebenarnya adalah saran dari dokter Ipam, ayah tiri Zahira.
Begitu mobil yang mengantar mereka berhenti di depan pintu rumah sakit, pria itu berjalan cepat memasuki gedung. Tidak peduli dengan sapaan dari beberapa orang yang dikenali.
“Ruangan bunda di mana?” Lula bertanya saat melihat seseorang yang dikenali. Wanita paru baya itu lekas menyebutkan di mana ruangan Zahira dirawat. Lula yang melihat sang Kakek salah jalur, lekas berlari, menarik lengan pria itu untuk mengubah arah langkahnya.
“Kakek!” Lula geleng-geleng kepala, stress sendiri melihat sikap kakeknya. Lula paham Zahira adalah putri semata wayangnya. Tapi, Lula merasa sang Kakek tidak perlu memikirkan hal seberat itu, takutnya jantungnya bermasalah. “Ikuti Lula!” titahnya, menuntun kakek Ken menuju ruangan yang di tempati sang bunda.
Tiba di depan pintu ruangan, Lula mendorong pintu tersebut. Dua orang yang berada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah mereka berdua. Dan benar kata ayah Rainer, bunda Zahira terlihat baik-baik saja, bahkan bisa tersenyum saat melihat kedatangan mereka berdua. Hanya wajahnya saja terlihat sedikit pucat.
Kakek Ken, mendekat. Ayah Rainer yang paham sedikit mundur, mempersilakan mertuanya yang posesif itu untuk menimang-nimang putrinya.
Melihat sang ayah masih berdiri di samping kakek Ken. Lula menarik lengan sang ayah, berniat mendudukan pria itu di sofa.
“Bunda sakit apa, Yah?” bisik Lula, penasaran dengan apa yang terjadi dengan Zahira saat ini.
“Sudah ayah bilang bunda tidak apa-apa. Kenapa kamu bandel, datang ke sini, masih juga bertanya sakit apa?”
Lula masih tidak percaya. Dia menuntut jawaban dari sang ayah. “Buruan jawab, Yah! Atau aku tanya dokternya.” Lula mendekat, melihat papan keterangan tentang nama pasien, dan dokter yang menangani. Setelah mengetahui siapa yang memantau perkembangan kesehatan Zahira, Lula menoleh ke arah Rainer. Pandangannya menuntut penjelasan.