Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Mandi Junub Berdua



Suasana pagi terasa berbeda di area dapur utama rumah Rainer. Lula yang merindukan momen kebersamaanya dengan Zahira, terus saja bercerita tentang kegiatannya ketika tinggal di rumah Frans.


Sedangkan pria yang kini berstatus suaminya, masih terlelap di atas ranjang. Jangan berpikiran kotor ya? Pria itu memang begadang. Katanya tadi, semalam dia tidak bisa tidur karena ulahnya.


Lula yang teringat dengan kejadian semalam saja bibirnya tersenyum simpul. Ia tidak mengira kalau Daddy Frans bisa bersikap se-posesif itu, menghapus koleksi foto di galerinya, hasil jempretannya saat bersama Elkan, Levin, Zola, serta katanya, lebih baik diisi sama fotoku saja, yang jelas-jelas lebih tampan dari mereka.


Setelah itu, mereka berdua mengambil foto selfie. Dengan percaya diri, Frans memotong foto itu. Di ponselnya Frans sengaja mengatur foto pria itu sebagai wallpaper. Begitupun dengan layar pria itu, begitu kunci terbuka, wajahnya tertera jelas di layar. Bagus juga hasilnya, tapi jangan lupakan bibirnya yang berkata, lumayan sekarang udah punya senjata buat ngusir tikus.


Dikira aku kucing? pikir Lula, yang teringat kejadian sebelum dia pindah ke alam mimpi.


“Kenapa senyum-senyum? Dari wajahnya keliatan puas banget,” goda Bunda Zahira.


“Enggak papa, Bunda. Lagi bayangin Daddy aja.” Lula tersipu menyadari kepolosannya.


“Yaelah, orangnya ada tu di atas, kenapa mesti dibayangin?”


“Kan Lula sibuk, buatin sarapan dia. Biar semangat sambil bayangin Daddy, nggak salah, kan? pasti bunda juga sering gitu.”


Zahira menggeleng pelan, tidak percaya jika putrinya bisa se-bucin ini dengan pria yang jauh lebih tua dari usianya. “Berani mencintai harus siap kehilangan loh, ya!”


Lula menatap lekat ke arah Zahira. “Maksudnya?”


“Ya harus siap dengan resikonya. Bunda juga begitu, Bunda mencintai ayahmu tapi bunda juga harus siap, jika suatu hari kami bakal berpisah.”


“Bunda punya niat mau cerai sama Ayah?!”


“Astagfirullah, bukan gitu, Sayang!” Zahira heran kenapa Lula semakin telmi begini? “Enggak ada niatan untuk bercerai. Tapi segala sesuatu kan bisa saja terjadi. Misal kematian, tergoda pelakor. Atau cobaan apalah yang membuat pernikahan kalian goyah.”


“Ooo … gitu! Tapi kan Lula baru mau mulai melangkah menuju kata bahagia, masa iya mau diambil lagi.”


“Kalau ujiannya itu kita nggak bakal bisa menghindar, Sayang.”


“Hm … seru banget ngobrolnya. Pada bahas apa?!” tiba-tiba saja terdengar suara Frans dari balik tubuh Lula, membuat dua orang itu menoleh ke sumber suara.


“Em, nggak bahas apa-apa ini rahasia wanita.”


“Kamu emang nggak pergi ke sekolah, kok jam segini belum mandi?” tanya Frans yang sudah duduk di depan Lula.


“Bentar, lima menit lagi.” Lula menjawab singkat, dia tahu kapan waktunya bersiap. Dia sudah memperhitungkan jam-nya. “Daddy sudah mandi?” tanya Lula, kemudian.


“Udah,” jawabnya singkat seraya melirik ke arah Zahira. Sekejap saja lalu memberi perintah pada Lula., "Bisa buatin aku kopi?”


Lula mengangguk, kemudian mengambil gelas kopi. Perhatian mereka berdua teralihkan saat Rainer yang baru saja masuk ranah dapur, memeluk pinggang Zahira dari belakang. Pria itu tampak berbisik di samping telinga istrinya. Kemudian mengusap perut wanita yang sebenarnya, sedang sibuk dengan pisau buah.


“Kamu nggak mual-mual?” pertanyaan itu mengisi keheningan yang terjadi.


“Tadi pas bangun tidur saja. Minggir, nanti Ben lihat kamu bisa diproses?!”


Oh, apa Ben saja yang tidak boleh liat? Woey! aku di sini, melihat kalian. Frans menggerutu.


“Kamu dari mana sih? Pagi-pagi udah menghilang, mana ponsel ditinggal lagi.”


“Ngapain nyariin aku?” tanya Rainer.


“Kamu memang dari mana?”


“Nggak lihat aku keringetan begini. Mau olahraga sama kamu kasihan tadi kelihatan nyenyak banget!”


Sepasang manusia lain yang menghuni dapur hanya bisa menatap keduanya dengan seksama. Tanpa suara bahkan Lula seperti asyik sampai tidak menyadari jika Frans menunggu kopi buatannya.


Frans sendiri ada rasa keinginan untuk bermesraan dengan istrinya seperti sahabatnya itu. Andai saja ini di rumahnya sendiri, dia akan langsung menyantap habis bibir merah milik Lula.


“Lo lihat nggak sih, Rain. Di sini masih ada bocil Lo?!” peringat Frans, yang iri sekaligus dengki dengan ulah Rainer.


Suara itu membuat Rainer menyadari kesalahannya. “Astagfirullah, lupa kalau ada penghuni lain di rumahku.” Tangannya menjauh dari pinggang sang istri. Lalu menatap Lula yang sedang mengaduk kopi.


“Gila memang, nanti kalau Lula pengen gimana?”


“Kan, ada Lo suaminya.”


“Apaan sih kalian!”


“Minggu depan aku mau reuni, kamu mau ikut enggak?” Rainer meminta izin.


“Kamu kan tahu aku paling tidak suka ikut acara begituan.”


“Reuni apa, Yah? Teman kampus?” Lula bertanya, demi menjawab rasa penasarannya.


“Bukan, teman SMA Barracuda.”


“Oh ….”


“Kamu mau ikut?” tawar Frans pada Lula.


“Tidak. Malas ke acara begituan.”


“Kalau aku datang boleh nggak?” tanya Frans, berencana akan datang bersama Rainer.


“Silakan saja! Tapi jangan aneh-aneh, nanti kecentilan godain cewek-cewek di sana!”


“Ih, yang ada mereka yang godain aku, kalau kamu nggak mau aku digodain makanya ikut.” Frans sedikit memaksa.


Mendengar itu Lula lekas melanjutkan langkahnya menuju kamar, bersiap pergi ke sekolah.


Saat berada di dalam kamar mandi, Lula dikejutkan dengan flek coklat di celanaa dalamnya. Sedikit kecewa karena apa yang direncanakan harus batal.


“Kok tumben maju?” Tangannya membuka laci, tidak ada apapun. Pembaluut yang biasa disiapkan bunda di sana, habis.


Lula kembali keluar menghubungi Zahira melalui sambungan interkom. “Bunda … masih nyimpen pembaluut?”


“Kamu datang bulan?” tanya wanita di ujung panggilan.


“Iya.” Kata Lula dengan nada kecewa.


“Ya sudah, biar dibawain sama Frans.”” Jawab Zahira lemah, seakan tahu jika Lula saat ini sedang kecewa. Dia menduga, Lula kecewa karena usaha membuat bayi tidak membuahkan hasil, berbeda jauh dengan pikiran Lula saat ini.


“Frans, tolong sabar ya, jangan marahi Lula, mungkin memang belum rezeki kalian! Tapi kamu tenang saja. Pasti bisa kok.”


Frans semakin dibuat bingung dengan perkataan Lula.


"Lula datang bulan, tolong berikan pembaluut di kotak P3k. Biasanya Lula pakai yang bersayap. O, ya, panjang 35 cm dia sekolah jadi biar tidak ke mana-mana!" perintah Zahira.


“Lula datang bulan? Serius?!”


“Frans!” sentak Rainer penuh peringatan.


“Aku tanya loh.”


“Iya. Buruan sana, biasanya dia akan berubah jadi macan tutul! Kamu yang sabar saja ngadepi Lula.”


Ternyata bukan hoax ya kalau orang pms itu jadi mudah emosian. Pikir Frans seraya berjalan menuju kotak P3K. Saat tiba di dalam kamar dia justru disambut isak tangis dari Lula, gadis itu memeluk tubuhnya erat, sambil berucap kata maaf.


“Nggak perlu minta maaf, kita bisa melakukannya di saat haid kamu sudah selesai.” Frans menghibur, meski dalam pikirannya kecewa karena dia harus menunda menggunakan suplemen-suplemen yang sudah dibeli olehnya.


“Daddy nggak marah?”


“Marah kenapa?”


“Karena aku datang bulan, jadi acara belah durennya batal.”


“Hei, anak kecil! Kontrak kita itu seumur hidup, nggak bisa besok kan masih ada hari lain?” sembur Frans, menasehati.


“Tapi usia Daddy sudah tua.”


“Tua-tua begini, aku masih bringas! Mau bukti. Lihat saja nanti kubuat kamu tidak bisa jalan!”


Lula segera menjauh, melepas pelukannya. Mendadak ngeri mendengar ucapan pria itu. "Udah sana pergi aku mau mandi!"


"Mau aku mandiin?!" tawar Frans dengan hati-hati dan suara lembut. Tapi, langsung dipelototi oleh Lula. "wah, kenapa harus jadi macan sih? Iya, iya ini keluar. Nanti aja mandiin kamunya. Sekalian mandi junub berdua!"