
“Lula, nanti aku jelaskan!” Elkan berkata tegas, diiringi tatapan penuh syarat.
“Aku mau sekarang!” ngotot, nekad, itu yang ingin Lula lakukan saat ini. Dia ingin kepastian, dan jawaban dari Elkan.
“Emang dia siapa, sih, Hon?” tanya gadis itu, lengannya mengapit lengan Elkan penuh manja, seolah takut kehilangan.
Mendengar panggilan gadis itu, Lula semakin yakin jika hubungan mereka bukan hanya sekedar teman. Sesak, sedih, kecewa, mendapati fakta semua itu. Pandangannya tertuju ke arah Elkan, seolah menunggu jawaban pria itu, siapa yang hendak Elkan pilih.
“Eh, di—dia … dia Lula, sahabat aku. Teman sebangku.”
Memang ya? Kehadiranku tak ada yang menganggap lebih berarti, kecuali mereka, kedua orang tuaku sendiri.
“Begitu?” Lula menyakinkan jawaban Elkan, pria itu tampak bingung menatap dua wanita itu bergantian. Sepertinya Elkan tidak berani berkata jujur. “Baiklah kalau kamu tidak ingin menjelaskan yang sebenarnya. Aku pacarnya Elkan.” Lula mengakui, membuat Elkan menatap kesal ke arahnya.
“Gila, aku pacarnya Elkan, nggak usah ngadi-adi!” teriak gadis itu hingga menarik perhatian para siswa yang menyusuri jalanan depan sekolah.
“Udah, udah! Nggak usah ribut.” Elkan berusaha melerai, merasa sok tampan karena direbutkan oleh dua wanita.
“Okey, benar. Enggak usah ribut! KITA PUTUS! pergi saja sama wanita ini!” wanita di samping Elkan langsung menjauh berniat meninggalkan mereka akan tetapi langsung dicegat oleh Elkan. Lengannya di re-mas kuat oleh Elkan.
“Tunggu dulu, Sayang! Biar aku jelasin!” mohon Elkan.
“Jelasin apa?!" sentak gadis itu. "Udah jelas-jelas kamu selingkuhi aku, kita baru ditahap pacaran! Aku nggak tahu gimana jadinya kalau kita sudah menjalin komitmen! Kamu udah menyia-nyiakan kesempatan ke dua yang kuberikan, El!” dalam sekali hentakan gadis itu berhasil terbebas dari cekalan tangan Elkan. “Urusin pacar kamu sana!” gadis itu mendorong tubuh Elkan, menjauh darinya, seolah jijik dengan sikap Elkan saat ini.
Elkan berbalik menatap Lula lekat. “Lula … kenapa lo harus muncul di sini, sih! Pengacau!”
“Kenapa?! Jadi siapa yang lo selingkuhi aku atau dia?” tuntut Lula, dia belum lega dengan penjelasan Elkan, bisa-bisanya pria berwajah pas-pasan itu mempermainkannya.
“Dia. Please bantu aku, Lul!” mohon Elkan, “katakan padanya kalau ini hanya prank, besok kami udah satu tahun jadian. Jadi ngerti, kan apa yang harus Lo, lakuin?”
Lagi-lagi Lula kembali dipukul fakta yang justru semakin menyakitkan. Kesal, marah, dia ingin meluapkan semuanya, menampar wajah Elkan sekuat tenaga, tapi terlalu sayang dengan tenaganya. “Aku salah mengenalmu! Kukira kamu pria baik-baik! Ternyata sama saja!” Lula berbalik meninggalkan Elkan, berjalan menjauh ke arah halte terdekat.
“Lula! Bantu aku! Aku nggak ingin kehilangan dia!” teriak Elkan berusaha menghentikan langkah Lula, tapi sayangnya tidak berhasil, Lula terus saja melangkah membelah para siswa SMA Cendrawasih yang tengah memerhatikannya.
‘Tidak, aku tidak terluka sedikitpun. Ini hanya perasaan kecewaku terhadap Elkan. Ya, ketika kita mengharapkan sebuah hubungan pertemanan yang indah, dan pada akhirnya tidak sesuai dengan harapan, itu akan menyesakkan dada, bukan? Termasuk sikap Elkan saat ini. Pria yang dianggap beda, yang dikira bisa menerima kekurangannya nyatanya sama saja.'
Lula menoleh saat mendengar suara mesin motor mensejajarinya, motor itu berjalan pelan. Mengiringi langkah Lula.
“Naik!” titah seorang pria yang kini berada di atas motor. “Bandel banget disuruh jangan dikejar. Kamu bisa enggak sih nurut sama omonganku?!” menyentak kasar tangan Lula, lalu meminta gadis itu untuk naik ke motor.
“Cengeng! Katanya cintanya sama aku, diselingkuhi Elkan aja nangis!” hujat Levin, “Mau naik sendiri, atau aku naikan!”
Lula pasrah, dia menaiki motor Levin, meledakan tangisnya yang sedari ditahan karena malu.
Levin yang paham langsung menarik tuas gas motornya. Semua orang tidak paham siapa saat ini yang menjemput Lula. Karena helm Levin tertutup rapat. Mungkin pria itu juga malu menjemput Lula dengan motornya.
Lima belas menit mengemudi, Lula masih saja terisak. Dia meluapkan kekecewaannya. Membayangkan bagaimana hubungan pertemanannya dengan Elkan nanti. “Kenapa berhenti?” protes Lula, sedikit kesal karena Levin menghentikan motornya di taman rimbun di area komplek mewah.
“Enggak enak bawa pulang kamu pas menangis kaya gini. Ada yang kurang, aku kira Lula tidak bisa menangis, selalu ceria.”
“Lula juga manusia, punya indra perasa juga. Aku tahu seharusnya tidak begini. Aku—aku, hanya kecewa dengan Elkan, ternyata dia jadiin aku selingan, padahal aku pikir aku adalah prioritasnya. Emang sulit ya, Vin, jatuh cinta sama manusia bodoh kaya aku?”
Levin menatap Lula lekat. “Siapa yang enggak jatuh cinta sama kamu, ya meski otak kamu ini o'onnya minta ampun. Tapi ada sisi lain yang aku temui dalam dirimu. Mungkin itu yang membuatku ingin selalu membuntuti mu, memastikan kamu sudah tiba di rumah dengan selamat.”
Lula mendesah kasar, dia tidak menanggapi serius ucapan Levin. “Lihatlah! Bahkan, semua orang, selain keluargaku, mereka tidak tulus menyayangiku. Daddy, karna uang. Elkan ternyata aku hanya dijadikan yang kedua. Padahal teman sekelas ku cuma dia.”
“Itu karena mereka tidak kenal kamu dengan baik Lula, baik Elkan, suamimu, mereka memang dekat tapi mereka tidak kenal kamu. Kalau mereka tahu tentang kamu, tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta sama kamu.”
"Ngaco, kamu, Vin! aku gadis pengacau, apa yang aku lakuin selalu salah. Dari mana mereka akan menyukaiku, kalau tidak ada yang bisa kubanggakan dari diriku. Jangankan nilai bagus, masuk kelas IPA saja, itu karena background keluarga. Aku cuma pantas jadi bahan omongan."
"Jangan merendahkan diri begitu. Kamu itu seakan kehilangan rasa percaya dirimu! Kamu memang bodoh Lula, aku akui! tapi jauh dari itu, mereka tidak tahu kalau kamu memiliki hati yang baik. Kamu suka diam-diam menemui admin keuangan rumah sakit, menemui penderita penyakit di rumah sakit, suka mengirim baju ke yayasan. Aku tidak perlu menyebutkan kebaikan yang bisa kamu banggakan lagi, kan? Kamu melakukannya dengan rapi, sampai-sampai mereka tidak tahu kelebihan dari dirimu."
Lula sedikit terkejut, dari mana pria itu bisa tahu semuanya tentang dirinya? “Kenapa kamu bisa tahu semuanya, tentangku?”
“Sejak hari itu, kamu bahkan dengar apa yang diperintahkan pria itu. Dan targetnya adalah kamu!”
“Maksudmu?” Lula masih berusaha menerka, maksud dari perkataan Levin.
“Ya, kamu, Lula! mereka memintaku memata-matai nu. Pria yang aku temui di warung depan sekolah.”
“Aku pikir kamu jualan nar*koba. Tunggu—tunggu! Sekarang di mana atasanmu? apa kamu juga akan membunuhku? Astaga nyawaku dalam bahaya dong?”
“Tidak juga. Aku cuma diminta untuk mengikutimu saja. Melapor apapun yang kamu lakukan di sini.”
Lula terdiam, jika itu lah tugas Levin pria itu tahu semua tentang dirinya. “Apa kamu benar-benar tahu semuanya tentang aku, Vin? Dan siapa bos mu? Lalu apa tujuannya?” Lula seolah teringat dengan satu nama., “Apa ini ada hubungannya dengan tante Priscilla?”