Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Panggilan Telepon



Frans lari terbirit-birit saat mendengar nada dering panggilan dari ponsel Lula. Dia segera mengangkat supaya tidak menganggu waktu istirahat istrinya. Frans menggeser ikon terima pada layar ponsel, berusaha menghentikan lantunan lagu yang terdengar. Lalu kembali menjauh dari ranjang yang ditempati Lula saat ini.


“Lula! Lo di mana sih? Kenapa nggak masuk lagi?! lo tahu secara tidak langsung, sikap lo kemarin udah ngancurin mimpi gue! Dia benar-benar tidak percaya, sama semua ucapan gue, Lula dan gue butuh bantuan Lo untuk jelasin ke dia kalau kita emang tidak memiliki hubungan serius!” suara kekesalan terdengar jelas dari seberang panggilan.


Frans berusaha tenang, berusaha mencari tahu siapa yang menghubungi Lula pagi ini. “Dengan siapa saya bicara?” tanya Frans dengan suara dingin. Lula memang tidak masuk ke sekolah. Gadis itu belum bangun dari tidur panjangnya.


“O—Om, ah, maaf kukira tadi Lula. Maaf ya Om, apa Lula ada? Ada hal penting yang ingin saya sampaikan pada Lula.” Ucapan di seberang berubah canggung, sedikit lebih sopan, tidak seperti saat pertama tadi.


“Tidak ada yang lebih penting dari kesehatan Lula. Jangan ganggu dia lagi, urus sendiri masalahmu!” tegas frans.


“Om—


Frans tak ingin mendengar suara pria itu lagi. Dia memutus panggilan itu secara sepihak. Ketika tubuhnya berbalik hendak meletakan kembali ponsel Lula di atas meja. Tatapannya justru mendapati Lula sudah duduk bersandar di kepala ranjang. Frans berusaha melemparkan senyuman ke arah Lula. “Udah sehat?!” tanya Frans seraya melangkah mendekati Lula. Dia meletakan punggung tangannya ke kening Lula, memeriksa subuh tubuh istrinya. “Katakan pada Daddy kalau ada sesuatu yang tidak nyaman.”


Lula masih berusaha membaca situasi. Mengedarkan pandangannya untuk menatap sekeliling, lalu ke arah punggung tangannya yang terpasang jarum infus.


“Tadi pagi ayah Rainer nungguin kamu bangun. Tapi kamu nya lama. Semalam dia sengaja memasang infus, karena daddy bilang padanya, kalau sejak pagi kamu belum makan, dan—kamu muntah-muntah terus, takutnya dehidrasi.”


“Sekarang, di mana ayah?” tanya Lula saat tak menemukan bayangan Rainer.


“Ayahmu sudah pulang. Dia harus bekerja.” Frans berkata jujur.


“Daddy tidak bekerja?”


Frans mendaratkan bo’kongnya di tepi ranjang. “Istri Daddy lagi sakit, jadi tadi daddy izin sama eyang kalau sedang merawat kamu.”


Lula terdiam, berusaha mengingat kejadian apa yang dilakukan semalam. Sayangnya dia tidak ingat sama sekali dengan kejadian yang membuat jantung Frans hampir terlepas itu.


Lantunan nada dari ponsel Lula kembali terdengar. Frans menilik layar ponselnya. Kali ini bukan Elkan yang menghubungi tapi Levin.


“Mau menerima panggilan dari Levin?” tawar Frans, kali ini membebaskan Lula untuk menentukan pilihannya.


Lula mengangguk lemah, seraya menerima ponselnya dari genggaman Frans.


“Lula. Dari kemarin aku tidak melihatmu? Kau baik-baik saja?” tanya Levin setelah sapaan pertama Lula lakukan.


Pertanyaan Levin membuat Lula mengenang pertemuan terakhirnya dengan Levin. Pria itu meninggalkannya, mungkin Levin merasa punya salah dengan Lula.


Namun, alih-alih membenci Levin, dia justru menyapa ramah. Beranggapan tidak terjadi apa-apa hari itu.


“Lula, kamu dua hari tidak masuk sekolah? Kau baik-baik saja?”


“Ti—tidak!” Lula tertawa sumbang. “Ak—ku semalam demam, dan hari ini sudah mendingan kok. Besok aku masuk deh pak Ketua!” jawab Lula, diselingi candaan.


“Kau di rumah atau di rumah sakit?”


“Di rumah. Aku ada di rumah suamiku.”


“Tunggu aku akan datang ke rumahmu!”


“Lev—vin!” Lula menahan panggilan Levin yang hendak diputus secara sepihak. “Aku tidak apa-apa, tidak perlu repot-repot. Ini masih jam pelajaran! Kamu harus jadi juara Levin! Jangan bolosan terus kaya aku!” nasihat Lula dia tahu benar kalau Levin tidak pernah bolos sekolah, kecuali jika dirinya tengah sakit. tidak sakit.


“Ya, aku tahu.”


“Ya, terima kasih kalau begitu. Cepat sembuh ya!” kata Levin.


“Te—terima kasih.”


Frans yang sedaritadi memerhatikan cara mengobrol Lula dengan Levin. Berusaha menebak, apakah Levin adalah pria itu? Pria yang dicintai Lula? Lebih baik dia mencaritahu nanti saat Levin datang. Mungkin dia bisa membaca gimik dari yang ditunjukan pria itu.


“Mau makan? Daddy suap ya?” Tanpa mendengar jawaban, Frans bergegas keluar kamar Lula. Dia melangkah mendekati ART yang baru dua jam bekerja di rumahnya. Kebetulan wanita paruh baya itu sedang membersihkan sofa. Frans memanggilnya untuk menyiapkan sarapan untuk Lula.


“Buburnya sudah matang, Bu?”


“Sudah, Pak. Mau dihantarkan sekarang?”


“Ya.” Frans menjawab singkat lalu kembali ke kamar Lula. Gadis itu masih berada di posisi yang sama, Frans mencoba berjalan tanpa suara, dia ingin menanyakan apa yang dulu dilakukan Priscilla padanya. Dia ingin tahu, tapi melihat wajah Lula yang masih pucat, sekuat hati dia menahan keingintahuannya itu.


“Jadi, Levin kekasihmu?” tebak Frans, saat langkahnya sudah berada di samping ranjang yang ditempati Lula.


Gadis yang sudah mengenakan piyama itu menggeleng, tak sedikitpun mengubah posisinya.


“Siapa Lula? Berani menginginkan Levin. Dia udah punya pacar, cantik, teman sekelas Lula.” imbuhnya, menceritakan sepenggal kisah Levin saat berada di dalam lingkungan sekolah.


“Terus? Apa kamu suka sama dia?”


Lula tersenyum malu, “Dulu iya! Sempat dibuat kecewa karena Levin menolak Lula di depan teman sekelas.” Lula tertawa sumbang.


“Mau daddy bantuin, buat dapetin Levin.”


Tawa Lula semakin lebar. “Lula mau fokus bikin bangga ayah sama bunda. Biar nanti kalau mereka tahu tentang kondisi pernikahan kita. Tidak benci-benci banget sama Lula.”


Miris mendengar ucapan Lula. Tapi selamanya dia tidak mungkin mengikat hubungan pernikahan tanpa cinta ini. Lula berhak bahagia dengan pria yang dicintai dan mencintainya.


Suara langkah yang terdengar membuat keduanya menoleh ke arah wanita yang kini membawa nampan. Wanita paruh baya itu menatap Lula sembari menebarkan senyuman ramah.


“Dia bu Juned. ART baru yang bekerja di sini, bersama suaminya. Ada satu lagi, tapi dia sedang kuliah. Dia bisa menjadi teman ceritamu.”


Lula merasa senang meski dia belum menemui gadis itu. “Silakan dinikmati Nyonya!”


“Mau aku suapin?” timpal Frans, kembali duduk di tepi ranjang seraya mengambil mangkok bubur.


Lula tidak menolak, dia membuka sedikit mulutnya saat Frans mengangsurkan sesuap bubur ke dalam mulutnya. “Kamu harus pindah ke lantai atas, takutnya mereka akan mengadu pada eyang. Jadi meski kita tidak beneran menjadi pasutri. Mulai hari ini kita bisa kan totalitas melakukannya?”


“Daddy! Emang enggak takut kepincut sama Lula, terus nanti—tante Cecil gimana?”


“Lula, daddy sudah bertekad untuk melupakannya. Kalaupun kita berpisah, belum tentu daddy akan kembali padanya. Paham?”


Lula tidak percaya begitu saja, dia paham jelas karakter tante Priscilla. Wanita ambisius yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keingananya.


Lula tidak menjawab, dia hanya tersenyum simpul sebelum Bu juned kembali masuk, memberitahu jika ada tamu yang ingin bertemu dengan Lula.