Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Permintaan Eyang



Kehadiran Eyang Ano, mampu membuat keributan di rumah mewah milik cucunya. Wanita yang hampir 90 tahun itu selalu memuji kepiawaian Lula saat memasak bubur ayam untuknya. Menurutnya, Lula adalah sosok istri yang didambakan oleh laki-laki, kecuali Frans. Pikir Eyang Ano.


Selain itu, Lula juga gadis yang bisa menghargai orang lain. Seperti pagi ini, di meja makan, ia bahkan mangajak Dona makan bersama dengannya. Tidak peduli dengan status Dona yang merupakan anak dari Bu Juned. Dalam hati Eyang memuji kepandaian Rainer dalam mendidik putrinya. Dia jauh lebih bisa bertanggung jawab ketimbang Ferdinan yang justru lupa dengan anak kandungnya yang mana.


“Eyang, doain Lula ya, besok Lula latihan ujian!” kata Lula, memecah keheningan yang sedari tadi mengambil alih. Piring di depannya sudah kosong, jadi dia berani berbicara.


“Lo, loh baru latihan? Terus ujiannya kapan?” tanya wanita itu.


Lula takjub melihat raut wajah Eyang Ano, tak biasanya dia sepenasaran itu. “Masih lama, Eyang! Masih sekitar dua bulan lagi!” Lula melirik ke arah Dona, gadis itu sudah banyak membantunya selama tiga hari ini. Lebih tepatnya dia selalu mengisi waktu luangnya untuk belajar bersama Dona, demi melupakan kepergian Frans yang sama sekali tanpa kabar.


“Ow, kamu nggak ada niatan buatin cicit dulu buat Eyang? Waktunya akan pas!” kata Eyang Ano, diiringi kekehan kecil.


Namun rupanya, candaan eyang Ano mampu membuat pipi Lula merona merah, dia malu saat mendengar permintaan itu.


“Eyang … izinin Lula lanjutin kuliah dulu ya? Pasti eyang pengen kan, punya cucu mantu yang berpendidikan, bisa dibanggakan?” Lula berusaha memberi alasan, berharap dengan itu eyang Ano bisa paham dengan posisinya.


“Buat apa lulusan tinggi-tinggi! Buat menempuh karir? Frans butuh sosok wanita yang bisa mengatur hidupnya, bisa memberinya perhatian penuh. Bukan wanita yang melulu memikirkan karir serta kecantikan wajahnya!”


Lula merasa ucapan Eyang Ano ditujukan untuk Tante Priscilla. Tapi bagaimanapun dia adalah pengganti, dia tidak akan melakukan sedalam itu!


“Kamu adalah orang yang tepat, Lula!”


“Eyang …” panggil Lula lembut, berusaha membujuk dengan cara halus.


“Tetaplah berada di samping Frans! Apapun yang terjadi. Besok malam, Eyang akan mematenkan jabatannya, kamu harus mendampinginya dengan status sebagai istri. Mereka semua harus tahu, jika yang dinikahi cucuku bukan Priscilla tapi KAMU!”


Lula samping bingung, harus merespon gimana lagi. Andai saja Frans bisa dihubungi, pasti dia akan mendiskusikan itu dengannya.


Sayangnya, hingga saat ini, pria itu tidak bisa dihubungi. Entah apa yang sedang dilakukan yang jelas Lula sangat kesal karena tidak ada komunikasi apapun dengan Frans.


“Insya Allah, Eyang.”


“Ada banyak tamu yang hadir. Semua adalah orang-orang yang sudah lama bekerja sama dengan perusahaan. Dan Eyang pastikan, si Rain juga akan datang!”


Tumben sekali eyang tidak menyebut ayahnya dengan sebutan hujan. Mungkin wanita itu berusaha menghormati karena sekarang Rain bukan lagi sahabat Frans melainkan mertua pria itu. Pikir Lula, tidak lagi memusingkan undangan dari eyang Ano.


“Ingat ya, Lula. Kamu itu istri dari cucuku! Jadi apapun yang terjadi kamu harus datang. Eyang akan membatalkan acara itu jika kamu tidak mau datang!” Eyang Ano mengancam. Dia tidak ingin harta milik Pagara jatuh ke tangan cucu tirinya. Dan satu-satunya cara adalah mengenalkan kehidupan bahagia Frans ke muka umum supaya ibu tirinya itu tak lagi mengusik kekayaan pribadi milik Pagara.


“Kalau Lula tidak sedang sakit, Lula pasti datang, Eyang.”


Wanita tua itu tersenyum cerah, seolah sedang memenangkan undian besar.


“Sebenarnya, apa yang dilakukan Frans sampai hari ini dia juga belum pulang?!” gumam Eyang merasa emosi, karena sudah tiga hari dia tinggal di rumah itu tapi tidak juga menemukan bayangan cucunya. Setelah Lula berangkat, mungkin dia akan menelepon Frans untuk pulang.


“Entahlah, Eyang!” jawab Lula, ringan.


“Em, tidak juga! Baru kali ini, mas Frans pergi sampai lama. Biasanya juga langsung pulang setelah pekerjaannya selesai.” Lula menjawab sesuai keadaan yang sebenarnya.


Wanita tua itu berusaha percaya. Meski dalam pikirannya sudah bersiap mencari tahu sendiri apa yang dilakukan Frans di luar sana.


“Eyang, sudah waktunya Lula berangkat. Aku berangkat dulu ya! Om Ibnu sepertinya juga sudah datang!” pamit Lula, setelah mendengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Ia pun lekas meninggalkan rumah, menghampiri mobil Maserati hitam yang kini sudah berhenti di depan pintu utama.


“Om, mbak Dona katanya mau berangkat bersama, boleh kan?” pinta Lula.


Ibnu mengangguk, menyetujui.


“Jadi, kita ganti mobil lain aja Om, biar mbak Dona bisa ikut nebeng!”


Ibnu tak berani membantah perintah Lula. Dia lekas berlari ke garasi, mengambil mobil yang memiliki kapasitas lebih besar.


Sejak Dona tinggal di rumah itu, Lula tidak lagi belajar dengan guru les yang di kirim suaminya. Jujur Lula lebih nyaman jika Dona yang mengajarinya. Jadi ia merasa punya hutang budi dengan gadis itu, setidaknya dengan memberinya tumpangan Dona tidak perlu berjalan menuju halte bus.


Pagi ini, Ibnu mengantar Lula terlebih dahulu, sebelum mengantar Dona berangkat ke kampus. Tidak ada yang mencoba memecah keheningan hingga tiba di depan pintu gerbang SMA Barracuda Lula baru menyampaikan pesan pada Ibnu.


“Om, nanti jangan jemput Lula ya! Lula sudah buat janji sama Zola. Hari ini mau jalan-jalan!” kata Lula seraya menahan pintu mobil yang hendak tertutup rapat.


“Tapi, Nona Kecil tetap pulang kan?” tanya Ibnu, dia khawatir Lula akan menginap di rumah Opa Abhi.


“Iya, Lula bakalan pulang kok. Ada Eyang di rumah, mana bisa Lula mengabaikannya!” Lula tersenyum simpul sebelum menutup pintu mobil. Setelah mengatakan itu Lula bergerak menjauhi mobil. Dia lekas masuk ke gedung sekolah, sebelum bel masuk terdengar. 


Sedangkan di dalam mobil, Ibnu meminta Dona untuk pindah ke bangku depan. "Apa saja yang dia lakukan?" tanya Ibnu, seraya menginjak pedal gas mobilnya, meninggalkan SMA Barracuda.


"Tidak ada, Pak. Semuanya normal kok." Dona menjawab dengan lugas.


"Sudah kamu cek mutasi rekeningnya?" tanya Ibnu. Dua hari yang lalu, Ibnu meminta Dona untuk memeriksa buku tabungan milik Lula.


"Memang ada pemasukan cukup besar. Tapi, tertulis nama pak Ken Adhitama. Bukan dari Levin."


"Kamu sudah mengcopy semuanya?"


Dona mengeluarkan file dari dalam tas-nya. "Apa tugas saya sudah selesai?" tanya Dona, penasaran dia cukup takut melakukan apa yang diperintahkan Ibnu padanya.


"Belum, kita tunggu perintah dari Bos!"


"Pak, saya berdebar melakukan ini! Saya ada di bawah kendali Eyang! kalau Eyang tahu apa yang akan dia lakukan?!"


Ibnu tersenyum simpul. "Turunlah!Kamu jalan kaki, tiga menit juga sampai kok!" usir Ibnu. Kemudian dengan kejam dia mengulangi kalimatnya saat Dona tak bergerak juga. "Turun!"