
Tiba di kamar atas Frans dibuat bingung dengan sikap Lula. Dalam hatinya terus bertanya-tanya; apa yang sebenarnya diinginkan istri kecilnya ini?
Sejak tadi kakinya berjalan mondar-mandir layaknya semut yang tengah mengangkut makanan, berpakaian kurang bahan, bahkan alunan musik sudah menyala sejak sepuluh menit yang lalu.
Di tengah minimnya pencahayaan, mata Frans tak lepas memperhatikan Lula yang sedang menyalakan lilin. Membuka jendela kamar lebar-lebar. Lula bersikap sangat aneh malam ini.
Frans pikir Lula akan membawanya berdansa, seperti yang dikatakan tadi. Tapi tak tahunya, Lula justru memutar instrumen musik yang mengundang syahwat, lebih tepatnya musik tarian striptis.
“Daddy tidak mau?” suara Lula sedikit meninggi, protes karena Frans hanya memandanginya saja.
“Lula, ini musik berbahaya! Kamu jangan pura-pura tidak tahu ya! Kau sengaja menggodaku?!” Frans langsung melemparkan tuduhan. Ya, menurutnya ini berbahaya.
“Ya, aku sengaja! Kenapa? Daddy tidak mau?!” kemarahan Lula semakin menjadi.
Namun, Frans justru geli melihat sikap Lula saat ini. “Aku telponin ayah Rainer ya biar jemput kamu!” Meski sebenarnya tergoda dengan tingkah Lula. Tapi dia tidak ingin istrinya itu melakukannya oleh sebab tertentu.
Melihat Lula menundukan kepalanya, Frans jadi tidak tega. Dia membawa tubuh Lula masuk ke pelukan. Menepuk punggungnya berulang-ulang, berusaha menghibur.
“Apa aku tidak menarik? Apa tubuhku terlalu flat? Astaga, kenapa aku bodoh! Merendahkan harga diriku karena terbakar cemburu.” Lula menangkis tangan Frans yang beralih membelai rambutnya. “Lupakan, anggap saja aku tidak pernah melakukan ini!”
Lula hendak menjauhkan diri dari Frans. Tapi, tangan pria itu lebih dulu mencekalnya. “Bagi orang yang tulus mencintaimu, tidak peduli menarik atau tidak menarik bentuk tubuhmu." Frans merinding bisa mengucapkan kalimat itu. Tapi, itulah yang dia rasakan saat Lula ada di dekatnya. "Tapi kamu harus tahu, kalau setiap hari Daddy selalu menahan untuk tidak menyentuhmu. Em ... gimana ya? Daddy merasa kamu belum siap. Ya, mungkin sulit menerimaku!”
“Dad—
“Dan lagi, Daddy tidak ingin kamu terpaksa melakukannya. Atau, kamu melakukan ini karena satu hal. Seperti malam ini, mungkin ucapan Priscilla menyinggungmu, sampai membuat kamu bersikap seperti ini.”
Lula seperti maling tertangkap basah, bingung akan melakukan apa karena yang dikatakan Frans benar adanya. Dia sungguh malu, dengan rasa cemburunya yang sengaja ditutupi.
“Ganti piyamamu dan segeralah tidur!” kini giliran Frans berbalik badan.
“Bagaimana dengan anak? Usia Daddy sudah 40 tahun. Bukankah kemarin kita sudah sepakat untuk segera melakukannya.”
“Lula, Daddy tidak ingin kamu melakukannya karena ada sesuatu. Daddy takut kamu menyesal di kemudian hari.”
Dada Lula bergemuruh, rasa kesalnya semakin naik tingkat. Pandangannya semakin dalam menatap Frans, dia menunggu suaminya untuk memulai. Tapi, sepertinya hal itu tidak akan terjadi. Dia menyerah. Dia yang harus memulai lebih dulu.
Tanpa pikir panjang lagi Lula lekas mendaratkan ciumaan di bibir Frans. Ciumaan yang membuat Frans terkejut karena Lula melakukannya penuh emosional. Gadis itu tidak ahli dalam berciuuman, bahkan seringkali keliru menggigit bibirnya. Dan lagi, tidak ada nafas yang berhembus dari hidung Lula. Anak Rainer ini benar-benar polos, sepertinya dia perlu diajari terlebih dahulu, supaya menjadi pencumbuu ulung.
“Aku siap malam ini, Dad!”
“Lul—
Frans tidak bisa berkata-kata lagi, dia seperti diperkosaa karena Lula menarik dasinya yang menjuntai hingga tubuhnya rubuh di atas tubuh Lula.
“Be—besok kamu sekolah, Lula!” Frans sengaja mengingatkan, meski sebenarnya, tanda keperkasaaanya sudah menegang sempurna.
“Aku bisa membolos satu hari!”
Frans tidak mampu menolak lagi, selama beberapa hari dia menahan gairahnya meski dia tahu Lula sudah selesai datang bulan. Dan kali ini, seakan waktu memberinya pilihan, antara mengambil kesempatan itu, atau membuang kesempatan yang sudah diberikan Lula. “Kau yakin ini saatnya, Lula?”
“Iya.”
“Kau tidak akan menyesalinya karena sudah menyerahkan tubuhmu untuk Daddy?”
“Apa Daddy selalu banyak mikir setiap kali hendak melakukannya?”
“Hm? Sejujurnya tidak. Tapi aku memikirkan kamu.”
Dada Lula terasa berat akibat tubuh Frans yang menindihnya. “Daddy kelamaan!” Lula mendorong cukup kuat tubuh suaminya.
“Ya, sebaiknya kamu tidur! Ganti baju, cuci wajah dan kaki mu! Daddy tidak ingin ayah mertua memakiku karena membuatmu bolos sekolah.”
Lula putus asa, tidak akan adegan belahh duren malam ini. Kakinya melangkah, menuruti apa yang diperintahkan suaminya.
Waktu lima belas menit dilakukan Lula untuk membersihkan diri. Dia lekas berbaring ke atas ranjang menyusul Frans yang rupanya sudah siap untuk terlelap. Pria itu menggunakan kamar mandi di kamar tamu. Jadi, mereka selesai dalam waktu bersamaan.
Tepukan ruang kosong yang Frans lakukan tak mampu membuat bibir Lula tersenyum. Gadis itu sepertinya masih belum ikhlas karena malam pertamanya gagal dilaksanakan.
“Jangan cemberut terus kenapa sih? Udah nggak usah cemburu-cemburu gitu! Kita itu udah nikah, bukan pacaran lagi.”
“Cewek mana yang nggak cemburu lihat suaminya meluk gadis lain?! Mau ngelak apa lagi? Tadi aku di belakang Daddy!”
Kan mulai lagi! Masalah nggak kelar-kelar kalau kaya gini! ingin sekali Frans berteriak mengumbar kekesalannya.
“Iya, maaf. Khilaf!” kata Frans menampilkan wajah memelas.
“Khilaf khilaf, apa jadinya kalau tadi Lula nggak datang. Pasti udah masuk kamar.”
“Astaghfirullah, nggak gitu juga Lula! Gini-gini Daddy udah tobat. Waktu maksiat Daddy udah selesai.” Frans kini semakin lebar merentangkan tangannya. “Sini bobo, sama Daddy!”
Kali ini Lula menurut, sama sekali tidak menghindar saat Frans mendekapnya begitu erat. “Kali ini Lula kasih maaf. Tapi kalau sekali lagi Lula lihat Daddy pelukan sama gadis lain. Jangan harap aku bisa memberi kesempatan lagi!”
Sesaat berlalu Frans memiringkan tubuhnya menghadap Lula. Menatapnya dari jari paling dekat.
“Apa?” selidik Lula saat tatapan Frans menatapnya lekat.
“Kamu cantik dengan gaun hitam tadi.”
“Terima kasih.”
“Boleh minta imbalan? Kan udah dipuji?!”
“Idih, ternyata ada maunya!”
“Tapi beneran kamu cantik hari ini?! Tak ada yang menandingi.”
“Gombal!”
Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Frans mendaratkan kecupan di pundak Lula. Tentu saja membuat gadis itu kegelian karena Frans melakukannya secara tiba-tiba. “Tidak marah lagi, kan?” godanya, setelah melihat Lula tertawa lepas.
“Aku nggak marah!” bantah Lula.
“Ya, sudah. Kalau begitu, apakah cemburunya sudah hilang?” tanya Frans, dia tidak pernah lupa cara meluluhkan hati seorang gadis.
“Sudah kubilang aku tidak cemburu.”
“Makin gemes sama tingkahmu. Kalau begitu, apa masih bisa kita melanjutkan acara yang tertunda?” tanya Frans dengan hati-hati, tidak ingin Lula mengeluarkan taringnya.
“Bilang aja mau?!”
“Mau apa?”
“Mau aku, kan?”
“Tahu aja!”
Mata Frans menatap semakin dalam ke arah Lula. “Serius? Boleh.”
“Pelan-pelan tapi ya? Katanya kan sakit.”
“Sakitnya dikit. Banyak enaknya kok!”
Entah apa yang membuat Lula terbahak, tapi Frans bisa melihat binar kebahagiaan dari wajah gadis itu. Dia pun tak segan untuk mendaratkan sentuhan di setiap lekuk tubuh istrinya. Menikmati hadiah terindah yang paling menakjubkan selama hidupnya.
Ya, dia menikmati kemurnian Lula, bayi yang dulu sering dititipkan padanya, yang selalu digendong ketika hendak membeli rokok, yang berlarian mengambil es krim saat memasuki minimarket. Dia nyaris tidak percaya, tapi inilah kejutan dari Tuhan, tidak ada satu pun orang tahu. Termasuk dirinya sendiri.
"Dad, pelan-pelan!"
"Iya ini udah pelan! bentar lagi masuk, kamu rileks saja!"
"Tapi ini sakith! Periih ...."
"Bentar lagi enak."
"Kapan? ini sudah terlalu lama."
"Sabar ... sabar ... nah kan masuk!"
"Keluarin!"
"Apanya?"
"Ininya. Ngganjel tahu nggak!"
"Nanggung. Tahan ya ... bentar lagi enak kok."
Obrolan itu terus berlanjut, hingga keduanya berhasil mencapai titik kenikmatan bersama. Meski begitu, perasaan Frans justru tidak tenang, dia merasa bersalah setelah berhasil mengambil mahkota Lula. Dia khawatir, ke depannya nanti, Lula akan menemukan pria seumuran dengannya, yang jauh lebih bisa membahagiakannya.
"Kenapa tidak enak, Dad! aku malah merasa lelah." berbeda dengan Frans meski bibirnya berkata seperti itu, dia justru meletakan kepalanya di atas dada Frans, mendengar suara degup jantung pria itu. Dia lega karena berhasil memberikan yang terbaik untuk pasangannya.