One Night With Playboy

One Night With Playboy
Episode 97



Rifa dan Reza kembali duduk di kursi mereka, kini Rafa menatap semua mata semua anggota keluarganya, ia harus kuat mengatakannya apalagi disana ada ibu dan ayahnya yang pasti akan membantunya secara mereka adalah dokter yang hebat.


" Aku sebelumnya minta maf pada kalian semua sebenarnya aku sakit Leukimia.. " ucap Rafa menguatkan dirinya


" Apa " ucap mereka kaget apalagi Ina sebagai ibu kandung Rafa


" Kenapa kamu ga bicara sama Momih nak " ucap Ina sambil menangis sementara Satria mencoba menenangkan istrinya itu


Leo mencoba tegar dan yang lainnya menangis termasuk Rifa yang sudah berburuk sangka pada Rafa.


" Aku yakin penyakit Rafa bisa sembuh ia kan " ucap Leya memberikan semangat pada Rafa dan juga berkata pada anggota yang lain supaya tidak bersedih apalagi di depan Rafa.


" Ia benar kata Leya, Ibu juga yakin Rafa akan sembuh apalagi ada kamu Ina sebagai ibu yang hebat " ucap Mey-mey memberikan semangat pada Ina dan Rafa


" Momih Ina dan Ayah Satria adakah dokter yang hebat, orang lain saja bisa sembuh apalagi Rafa, ia kan " ucap Jesi menahan air matanya


" Kamu ga pernah mengerti jika penyakit yang di derita Rafa adalah leukimia, berapa persen dia bisa bertahan " ucap Ina sambil menangis


" Kamu ibunya tidak berhak bicara begitu, kamu berobat kerumah sakit yang paling bagus dan dapatkan dokter yang terbaik selain ibumu " ucap Leo dengan nada marah


" Ayah bukan begitu " ucap Ina menangis histeris


" Kalian tenang saja, kami siang ini akan pergi ke luar negeri, ibu tidak usah khawatir.. aku akan mendapatkan dokter yang bagus untuk Rafa " ucap Jesi


" Ina, lihat Jesi selaku istrinya bisa sekuat itu tapi kenapa kamu secengeng ini " ucapnya Sisil marah


" Ina tenangkan dirimu, lihat Jesi padahal dia yang paling menderita dalam hal ini saja bisa sekuat ini.. kamu sebagai ibu harus memberikan dia semangat " ucap Rena


" Yang di katakan Rena benar " ucap Ehan


" Semuanya, kami pamit ingin menyiapkan semua kebutuhan kami selama disana " ucap Rafa menahan tangisnya yang sedari tadi dia ingin tunjukan di depan Keluarganya namun ia tahan


" Ayo sayang " ucap Jesi sambil tersenyum dipaksakan.


Rafa dan Jesi pergi dari sana lalu memesan taksi untuk pergi ke suatu tempat yang ingin Rafa kunjungi.


Sedangkan di ruang makan tampak mereka sedih, Apalagi Ina ia sangat tidak berguna jadi dokter, ia bisa mengobati orang lain tapi putranya sendiri keadaanya mengkhawatirkan.


" Ina.. dia putramu jangan berbicara seperti itu, itu akan menurunkan semangatnya.." ucap Mey-mey


" Kamu tidak akan pernah mengerti karena yang sakit bukan anakmu sendiri " ucap Ina


" Sayang sudah " ucap Satria


" Momih Ina, Kemarin Jesi meminta bantuan ku untuk membujuk Rafa mau melakukan pengobatan di luar negeri, Ya akun memang sudah tahu sejak kemarin penyakit Rafa, didepan Rafa aku berlagak seolah menguatkan diriku meskipun aku sebenarnya tidak bisa, aku melihat Rafa mimisan dan tubuhnya lemah, Raga sudah banyak menderita, dia pasti kesakitan tapi tidak ia bicarakan pada siapapun termasuk Jesi. Jesi pun sama ia tidak mau Rafa semakin drop dan tidak semangat jika dia sedih " ucap Leya


" Ayah tahu penyakit Rafa sejak Rafa pulang dari liburan yang harusnya lama disana namun ternyata sebentar , ia bilang jika waktunya tak banyak dan tak mau mengelola perusahaan makanya Kakek menyuruh Rifa mengelola perusahaan " ucap Leo membuat mereka kaget


" Astaga aku sudah salah sangka pada Rafa " ucap Rifa


" Kita tidak boleh membuat dia sedih lagi.. dia harus semangat apapun yang terjadi " ucap Rena


" Benar Umi, aku setuju " ucap Reza dan Leya


" Aku akan membawa Rafa ke rumah sakit yang ada di Singapura, aku akan mengobati penyakitnya Rafa sendiri " ucap Satria


" Aku juga mau " ucap Ina menghapus air matanya


" Ingat jangan sampai membuat Rafa sedih lagi " ucap Sisil


" Baik " ucap Mereka


Leo membantu Sisil pergi ke kamarnya, Meskipun keadaanya baik-baik saja namun Leo memberikan obat pada Sang istri takutnya hal tidak di inginkan terjadi pada Sisil apalagi dokter bicara jika Sisil tidak boleh stres.


Sedangkan Rena dan Ehan menuju kamar Jesi dan Rafa, mereka juga menyuruh beberapa pelayan untuk ikut menyiapkan barang-barang yang akan di bawa oleh Rafa dan Jesi selama disana.


Sedangkan Leya menyeret Rifa dan Reza ke kamarnya untuk membicarakan masalah kasus kematian Gea.


" Kenapa sih mengajak ku kesini " ucap Rifa dengan wajahnya yang masih sedih


" Simpan air mata mu, lihatlah dirimu laki-laki ko menangis " ucap Leya


" Ia benar tuh " ucap Reza


" Kamu juga sama " ucap Leya meledek Reza dan Rifa


" Lalu apa mau mu " tanya Rifa


" Aku dapat amanat dari Rafa, kalau kita harus menyelesaikan kematian Gea " ucap Leya


" Aku tidak mau " ucap Reza


" Harus mau, kalau tidak Rafa tidak akan melakukan pengobatannya " ucap Leya


" Baiklah aku mau " ucap Rifa


" Kalau kamu " tanya Leya pada Reza


" Hari ini aku sibuk " ucap Reza


" Bagaimana kalau kita bagi tugas " ucap Leya


" Maksud mu " tanya Rifa bingung


" Jadi begini, kita bergantian.. hari ini aku dan Rifa besok aku dan Reza, kita bergantian saja begitu " ucap Leya


" Baiklah " ucap Mereka


" Ok, kita ke apartemen Gea lagi " ucap Leya


" Terserah kamu saja " ucap Rifa


Reza Langsung menaiki mobilnya menuju kantor, untuk Leya dan Rifa Langsung masuk masuk kedalam mobil Rifa menuju apartemen Gea karena Leya masih penasaran dengan kematian Gea yang terasa janggal.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Mampir yu ke novel baru aku, ini berkisah tentang kisah cinta Leya dan Geri aku tulis di novel terbaruku... berjudul " Dendam Jadi cinta " ikuti terus kisahnya.


Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......


Biar saya lebih semangat nulisnya..


Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan memberikan Like....Komen..... dan Vote ......


So... Ikuti terus kisahnya...