One Night With Playboy

One Night With Playboy
Episode 48



Sementara Rafa yang barusan mendengar kabar dari Mesi jika ia harus segera pulang ke mansion karena Jesi, ia langsung masuk kedalam ruangan Rafa untuk menyerahkan laporannya terlebih dahulu.


Tok... Tok... Tok...


" Masuk "


Ceklek,,


" Aku mau memberikan laporan yang kamu minta " ucap Rifa


" Ok, simpan saja di meja " ucap Rafa yang sedang sibuk dengan pekerjaannya


" Sepertinya Rafa sibuk, yasudah tidak usah bilang saja sama dia.. " batin Rifa


" Kalau begitu Aku permisi " ucap Rifa


" Tunggu " ucap Rafa


" Ada apa " tanya Rifa


" Kamu hari ini Meting di Cafe B bersama Fadli, hari ini aku sibuk sekali, pekerjaan ku banyak " ucap Rafa


" Bagaimana ini, kalau kasian Jesi kalau aku tidak pulang ke mansion " batin Rifa


" Maf, aku tidak bisa " ucap Rifa


" Kenapa " tanya Rafa


" Aku harus jujur saja sama Rafa dari pada aku tidak bisa pergi... " batin Rifa


" Mesi barusan menelepon ku, dia bicara kalau Jesi ingin bertemu dengan ku " ucap Rifa


" Apa kamu bilang " ucap Rafa kaget


" Ya mau gimana lagi orang Jesi yang minta " ucap Rifa


" Kenapa Jesi malah memanggil Rifa ke rumah, sebenarnya ada apa " batin Rafa


" Biar aku pulang saja, kamu kerjakan saja tugasku dan jangan lupa Meting dengan pa Broto " ucap Rafa


" Tidak bisa.. yang Jesi butuhkan sekarang adalah aku, bukan kamu " ucap Rifa sambil tersenyum


" Aku calon suaminya " ucap Rafa


" Tapi Jesi butuh aku... tidak butuh kamu " ucap Rifa dengan senyum kemenangannya


" Rasanya ingin aku tonjok wajah Rifa, bikin emosi saja " batin Rafa


" Aku pergi dulu.. ingat Meting dengan pa Broto " ucap Rifa sambil tersenyum dan pergi dari ruangan Rafa


Rifa segera pergi dari kantor dengan menggunakan taksi untuk segera pulang ke mansion. Sementara Rafa terlihat kesal dan marah hari ini.


" Fadli kamu keruangan saya sekarang " ucap Rafa


" Baik Tuan " ucap Fadli


Tak lama kemudian Fadli sudah ada di depan pintu ruangan Sang majikan, lalu ia segera mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.


Tok... Tok... Tok...


" Masuk "


Ceklek,,


" Tuan " ucap Fadli


" Kamu batalkan Meting dengan pa Broto " ucap Rafa


" Memangnya ada apa Tuan " tanya Fadli


" Hari ini aku harus pulang ke mansion, kamu handle semua kerjaan saya, dan berikan alasan yang terbaik pada pa Broto " ucap Rafa


" Ada apa dengan Tuan, sepertinya suasana hatinya sedang kesal " batin Fadli


" Baik Tuan.. " ucap Fadli


" Kamu urus semuanya " ucap Rafa


" Baik Tuan " ucap Fadli


Rafa segera pergi dari kantor dengan menggunakan mobilnya, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke mansion.


" Sebenarnya Jesi kenapa, apa Jesi sudah Tidka mencintai ku lagi.. atau memang Jesi belum memaafkan aku " ucap Rafa


" Tapi aku tidak boleh berfikiran negatif.. aku yakin Jesi pasti punya alasan kenapa lebih menghubungi Rifa di banding aku.. " batin Rafa


Rafa susah sampai di mansion, ia segera masuk kedalam Tanpa Yang lainnya tau, Rafa segera mencari keberadaan Jesi.


Sementara Rifa sudah berada di taman belakang, ia segera menghampiri Jesi.


" Jesi... " panggil Rifa


" Orang yang sok kepedean datang lagi... " batin Mesi


" Kamu sudah datang " ucap Jesi sambil tersenyum senang


" Ia aku sudah datang, kamu ada apa mencariku... " ucap Rifa senang


" Sebenarnya aku... " ucapan Jesi terpotong


" Aku tau pasti kamu kangen sama aku.. Apa kamu sudah menyukai aku " ucap Rifa sambil memegang tangan Jesi


" Jiwa playboy Rifa kembali.. " ucap Mesi dalam hatinya


Sementara dari kejauhan terlihat Rafa melihat jika Rifa memegang tangan Jesi, meskipun hatinya cemburu namun ia mencoba menahannya, ia tidak mau membuat Jesi kesal karena ia dan Rifa pasti bertengkar.


" Tahan Rafa.. jangan emosi... " batinnya


Jesi segera membawa Rifa ke pohon mangga dimana buahnya ia inginkan.


" Kita mau kemana " tanya Rifa senang sedangkan Mesi hanya membuntuti mereka dari belakang


" Ayo ikut saja " ucap Jesi


" Wah, jangan-jangan Jesi mau membawaku ke kamarnya " batin Rifa


" Tapi tunggu kenapa Mesi ikut " ucap Rifa


" Kenapa aku tidak boleh ikut " ucap Mesi dengan wajah kesal


" Biarkan dia ikut " ucap Jesi


" Baiklah jika itu keinginan mu sayang " ucapnya Rifa sambil tersenyum


Kini mereka sudah sampai di pohon mangga itu, lalu Jesi meminta Rifa untuk memanjat pohon itu dan memetik buahnya.


" Kita sudah sampai " ucap Jesi sambil tersenyum


" Sampai maksudnya " tanya Rifa bingung


" Hahahaha, emang enak di kerjain " batin Mesi


" Ia kita sudah sampai, Aku mau mangga itu.. tolong petik mangga itu " ucap Jesi


" Apa.. naik... pohon... bukan untuk berduaan " ucap Rifa kaget karena tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan


Mesi tidak kuat menahan tawanya, ia tertawa senang karena melihat ekspresi Rifa, ia menebak jika Rifa pasti tidak bisa memanjat pohon.


" Kenapa kamu ketawa.. " ucap Rifa melihat wajah Mesi sinis


" Lucu aja " ucap Mesi


" Lucu apanya, kamu ga bilang jika aku kesini cuma disuruh manjat pohon " ucap Rifa


" Lalu aku harus apa menyuruhmu kesini.. " ucap Mesi


" Memangnya Mesi tidak bilang jika aku menyuruh Rifa kesini untuk memanjat pohon " ucap Jesi


" Tidak " ucap Rifa


" Karena dia tidak nanya " ucap Mesi sambil tersenyum dipaksakan


" Eh tadi aku tanya kamu malah matiin teleponnya " ucap Rifa kesal


" Masa sih, oh mungkin jaringannya jelek " ucap Mesi


" Sialan, kirain mau berduaan malah di suruh manjat pohon " batin Rifa


" Emang enak di suruh manjat pohon, eh taunya ga bisa manjat " batin Mesi