One Night With Playboy

One Night With Playboy
Episode 85



Ketika malam hari Tubuh Rafa panas, membuat Jesi khawatir, dari hidupnya pun keluar darah ternyata mimisannya kembali kambuh.


" Sayang kamu kenapa " tanya Jesi dengan wajah paniknya


" Tidak apa-apa sayang hanya demam biasa " ucap Rafa berbohong


" Kita ke dokter saja yu " ajak Jesi


" Tidak sayang, coba kamu lihat di laci ada obat,, tolong berikan " ucap Rafa dengan wajah yang semakin pucat


" Baiklah " ucap Jesi memberikan obat dan segelas air pada sang suami.


" Bagaimana keadaan mu sekarang sayang " tanya Jesi


" Sebentar lagi juga aku akan sembuh, kamu jangan khawatir,, aku tidur duluan ya sayang " ucap Rafa


" Kamu yakin " tanya Jesi masih dengan wajah khawatir


" Ia sayang " ucap Rafa


Rafa membaringkan kembali tubuhnya di tempat tidur, ia memang sengaja menahan rasa sakitnya agar sang istri tidak panik. Biar bagaimanapun juga ia tidak mau sang istri sedih karenanya.


Sedangkan Jesi tampak lebih tenang saat melihat sang suami yang terlelap tidur, ia sebenarnya ingin sang suami di periksa ke dokter namun Rafa selalu menolaknya entah mengapa.


Jesi membersihkan pakaian, ia berniat ingin menyudahi liburannya karena sang suami yang tiba-tiba sakit. Ketika ia membersihkan bajunya yang ia akan masuk kedalam koper tiba selembar amplop putih jatuh dari jaket Rafa.


Jesi yang heran pun segera mengambil amplop putih tersebut, lalu membuka dan membaca isi surat itu. Tenyata suaminya mengidap leukemia. Jesi langsung meneteskan air matanya ia benar-benar sedih dan hatinya hancur.


Rafa adalah lelaki yang paling baik yang pernah ia temui, sosok yang selalu mencintai Jesi apa adanya tanpa terkecuali Bagaimana bisa Tuhan dengan mudah mengambil orang yang paling berarti dalam hidupnya.


" Tuhan,, kebenaran ini sangat menyakitkan, ambil saja nyawa ku dari pada nyawa Rafa,, dia laki-laki yang baik.. " ucap Jesi dalam hatinya


" Bagaimana ini " ucap Jesi masuk kedalam kamar mandi lalu menangis disana. Ternyata ia menyembunyikan rasa sakitnya.


Yang ia tahu jika penyakit itu sangat sakit bagi penderita namun Rafa terlihat baik-baik saja, kenapa Rafa bisa seperti itu menyembunyikan penyakitnya, lalu apa yang harus Jesi lakukan.


Ia menghapus air matanya yang tak henti menangis dari tadi, ia kembali lagi membereskan semua baju-baju dia dan Rafa dengan rapi kedalam koper.


Rafa tampak bangun ketika Jesi tidak ada disampingnya, ia melihat Jesi sedang merapikan pakaian kedalam koper namun dengan wajah yang menangis.


Rafa segera menghampiri Jesi lalu memeluknya dengan sangat erat, ia tidak akan tega jika harus meninggalkan Jesi Seperti ini.


" Sayang kamu kenapa menangis " tanya Rafa yang masih memeluknya


" Aku tidak boleh sedih di depan Rafa tapi aku tidak bisa pura-pura tidak tahu,, aku tidak rela jika Rafa harus meninggalkan aku " batin Jesi


" Katakan ada apa sayang, apa kamu sedih karena Rifa ganggu kamu lagi " tanya Rafa


" Bukan " ucap Jesi


" Lalu apa sayang, jangan buat aku bingung " ucap Rafa


Hiks.. hiks... hiks..


" Kenapa malah menangis semakin kencang sayang... sudah jangan menangis lagi " ucap Rafa menenangkan sang istri


" Sayang, Apa ada yang mau katakan padaku " tanya Jesi yang masih memeluk sang suami


" Semoga Jesi tidak tahu akan penyakit ku,, aku tidak mau Jesi semakin sedih " batin Rafa


" Kenapa kamu tidak jujur sayang... aku benar-benar takut " batin Jesi


" Aku melihat amplop ini " ucap Jesi melepaskan pelukannya dan memberikan amplop hasil pemeriksaan sang suami.


" Jadi Jesi tahu tentang penyakit ku,, dia menangis karena ini.. bagaimana bisa aku tenang meninggalkan mu " batin Rafa


" Kenapa kamu tidak jujur sayang " ucap Jesi sambil Menangis tersedu-sedu


Rasanya memang sakit ketika kita akan kehilangan orang yang kita sayangi.


" Sudah jangan menangis lagi, aku tidak ingin kamu seperti ini " ucap Rafa


" Jawab jujur sayang,, maksudnya apa " ucap Jesi asih menangis


" Seperti yang kamu lihat, aku memang terkena leukemia dan umurku tak panjang lagi " ucap Rafa dengan senyum sedikit


Jesi kembali lagi menangis mendengar hal itu, dia tidak akan benar-benar siap jika kehilangan orang yang ia sayangi.


" Ini tidak mungkin sayang, mungkin dokternya salah melakukan pemeriksaan " ucap Jesi


" Sayang kamu harus terima keadaan " ucap Rafa memeluk kembali pada sang istri


Jesi kembali menangis ia benar-benar sakit mendengar ucapan Rafa kembali, ia tidak pernah Rela, karena ia tidak mau kehilangan Rafa.


" Kita tidak bisa melawan takdir " ucap Rafa


" Kalau begitu kita lakukan pengobatan di luar negeri yang peralatannya canggih " ucap Jesi dengan wajah yang penuh semangat bisa menyembuhkan Rafa


" Kalau aku melakukan pengobatan, itu hanya akan menyakiti ku tapi tidak pasti memberikan umur panjang " ucap Rafa


" Tapi kalau begitu bagaimana dengan ku, kalau kamu sayang padaku berjuang bersama ku saja " ucap Jesi


" Bagaimana jika kita habiskan waktu berdua mulai sekarang " ucap Rafa


" Maksudnya tanya Jesi


" Kamu harus tahu, cita-cita ku adalah membuatmu bahagia dan impian ku adalah ingin selalu bersama mu " ucap Rafa


" Aku tidak mau kamu pergi " ucap Jesi


" Kalau begitu ayo kita lakukan hal-hal berdua sebelum Aku pergi " ucap Rafa


Jesi sudah tidak tahu harus apa, begitu mendengar jika penyakit Rafa adalah penyakit yang berbahaya bisa membuat hidupnya jadi pendek, Jesi hanya bisa menangis untuk saat ini, ia harus membuat hati dan jiwanya kuat agar Rafa bagaimana.


Permintaan Rafa terakhir adalah ingin selalu bersama dengan Jesi dan menghabiskan waktu berdua kemana-mana.


" Aku janji akan membahagiakan mu sayang " batin Jesi


" Aku janji akan membuatmu bahagia setiap hati, " batin Rafa


Mereka kembali ke tempat tidur dan tidur kembali saling berpelukan