
Hari ini Jesi diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit karena kondisi Jesi sudah sehat, namun tidak dengan hatinya. Ia masih merasa sedih atas kehilangan bayinya.
Rafa dengan sabar selalu memberikan perhatian dan juga menemaninya, Meskipun sikap Jesi sekarang sedikit berubah menjadi lebih banyak melamun dan juga diam tanpa kata.
Sebelum Jesi pulang dari rumah sakit, sang dokter memeriksa kembali kondisinya untuk memastikan sekali lagi.
" Ka Jesi keadaan mu sudah membaik, Kamu bisa pulang hari ini juga " ucap Refa
" Terima kasih " ucap Jesi
" Sama-sama ka.. Nanti Kaka bisa pulang setengah jam dari sekarang " ucap Refa
" Baiklah " ucap Jesi
" Kasian Ka Jesi... sekarang dia masih sedih " batin Refa
" Aku sedih melihat mu seperti ini sayang " batin Rafa
" Kalau begitu aku pamit " ucap Refa
" Ia... terima kasih " ucap Rafa
" Sama-sama ka, kalau ada apa-apa panggil aku saja " ucap Refa
" Baiklah " ucap Rafa sambil tersenyum
Refa segera meninggalkan ruangan Jesi karena pekerjaannya masih banyak. Rafa mencoba untuk membujuk Jesi yang dari tadi tidak mau makan.
" Sayang kamu mau makan dulu " tanya Rafa
" Tidak, aku masih kenyang " ucap Jesi
" Tapi kamu belum makan sayang " ucap Rafa
" Aku tidak mau makan " ucap Jesi
" Baiklah sayang, bagaimana kalau aku kupas buah untuk mu sayang " ucap Rafa sambil tersenyum
" Aku tidak mau " ucap Jesi
" Bagaimana ini, aku harus menemukan cara agar Jesi mau makan " batin Rafa
Tak lama kemudian Rifa tiba di kamar Jesi, ia melihat jika Jesi dan Rafa saling berdiam membuatnya senang.
Ceklek,,
" Bagaimana kata dokter keadaan mu Jesi " tanya Rifa
" Jesi baik-baik saja " ucap Rafa
" Aku bertanya pada Jesi bukan padamu " ucap Rifa
" Aku suaminya " ucap Rafa
" Tapi aku nanya Jesi " ucap Rifa
" Eh sudah diam... " ucap Rena ikut masuk kedalam ruangan
" Jesi bagaimana keadaan mu nak " ucap Rena pada Jesi
" Aku tidak apa-apa Umi " ucap Jesi
" Syukurlah jika keadaan mu baik-baik saja... Yu kita pulang " ajak Rena
" Ayo Umi " ucap Jesi
" Untung Jesi mau nurut sama Umi... Umi memang penyelamat ku " batin Rafa
" Kenapa Sama umi di jawab tapi Sama aku tidak apa Jesi masih membenci ku " batin Rifa
Rafa mengambilkan kursi roda dan menggendong Jesi lalu di letakan di kursi roda tersebut. Rafa segera mengambil barang-barang Jesi. karena Rena mau mendorong kursi roda Jesi.
" Biar Umi yang dorong kursi rodanya " ucap Rena
" Maaf merepotkan umi " ucap Rafa
" Tidak sama sekali... Jesi sudah umi anggap Anak umi sendiri " ucap Rena sambil tersenyum
" Terima kasih Umi " ucap Jesi senang
" Sama-sama nak " ucap Rena
Merek segera menuju mobil Ehan, Rafa meletakan barang-barang Jesi di belakang.
" Biar aku yang gendong " ucap Rifa
" Tidak usah, aku suaminya " ucap Rafa
" Kalian kenapa sih selalu bertengkar " ucap Rena kesal
" Baiklah nak " ucap Rena
" Biar aku saja sayang... " ucap Rafa langsung menggendong Jesi
" Jesi sepertinya lebih pendiam dari biasanya " batin Rena
" Rafa kamu naik mobil Rifa saja... langsung ke kantor ya " ucap Ehan
" Tapi ayah, Jesi bagaimana " tanya Rafa
" Jesi sama Umi saja.. " ucap Rena
" Baiklah umi... titip Jesi ya, kalau ada apa-apa hubungi aku " ucap Rafa
" Kamu tenang saja " ucap Rena sambil tersenyum
Ehan langsung melajukan mobilnya, sementara Jesi dan Rena duduk di belakang.
" Jesi... " panggil Rena
" Ia Umi " ucap Jesi
" Apa kamu ada masalah " tanya Rena
" Maksud Umi " Tanya Jesi
" Umi tau perasaan mu sekarang, tapi kamu juga harus tahu, semua sudah ada Takdirnya... kamu harus mencoba mengiklaskannya " ucap Rena
Jesi memandangi Rena dengan mata berkaca-kaca. Hatinya tidak baik-baik saja apalagi bayi itu yang selama ini ia pertahankan.
" Jika kamu mau menangis.. menangis lah.. " ucap Rena memeluk Jesi
" Hiks.. hiks... hiks... " tangis Jesi pecah ia meluapkan semua rasa sakit hati, kecewa dan marahnya
" Luapkan semua yang kamu rasakan agar hatimu lebih lega " ucap Rena
" Umi... kenapa.. bayiku bisa begini... dia yang selama ini aku pertahanankan " tanya Jesi
" Semua pasti ada hikmahnya... asalkan kamu ikhlas " ucap Rena
" Rasanya berat Umi " ucap Jesi
" Kamu tidak bisa fokus pada bayimu saja, ada Rafa suami mu yang sangat mencintaimu.. jangan terus menangisi apa yang sudah terjadi kita juga harus lihat masih banyak orang yang peduli dan sayang padamu " ucap Rena
" Aku hanya kecewa pada diriku sendiri " ucap Jesi
" Kalau ada yang kamu tidak sukai atau kamu ingin mencurahkan semua isi hatimu... Umi siap mendengarkannya kamu sudah umi anggap anak sendiri.. jadi jangan sungkan " ucap Rena
" Terima kasih Umi.. sekarang Jesi merasa lebih lega " ucap Jesi
" Kamu harus minta maf sama Rafa " ucap Ehan
" Memangnya kenapa ayah " tanya Jesi bingung
" Dengan perlakuan mu seperti tadi Rafa sedih namun ia tidak mengatakannya padamu " ucap Ehan
" Jesi minta maf ayah " ucap Jesi
" Jangan minta maf padaku... minta maf lah pada suamimu " ucap Ehan
" Baik Ayah " ucap Jesi
.
.
.
.
.
Bersambung...
Mampir yu ke novel baru aku, ini berkisah tentang kisah cinta Leya dan Geri aku tulis di novel terbaruku... berjudul " Dendam Jadi cinta " ikuti terus kisahnya.
Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......
Biar saya lebih semangat nulisnya..
Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan memberikan Like....Komen..... dan Vote ......
So... Ikuti terus kisahnya...
Jangan bosen-bosen ya .....
Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz