One Night With Playboy

One Night With Playboy
Episode 87



Jesi dan Rafa sudah sampai di rumah keluarga Wiratmaja, semua orang heran karena mereka sudah pulang, padahal mereka harusnya pulang tiga hari lagi.


" Sayang Kenapa kalian sudah pulang " tanya Oma sisil


" Kami merasa sudah kangen kalian " ucap Jesi sambil tersenyum berbohong pada semuanya


" Ka Rafa kenapa muka kakak pucat " tanya Leya


" Ah mungkin hanya kecapean " ucap Rafa berbohong, ia tidak mau jika keluarganya tahu tentang penyakitnya


" Maafkan aku, aku harus berbohong pada kalian, aku hanya tidak mau kalian sedih dengan ku " batin Rafa


" Kalau begitu ayo kita makan " ucap Mey-mey yang sudah memasak banyak makanan


" Wah sepertinya enak-enak " ucap Jesi


" Ayo kalian duduk " ucap Leo


" Baik Kakek " ucap Jesi dan Rafa yang duduk di kursi yang kosong


" Ngomong-ngomong ayah Ehan dan umi Rena kemana mah " tanya Rafa pada sang ibu


" Mereka menghadiri pesta yang di adakan klien penting " ucap Mey-mey


" Pantas saja sepi " ucap Rafa


" Ka Rafa tenang kan ada aku " ucap Leya sambil tersenyum manis


" Kapan kamu kesini Leya " Tanya Jesi


" Dua hari yang lalu " ucap Leya


" Jarang pulang jadi kami sudah terbiasa " ucap Reza


" Aku Kan sibuk meniti karir " ucap Leya sambil tertawa


" Ia deh selebritis luar negeri " Ledek Lia


" Ish kalian ya " ucap Leya dengan wajah kesal


" Sudah-sudah sebaiknya kita makan dulu jangan ngobrol " ucap Oma sisil


" Baiklah " ucap Mereka


Mereka pun menyantap makanan malam yang sudah di sediakan Mey-mey sebelumnya, mereka tampak menikmati makanannya dengan lahap. Setelah semuanya selesai makan malam Jesi dan Rafa kembali ke kamarnya.


Namun sebelum Rafa kembali ke kamarnya Leya mengatakan jika ia ada urusan penting yang harus ia bicarakan dengan Rafa, mereka berbicara di ruang kerja Leo.


Rafa menceritakan dengan sedetail mungkin tentang Gea dengan sakit yang masih saat ini ia rasakan, Gea adalah cinta pertamanya yang sampai kapanpun masih ia ingat dalam hatinya.


Ia menceritakan semua kisahnya pada Leya dengan menangis mengungkapkan semua ini hatinya yang selama ini tak pernah ia katakan pada siapapun.


Ia akan berjanji setelah ia berbicara jujur pada Leya, ia akan benar-benar melepaskan masa lalunya itu, ia juga sudah bisa merelakan kepergian Gea.


Ia mengajak sang istri untuk pergi ke kamar ketika sang istri membuatkan teh yang di bawa ke ruang kerja itu, ia tidak mau Jesi melihat keadaannya yang terlihat seperti sedih.


Dan kini mereka sudah berada di kamar, Jesi tahu jika sang suami sedang sedih, ia langsung memeluknya dari belakang menenangkan hati sang suami.


" Sayang, aku tahu kamu sedang sedih.. aku tidak mau bertanya apapun padamu untuk saat ini, aku hanya ingin kamu tahu jika ada yang membuatmu sedih, marah dan kecewa aku siap akan jari bahu yang bisa meringankan bebanmu,, percaya lah padaku.. aku akan selalu mendampingi mu ketika kamu senang dan sedih " ucap Jesi


" Bagaimana bisa aku meninggalkan mu jika sikapmu membuat aku tidak bisa melepaskan mu " batin Rafa


" Aku hanya ingin kamu bahagia di sisa hidupku bukan sedih seperti ini " batin Jesi


" Oh ia sayang, kita tidur yu aku ngantuk " ucap Jesi


" Ia ayo sayang " ucap Rafa


Mereka membaringkan tubuh mereka di tempat tidur, Rafa langsung memeluk Jesi sedangkan Jesi merasa nyaman di peluk oleh Rafa.


" Sayang, jika nanti aku sudah tidak ada kamu jangan menangisi aku " ucap Rafa


" Sayang kamu jangan bilang begitu,, kita akan selalu sama-sama sampai tua nanti " ucap Jesi menahan tangisnya


" Sayang bagaimana kalau besok kita jalan-jalan saja, aku akan menyerahkan perusahaan pada Rifa, aku mau menghabiskan semua sisa hidupku bersamamu " ucap Rafa dengan Lirih


" Sayang aku setuju sama kamu,, aku ingin kita selalu bersama " ucap Jesi kini yang memeluk tubuh sang Sumi dengan sedih


Ia merasa tidak adil baginya, suaminya sangat baik tapi Tuhan memberikan cobaan yang begitu besar, yang ia tahu Rafa sangat baik pada siapapun tapi kenapa umurnya tidak lama lagi.


Ia berusaha untuk pasrah pada takdir tapi salah hati kecilnya ia tidak mau kehilangan sosok suami yang sangat mencintainya dengan tulus dan selalu ada untuknya.


Untuk kali ini ia punya satu permintaan dalam hidupnya setelah selama ini ia tak pernah berharap apapun, ia hanya ingin Tuhan bisa menyembuhkan suaminya dan membuat dia dan suaminya bisa hidup bahagia bersama sampai tua nanti.


Sama halnya dengan Rafa yang menginginkan hal yang sama, jika ia hidup lebih lama lagi, ia ingin bisa menemani sang istri lebih lama lagi bahkan sampai tua nanti.


" Sayang, bagaimana kalau kamu berobat ke luar negri, kita cari rumah sakit yang bagus untuk menyembuhkan penyakitmu " ucap Jesi sambil meneteskan air matanya di pelukan sang suami


" Pengobatannya sangat menyakitkan aku takut jika aku tidak sanggup bertahan " ucap Rafa meneteskan air matanya


" Maafkan aku Jesi, bukannya aku tidak mau berjuang.. aku hanya tidak mau kamu melihatku kesakitan atau bahkan aku tidak bisa bertahan menahan kesakitan itu " batin Rafa


" Aku hanya ingin terus bersamamu,, kita berjuang sama-sama,, aku akan selalu ada disamping mu.. kamu jangan khawatir " ucap Jesi


" Sudah kamu jangan memikirkan hal itu, ini sudah malam, kita bahas ini nanti " ucap Rafa


Mereka pun terlelap dengan kesedihan masing-masing.