
Rifa pun langsung mengikuti Leo keruang kerjanya untuk membicarakan masalah perusahaan yang tadi di bahas oleh Sang kakek.
" Kakek, ini tidak adil untukku " ucap Rifa
" Semuanya sudah jelas bukan " ucap Leo
" Tapi Kek " ucap Rifa
" Ini hukuman untukmu... jika kamu bisa berpikir dengan hati nurani mu pasti ini semua Takan terjadi... " ucap Leo sambil tersenyum jahat
" Apa maksud kakek, tidak kah kakek berpikir jika wanita itu hanya ingin mengincar hartaku saja " ucap Rifa
" Pernahkah kamu berpikir itu pilihan mu... dulu aku berpikir kamu akan berubah dan tidak akan mengecewakan ku lagi... saatnya Rafa bahagia " ucap Leo
" Rafa punya perusahaan sendiri, meskipun beberapa sahamnya di miliki Lio " ucap Rifa
" Itu salahmu karena dari dulu kerajaan mu hanya fokus bersenang-senang dan bermain wanita " bentak Leo
" Kakek kenapa malah membahas ini.. ini semua karena Jesi dan Rafa " batin Rifa
" Saatnya untuk merubah hidup mu " batin Leo
" Maafkan aku Kek, aku janji sekarang aku akan berubah " ucap Rifa
" Buktikan, Aku tidak mau cuma janji janji saja " ucap Leo
" Baik kek.. aku akan membuktikannya " ucap Rifa
Tiba-tiba suara ketukan dari pintu ruangan kerja Leo pun terdengar.
Tok... Tok... Tok...
" Masuk
Ceklek,,
" Kakek, Tadi kakek memanggil Rafa ada apa " ucapnya
" Kenapa Rifa ada disini, sedang apa dia.. pasti membujuk Kakek " batin Rafa
" Kenapa Rafa ada disini... Pasti dia akan menghasut kakek " batin Rifa
" Duduk " ucap Leo
Rafa duduk di samping Rifa, ada wajah yang tidak suka saat melihat kehadiran Rafa. Bahkan dia terlihat sinis pada Rafa.
" Mulai hari ini kamu bekerja dan menjadi direktur di perusahaan itu " ucap Leo
" Lalu aku bagaikan Kek " ucap Rifa protes
" Baiklah Ke " ucap Rafa senang
" Itu semua tergantung Rafa... Dia yang akan menentukan jabatan mu... " ucap Leo
" Sial... pasti Rafa berpikir sedang di atas angin " batin Rifa
" Benar-benar Lucu hidup ini , dulu Aku tidak mau memimpin perusahaan milik keluarga ku tapi ternyata sekarang aku di paksa memimpin perusahaan " batin Rafa
" Bagaimana Rafa " tanya Leo sambil tersenyum
" Bagaimana kalau aku memperkerjakan mu sebagai Ob di kantor " ucap Rafa sambil tersenyum jahat
" Kamu... " ucap Rifa dengan nada marah
" Tidak sopan pada direktur bersikap begitu " ucap Rafa
" Bersikap baiklah pada Rafa " ucap Leo
" Tahan Emosimu Rifa... kamu harus pura-pura baik pada Rafa " batin Rifa
" Kak Rafa.. aku kan adikmu.. masa aku di jadikan Ob, Ijasah ku pun S2.. bisakah mempertimbangkannya lagi... setidaknya jadi wakil direktur mendampingi mu " ucap Rifa
" Kalau ada maunya pasti dia baik, sudah ku duga " batin Rafa
Suara pintu ruangan itu pun terbuka, Sang nenek datang sambil membawakan teh dan beberapa cemilan.
" Ternyata ada kalian " ucap Sisil
" Nenek kami hanya sedang mengobrol saja " ucap Rifa sambil tersenyum
" Sepertinya aku harus membujuk Nenek agar mendukung ku... Bagaimana pun Kakek dan Rafa akan menuruti perkataan Nenek " batin Rifa
" Memangnya kalian mengobrol apa.. sepertinya cukup seru " ucap Sisil
" Tidak apa-apa, hanya mengobrol ringan saja " ucap Leo sambil senyum
" Ia, Nek kami sedang membicarakan pekerjaan apa yang cocok untukku " ucap Rifa sambil tersenyum
" Akan ini sepertinya mencari dukungan pada sisil " batin Leo
" Sekarang Rafa kan jadi direktur, pasti dia lebih bijaksana menempatkan pekerjaan yang cocok untuk dirimu" ucap Sisil
" Itu pasti Nek.. ia kan Ka Rafa " ucap Rifa
" Tentu saja " ucapnya Rafa
" Lalu apa jabatan yang pantas untuk ku " ucap Rifa
" Kamu akan menjadi wakil direktur " ucap Rafa
" Yang Benar ka " ucap Rifa sambil tersenyum
" Ia... " ucapnya Rafa
" Jangan merasa senang dulu... kalau bukan karena Nenek kamu pasti akan ku jadikan Ob " batin Rafa
" Kehadiran Nenek anugrah untuk ku " batin Rifa
" Rafa memang dewasa, meskipun mereka sedang ada masalah pribadi tapi dia bisa profesional, aku tidak usah khawatir " ucap Leo dalam hatinya
" Terima kasih Ka " ucap Rifa
" Sama-sama " ucap Rafa
" Kakek, nenek, Rafa pamit ke kantor dulu ya... " ucap Rafa sambil tersenyum dan menyalami Leo dan Sisil
" Ia nak Hati-hati dijalan " ucap Sisil
" Ia Nek " ucap Rafa langsung melangkah pergi dari ruangan itu, sementara Rafa masih duduk diruangan itu.
" Kenapa kamu masih disini... apa kamu tidak pergi bekerja, lihat bos kamu saja sudah pergi " ucap Sisil
" Aku pergi sekarang Nek " ucap Rifa langsung mencium tangan Sisil dan Leo dan melangkah pergi dari sana namun langkahnya terhenti ketika berbicara.
" Tunggu " ucap Leo
" Ada apa Ke " tanya Rifa
" Semua Fasilitas mu, kakek cabut... kartu kredit, mobil tidak boleh di pakai " ucap Leo
" Apa " ucap Rifa kaget
" Lalu aku ke kantor naik apa " ucap Rifa
" Kalau kamu mau pakai motor saja " ucap Leo
" Kakek, masa aku bawa motor.. apa kata orang-orang " ucap Rifa
" Terserah... " ucap Leo
" Lalu aku tidak punya uang sama sekali jika kartu kredit ku di blokir " ucap Rifa
" Ini Tiga juta.. cukup untuk sebulan, anggap saja modal... tapi bulan depan pakai uang gajimu untuk bertahan hidup " ucap Leo
" Tapi Ke... " ucap Rifa mencoba memprotes
" kamu lihat Rafa, dia mandiri selama pergi dari mansion " ucap Sisil
" Biasakan dirimu.. ambil uangnya " ucap Leo meletakan amplop coklat berisi uang
Rifa segera membawa amplopnya dan segera pergi dari ruangan kerja sang kakek dengan perasaan kesal dan marah
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......
Biar saya lebih semangat nulisnya..
Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan memberikan Like....Komen..... dan Vote ......
So... Ikuti terus kisahnya...
Jangan bosen-bosen ya .....
Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz