
Ina duduk di samping menantunya itu, sambil tersenyum lalu memeluk Jesi.
" Terimakasih nah sudah mau menemani Rafa sampai saat ini, momih ngerasa bukan ibu yang baik buat Rafa, karena semenjak kejadian Rafa dan Rifa ribut momih memilih pergi keluar negeri dan sibuk dengan pekerjaan momih " ucap Ina menatap wajah Jesi
" Momih jangan berkata seperti itu, justru momih adalah ibu yang terbaik karena sudah melahirkan putra yang begitu baik dan bisa Nerima aku apa adanya " ucap Jesi memeluk mertuanya itu
" Jangan pernah tinggalkan Rafa ya nak, momih yakin kamu memang yang terbaik yang Tuhan kasih untuk Rafa " ucap Ina
" Momih tenang saja, aku akan selalu ada buat Rafa " ucap Jesi melepaskan pelukannya
" Momih senang dengarnya, momih sudah anggap kamu seperti anak momih sendiri, jadi kalau ada apa-apa tidak usah sungkan " ucap Ina
" Ia momih " ucap Jesi sambil tersenyum
" Ayah sudah Carikan apartemen untukmu tinggal, selama disana kamu bisa tinggal di apartemen " ucap Satria
" Lalu Rafa " tanya Jesi
" Rafa akan berada di rumah sakit selama melakukan pengobatan " ucap Ina
" Tidak Momih, aku tidak mau berpisah dengan Rafa dan Rafa pun pasti tidak mau jauh
" Jesi tidak baik kamu berada di rumah sakit " ucap Satria
" Tapi ayah.. " ucap Jesi
" Kamu bisa berkunjung setiap hari ke rumah sakit lagian apartemen itu berada disamping rumah sakit " ucap Ina
" Baiklah Momih " ucap Jesi sambil tersenyum
Ia tahu apa apa jika apa yang di lakukan oleh mertuanya itu demi kebaikan Rafa tapi jauh dalam lubuk hatinya ia juga tidak mau berpisah dengan suaminya sendiri.
" Momih Mohon kamu bisa mengerti " ucap Ina
" Ia momih tidak apa-apa " ucap Jesi
" Terimakasih Jesi " ucap Satria
" Sama-sama ayah " ucap Jesi sambil tersenyum
" Kalau begitu Jesi pamit ke dapur, mau membuatkan cemilan untuk Rafa " ucap Jesi
" Baiklah nak " tanya Ina
Jesi segera meninggalkan kamar Ina menuju dapur sesuai dengan ucapannya, ia memotong-motong buah-buahan untuk di berikan pada suaminya itu.
Sementara Rafa kini sudah ada di depan kamar Sang Oma, ia mengetuk pintu kamar sang Oma dengan pelan takutnya sang Oma sedang tidur.
Tok.. Tok.. Tok...
" Oma.. ini aku Rafa " ucapnya
" Masuk nak " ucap Sisil
" Oma sedang apa, apa Rafa ganggu "
" Tidak nak, kamu tidak menggangu Oma sama sekali " ucap Sisil duduk di ranjangnya, sedangkan cucunya itu duduk di tepi ranjangnya
" Oma bagaimana keadaan oma,, Rafa minta maf jika ucapan tadi Rafa membuat Oma kepikiran " ucap Rafa
" Ya Oma memang sedang memikirkan mu,, karena kamu cucu yang Oma sayang " ucap Sisil
" Oma.. maafkan Rafa " ucapnya langsung memeluk Sisil
" Justru Oma yang minta maf, karena Oma sampai tidak tahu kondisi mu " ucap Sisil
" Oma ga salah, emang dari awal aku ga mau bikin Semuanya sedih terutama Momih dan Oma " ucap Rafa sambil meneteskan air matanya
" Jangan menangis nak, nanti Oma juga sedih " ucap Sisil melepaskan pelukannya
" Aku senang karena kalian begitu menyayangi aku dari dulu, Oma terima kasih banyak maaf Rafa belum bisa membalas semua kasih sayang Oma dan yang lainnya " ucap Rafa
" Oma hanya ingin kamu bisa sembuh seperti sebelumnya, Oma ga mau kamu ninggalin Oma.. " ucap Sisil meneteskan air matanya
" Oma jangan sedih, Rafa janji akan sembuh.. dan kita bisa berkumpul kembali " ucap Rafa
" Kamu janji ya nak " ucap Sisil
" Ia Oma " ucap Rafa
Rafa kembali memeluk sang Oma, ia sangat bahagia ternyata Sang Oma begitu tulus menyayanginya dari dulu, meskipun ada tersirat rasa sedih dalam hatinya ia takut Jika Janjinya pada sang Oma tidak bisa ia tepati.
" Tuhan, berikan kesembuhan pada cucuku,, aku tidak mau di meninggalkan aku untuk selama-lamanya " batin Sisil
" Tuhan berikan aku kekuatan agar bisa melewati semua ujian-Mu,, dan berikan Aku kesembuhan apalagi aku tidak mau melihat anggota keluarga ku lainnya sedih.. " batin Rafa
Tak lama kemudian Leo datang ke kamarnya, ia melihat sang istri bersama dengan sang cucu saling berpelukan, ia tahu jika saat ini Sisil sedang sedih tapi ia juga tidak bisa membiarkan Rafa menanggung ini semua.
Ia memang menyuruh Rafa jujur soal penyakitnya pada semua anggota keluarga yang lain agar beban di pikirannya sedikit berkurang dan mendapatkan semangat kembali untuk pengobatannya.
" Sayang " ucap Leo pada Sisil
" Kakek " ucap Rafa melepaskan pelukannya
" Kamu jangan menangis, jangan membuat Rafa sedih " ucap Leo
" Ia sayang sudah tidak menangis ko " ucap Sisil menghapus air matanya
" Oma, Kakek aku pamit ya,, takut di cari Jesi " ucap Rafa
" Ish kamu ini suami yang tidak bisa jauh dari istri " ucap Leo
" Sama seperti Kakek " ucapnya Rafa sambil tersenyum
" Ia, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.. " ucap Sisil pada sang suami.
" Itu tandanya dia sangat menyayangi istrinya " ucap Leo
" Baiklah nak, kamu bisa pergi dari sini dan temui istrimu " ucap Sisil
" Baiklah Oma terimakasih " ucap Rafa segera pergi dari sana
Rafa mencari keberadaan sang istri saat ini, karena ketika ia kembali ke kamarnya disana tidak ada istrinya dan menurut sang momih jika istrinya itu berada di dapur. Ia segera menuju dapur.
" Sayang " ucap Rafa memeluk Jesi dari belakang
" Sayang kamu bikin kaget saja " ucap Jesi sambil tersenyum
" Biarin " ucap Rafa
" Aku bikin cemilan untukmu " ucap Jesi
" Buah-buahan " tanya Rafa
" Ini cemilan sehat untukmu sayang " ucap Jesi
" Kalau begitu Suapin dong sayang " ucap Rafa
" Bagaimana kalau kita makan cemilan ini di taman belakang, pemandangannya juga bagus " ajak Jesi
" Jika itu kemauan mu sayang, akan aku kabulkan " ucap Rafa sambil tersenyum
" Ayo " Ajak Jesi
Mereka pergi ke taman belakang sambil berpegangan tangan, keduanya tampak bahagia, apalagi Rafa ia tampak sangat senang hari ini.
.
.
.
.
Bersambung...
Mampir yu ke novel baru aku, ini berkisah tentang kisah cinta Leya dan Geri aku tulis di novel terbaruku... berjudul " Dendam Jadi cinta " ikuti terus kisahnya.
Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......
Biar saya lebih semangat nulisnya..
Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan memberikan Like....Komen..... dan Vote ......
So... Ikuti terus kisahnya...