
Sementara Rafa melihat hal itu awalnya kesal dan marah namun melihat ekspresi Rifa dan Mesi ia malah berubah jadi senyum mendengar mereka bertengkar.
" Sebenarnya Jesi itu memang ingin ketemu Rifa atau mau mengerjai dia " batin Rafa
Rifa kini hanya bisa bersabar pucat ketika Jesi memintanya untuk memanjat pohon mangga sedangkan Mesi terlihat menertawakannya.
" Cepat manjat, demi bayi kamu " ucap Mesi
" Ya sabar dong " ucap Rifa sambil bercucuran keringat
" Aku ingin mangga yang ada di paling atas " ucap Jesi
" Apa.. paling atas " ucap Rifa
" Ia.. memangnya kenapa " ucap Jesi
" Ini mangga masih mentah, kenapa ga makan mangga yang sudah matang saja " ucap Rifa
" Aku juga sudah bilang begitu " ucap Mesi
" Aku ga mau, aku maunya mangga muda dan kamu yang petik " ucap Jesi
" Kalau begitu cepat kamu naik ke atas pohon " ucap Mesi
" Sebenar aku akan mengambil tangga " ucap Rifa
" Ga boleh, pokonya kamu harus manjat pohon jangan di bantu apapun, ia kan Jesi " ucap Mesi
" Ia benar " ucap Jesi
" Sepertinya Mesi memprovokasi Jesi untuk mengerjaiku " batin Rifa
" Coba aku mau lihat, apa kamu bisa memanjat pohon itu, pasti ekspresi wajah Rifa sangat lucu " batin Mesi
" Baiklah demi anak kita " ucap Rifa
" Ia terima kasih " ucap Jesi sambil tersenyum senang
Rifa pun segera memanjat pohon mangga meskipun ia terlihat ragu-ragu dan takut namun ia paksakan demi gengsinya, ia tau pasti kalau ia menolak Mesi akan meledeknya.
" Pokonya aku harus bisa.. malu kalau aku sampai mereka tau aku tidak bisa manjat pohon " batin Rifa
" Hahhaha, bilang takut aja kenapa harus memaksakan " batin Mesi
" Sudah tau tidak pernah manjat pohon tapi memaksakan " batin Rafa dari kejauhan
Rifa sudah berada di atas pohon, lalu ia memetik buah mangga sesuai dengan petunjuk Jesi.
" Rafa coba petik yang ada di atas kepalamu " ucap Jesi
" Eh maaf maksudku Rifa " ucap Jesi sambil tersenyum
" Kenapa aku hatiku ingin Rifa yang memetik buah mangga nya tapi Dalam mulutku menyebut nama Rafa " batin Jesi
" Kenapa Jesi malah ingat Rafa bikin kesal saja " batin Rifa
" Aku sudah pernah bilang, jika orang yang dicintai Jesi adalah Rafa, ia butuh Rifa karena keinginan bayinya " batin Mesi
" Jesi ternyata tidak melupakan ku ternyata... " batin Rafa senang
" Apa yang ini " ucap Rifa
" Ia yang itu " ucap Jesi
" Aku sudah petik, Kamu mau yang mana lagi " tanya Rifa
" Yang disamping kamu satu " ucap Jesi
" Baiklah " ucap Rifa
" Sebaiknya Kamu lempar ke bawah mangga nya " ucap Mesi
" Benar juga dia " batin Rifa
" Kamu tangkap ya " ucap Rifa pada Mesi
" Enak saja, kamu lembarnya ke arah lain yang ga ada aku dan Jesi " ucap Mesi
" Baiklah cerewet " ucap Rifa
" Sial, aku malah dibilang cerewet.. awas saja pembalasan ku " batin Mesi
Rifa langsung melempar buah mangga kesamping yang tidak ada Jesi dan Mesi. Setelah buah itu di bawah Mesi dan Jesi langsung mengambil buah tersebut.
" Wah besar juga buahnya " ucap Jesi
" Pasti ini enak banget " ucap Jesi sambil memegang buah mangga itu
" Kalau begitu ayo kita cuci buahnya lalu aku akan menggupaskan buah mangga ini untukmu " ucap Mesi
" Kamu serius " ucap Jesi senang
" Ya udah yu " ajak Mesi
Rafa langsung datang dan menghampiri Mesi dan Jesi yang sedang membawa buah mangga itu.
" Sayang " ucap Rafa sambil tersenyum
" Loh ko kamu kesini Sayang " ucapan Jesi Sambil tersenyum senang
" Aku rindu padamu " ucap Rafa sambil memeluk Jesi
" Kenapa Rafa ada disini " batin Rifa
" Aku cuci dulu ya mangga nya, nanti kalau sudah di kupas aku bawa kesini " ucap Mesi
Sebenarnya Mesi berbicara begitu sengaja, agar Jesi dan Rafa bisa berduaan namun ternyata Rafa malam merebut buah itu lalu mencucinya dan mengupas buahnya.
" Tidak usah, biar aku yang cuci buahnya dan mengupasnya " ucap Rafa sambil tersenyum
" Wah beruntung sekali kamu punya calon suami yang pengertian seperti Rafa tidak seperti yang diatas pohon " ledek Mesi
" Kamu membicarakan aku " ucap Rifa
" Tidak, dasar sok kepedean " ucap Mesi kesal
" Jesi ayo kita kedalam, kita makan buah mangga nya " ucap Mesi sambil tersenyum
" Eh jangan kabur kamu " ucap Rifa
" Rafa ayo kita kedalam " ajak Jesi
" Loh ko aku di tinggal, hey... tungguin aku " ucap Rifa sambil berteriak-teriak
" Eh, Rifa itu kenapa " tanya Jesi bingung
" Biarkan saja... dia juga nanti turun dan menghampiri kita " ucap Rafa
" Baiklah.. " ucap Jesi
" Mesi kamu temani Jesi ya, biar aku potong-potong dulu mangga nya " ucap Rafa
" Ok " ucap Mesi sambil tersenyum
Rafa pergi ke dapur untuk memotong-motong mangga muda tersebut namun sebelum di potong-potong ia mengupas dulu kulitnya lalu mencuci bersih, setelah itu baru ia menyiapkan piring dan mengulasnya.
Ditempat lain Rifa benar-benar kesal, marah dan takut, ia merasa mereka bertiga sudah mengerjai dia, ia terus berteriak namun ketiga orang itu tidak mendengarnya.
" Jesi tolongin aku... " teriakannya Rifa
" Mesi... Rafa... tolong... " ucap Rafa namun tidak ada jawaban
" Sialan... mereka pada kemana sih... aku ditinggal disini lagi, mana sendirian dan ga bisa turun pula " batin Rifa
Tukang kebun yang sudah selesai istirahat menghampiri suara Rifa yang berteriak-teriak itu.
" Loh Tuan Rifa ngapain di atas pohon " tanya Sang tukang kebun
" Pa Udin tolong turunin saya " ucap Rifa merasa senang karena akhirnya ada yang mau menolongnya
" Aduh Tuan, bagaimana sih kalau ga bisa turun jangan naik " ucap Pa Udin
" Aku juga terpaksa naik ke atas pohon bukan sengaja " ucap Rifa
" Oh begitu.. sebentar Pa Udin bawakan dulu tangga " ucapnya melangkah pergi
" Untung ada Pa Udin.. " batin Rifa
Tak lama kemudian sang tukang kebun itu membawakan tangga untuk membantu Rifa turun dari pohon.
" Tuan Rifa, silahkan turun saya pegangin tangganya " ucap Pa Udin
" Pa Udin pegang yang benar jangan sampai saya jatuh " ucap Rifa
" Ia Tuan " ucap Pa Udin
Rifa pun segera turun dari sana dengan hati-hati dan sedikit ketakutan.