One Night With Playboy

One Night With Playboy
Episode 49



Sementara Rafa melihat hal itu awalnya kesal dan marah namun melihat ekspresi Rifa dan Mesi ia malah berubah jadi senyum mendengar mereka bertengkar.


" Sebenarnya Jesi itu memang ingin ketemu Rifa atau mau mengerjai dia " batin Rafa


Rifa kini hanya bisa bersabar pucat ketika Jesi memintanya untuk memanjat pohon mangga sedangkan Mesi terlihat menertawakannya.


" Cepat manjat, demi bayi kamu " ucap Mesi


" Ya sabar dong " ucap Rifa sambil bercucuran keringat


" Aku ingin mangga yang ada di paling atas " ucap Jesi


" Apa.. paling atas " ucap Rifa


" Ia.. memangnya kenapa " ucap Jesi


" Ini mangga masih mentah, kenapa ga makan mangga yang sudah matang saja " ucap Rifa


" Aku juga sudah bilang begitu " ucap Mesi


" Aku ga mau, aku maunya mangga muda dan kamu yang petik " ucap Jesi


" Kalau begitu cepat kamu naik ke atas pohon " ucap Mesi


" Sebenar aku akan mengambil tangga " ucap Rifa


" Ga boleh, pokonya kamu harus manjat pohon jangan di bantu apapun, ia kan Jesi " ucap Mesi


" Ia benar " ucap Jesi


" Sepertinya Mesi memprovokasi Jesi untuk mengerjaiku " batin Rifa


" Coba aku mau lihat, apa kamu bisa memanjat pohon itu, pasti ekspresi wajah Rifa sangat lucu " batin Mesi


" Baiklah demi anak kita " ucap Rifa


" Ia terima kasih " ucap Jesi sambil tersenyum senang


Rifa pun segera memanjat pohon mangga meskipun ia terlihat ragu-ragu dan takut namun ia paksakan demi gengsinya, ia tau pasti kalau ia menolak Mesi akan meledeknya.


" Pokonya aku harus bisa.. malu kalau aku sampai mereka tau aku tidak bisa manjat pohon " batin Rifa


" Hahhaha, bilang takut aja kenapa harus memaksakan " batin Mesi


" Sudah tau tidak pernah manjat pohon tapi memaksakan " batin Rafa dari kejauhan


Rifa sudah berada di atas pohon, lalu ia memetik buah mangga sesuai dengan petunjuk Jesi.


" Rafa coba petik yang ada di atas kepalamu " ucap Jesi


" Eh maaf maksudku Rifa " ucap Jesi sambil tersenyum


" Kenapa aku hatiku ingin Rifa yang memetik buah mangga nya tapi Dalam mulutku menyebut nama Rafa " batin Jesi


" Kenapa Jesi malah ingat Rafa bikin kesal saja " batin Rifa


" Aku sudah pernah bilang, jika orang yang dicintai Jesi adalah Rafa, ia butuh Rifa karena keinginan bayinya " batin Mesi


" Jesi ternyata tidak melupakan ku ternyata... " batin Rafa senang


" Apa yang ini " ucap Rifa


" Ia yang itu " ucap Jesi


" Aku sudah petik, Kamu mau yang mana lagi " tanya Rifa


" Yang disamping kamu satu " ucap Jesi


" Baiklah " ucap Rifa


" Sebaiknya Kamu lempar ke bawah mangga nya " ucap Mesi


" Benar juga dia " batin Rifa


" Kamu tangkap ya " ucap Rifa pada Mesi


" Enak saja, kamu lembarnya ke arah lain yang ga ada aku dan Jesi " ucap Mesi


" Baiklah cerewet " ucap Rifa


" Sial, aku malah dibilang cerewet.. awas saja pembalasan ku " batin Mesi


Rifa langsung melempar buah mangga kesamping yang tidak ada Jesi dan Mesi. Setelah buah itu di bawah Mesi dan Jesi langsung mengambil buah tersebut.


" Wah besar juga buahnya " ucap Jesi


" Pasti ini enak banget " ucap Jesi sambil memegang buah mangga itu


" Kalau begitu ayo kita cuci buahnya lalu aku akan menggupaskan buah mangga ini untukmu " ucap Mesi


" Kamu serius " ucap Jesi senang


" Ya udah yu " ajak Mesi


Rafa langsung datang dan menghampiri Mesi dan Jesi yang sedang membawa buah mangga itu.


" Sayang " ucap Rafa sambil tersenyum


" Loh ko kamu kesini Sayang " ucapan Jesi Sambil tersenyum senang


" Aku rindu padamu " ucap Rafa sambil memeluk Jesi


" Kenapa Rafa ada disini " batin Rifa


" Aku cuci dulu ya mangga nya, nanti kalau sudah di kupas aku bawa kesini " ucap Mesi


Sebenarnya Mesi berbicara begitu sengaja, agar Jesi dan Rafa bisa berduaan namun ternyata Rafa malam merebut buah itu lalu mencucinya dan mengupas buahnya.


" Tidak usah, biar aku yang cuci buahnya dan mengupasnya " ucap Rafa sambil tersenyum


" Wah beruntung sekali kamu punya calon suami yang pengertian seperti Rafa tidak seperti yang diatas pohon " ledek Mesi


" Kamu membicarakan aku " ucap Rifa


" Tidak, dasar sok kepedean " ucap Mesi kesal


" Jesi ayo kita kedalam, kita makan buah mangga nya " ucap Mesi sambil tersenyum


" Eh jangan kabur kamu " ucap Rifa


" Rafa ayo kita kedalam " ajak Jesi


" Loh ko aku di tinggal, hey... tungguin aku " ucap Rifa sambil berteriak-teriak


" Eh, Rifa itu kenapa " tanya Jesi bingung


" Biarkan saja... dia juga nanti turun dan menghampiri kita " ucap Rafa


" Baiklah.. " ucap Jesi


" Mesi kamu temani Jesi ya, biar aku potong-potong dulu mangga nya " ucap Rafa


" Ok " ucap Mesi sambil tersenyum


Rafa pergi ke dapur untuk memotong-motong mangga muda tersebut namun sebelum di potong-potong ia mengupas dulu kulitnya lalu mencuci bersih, setelah itu baru ia menyiapkan piring dan mengulasnya.


Ditempat lain Rifa benar-benar kesal, marah dan takut, ia merasa mereka bertiga sudah mengerjai dia, ia terus berteriak namun ketiga orang itu tidak mendengarnya.


" Jesi tolongin aku... " teriakannya Rifa


" Mesi... Rafa... tolong... " ucap Rafa namun tidak ada jawaban


" Sialan... mereka pada kemana sih... aku ditinggal disini lagi, mana sendirian dan ga bisa turun pula " batin Rifa


Tukang kebun yang sudah selesai istirahat menghampiri suara Rifa yang berteriak-teriak itu.


" Loh Tuan Rifa ngapain di atas pohon " tanya Sang tukang kebun


" Pa Udin tolong turunin saya " ucap Rifa merasa senang karena akhirnya ada yang mau menolongnya


" Aduh Tuan, bagaimana sih kalau ga bisa turun jangan naik " ucap Pa Udin


" Aku juga terpaksa naik ke atas pohon bukan sengaja " ucap Rifa


" Oh begitu.. sebentar Pa Udin bawakan dulu tangga " ucapnya melangkah pergi


" Untung ada Pa Udin.. " batin Rifa


Tak lama kemudian sang tukang kebun itu membawakan tangga untuk membantu Rifa turun dari pohon.


" Tuan Rifa, silahkan turun saya pegangin tangganya " ucap Pa Udin


" Pa Udin pegang yang benar jangan sampai saya jatuh " ucap Rifa


" Ia Tuan " ucap Pa Udin


Rifa pun segera turun dari sana dengan hati-hati dan sedikit ketakutan.