One Night With Playboy

One Night With Playboy
Episode 34



Keesokan harinya,,


Rena sudah menyiapkan sarapan seperti biasanya, Lia dan Leya terlihat sibuk membantu Rena di dapur karena Refa harus buru-buru ke rumah sakit jadi dia tidak sempat untuk membantu Rena.


" Pagi umi " sapa Leya dan Lia kompak menghampiri Rena


" Pagi sayang.. " ucap Rena sambil tersenyum


" Kemana Refa, umi.. tadi Lia cari-cari di kamarnya tapi tidak ada " tanya Lia


" Refa sudah pergi tadi pagi-pagi sekali pamit sama Umi, katanya ada Pasiennya yang membutuhkan dia " ucap Rena


" Tapi Samuel ganteng juga " ucap Lia


" Kamu suka sama dia " tanya Rena


" Bukan itu Umi, Samuel itu sebenarnya pasien Refa, mereka terlihat cocok " ucap Lia


" Aku setuju " ucap Leya


" Kalian malah mengurusi percintaan Refa, kalian sendiri bagaimana.. apa sudah menemukan kekasih belum... Lio sama Rafa sudah mau menikah " ucap Rena membuat kedua gadis itu terdiam tanpa kata


" Ko umi kenapa jadi bahas itu " batin Lia


" Serasa aku ga laku padahal aku seorang model dan Aktis " batin Leya


" Kalian ga bisa jawab " ucap Reza sambil tertawa senang


" Emang kamu sudah punya pacar " ucap Lia


" Belum juga " ucap Reza sambil tersenyum dipaksakan


" Jomblo teriak jomblo " tanya Leya tertawa


" Eh sudah-sudah jangan berdebat lagi... cepat bantu Umi... dan kamu Reza, karena sudah bangun bantu umi simpan makanan ini ke atas meja makan " titah Rena


" Bukannya itu tugas perempuan ya Umi " tanya Reza


" Jadi ga mau bantu Umi " tanya Rena


" Mau Umi " ucap Reza sambil tersenyum


Mereka terlihat sibuk membantu Rena, sedangkan di kamar Tamu terdengar suara seseorang yang sedang Muntah, siapa lagi kalau bukan Jesi.


Jesi meminta kepada Rafa untuk pindah ke kamar Tamu meskipun pada awalnya Rafa menolak namun pada akhirnya menyetujuinya.


" Woek... Woek... Woek... "


" Rasanya mual sekali... " ucap Jesi langsung pergi kekamar mandi


Rifa pun hendak turun ke bawah namun ia tak sengaja mendengar suara seperti orang muntah dari kamar tamu, dengan panik ia langsung mencari asal suara itu.


" Woek... Woek... Woek... "


" Bukannya itu suara Jesi " ucap Rifa langsung berlari masuk kedalam kamar Jesi


Ia melihat kamarnya kosong namun pintu kamar mandi terbuka. ia langsung menerobos pintu tesebut dan dilihatnya Jesi sedang muntah dengan wajah pucatnya.


" Astaga Jesi " ucap Rifa dengan khawatir langsung menghampiri Jesi


" Woek... Woek... Woek... "


" Masih mual " tanya Rifa


" Ia " ucap Jesi


" Sudah jangan di paksakan.. aku akan buatkan Teh untukmu " ucap Rifa langsung menggendong tubuh Jesi


" Kamu mau ngapain " tanya Jesi yang terlihat lemas


" Aku akan membaringkan mu di tempat tidur " ucap Rifa


Setelah membaringkan tubuhnya Jesi di tempat tidur barulah Rifa pergi dari sana dan membuatkan minuman untuk Jesi.


" Kamu tunggu disini jangan kemana-mana " ucap Rifa langsung pergi dari kamar Jesi


" Rifa kenapa... " ucap Jesi heran


Rifa langsung ke dapur dan menghampiri Rena yang berada disana.


" Umi... " ucap Rifa


" Ada apa nak " ucap Rena heran melihat wajah Rifa yang sangat khawatir


" Jesi barusan muntah-muntah mual, wajahnya juga terlihat pucat Umi.. kita harus membuatkan teh untuk Jesi " ucap Rifa


" Kenapa kamu jadi perhatian begitu " ucap Lia


" Biar bagaimanapun didalam perut Jesi ada calon bayi ku " ucap Rifa


" Dulu kemana saja.. kenapa baru sekarang mengakuinya " ucap Lia


" Sudah-sudah jangan berantem " ucap Rena


" Kamu tunggu di sini biar Umi yang buatkan " ucap Rena


" Ternyata jadi ibu hamil itu seperti itu... seperti menderita tapi kenapa Jesi masih ingin mempertahankan bayi itu " ucap Rifa


" Seberat apapun, sesulit apapun dia pasti akan perjuangkan bayinya... itulah perjuangan seorang ibu " ucap Rena


" Apa Di momih juga begitu " Tanya Rifa


" Kalau masalah itu kamu tanya saja Sama Momih Ina... " ucap Rena


" Kalau dulu Umi bagaimana " tanya Lia


" Ya sama.. mual, pusing dan lemas itu yang sering di rasakan ibu hamil, cuman kondisi badan bayi dan calon ibunya kuat tidak, kalau seperti Jesi kan kalian tau sendiri kandungnya lemah " ucap Rena


" Betul Juga ya Umi " ucap Rifa


" Awas kamu bikin Jesi susah, apalagi sampai marah-marah.. kasian dia, nanti stres " ucap Rena


" Baik Umi, mulai sekarang Rifa ga akan membuat Jesi stres kasian " ucap Rifa


" Yasudah nih minumannya, kamu Antarkan kesana " ucap Rena


" Terima kasih banyak ya Umi " ucap Rifa sambil tersenyum senang


Rifa pun segera pergi ke kamar Jesi, tanpa mengetuk pintu ia segera masuk kedalam kamar Jesi. Dilihatnya ada Rafa di samping Jesi yang sedang memegang tangan Jesi.


" Ekhem... permisi Aku mau mengantarkan teh hangat buat Jesi " ucap Rifa dengan senyuman jahat pada Rafa


" Tunggu... " ucap Rafa


" Kenapa " tanya Rifa


" Kamu ga sopan datang ke kamar orang ga ketuk pintu " ucap Rafa


" Habisnya aku khawatir tadi Jesi muntah-muntah jadi aku gendong dia ke tempat tidur " ucap Rifa seakan ingin membuat Rafa marah


" Apa.. kamu menggendong Jesi " ucap Rafa kaget


" Dia cuma nolongin aku " Ucap Jesi


" Sini teh nya " ucap Rafa langsung mengambil Teh yang Rafa bawakan


" Lain kali kalau kamu kenapa-kenapa langsung telepon aku " ucap Rafa


" Kenapa Rifa malah sengaja bicara begitu " batin Jesi


" Hari ini pasti Mereka berantem " batin Rifa


" Sialan kenapa Rifa harus menggangu hubungan ku dengan Jesi terus " batin Rafa


" Ia sayang " ucap Jesi


" Kamu kenapa disini terus... pergi keluar sana " usir Rafa


" Aku cuma mau lihat keadaan Jesi " ucap Rifa


" Kalau di biarkan terus disini pasti Rafa akan semakin cemburu pada Rifa " batin Jesi


" Rifa... terima kasih " tanya Jesi sambil tersenyum


" Untuk pertama kalinya Jesi tersenyum padaku " batin Rifa


" Kenapa Jesi harus tersenyum pada Rifa " batin Rafa


" Tidak usah bilang terima kasih, sudah menjadi kewajiban sesama manusia harus tolong menolong " ucap Rafa dengan wajah cemburunya


" ish kamu ini " ucap Rifa kesal


" Rifa bisakah kamu keluar aku mau beristirahat " ucap Jesi dengan nada yang lemah lembut


" Kalau mau mengusir dia jangan terlalu sopan " ucap Rafa


" Baiklah karena kamu yang minta " ucap Rifa terlihat senang


Rifa Segera pergi dari sana, sementara Rafa terlihat masih cemburu.


.


.


.


Bersambung...


Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......


Biar saya lebih semangat nulisnya..


Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan memberikan Like....Komen..... dan Vote ......


So... Ikuti terus kisahnya...


Jangan bosen-bosen ya .....


Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz