
Rafa duduk di depan ruangan Jesi, tiba-tiba Sisil dan Leo datang untuk berkunjung namun bersama dengan Rifa.
" Rafa kenapa kamu disini " tanya Sisil
" Tadi Jesi tidur, aku hanya ingin menghirup udara segar " ucap Rafa berbohong
" Lihat saja pembalasan ku, aku akan bicara pada Jesi " batin Rifa
" Kenapa Rifa harus datang pasti akan memperkeruh suasana " batin Rafa
" Apa boleh Kami masuk " ucap Leo
" Kakek sama nenek masuk saja " ucap Rafa
" Kalau begitu aku juga masuk " ucap Rifa
" Tidak boleh.. kamu tidak boleh masuk " ucap Rafa
" Kenapa " tanya Rifa
" Dari pada Rifa curiga lebih baik aku ikut masuk saja " batin Rafa
" Tidak apa-apa, ayo kita masuk " ucap Rafa membukakan pintu kamar Jesi
" Aneh tapi dia tidak mau aku masuk tapi sekarang dia malah yang menyuruhku masuk " batin Rifa
Mereka pun segera masuk kedalam ruangan Jesi, dilihatnya Jesi tampak sedang duduk melamun di ranjangnya.
" Ada apa dengan Jesi " batin Sisil heran
" Melihatmu seperti ini hatiku semakin sakit " batin Rafa
" Apa Jesi sudah tahu tentang kegugurannya " batin Rifa
" Selamat siang Jesi " sapa Sisil
" Selamat Siang " ucap Jesi tidak bersemangat
" Jesi kamu kenapa nak " ucap Sisil
" Tidak apa-apa Nek, hanya lelah saja " ucap Jesi
" Ini waktu yang tepat untuk mengompori Rafa " batin Rifa
" Jesi aku sangat khawatir dengan keadaan mu... " ucap Rifa mencoba mendekati Jesi
" Jangan mendekat " ucap Jesi dengan tatapan sinis
" Kamu kenapa Jesi, aku tau kamu pasti sangat sedih dengan apa yang terjadi dengan bayi kita " ucap Rifa dengan wajah sedih
" Memangnya ada apa dengan bayimu Jesi " tanya Sisil heran karena memang yang tahu masalah ini hanya Ina, Satria, Rena dan Ehan.
" Ternyata Nenek juga tidak tahu , sama dengan ku.. aku baru saja tahu karena curiga Umi selalu pergi malam dan pulang pagi-pagi dengan ayah " ucap Rifa dalam hatinya
" Nenek tidak tahu jika Jesi keguguran " ucap Rifa
" Diam kamu " bentak Rafa saat Melihat wajah Jesi menangis lagi
" Sayang... maafkan nenek, nenek tidak tahu jika bayimu... " ucap Sisil memeluk tubuh Jesi
" Ini semuanya gara-gara kamu " ucap Rifa langsung menghampiri Rafa dan menonjok pipi kanan Rafa
" Cukup... " ucap Leo dengan tatapan tajam
" Maafkan aku kakek, aku merasa kesal dan marah pada Rafa karena dia tidak bisa menjaga bayi kami " ucap Rafa
" Apa luka yang ada di pipi kiri Rafa itu gara-gara Rifa " batin Jesi
" Ini rumah sakit jangan ribut... Rifa kalau kamu mancing keributan lebih baik kamu keluar dari sini " ucap Leo
" Jesi kalau kamu mau menangis, menangis lah nak jangan di pendam " ucap Sisil sambil memeluk Jesi
" Kenapa kamu tidak bisa menjaga dan mempertahankan bayiku " bentak Rifa pada Rafa
" Sudah cukup jangan bertengkar " ucap Sisil
" Cukup... " ucap Jesi
" Kenapa kamu masih membela pembunuh ini " ucap Rifa
" Dia suamiku " ucap Jesi dengan wajah marahnya
" Tapi gara-gara dia kira kehilangan anak kita " ucap Rifa
" Aku bilang cukup... " ucap Jesi membentak Rifa
" Bukankah kamu dari awal tidak mengakui bayiku... kenapa kamu sekarang berkata seolah-olah aku yang salah " ucap Jesi
" Bukan tidak mengakui waktu itu aku hanya perlu sedikit waktu " ucap Rifa
" Hubungan diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi, apalagi saat anak kita sudah meninggal.. aku harap jangan pernah kamu campuri kehidupan rumah tangga ku " ucap Jesi sambil menangis
" Aku hanya ingin memberikan hukuman pada Rafa apa aku salah.. " ucap Rifa
" Rafa tidak salah, dan tidak ada yang salah... itu kecelakaan " ucap Jesi
" Kecelakaan maksudnya " tanya Rifa
" Ketika aku bangun tidur, aku pergi ke kamar mandi, Aku terpeleset di kamar mandi, saat itu di lantai penuh dengan darah.. perutku sangat sakit " ucap Jesi sambil menangis
" Ini semua bukan salah Rafa... ini salahku... aku yang tidak bisa menjaga bayiku dengan baik " ucap Jesi
" Tidak sayang.. kamu jangan menyalahkan dirimu sendiri... sesuai dengan apa yang di ucapakan oleh mu tadi.. ini kecelakaan bukan disengaja " ucap Rafa
" Kalau begitu aku sudah tidak ada kesempatan untuk mendekati Jesi lagi " batin Rifa
" Jesi... ikhlaskan semuanya... semua sudah menjadi takdir sang ilahi... semua sudah ada yang mengatur... kamu harus kuat dan ikhlas ya nak... Nenek yakin nanti Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu yang indah " ucap Sisil
" Aku masih sedih nek..." ucap Jesi
" Kamu boleh sedih, tapi jangan larut dalam kesedihan... mengiklaskan semuanya " ucap Sisil
" Ia nenek, aku akan mencoba mengiklaskan semuanya " ucap Jesi sudah mulai tenang
" Dan kamu Rafa, kamu harus memberikan semangat pada Jesi.. jangan pernah tinggalkan dia " ucap Sisil
" Aku janji nek, aku tidak akan meninggalkan Jesi " ucap Rafa sambil melihat wajah Jesi
" Dan untukmu Rifa cari wanita lain yang baik... agar Kau cepat nikah dan jangan berharap lagi pada kakak ipar mu " ucap Sisil
" Ia nek " ucap Rifa sambil melihat wajah Jesi
" Kenapa Nenek bisa tahu kalau aku masih berharap pada Jesi " batin Rifa
.
.
.
.
.
Bersambung...
Mampir yu ke novel baru aku, ini berkisah tentang kisah cinta Leya dan Geri aku tulis di novel terbaruku... berjudul " Dendam Jadi cinta " ikuti terus kisahnya.
Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......
Biar saya lebih semangat nulisnya..
Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan memberikan Like....Komen..... dan Vote ......
So... Ikuti terus kisahnya...
Jangan bosen-bosen ya .....
Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz