
Kini Rafa sudah berada di rumah sakit yang tidak jauh dari hotel, ia melakukan cek up keseluruhan pada tubuhnya.
" Tuan Rafa silahkan masuk " ucap sang suster
Rafa langsung masuk kedalam ruangan dokter untuk melakukan pemeriksaan.
" Tuan Rafa silahkan duduk " ucap sang dokter
" Ada yang bisa saya bantu " ucap sang dokter ramah pada pasien
" Dok, saya sering mimisan, tubuh saya juga lemah dan sering merasakan pusing " ucap Rafa memberitahu apa yang terjadi pada tubuhnya akhir-akhir ini.
" Saya akan melakukan pemeriksaan dengan cara tes darah dan tes urine, hasilnya akan didapatkan setelah tuan melakukan tes tersebut " ucap sang dokter
" Baik Dok " ucap Rafa
Sang suster membawa Rafa kesebuah ruangan untuk mengambil sampel darah dari tubuh Rafa. Setelah itu barulah di lakukan tes urine agar lebih akurat hasilnya.
Setelah melakukan pemeriksaan selama satu jam, dan menunggu hasilnya selama beberapa menit barulah Sang dokter memanggil Rafa kembali.
Rafa duduk di depan sang dokter yang sedang membuka amplop putih hasil pemeriksaan Rafa.
" Tuan Rafa dengan berat hati saya katakan jika Tuan Rafa mengidap penyakit leukimia stadium akhir " ucap sang dokter dengan wajah sedihnya
" Apa dok " ucap Rafa kaget, hatinya hancur bukan karena ia terkena penyakit itu namun ia bingung bagaimana cara memberitahukannya pada Jesi.
" Berapa persen peluang saya untuk bertahan hidup " ucap Rafa
" Hanya 30% " ucap sang dokter
" Berapa bulan saya bisa bertahan dok " tanya Rafa
" Sekitar 3 bulan Tuan itu juga di bantu dengan pengobatan yang lain, kamu tidak bisa menebak umur seseorang karena semua rahasia Tuhan " ucap sang dokter
" Apakah tidak ada jalan lain dok, pengobatan apa yang bisa saya lakukan agar saya bisa bertahan hidup " ucap Rafa
" Tuan bisa lakukan Kemoterapi tapi itu juga bukan jaminan Tuan berumur panjang " ucap sang dokter
" Bagaimana ini,, aku tidak mau kehilangan Jesi " Batin Rafa
Rafa langsung pergi dari ruangan sang dokter menuju hotel dimana ia menginap dengan wajah sedihnya sambil memegang amplop berisi hasil pemeriksaanya.
Kini Rafa sudah sampai di kamar hotel. Ia membaringkan tubuh lemahnya di rajang tempat tidur sambil menunggu kehadiran sang istri.
Sementara sang istri yang sudah selesai melakukan perawatan di salon bersama dengan Sofia, ia mampir ke restoran dan membungkus beberapa makanan untuk dimakan oleh dia dan Rafa.
Setelah selesai barulah Jesi pergi ke kamar hotel untuk menemui sang suami. Ia heran karena sang suami sedang terbaring di tempat tidur.
" Sayang, kamu kenapa " tanya Jesi melihat keadaan Rafa dengan wajah pucatnya
" Aku tidak apa-apa sayang, kamu jangan khawatir " ucap Rafa sambil tersenyum
" Kita kerumah sakit aja yu " ucap Jesi
" Tidak sayang, aku baik-baik saja " ucap Rafa menolak keinginan sang istri.
" Tapi sayang " ucap Jesi
" Kamu membawa apa itu " tanya Rafa mengalihkan pembicaraan Jesi agar Jesi tidak bisa memaksanya pergi kerumah sakit.
" Aku membawakan makan siang untukmu " ucap Jesi sambil tersenyum
" Berbeda apa " ucap Jesi heran
" Aku merasa kamu semakin cantik " ucap Rafa sambil tersenyum
" Oh ia aku pergi ke salon tadi dengan Sofia, kami melakukan perawatan rambut,, bagaimana rambutku bagus tidak " ucap Jesi
" Bagus aku suka " ucap Rafa
" Kalau begitu kita makan dulu yu " ajak Jesi
Mereka pun makan siang bersama menyantap makanan yang tadi di bawa oleh Jesi. Sedangkan Sofia pulang ke kamar hotelnya untuk beristirahat.
Namun ketika Sofia sampai di depan pintu kamar hotelnya sudah ada Rifa yang berdiri disana. Sofia pun dengan cueknya membuka pintu kamar hotelnya dan segara masuk, tiba-tiba tangannya di pegang oleh Rifa.
" Sofia tunggu " ucap Rifa
" Mau apa lagi " ucap Sofia dengan wajah kesalnya
" Aku mau memberikan ini untukmu " ucap Rifa memberikan sebuah kotak kecil seperti kotak perhiasan
" Bukannya kamu hanya asal menebak hari ulang tahun ku " ucap Sofia sinis
" Memang aku hanya asal tebak saja tapi untuk hadiah ini memang aku sudah menyiapkannya.. bukan karena hari ulang tahunmu tapi ini hadiah dariku " ucap Rifa
" Apa isinya, apa jangan-jangan cincin, apa Rifa mau melamar aku, ah itu tidak mungkin.. aku hanya terlalu percaya diri saja " batin Sofia mulai luluh
" Aku harap kamu suka " ucap Rifa
" Terima kasih " ucap Sofia membuka kotak tersebut dan ternyata isinya adalah sebuah kalung yang cantik dan mahal
" Kalung " ucap Sofia
" Ia.. aku yakin jika kamu memakai ini, kamu akan lebih cantik " ucap Rifa sambil tersenyum
" Padahal aku berharap jika hadiah itu adalah cincin, aku harus sadar jika Rifa memang tidak mencintai ku " batin Sofia
Rifa langsung membukakan kotak perhiasan itu lalu memakaikannya di leher Sofia.
" Benar-benar indah " ucap Rifa
" Kamu benar.. " ucap Sofia sambil tersenyum di paksakan melihat wajah Rifa dalam-dalam
" Sofia, aku mohon kamu maafkan aku, aku tidak mau kehilangan kamu... " ucap Rifa
" Jadi Rifa menganggap jika aku penting " batin Sofia
" Lalu " ucap Sofia penasaran
" Lalu,, maksudnya kamu adalah teman terbaik yang aku punya sampai kapanpun " ucap Rifa
" Benarkan,, aku hanya di anggap sebagai teman saja,, aku kita selama ini aku di anggap lebih dari teman " batin Sofia berharap lebih
" Ya kita hanya teman dan ga lebih " ucap Sofia lalu masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya.
Rifa kembali heran di buatnya sikap Sofia kembali berubah padanya, dia juga tidak mengerti apa yang sebenarnya di mau oleh Sofia.
Rifa pergi dari sana menuju cafe untuk menenangkan dirinya, entah itu karena Jesi atau Sofia, sama-sama membuatnya bingung.