
Mesi langsung memeluk Jesi dan mencoba menenangkan Jesi yang sedang meneteskan air matanya.
" Jesi selalu ada pilihan di hidup kita... Ini adalah hidupmu.. kamu yang harus menentukan apa yang menurutmu yang terbaik untuk hidupmu " ucap Mesi
" Terima kasih Mesi, kamu memang sahabat ku " ucap Jesi
" Aku hanya menyarankan padamu... untuk memikirkan perasaan mu pada Rafa " ucap Mesi
" Apa maksudmu " tanya Jesi langsung melepaskan pelukannya
" Apakah Kamu memang benar-benar mencintainya atau kamu hanya merasa kasian pada Rafa" tanya Mesi
" Aku menyayanginya... mana mungkin aku cuma merasa kasian pada Rafa " ucap Jesi
" Apa mungkin yang di katakan Mesi " batin Jesi
" Syukurlah kalau kamu memang benar-benar mencintai Rafa " ucap Mesi
" Ia... " ucap Jesi
" Mungkin perasaan mu hanya emosional saja sesaat.. yang aku tau orang yang sedang hamil memang selalu mau di manja oleh pasangannya.. mungkin karena anak yang kamu kandung adalah anak Rifa jadi kamu bisa beranggapan jika kamu menyukai Rifa " ucap Mesi sambil tersenyum
" Apa ia bisa seperti itu " ucap Jesi bingung
" Yang jelas kamu jangan terlalu stres memikirkan ini semua.. kasihan bayimu " ucap Mesi
" Aku mengerti.. terima kasih atas sarannya " ucap Jesi
" Tidak masalah, kan kita sahabat " ucap Mesi
" Ia sahabat selamanya " ucap Jesi sambil tersenyum
" Oh ia aku sarankan untuk jangan dekat-dekat dengan Rifa " ucap Mesi
" Memangnya kenapa " tanya Jesi
" kata orang jika kita dekat-dekat dengan manatan atau berhubungan dengan masa lalu, hati kita memang akan di ganti rasa bimbang, namun percaya lah jika kamu mampu melewati itu semua maka kebahagiaan akan menghampiri mu " ucap Mesi
" Aku akan ingat kata-kata itu " ucap Jesi sambil tersenyum
" Ternyata.. apa yang di nasehati oleh Mesi benar.. aku harus cepat-cepat menghindari Rifa " batin Jesi
" Semoga kedepannya Jesi tidak ragu dan bimbang lagi " batin Mesi
" Sebaiknya kamu istirahat di kasur saja ya.. aku akan menemanimu " ucap Mesi
" Tapi aku bosan " ucap Jesi
" Kita diam saja di taman yang ada di belakang mansion ini.. Lio selalu mengajakku kesana " ucap Mesi
" Baiklah ayo " ucap Jesi senang
Mesi membawa Jesi ke halaman belakang, mereka di sana diam sambil menghirup udara segar. Lalu tiba-tiba Jesi merasa ingin sekali memakan buah mangga muda.
" Bagaimana udaranya sejuk " ucap Mesi
" Ia,, tapi Mesi aku mau buah mangga itu.. " ucap Jesi menunjuk tangannya ke arah pohon mangga
" Tapi nona itu buah mangga belum matang... kalau nona mau saya bisa bawakan buah mangga yang sudah matang " ucap Sang pelayan sambil membawakan dua es jeruk
" Tapi aku maunya yang itu " ucap Jesi
" Aduh bagaimana ini " ucap Mesi sambil memandangi sang pelayan
" Kalau begitu nanti tukang kebun akan petik buah mangga muda untuk nona " ucap Sang pelayan
" Tidak mau " ucap Jesi
" Kalau begitu aku akan menelepon Rafa agar pulang kesini dan memetik buah mangga muda itu untuk mu " ucap Mesi
" Aku juga tidak mau kalau Rafa yang memetiknya " ucap Jesi
" Lalu kamu mau siapa yang petik, jangan bilang aku yang suruh metik " ucap Mesi dengan raut wajah heran
" Aku maunya di petik oleh Rifa " ucap Jesi
" Hah, kenapa Rifa... " tanya Mesi bingung
" Bagaimana ini, masa ia aku harus telepon Rifa... kasian Rafa " batin Mesi
" Kenapa aku jadi mau ketemu Rifa " batin Jesi
" Baiklah kalau begitu aku akan segera menghubungi Rifa " ucap Mesi
" Terima kasih Mesi " ucap Jesi senang
Mesi langsung mengeluarkan Handphonenya dari tasnya, lalu ia segera menghubungi nomber Handphonenya Rifa.
Tut... Tut... Tut...
" Halo siapa ini " ucap Rifa dengan nada ketus karena nomber Handphone Mesi tidak disimpan di Handphonenya jadi ia tidak tahu jika yang meneleponnya adalah Mesi
" Ini aku Mesi " ucapnya dengan nada sinis
" Astaga.. ada apa kamu menelepon ku.. sorry ya aku sudah move on darimu " ucap Rifa sambil tersenyum
" Kalau bukan karena terpaksa aku Tidak mau menelepon Rifa.. " batin Mesi
" Kenapa Mesi menelepon ku.. " batin Rifa
" Jangan kepedean jadi orang... kalau bukan karena Jesi aku tidak akan menelepon mu " ucap Mesi
" Apa... Jesi... Memangnya Jesi kenapa " ucap Rifa dengan nada khawatir
" Aku kerjain ah " batin Mesi
" Kamu cepat pulang Jesi... pokonya cepat pulang saja " ucap Mesi
" Kamu ngomong yang benar.. Jesi kenapa " ucap Rifa
" Pokonya cepat pulang " ucap Mesi
" Mesi sebaiknya kamu bicara.. Jesi kenapa.. " ucap Rifa
" Aku tunggu kamu di Mansion " ucap Mesi langsung menutup teleponnya.
Mesi senang karena ia bisa mengerjai Rifa yang kadang sikapnya kepedean.
" Bagaimana apa Rifa mau pulang " ucap Jesi
" Tentu saja, ini kan demi anaknya... " ucap Mesi
" Aku juga merasa bersalah pada Rafa " ucap Jesi
" Nanti aku akan bicara pada Rafa, biar bagaimanapun Rifa ayah bayi ini mungkin bayinya ingin membuat pelajaran pada ayah kandungnya " ucap Mesi sambil tertawa
" Kamu bisa saja " ucap Jesi sambil tersenyum
" Hahahaha, ini harusnya jadi karma mu Rifa.. anakmu ingin membuatmu susah dan aku harus mendukungnya.. biar bagaimanapun Kamu dulu terlalu cuek pada anakmu " batin Mesi
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......
Biar saya lebih semangat nulisnya..
Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan memberikan Like....Komen..... dan Vote ......
So... Ikuti terus kisahnya...
Jangan bosen-bosen ya .....
Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz