
Mereka bertiga sudah sampai di mansion. Rifa membukakan pintu untuk Jesi sementara Rafa terlihat terburu-buru untuk menggendong Jesi agar tidak didahului Rifa
" Kenapa aku di gendong " tanya Jesi
" Biar kamu tidak kecapean " ucap Rafa
" Sial, Rafa malah mendahului aku lagi " batin Rifa kesal
" Kamu kalah hari ini, jangan harap bisa mengambil kesempatan pada Jesi " batin Rafa
" Tapi aku berat " ucap Jesi
" Tidak terlalu berat sayang, kamu diam saja ya, nanti kamu jatuh " ucap Rafa dengan nada lembut
" Baiklah " ucap Jesi sambil tersenyum
Mereka segera masuk kedalam mansion, terlihat Rena dan yang lainnya kaget dengan kedatangan Mereka.
" Jesi.. kamu sudah di perbolehkan pulang " ucap Rena
" Ia umi... " ucap Jesi
" Memangnya Kamu sudah sembuh " tanya Sisil
" Aku baik-baik Nek, " ucap Jesi
" Bagus kalau begitu, kamu bawa Jesi ke kamarnya... untuk beristirahat " ucap Ina
" Ia momih " ucap Rafa
Rafa segera membawa Jesi ke kamarnya sementara Rifa berniat ingin membuatkan bubur untuk Jesi.
" Aku akan menyiapkan bubur untuk Jesi " ucap Rena
" Tidak usah Umi, biar aku saja yang buatkan " ucap Rifa
" Tapi... " ucap Rena
" Sudah biarkan saja " ucap Ehan
" Baiklah.. " ucap Rena
" Kalau begitu Rifa ke dapur dulu " ucapnya langsung pergi kedapur
Semua orang yang melihat tingkah Rifa menjadi heran karena tidak bisanya dia mau masuk ke dapur apalagi memasak di dapur.
Sang pelayan di rumah itu pun heran dan segera menghampiri Rifa mereka takut jika Tuan besar akan marah karena membiarkan Rifa ke dapur.
" Maaf Tuan.. ada yang bisa kami bantu " ucap Sang pelayan dengan nada sopan
" Saya sebenarnya mau membuatkan bubur untuk Jesi tapi Saya bingung caranya bagaimana " tanya Rifa
" Kalau begitu biarkan kami yang membuatkannya " ucap Sang pelayan
" Tidak mau... Saya mau membuatnya sendiri.. kalian bantu saya cara membuatnya " ucap Rifa
" Baiklah kalau begitu Tuan " ucap Mereka
" Kalau begitu siapkan bahannya " ucap Rifa
Kedua pelayan tersebut langsung menyiapkan bubur yang akan di masak oleh Rifa, namun tiba-tiba Reza datang kedapur menghampiri Rifa.
" Pagi Bro " ucap Reza
" Mau apa Kau kesini " ucap Rifa
" Hanya melihat keadaan mu karena sudah lama tidak bertemu " ucap Reza sambil tersenyum
" Keadaan ku baik-baik saja " ucap Rifa
" Tuan, Semua sudah di siapkan " ucap sang pelayan
" Saya juga sudah mencuci berasnya dan memotong-motong seledri " ucap Sang pelayan satu lagi
" Tunggu, kamu mau ngapain " tanya Reza bingung
" Aku sebenarnya mau membuatkan Jesi bubur.. pasti dia lapar baru pulang dari rumah sakit " ucap Rifa
" Memangnya kamu tau cara buatnya " tanya Reza heran
" Ga tau... " ucap Rifa
" lalu bagaimana cara buatnya " ucap Reza
" Mereka akan memberitahukan ku bagaimana cara membuat bubur.. ia kan " tanya Rifa pada kedua pelayan tersebut
" Ia Tuan " ucap Mereka
" Baiklah aku hanya akan menjadi penonton saja " ucap Reza
" Kamu lihat jangan banyak komentar ya " ucap Rifa
" Terserah " ucap Reza
Sang pelayan pun memasukan beras yang sudah di cuci bersih kedalam panci lalu memberikan air secukupnya.
" Itu hal kecil... aku bisa " ucap Rifa
" Nah Tuan itu sudah mendidih, segera aduk-aduk Tuan " ucap Sang pelayan
" Seperti ini " ucap Rifa
" Betul Tuan " ucap Pelayan
" Tuan, ini daun seledri di masukan saja ke dalam panci " ucap sang pelayan satu lagi
" Baiklah.. lalu apa lagi " tanya Rifa
" Diberikan sedikit garam " ucap Sang pelayan
" Sedikit ya Rif, jangan banyak-banyak nanti keasinan " ucap Reza
" Ia bawel " ucap Rifa
" Kalau sudah begini laku bagaimana " tanya Rifa
" Tuan sebaiknya mencicipi sedikit " ucap Sang pelayan
" Benar itu... takutnya tidak enak " ucap Reza
" Sialan malah ngeledek lagi " ucap Rifa
Rifa membawa sendok lalu mencicipi sedikit bubur yang masih dalam panci.
" Uh " ucap Rifa merasa panas di lidahnya
" Pasti ga enak ya " tanya Reza
" Enak tau.. " ucap Rifa tak terima buburnya di ledek oleh Reza
" Masa sih.. ko aku tidak percaya " ucap Reza
" Kalau begitu aku akan membuatkan Kau satu mangkuk dan harus di makan habis " ucap Rifa dengan senyum jahatnya
" Sialan, kalau makanannya ga enak.. malah bikin sakit perut bagaimana " batin Reza
Rifa mematikan kompor lalu ia menghindarkan bubur tersebut kedalam dua piring, yang satu untuk Jesi dan satu lagi untuk Reza.
" Tuan ini bawang goreng dan kecapnya " ucap Sang pelayan
" Saya masukin semuanya " ucap Rifa pada sang pelayan
" Jangan Tuan, secukupnya saja " ucap Sang pelayan
" Nah sudah cukup Tuan " ucap Sang pelayan
" Tapi sepertinya enak " ucap Reza
" Kamu harus makan sampai habis, kalau tidak kamu harus menteraktirku selama satu Minggu " ucap Rifa
" Ia bawel " ucap Reza
" Kalian bereskan Semua ini, dan lihat apa Reza makan semua atau di buang " ucap Rifa pada kedua pelayan tersebut
" Baik Tuan " ucap Sang pelayan
" Aku ke kamar Jesi dulu... kamu makan disini dengan tenang " ucap Rifa melangkah pergi dari sana dan menuju kamar Jesi
Dengan senyuman bahagia Rifa melangkah menuju kamar Jesi, ia yakin Jika Jesi akan suka dengan bubur buatannya.
Tok... Tok... Tok...
" Masuk "
Ceklek,,
" Jesi aku buatkan bubur untukmu " ucap Rifa
Rafa pun melihat ekspresi Jesi yang sangat senang dengan bubur buatan Rifa, entah mengapa hatinya menjadi sakit dan cemburu.
" Jesi biar aku Suapin " ucap Rafa
" Tidak bisa.. aku buatkan bubur ini.. aku juga dong yang harus menyuapinya " ucap Rifa
" Berikan bubur itu padaku " ucap Rafa
" Ga mau " ucap Rifa
" Cukup aku tidak mau mendengar kalian bertengkar lagi... seperti anak kecil saja " ucap Jesi dengan wajah kesalnya
" Biarkan aku yang menyuapi mu ya... " ucap Rifa
" Baiklah.. " ucap Jesi
" Yes, aku memang " ucap Rifa dalam hatinya dengan wajah senangnya
" Sial, kenapa Jesi mau sih di Suapin oleh Rifa " batin Rafa
" Kenapa aku senang dibuatkan Bubur oleh Rifa.. ada apa dengan hatiku sebenarnya " batin Jesi