One Night With Playboy

One Night With Playboy
Episode 21



Rifa langsung Menggedor-gedor pintu kamarnya, namun di hiraukan oleh para penjaga yang ada di depan pintu.


Tok.. Tok.... Tok....


" Buka pintunya... tolong aku... " ucap Rifa dengan nada khawatir


" Cepat buka pintunya " ucap Rifa


" Maf Tuan, kami di perintahkan oleh Nyoya Ina tidak boleh membuka pintu " ucap Sang Penjaga dari luar pintu berteriak


" Bodoh, kamu harus menolongku, wanita ini pingsan di tangannya luka penuh darah " ucap Rifa


" Maf Tuan kalau begitu saya lapor dulu sama Nyoya Ina.. Saya tidak berani kalau langsung membuka pintu " ucap Sang penjaga


" Sial.... Buka pintunya... " ucap Rifa dengan nada marah


Salah satu penjaga disana langsung menemui Ina di kamarnya dan langsung memberitahukan apa yang Rifa katakan.


Sementara Rifa yang kesal masih menggedor-gedor pintu kamarnya.


Tok.. Tok.... Tok....


Tok.. Tok.... Tok....


" Sial... bagaimana ini... aku harus menelepon Momih " ucap Rifa langsung mengeluarkan Handphonenya


Tut... Tut... Tut...


" Halo Momih " ucap Rifa dengan nada khawatir


" Ada apa " ucap Ina cuek


" Momih, Jesi pingsan tangannya berdarah... momih tolong selamatkan Jesi... " ucap Rifa dengan nada merasa bersalah


" Apa yang sebenarnya terjadi " ucap Ina dengan nada kesal


" Tadi Jesi mencoba membunuh diri.. aku segera menggantikannya... namun malah pingsan " ucap Rifa


" Kamu tidak bohong kan " tanya Ina


" Momih mana mungkin aku berbohong dalam situasi seperti ini " ucap Rifa


" Baik aku akan segera kesana dan memanggilkan dokter, kamu jangan macam-macam dan berpikir ingin kabur " ucap Ina


" Ia Momih " ucap Ina


Ketika Ina hendak keluar sang penjaga pun sudah ada di luar pintu Ina.


" Maf Nyoya sama mau menyampaikan ucapan Tuan Rifa " ucap sang penjaga


" Saya Sudah tahu... ayo kita Kesana... " ucap Ina


" Baik Nyoya " ucapnya


Ina dan sang penjaga segera menuju kamar Rifa namun Rafa bertemu dengan mereka pun heran. karena sang Momih memperlihatkan wajah khawatir ketika mereka bertemu.


" Momih mau kemana " tanya Rafa


" Mau kekamar Rifa " ucapnya


" Memangnya ada apa, apa Jesi terluka.. atau Jesi sakit " ucap Rafa dengan nada khawatir


" Tadi menurut ucapan Tuan Rifa, Nona Jesi pingsan dan tangannya berdarah " ucap sang penjaga


" Ayo kita Kesana, sudah tidak ada waktu " ucap Ina


" Momih aku ikut " ucap Rafa langsung mengikuti sang Momih dari belakang


Sesampainya di depan pintu kamar Rifa, sang penjaga langsung membukakan pintu kamar Rifa.


" Mari silahkan Nyoya " ucap Sang penjaga


Ceklek,,


" Kalian semua diam disini, jangan sampai Rifa kabur " ucap Ina


" Baik Nyoya " ucap Mereka


Ina dan Rafa langsung masuk kedalam kamar Rifa, dilihatnya Jesi memang tidak sadarkan diri dan tangannya terluka, Sementara Rifa di sampingnya sambil menangis.


Rafa langsung mendorong tubuh Rifa sampai jatuh ke bawah, lalu ia segera melihat kondisi sang pujaan hatinya.


" Jesi... bangun ini aku Rafa.. sebenarnya kamu kenapa " ucap Rafa


" Rifa coba jelaskan pada Momih kenapa kamu tidak becus menjaga calon istri mu " ucap Ina


" Momih lebih baik sekarang kita panggil dokter " ucapnya Rafa dengan nada khawatir


" Kamu tenang saja dokter Amel akan segera kesini " ucap Ina


" Aku harus menghubungi Refa agar pendarahan di tangan Jesi bisa segera di obati " batin Rafa


Rafa segera mengirimkan pesan pada Refa untuk segera kekamar Rifa sambil membawa alat P3K karena tangan Jesi terluka


" Kamu segera ke kamar Rifa, Jesi terluka bawa juga peralatan p3k untuk menghentikan darah di tangan Jesi " isi pesan Rafa


Refa segera ke kamar Rifa sesuai dengan permintaan sang kakak, Ada penjaga yang mencoba menghalangi Refa namun ketika Refa menunjukan isi pesan dari Rafa ia pun di persilahkan untuk masuk


" Kenapa lagi sih dengan drama Rafa, Jesi dan Rifa " batin Refa


" Pa penjaga maf saya mau masuk kedalam kamar Rifa, saya di suruh untuk mengobati tangan Jesi yang terluka " ucap Refa


" Maf Nona kami harus menanyakan terlebih dahulu pada Nyoya " ucap Sang penjaga


" Nih buktinya kalau kalian tidak percaya " ucap Refa


" Kalau begitu silahkan masuk Nona " ucap Sang penjaga membuka pintu untuk Refa


" Terima kasih " ucapnya Refa dengan nada ketus


" Sama-sama nyoya " ucap Mereka dengan sedikit ketakutan


Refa segera menghampiri Rafa yang berada disisi Jesi.


" Kenapa kamu lama sekali " ucap Rafa dengan tatapan tidak senang


" Maaf ka.. tadi aku mau tidur pas mendapat pesan dari kakak, hari ini aku lembur sampai malam " ucap Refa


" Jangan banyak bicara cepat obati lukanya " ucap Rafa


" Ka Rafa bisa minggir dulu sebentar, aku mau mengobati luka Jesi.. " ucap Refa


" Obati yang benar " ucap Rafa


" Ish... " ucap Refa kesal


" Ka Rafa jadi marah-marah padaku " batin Refa


" Lihat saja kalau terjadi apa-apa pada Jesi aku akan membuat perhitungan dengan kamu... " batin Rafa


" Kenapa aku melihat sepertinya Rafa memang lebih menyayangi Jesi anak malang itu di banding Rifa " batin Ina


" Sial, pasti Momih semakin marah padaku " batin Rifa


Refa segera membersihkan luka tangan Jesi, ia juga tak lupa memberikan alkohol dan Betadine pada Jesi agar lukanya cepat kering karena ternyata Lukanya tidak terlalu dalam.


Setelah selesai ia pun membalut lukanya dengan rapi agar tidak terbuka perbannya.


.


.


.


.


Bersambung...


Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......


Biar saya lebih semangat nulisnya..


Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan memberikan Like....Komen..... dan Vote ......


So... Ikuti terus kisahnya...


Jangan bosen-bosen ya .....


Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz