
Keren memberikan Jesi kontrak kerja sebagai prosedur yang ada di perusahaan itu. Setalah Jesi menandatangani kontrak itu barulah Keren mengantarkan Jesi ke ruangan sang CEO.
" Karena kamu sudah menandatangani kontrak, makan kamu akan saya antarkan keruangan Sang Ceo " ucap Karen
" Baik Bu.. terima kasih " ucap Jesi
" Kita lihat saja.. kamu akan betah atau tidak " batin Karen
Karen dan Jesi segera menuju ruangan sang CEO di lantai Tujuh, Keren memencet tombol lift khusus CEO, membuat Jesi bingung.
" Nona sebaiknya jangan menggunakan lift ini, Kau tau tadi aku di marahi oleh CEO galak itu " ucap Jesi
" Mana ada Dia memarahiku ku... aku akan kekasihnya " batin Karen
" Nanti kamu bisa pergunakan Lift ini.. kan kamu sekarang Sekertaris nya " ucapnya Karen
" Apa... jadi aku sekretaris CEO galak itu " tanya Jesi
" Ya.. tapi sayangnya kamu sudah menandatangani kontrak jadi tidak bisa mengundurkan diri " ucap Karen
" Em.. baiklah Tidak apa-apa " ucap Jesi
" Kita sudah sampai... ayo keluar " ajak Karen
" Oh ia Bu... " ucap Jesi
" Jangan panggil saya ibu, panggil saya Nona " ucap Karen dengan nada sombongnya
" Baik Nona " ucap Jesi
" Aku merasa Nona Karen ini... sepertinya dia punya hubungan dengan CEO tadi " batin Jesi
Tok... Tok... Tok...
" Masuk "
" Tuan... Saya kesini bersama dengan Jesi " ucapnya Karen
" Wah ruangannya bagus sekali " ucapnya Jesi dalam hatinya
" Sudah cukup melihat ruangan ku yang bagus ini " ucapnya
" Eh.. kenapa dia bisa tahu " batin Jesi
" Mejamu ada di depan ruangan ini, nanti Fadli akan menyiapkannya.. " ucapnya melihat pada Sang asisten
" Baik Tuan " ucap Fadli
" Panggil saya Tuan Rifa " ucapnya dengan bangganya
" Baik Tuan Rifa " ucap Jesi
" Rifa... nama yang sering ku dengar dan juga wajahnya tidak asing bagiku " batin Jesi
" Sekarang keren bisa keluar dari ruangan ini " ucap Rifa
" Baik Tuan " ucap Karen kesal
" Apa dia tidak kangen padaku setelah beberapa hari tidak bertemu " batin Karen
" Fadli siapkan Semuanya " ucap Rifa pada sang asisten
" Baik Tuan "
Fadli keluar dari ruangan itu, tersisa hanya Jesi dan Rifa. Rifa menjelaskan tentang apa saja yang harus dan tidak boleh Jesi lakukan padanya.
" Saya bukan orang yang suka basa basi.. saya akan mengatakan jika pelarutan nomber satu.. Bos tidak pernah salah... ingat bisa tidak pernah salah " ucap Rifa
" Cih, namanya juga manusia.. pasti bisa salah lah " batin Jesi
" Kalau Tuan salah " tanya Jesi
" Ingat pelarutan nomber satu " ucapnya Rifa sambil tersenyum jahat
" Apakah aku bisa tahan padanya " batin Jesi
" Pelarutan yang ke dua.. kamu jangan menanyakan hal pribadi padaku... atau kamu jangan mencampuri kehidupan pribadi ku " ucap Rifa
" Baik Tuan " ucap Jesi
" Apapun yang kamu dengar dari dalam ruangan ku jangan sekali-kali membocorkan sesuatu pada karyawan lainnya" ucap Rifa
" Baik Tuan " ucap Jesi
" Memang dia siapa sampai aku harus mencampuri kehidupannya.. aku tidak ada kerjaan apa.. sampai-sampai harus begitu " batin Jesi
" Bagaimana jika Tuan memerintah saya untuk melakukan sesuatu yang tidak benar " ucap Jesi
" Jangan terlalu percaya diri, aku tau maksudmu... kamu dengar ya aku Rifa tidak akan tergoda pada wanita seperti mu... " cibir Rifa
" Baik Tuan " ucap Jesi
" Syukurlah, aku tidak mau jika dia memerintah ku sesuatu yang di luar batas pekerjaan " ucap Jesi dalam hatinya
" Itu tiga pelarutan yang penting, untuk pelarutan yang lainnya akan di berikan oleh Fadli " ucap Rifa
" Baik Tuan " ucap Jesi
" Sebelum Mejamu selesai kamu harus mengerjakan ini dokumen di sana " ucap Rifa menunjuk sofa yang diduduki Jesi
" Baik Tuan " ucap Jesi sambil tersenyum
" Kita lihat saja apa kamu masih bisa tersenyum disaat seperti ini... " batin Rifa
" Sial, sial, sial, baru hari pertama kerja eh udah di kerjain saja sama Tuan Rifa, dasar CEO ga ada ahlak " ucapnya Jesi dalam hatinya
Rifa kini sibuk dengan pekerjaannya sama seperti Jesi, mereka tampak serius tanpa ada suara sepatah kata pun. Suasana berubah menjadi seram.
Tok... Tok... Tok...
" Masuk "
" Tuan Meja Nona Jesi sudah saya siapkan " ucap Fadli
" Bagus kalau begitu saya permisi Tuan " ucapnya Mesi
" Mau kemana " tanya Rifa
" Ke meja saya Tuan " ucap Jesi
" Tidak boleh kamu harus Disni mengerjakan tugasmu " ucap Rifa
" Tapi Tuan " ucap Mesi terpotong
" Apa Kamu tidak ingat pelarutan nomber tiga, atau pura-pura lupa " bentak Rifa
" Maafkan saya Tua " ucap Jesi
" Kembali bekerja " ucap Rifa dingin
" Baiklah Tuan " ucap Jesi
" Dia bukan hanya galak ,tapi tukang membentak... kesal kan jadinya " batin Jesi
" Dia bikin emosiku naik saja.. " batin Rifa
" Untuk pertama kalinya, aku melihat Tuan seperti hidup kembali, ia merasakan sedih senang, dan bahkan galak kembali " batin Fadli
Jesi melanjutkan pekerjaannya kembali, sama seperti Rifa dan Seno, mereka menyelesaikan pekerjaannya dengan serius.
Namun sesekali Rifa terlihat melirik Mesi yang berada di hadapannya berada beberapa meter denganya.
" Apa apa denganku... aku seperti pernah melihatnya.. tapi aku lupa dimana " batin Rifa
" Tapi dia menarik juga ketika dia serius bekerja, hanya saja pakaiannya membuat mataku sakit " batin Rifa
.
.
.
.
Bersambung....
Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......
Biar saya lebih semangat nulisnya..
Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan memberikan Like....Komen..... dan Vote ......
So... Ikuti terus kisahnya...
Jangan bosen-bosen ya .....
Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz