One Night With Playboy

One Night With Playboy
Episode 12



Keren memberikan Jesi kontrak kerja sebagai prosedur yang ada di perusahaan itu. Setalah Jesi menandatangani kontrak itu barulah Keren mengantarkan Jesi ke ruangan sang CEO.


" Karena kamu sudah menandatangani kontrak, makan kamu akan saya antarkan keruangan Sang Ceo " ucap Karen


" Baik Bu.. terima kasih " ucap Jesi


" Kita lihat saja.. kamu akan betah atau tidak " batin Karen


Karen dan Jesi segera menuju ruangan sang CEO di lantai Tujuh, Keren memencet tombol lift khusus CEO, membuat Jesi bingung.


" Nona sebaiknya jangan menggunakan lift ini, Kau tau tadi aku di marahi oleh CEO galak itu " ucap Jesi


" Mana ada Dia memarahiku ku... aku akan kekasihnya " batin Karen


" Nanti kamu bisa pergunakan Lift ini.. kan kamu sekarang Sekertaris nya " ucapnya Karen


" Apa... jadi aku sekretaris CEO galak itu " tanya Jesi


" Ya.. tapi sayangnya kamu sudah menandatangani kontrak jadi tidak bisa mengundurkan diri " ucap Karen


" Em.. baiklah Tidak apa-apa " ucap Jesi


" Kita sudah sampai... ayo keluar " ajak Karen


" Oh ia Bu... " ucap Jesi


" Jangan panggil saya ibu, panggil saya Nona " ucap Karen dengan nada sombongnya


" Baik Nona " ucap Jesi


" Aku merasa Nona Karen ini... sepertinya dia punya hubungan dengan CEO tadi " batin Jesi


Tok... Tok... Tok...


" Masuk "


" Tuan... Saya kesini bersama dengan Jesi " ucapnya Karen


" Wah ruangannya bagus sekali " ucapnya Jesi dalam hatinya


" Sudah cukup melihat ruangan ku yang bagus ini " ucapnya


" Eh.. kenapa dia bisa tahu " batin Jesi


" Mejamu ada di depan ruangan ini, nanti Fadli akan menyiapkannya.. " ucapnya melihat pada Sang asisten


" Baik Tuan " ucap Fadli


" Panggil saya Tuan Rifa " ucapnya dengan bangganya


" Baik Tuan Rifa " ucap Jesi


" Rifa... nama yang sering ku dengar dan juga wajahnya tidak asing bagiku " batin Jesi


" Sekarang keren bisa keluar dari ruangan ini " ucap Rifa


" Baik Tuan " ucap Karen kesal


" Apa dia tidak kangen padaku setelah beberapa hari tidak bertemu " batin Karen


" Fadli siapkan Semuanya " ucap Rifa pada sang asisten


" Baik Tuan "


Fadli keluar dari ruangan itu, tersisa hanya Jesi dan Rifa. Rifa menjelaskan tentang apa saja yang harus dan tidak boleh Jesi lakukan padanya.


" Saya bukan orang yang suka basa basi.. saya akan mengatakan jika pelarutan nomber satu.. Bos tidak pernah salah... ingat bisa tidak pernah salah " ucap Rifa


" Cih, namanya juga manusia.. pasti bisa salah lah " batin Jesi


" Kalau Tuan salah " tanya Jesi


" Ingat pelarutan nomber satu " ucapnya Rifa sambil tersenyum jahat


" Apakah aku bisa tahan padanya " batin Jesi


" Pelarutan yang ke dua.. kamu jangan menanyakan hal pribadi padaku... atau kamu jangan mencampuri kehidupan pribadi ku " ucap Rifa


" Baik Tuan " ucap Jesi


" Apapun yang kamu dengar dari dalam ruangan ku jangan sekali-kali membocorkan sesuatu pada karyawan lainnya" ucap Rifa


" Baik Tuan " ucap Jesi


" Memang dia siapa sampai aku harus mencampuri kehidupannya.. aku tidak ada kerjaan apa.. sampai-sampai harus begitu " batin Jesi


" Bagaimana jika Tuan memerintah saya untuk melakukan sesuatu yang tidak benar " ucap Jesi


" Jangan terlalu percaya diri, aku tau maksudmu... kamu dengar ya aku Rifa tidak akan tergoda pada wanita seperti mu... " cibir Rifa


" Baik Tuan " ucap Jesi


" Syukurlah, aku tidak mau jika dia memerintah ku sesuatu yang di luar batas pekerjaan " ucap Jesi dalam hatinya


" Itu tiga pelarutan yang penting, untuk pelarutan yang lainnya akan di berikan oleh Fadli " ucap Rifa


" Baik Tuan " ucap Jesi


" Sebelum Mejamu selesai kamu harus mengerjakan ini dokumen di sana " ucap Rifa menunjuk sofa yang diduduki Jesi


" Baik Tuan " ucap Jesi sambil tersenyum


" Kita lihat saja apa kamu masih bisa tersenyum disaat seperti ini... " batin Rifa


" Sial, sial, sial, baru hari pertama kerja eh udah di kerjain saja sama Tuan Rifa, dasar CEO ga ada ahlak " ucapnya Jesi dalam hatinya


Rifa kini sibuk dengan pekerjaannya sama seperti Jesi, mereka tampak serius tanpa ada suara sepatah kata pun. Suasana berubah menjadi seram.


Tok... Tok... Tok...


" Masuk "


" Tuan Meja Nona Jesi sudah saya siapkan " ucap Fadli


" Bagus kalau begitu saya permisi Tuan " ucapnya Mesi


" Mau kemana " tanya Rifa


" Ke meja saya Tuan " ucap Jesi


" Tidak boleh kamu harus Disni mengerjakan tugasmu " ucap Rifa


" Tapi Tuan " ucap Mesi terpotong


" Apa Kamu tidak ingat pelarutan nomber tiga, atau pura-pura lupa " bentak Rifa


" Maafkan saya Tua " ucap Jesi


" Kembali bekerja " ucap Rifa dingin


" Baiklah Tuan " ucap Jesi


" Dia bukan hanya galak ,tapi tukang membentak... kesal kan jadinya " batin Jesi


" Dia bikin emosiku naik saja.. " batin Rifa


" Untuk pertama kalinya, aku melihat Tuan seperti hidup kembali, ia merasakan sedih senang, dan bahkan galak kembali " batin Fadli


Jesi melanjutkan pekerjaannya kembali, sama seperti Rifa dan Seno, mereka menyelesaikan pekerjaannya dengan serius.


Namun sesekali Rifa terlihat melirik Mesi yang berada di hadapannya berada beberapa meter denganya.


" Apa apa denganku... aku seperti pernah melihatnya.. tapi aku lupa dimana " batin Rifa


" Tapi dia menarik juga ketika dia serius bekerja, hanya saja pakaiannya membuat mataku sakit " batin Rifa


.


.


.


.


Bersambung....


Jangan Lupa dipencet tombol Like....Komen..... dan Vote ......


Biar saya lebih semangat nulisnya..


Saya ucapkan banyak-banyak Terima kasih pada kalian semua yang sudah mampir ke Novel Ku dan memberikan Like....Komen..... dan Vote ......


So... Ikuti terus kisahnya...


Jangan bosen-bosen ya .....


Semoga Allah SWT membalas kebaikan kalian semua.... jangan lupa jaga kesehatan ya guyz