
Rafa sedang membukakan pintu mobil untuk mempersilahkan Jesi untuk masuk kedalam mobilnya
" Silahkan sayang " ucap Rafa sambil tersenyum
" Terima kasih " ucap Jesi sambil tersenyum
Ketika keduanya masuk kedalam mobil, tiba-tiba pintu belakang mobil seperti ada yang membuka, ketika dilihatnya ada Rifa yang membuka pintu dan duduk di kursi belakang, Rafa dan Jesi pun bingung di buatnya.
" Kenapa naik mobil milik ku " ucap Rafa
" Aku ikut ke kantor.. telat nih " ucap Rifa
" Turun dari mobilku " ucap Rafa
" Tidak mau " ucap Rifa
" Turun atau aku seret kamu turun " ucap Rafa
" Semua fasilitas yang di berikan oleh Ayah dan kakek di cabut.. masa ia aku cuma di kasih motor butut... apa kata dunia wakil direktur naik motor " ucap Rifa
" Itu bukan urusanku " ucap Rafa
" Kamu kakak ku harusnya bantu adikmu yang sedang kesusahan " ucap Rifa
" Aku tidak peduli " ucap Rafa
" Kejam sekali... lihat Jesi betapa kejamnya Kakak ku, kamu masih mau menikah dengannya " ucap Rifa
" Apa maksud mu " bentak Rafa
" Sial, dia malah bilang begitu sama Jesi.. apa maksudnya coba " batin Rafa
" Semoga saja dengan hukuman itu dia jera " batin Jesi
" Ini semua pasti gara-gara Rafa yang mengadu sama Kakek... hari ini benar-benar Sial " ucap Rifa dalam hatinya
" Lebih kejam Kau di banding Rafa, setidaknya dia bertanggung jawab tidak seperti mu " sindir Jesi
" Sial Jesi malah menghinaku " batin Rifa
" Memang dia brengsek sayang " ucap Rafa dengan tersenyum senang
" Jangan mengobrol terus... cepat jalan ke kantor " ucap Rifa dengan wajah kesal
" Sial, memangnya Aku supirku... turun sekarang juga aku tidak mau berbelas kasihan padamu " ucap Rafa
" Astaga Kakak jangan begitu... hari ini kita ada Meting penting loh " ucap Rifa
" Ia sayang sebaiknya kita segera berangkat, nanti kita terlambat bertemu dengan Klien " ucap Jesi
" Baiklah sayang, tapi aku tidak akan ngebut, aku takut terjadi apa-apa denganmu dan kandungan ku " ucap Rafa
" Ia sayang " ucap Jesi
Jesi dan Rafa saling berpandangan, apalagi Rafa terlihat mengelus perutnya Jesi yang masih rata dan belum terlihat seperti sedang hamil.
" Ternyata benar, ini hari sial ku, malah melihat mereka tampak mesra di depanku... Jesi juga tidak menolak tangan Rafa yang memegang perutnya, apa dia lupa... aku kan anak dari anak itu.. Kenapa aku jadi tidak rela begini " batin Rifa
Rafa segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan pun Rafa menanyakan takutnya Jesi mengidam atau ingin makan sesuatu.
" Sayang, kalau kamu mau makan apapun bilang padaku " ucap Rafa sambil tersenyum
" Ia sayang " ucap Jesi
" Lebay.. Emangnya Jesi ga punya uang atau memang terlalu manja sehingga beli makanan pun harus sama kamu Ka " ucap Rifa pada Rafa
" Jesi kan sedang hamil, ibu hamil biasanya ngidam.. kalau tidak terlaksana nanti baunya akan ngences terus " ucap Rifa
" Aku saja tidak tau " ucap Jesi
" Aku akan menjadi suami siaga mu sayang " ucap Rafa
" Terima kasih " ucap Jesi
" Itu tahayul " ucap Rifa
" Terserah kamu mau percaya atau tidak " ucap Rafa
" Aku tidak boleh kalah sama Rafa, aku akan mencari tau apa saja yang biasa dimakan ibu hamil " batin Rifa sambil tersenyum
" Apa kamu mau bubur.. atau nasi uduk " tanya Rafa
" Enak juga Nasi kuning " ucap Rifa
" Aku tidak mau makan apapun, masih kenyang " ucap Jesi
" Tapi sayang kamu tadi hanya makan roti saja " ucap Rafa
" Nanti kalau aku lapar pasti akan makan " ucap Jesi
" Baiklah sayang... ingat sekarang di perut mu ada bayi kamu harus makan yang banyak dan tidak boleh telat makan " ucap Rafa
" Itu pasti " ucap Jesi
" Kenapa Rafa perhatian sekali dengan Jesi... aku tidak bisa membiarkan ini semua terjadi " batin Rifa
Mereka pun kini sudah sampai di kantor, Rafa segera membukakan pintu mobilnya lalu menuntun Jesi masuk kedalam perusahaan bersama dengannya sambil berpegangan tangan, sementara Rifa terlihat kesal dengan sikap mereka.
" Professional dong " ucap Rifa
" Kenapa, sirik saja " ucap Rafa
" Dia benar-benar sudah cinta mati sama Jesi sepertinya, tapi aku tidak suka jika anak ku di besarkan oleh orang lain " batin Rifa
Rifa memang sebelumnya menyuruh Fadli untuk mengumpulkan para staf di ruang Meting.
" Kita langsung ke ruang Meting Tuan, Semuanya sudah menunggu Tuan " ucapnya Fadli
" Baik " ucap Rifa
" Kenapa mendadak begini, ada apanya.. lalu ini bukanya Kakak Tuan Rifa " batin Fadli
Mereka berempat segera menuju ruang Meting yang ternyata para staf sudah berkumpul dari dari
Saat Mereka berempat masuk kedalam Ruang Meting suasana jadi sepi dan langsung memberi hormat pada mereka.
" Pagi Semuanya " Sapa Rifa
" Pagi Tuan " jawab mereka
" Duduk semunya " ucap Rifa membuat semua saraf duduk termasuk, Fadli, Mesi dan Rafa
" Hari ini saya akan mengumumkan sesuatu yang sangat penting pada kalian " ucap Rifa meskipun sebenarnya dia malas tapi dia mencoba untuk profesional
" Perkenalkan Ini kakak Saya bernama Rafa, beliau yang akan menjadi direktur utama di perusahaan ini, sementara saya Akan jadi wakil direktur " ucap Rifa
" Baik Tuan " ucap Mereka
" Silahkan giliran mu perkenalkan diri " bisik Rifa pada Rafa
" Pagi semuanya " ucap Sapa Rafa
" Pagi Tuan " jawab mereka
" Perkenalkan nama saya Rafa, saya yang akan menjadi direktur utama di perusahaan ini... mohon kerjasamanya untuk kalian semuanya " ucap Rafa
" Baik Tuan " ucap Mereka
" Karena saya tidak suka jika waktu bekerja terganggu maka kalian boleh pergi sekarang " ucap Rafa
" Baik Tuan " ucap Mereka langsung berhamburan pergi dari ruangan itu
" Astaga, Rifa bisa juga bersikap seperti tadi, itu keren dia kelihatannya tegas " batin Jesi memandang wajah Rafa
" Sudah puas lihat wajahku yang ganteng ini " ucap Rafa menggoda Jesi
" Astaga " ucap Jesi kaget lalu tersenyum
" Kalian benar-benar pasangan terlebay " ucap Rifa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
" Oh ia, Siapa namamu " tanya Rafa pada Fadli
" Saya Fadli Tuan... " ucapnya
" Kamu pergi ke bagian Hrd dan ambilkan data karyawan yang ada di perusahaan ini " ucap Rafa
" Dia bukan asisten mu... dia asisten ku " ucap Rifa
" Dia bekerja disini untuk ku... kamu hanya sakit direktur... " ucap Rafa
" Tapi Dia... orang kepercayaan ku " ucap Rifa
" Kalau begitu gaji dia.. kamu yang bayar " ucap Rafa
" Sial... dia menggambil Asisten ku juga... ini tidak adil... pertama mengambil Fasilitas ku, lalu mengambil Jesi dan sekarang asisten ku " batin Rifa
" Baiklah ambil.. aku mau pergi keruanganku dulu " ucap Rifa