
Hari sudah menjelang pagi, namun Deon masih betah dengan matanya yang tertutup.
Masih terlihat jelas bekas cekikan di lehernya yang tampak menghitam ada bekas seperti terbakar, Rania sengaja hanya membersihkannya dengan air hangat dan mengoleskan salep luka bakar tanpa membalutnya dengan perban. agar luka itu cepat mengering nantinya.
Nendra dan Syalfa duduk berdampingan menghadap ke arah tempat tidurnya yang kini di tempati Deon , di sampingnya Rania masih setia menunggu Deon dengan raut wajah khawatir.
Karina dan Mario juga duduk di kursinya masing -masing.
"Kenapa menjadi semakin berbahaya, mereka sudah berani menyerang kita secara langsung. bahkan kalian juga bisa melihatnya secara langsung" Syalfa mulai mengeluarkan rasa penasarannya.
"Iya , bukankah kita hanya bisa melihatnya saat berada di dunia mereka saja? tapi kenapa di luar dunia mereka kita masih bisa melihatnya dengan jelas.bahkan mereka bisa kesini ?" tanya Nendra yang juga tak habis pikir.
"Mungkin ini alasannya, jika salah satu dari kita membawa sesuatu yang berasal dari dunia mereka. maka dengan mudah mereka bisa datang kapanpun dan menemukan keberadaan kalian" Mario mengeluarkan pendapatnya.
"Memang apa yang kita bawa dari tempat itu?" tanya Syalfa .
"Yang pertama Rania yang entah sengaja atau tidak tengah menjalin hubungan dengan seorang pangeran Ular sampai hamil. kedua Syalfa sudah mengambil salah satu bagian batu permata biru yang ada di kerajaan siluman Buaya dan Ketiga Kalian sudah membebaskan aku dari sana yang merupakan kekuatan utama yang saat ini mereka manfaatkan untuk kelangsungan di tempat keabadian itu.tanpa kekuatan ku tempat itu bagai hutan tanpa cahaya".
"Benar juga, Dan sekarang mereka ingin mengambil apa yang sudah kita ambil. Terutama Janin yang Rania kandung, karena anak-anak dari keturunan pangeran ular bukanlah anak biasa apa lagi sang ibu juga bukan memiliki keistimewaan bukan?" ucap Karina.
"Lalu, bagaimana selanjutnya? " tanya Syalfa .
"Bertahan. kita hanya bisa bertahan dan saling melindungi satu sama lain. sampai Anak kalian hadir nanti".
Karina menatap wajah sahabatnya satu persatu. terlihat jelas Syalfa ,Nendra dan Mario ketiganya tampak tidak nyaman mendengar perihal tentang Anak. terutama Mario. Karina tahu cinta segitiga ini memang benar- benar meresahkan hati.
" Ingat hanya anak kalian yang bisa mengakhiri ini semua, tidak perlu aku jelas kan panjang lebar kalian juga pasti masih ingat bukan ? berusahalah" Karina menepuk bahu Syalfa." Aku pamit" .
Karina menghilang meninggalkan Sepasang suami istri yang tampak terdiam satu sama lain dengan pemikiran mereka yang berbeda. Satu sosok tampan yang ada di sana juga bangkit dari duduknya .
"Emm, Aku juga harus kembali" Mario menatap Syalfa dan Nendra bergantian . Lalu beralih menatap Rania. ketiganya mengangguk mempersilahkan.
Mario juga menghilang meninggalkan mereka.
"Apa kita bawa saja Ka Deon ke rumah sakit? aku khawatir lukanya serius" tanya Rania .
" Tapi di rumah sakit , bukankah justru disana tempatnya mereka semua. itu malah nanti malah memperlambat pemulihannya. mereka bisa saja terus mengganggu di tambah lagi jika ada serangan susulan. lihat saja kamar mu itu, sudah seperti terkena bencana alam saja" kata Syalfa.
"Benar juga" .
"Kita panggil saja Dokter kemari untuk memeriksanya" ucap Nendra memberi saran.
"Aku rasa perlu, karena ini sudah 3 hari dia tidak pulang. walaupun Deon tinggal di apartemen tapi setiap hari dia akan ke tempat Om dan tante walau hanya sebentar. biar aku yang mengabarinya".
"Iya Ka".
Nendra langsung menghubungi orang tua Sahabatnya itu .
"Hallo Om"
"Ya Ndra, tumben kamu menghubungi Om pagi-pagi sekali. ada apa?" tanya seseorang dari balik sana. terdengar jelas suaranya yang serak . pasti papa nya Deon terbangun karena Telfonnya.
"Maaf Om , Saya mengganggu istirahat Om "
"Iya tidak apa Ndra, sepertinya penting"
"Iya Om, saya mau kasih tau. jika saat ini Deon sedang Sakit Om".
"Deon sakit? sakit apa Ndra? dimana dia sekarang?" tanya papa Deon khawatir.
"Saya kurang tahu Om, tapi Nendra menemukan Deon sudah tidak sadarkan diri. ada bekas cekikan di lehernya" Ucap Nendra sedikit berbohong.
"Apa! " pekik suara di sebrang sana terkejut." Om dan tante akan segera kesana sekarang juga. kirim alamat tempat kalian sekarang Ndra".
Tut tut tut..
Telfon di matikan sepihak, Nendra menghela nafasnya berat. bingung memikirkan alasan apa yang nanti ia ucapkan pada kedua orang tua sahabatnya. dia tahu bagaimana papa Deon yang sulit untuk di bohongi.
"Kenapa?" tanya Syalfa yang melihat Nendra nampak bingung.
Orang tua Deon akan kesini, aku bingung bagaimana menjelaskan tentang ini nanti" ucapnya lesu.
"Kita jelaskan saja sejujurnya" jawab Syalfa.
"Tidak mungkin mereka akan percaya. pasti itu terdengar konyol bagi mereka".
"tentang percaya atau tidak itu urusan mereka, tidak baik berbohong pada orang tua".
" Baiklah" jawab Nendra pasrah.