
arav tersenyum menatap wajah cantik rania yang sudah terlelap setelah kegiatan panas mereka.
"aku berharap kau segera hadir disini" kata arav mengusap perut rata rania.
kemudian berbaring memeluk tubuh polos rania yang berbalut selimut hingga menyuusul rania ke alam mimpi.
***
deon menatap gadis berbulu itu dengan tatapan kesal , ini sudah hari ke empat berada di tempat asing dengan makhluk cantik namun bisu yang selalu mengikutinya kemana pun kakinya melangkah.
bisu? ya, selama 4 hari mengikutinya. sudah berulang kali deon menanyakan siapa dirinya dan selalu mengumpat karena tidak pernah mendapat jawaban. di tambah, sosok aneh itu selalu saja mengikutinya kemanapun.
deon berjalan melihat sekeliling. pohon - pohon yang menjulang tinggi. hampir si setiap pohon yang dilihatnya terdapat bulu burung.
" sebenarnya aku dimana? kenapa disini banyak sekali bulu burung?" kata deon.
Kruyuk
Kruyuk
deon memegang perutnya yang berbunyi, " aah aku lapar" kata deon.
deon berhenti mendadak karena melihat sesuatu di atas pohon.
BRUGH
"hei, kenapa kau menabrakku! sudah kubilang, jangan mengikutiku lagi! menyusahkan saja!" omel deon menoleh pada wanita aneh yang menabrak punggungnya.
sedangkan yang menabrak hanya mengelus jidatnya yang berdenyut nyeri. lalu menatap deon lekat.
" Oh God, tatapan itu lagi" dengus deon yang melihat tatapan polos wanita aneh namun cantik itu.
deon mengalihkan pandangannya kembali ke atas pohon.
" hei kau! bukankah kau seekor burung aneh yang bertubuh manusia? kau sudah menyusahkanku dengan selalu mengikutiku. bahkan kau selalu mengganggu tidurku yang selalu mengusap pipi tampanku. sekarang kau harus melakukan sesuatu untukku" kata deon berkacak pinggang menatap wanita aneh itu.
sedangkan yang di ajak bicara menatap deon dengan pandangan seolah tak mengerti yang deon katakan.
lagi lagi deon berdecak kesal." apa kau lihat di atas pohon sana" tunjuknya pada sebuah pohon besar tidak jauh dari tempatnya berdiri." kau ambilkan aku buah itu! aku lapar! cepat!" perintah deon dengan sedikit mendorong bahu wanita aneh tapi cantik itu.
wanita itu menjawab dengan anggukan, lalu mulai mengibaskan sayapnya terbang ke atas pohon.
" waah, dia memang jelmaan burung" kata deon yang melihat sayap besar di punggung wanita mengepakan sayapnya terbang ke atas pohon.
***
nendra mengerjapkan matanya menyesuaikan penglihatannya yang sedikit buram.
" dimana aku?" katanya menatap ke sekeliling, dia berada di sebuah goa , namun goa itu sangat indah. ada cahaya berwarna kuning yang terpancar dari bola berwarna kuning di setiap sudut ruangan. di dinding goa itu ada tumbuhan dengan beberapa bunga berwarna warni.
" kenapa aku berada di tempat ini? sebelumnya. aku berenang di sungai mencari syalfa . lalu, aku di serang sekumpulan lintah dengan gigi tajam yang berhasil menghisap darahku cukup banyak, aku melawannya hingga berhasil kabur. tapi karena kehilangan banyak darah tubuhku lemas dan kepalaku terasa berputar, membuatku terpaksa singgah di sebuah batu besar di tepi sungai. lalu, perlahan aku tak sadarkan diri" kata nendra yang mulai mengingat apa yang di alaminya sebelum berada di tempat ini.
" kau sudah sadar tampan?" suara wanita membuat nendra segera tersadar dari lamunannya.
nendra menatap wanita bergaun putih . wajahnya cantik, kulitnya putih bagai porselen, senyumannya mempesona.
nendra menatap wanita itu datar, dia sudah terbiasa dengan wanita- wanita cantik yang selama ini mengelilinginya merebut perhatiannya. walaupun kali ini wanita di hadapannya memang sangat cantik dari wanita- wanita yang berusaha mengejarnya. tapi di hatinya sudah ada syalfa, dia tidak tertarik dengan wanita cantik manapun, termasuk yang di hadapannya sekarang.
" siapa kau!" tanya nendra balik bertanya tanpa menjawab perkataan wanita cantik yang kini meletakan nampan berisi makanan ke atas nakas.
wanita cantik itu menoleh dan memberikan senyuman manis yang selalu membuat hati lelaki manapun bergetar karena pesonanya.
" aku baru pertama kali, melihat lelaki yang tak terpesona denganku. dia berbeda, sangat tampan dan tegas. aku menyukainya" batin wanita cantik itu menatap nendra tak berkedip.
" berhenti menatapku! aku tanya sekali lagi, siapa kau!" bentak nendra dengan suara sedikit meninggi.
" maafkan aku tampan, namaku alcira. kau bisa memanggilku cira" jawab wanita itu dengan suara lembutnya.
" dimana aku? tempat apa ini?" tanya nendra
" kau sekarang berada di kediamanku. di negeri rubah putih" jawabnya jujur.
" rubah putih? kau..?"
" iya, aku siluman rubah" .
" kenapa aku bisa berada disini?" tanya nendra.
" aku menemukanku di tepi sungai dengan kondisi tak sadarkan diri. tubuhmu dingin dan pucat dengan beberapa luka di kaki tangan juga lehermu. sepertinya aku kehilangan banyak darah, maka dari itu aku membawa dan merawatmu di kediamanku" jawabnya dengan tetap menampilkan senyum manisnya.
" ya, aku ingat itu. terimakasih" ucap nendra dengan suara mulai melembut.
" tidak perlu, aku senang membantumu. boleh aku tau siapa namamu? tidak mungkin kan, aku selalu memanggilmu tampan" canda cira.
" nendra" jawabnya singkat