
"Bagiamana ini?" Syalfa berjalan mondar mandir sambil menggigit kuku nya. Matanya sesekali melirik Rania yang belum juga sadarkan diri.
"Tenanglah dulu , sebentar lagi pasti dia siuman" Galen dengan sabar terus membujuk Syalfa agar tenang. tapi gadis itu masih saja gelisah dengan berjalan mondar- mandir, kadang duduk dan berdiri lagi.
"Bagaimana aku bisa tenang Ka Gal, Bagaimana bisa Rania Hamil ? aku benar-benar tidak habis fikir" Syalfa berkata dengan frustasi ."Rania belum Menikah, bagaimana bisa hamil?!". Syalfa duduk sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah.
"Lebih baik kita tunggu dia sadar, kita akan mendapat kan jawabannya nanti" Kali ini Deon membuka suaranya.
***
"Dimana aku?" Rania melihat kesekelilingnya, melihat banyaknya pohon disana sini , seperti tidak asing dengan tempat yang kini dipijaknya.
Rania berjalan melewati beberapa pohon yang bentuknya sama menurutnya bahkan ada lubang di tengah-tengah pohon. aneh bukan? langkah kaki nya terhenti ketika mendengar suara air yang mengalir. tangannya perlahan membuka semak belukar yang menutupi penglihatannya.
"ECH , ada sungai?" Rania menatap ke sumber air yang terlihat begitu jernih. di tengah sungai ada Seorang Lekaki yang cukup tampan sedang duduk di atas sebuah batu besar. Ada 2 bayi di gendongannya. di bawah batu besar yang di dudukinya ada banyak sekali Ular yang berenang,ada yang bergelung dibatu. dan ada juga yang berada di dekat kaki lelaki tersebut.
Tiba-tiba mata lelaki itu menatap Rania yang masih berdiri mengintip di semak belukar.
"Aku ketahuan!" Kata Rania dalam hati.
"Kemarilah!" Lelaki itu berucap dengan nada lembut memanggil Rania untuk mendekat.
Rania masih diam di tempatnya sambil menengok ke kanan dan ke kiri, lalu menengok lagi ke belakang.
"Apa dia memanggilku?" tanya Rania dalam hati ketika dilihatnya tidak ada seorang pun disana kecuali dirinya sendiri.
"Iya, aku memanggilmu . Kemarilah" lelaki itu kembali berucap, seakan tahu apa yang di katakan Rania dalam hati.
"eech iya" jawab Rania sedikit Ragu.
Rania berjalan melewati beberapa semak belukar , dengan langkah Ragu rania berjalan mendekat melewati beberapa Batu kecil di tepi sungai, hingga langkahnya berhenti saat di dekat kakinya ada seekor ular yang berdiri menghadapnya.
Rania menelan salivanya sedikit ngeri melihat ular kobra berwarna hitam berada dekat sekali dengannya.
"Tidak apa-apa dia tidak akan melukaimu, percayalah" suara lelaki itu kembali terdengar membuat Rania kembali berjalan melewati ular kobra hitam tadi.
" Naiklah dan duduk di dekatku" perintahnya lagi, Rania yang mendengarnya entah kenapa tidak bisa menolak, tangannya menggapa bagian batu yang sedikit menonjol untuk dia pegang. hingga berhasil berada di atas batu.
"Lihatlah" lelaki itu memeperlihatkan bayi yang berada di gendongannya.
"Wah, dia sangat lucu" kata Rania tersenyum menatap dua bayi di pangkuan lelaki itu.
Rania dengan senang hati menerima bayi mungil itu.
Emuach.
Rania mengecup kening bayi mungil itu dengan sayang, entah kenapa hatinya menghangat melihat bayi di gendongannya.
Saat sedang asik menggoda bayi di gendongannya, tiba-tiba beberapa ular kecil di depan lelaki itu berjalan mendekat ke arah Rania, membuat Rania takut, bahkan ular yang berwarna kuning berjalan merayap ke kaki Rania.
"ACh jangan mendekat hust..hust" Rania histeris mengepakan kakinya.
"Tenanglah, dia hanya ingin kamu mengelusnya saja. dia juga anakmu Rania, mereka anak kita" kata Lelaki itu sambil mengambil ular kecil berwarna kuning yang melingkar di kaki Rania.
"Ma maks sudnya? anak kita?" tanya Rania bingung.
"Iya, ular yang berada di dekatku,juga yang ku pegang ini adalah anak-anak kita, dan 2 bayi ini juga anak kita Rania".
"Tidak! itu tidak mungkin! kita bahkan tidak saling mengenal" Rania menggeleng tak percaya.
" Namaku Arav Suamimu di dunia Ular, Aku adalah pangeran ular. kita sudah menikah, saat kamu berada di duniaku. aku mohon pertahankanlah kandunganmu , apapun yang terjadi. aku tahu ini berat bagimu, suatu saat anak-anak kita akan menjadi anak yang hebat. mereka akan menjagamu, saat mereka lahir ini lah wujud asli mereka, hanya ada 3 bayi manusia dan yang lain adalah ular sepertiku , tapi di usianya yang menginjak dewasa, mereka bisa menjadi setengah manusia seperti aku sekarang".
Rania masih diam mengamati beberapa ular di sekitar Arav yang katanya adalah suaminya. dan Rania kembali menatap wajah bayi di gendongannya juga Arav.
"Katanya ada 3 bayi, tapi disini hanya ada 2? dan, kenapa aku tidak mengingat apapun jika kita sudah menikah?" tanya Rania, walaupun merasa Ragu ,tapi dia juga cukup penasaran. terlebih Rania merasa seperti memeiliki ikatan dengan Bayi dalam gendonganannya dan juga ular -ular disana. seperti bisa berbicara dengannya.
"Aku tidak bisa menjawabnya, suatu saat pasti kamu akan mengetahuinya".
WUUSH
tiba-tiba 2 bayi dan beberapa ekor ular di dekat mereka menghilang menjadi sebuah bulatan kecil seperti balon yang berwarna warni kemudian terbang mendekat ke arah Rania, bulatan kecil itu Masuk ke dalam perut Rania.
"Aaaaaaach" Rania berteriak sambil terduduk, bulir-bulir keringat membajiri wajahnya.
"Akhirnya kau sadarkan diri juga" Syalfa berjalan mendekati Rania yang masih ngos- ngosan seperti sehabis mimpi buruk.
"Aku dimana?" Rania menatap sekeliling ruangan, ah ternyata sekarang berada di kamarnya.
"Apa tadi aku sedang bermimpi? kenapa sepertinya nyata sekali?".