
Rania beranjak meninggalkan ruang tamunya yang katanya ramai itu. entahlah berapa banyak makhluk yang ada disana Rania tidak peduli. bahkan saat kakinya melewati sebuah kursi kecil yang terus bergeser kesana kemari. Rania menatap ke kursi kecil itu. walaupun tidak bisa melihat makhluk apa yang menggerakannya? tapi Rania juga merasakan keberadaannya. dia tidak khawatir sama sekali tentang keberadaan mereka di rumahnya karena mereka bagian dari hutan terlarang dan tentu di bagian kekuasaan aki wicak. Rania yakin makhluk yang berada di tangan ki wicak bisa di percaya.
"Minggir dong, kalau mau main di pojok sana" tunjuknya pada lorong dekat tangga.
Setelah Rania mengucapkan itu, kursi kecil di depannya kembali bergerak sediri menuju ke arah yang Rania tunjuk.
Rania cengengesan ternyata enak juga ya, ngatur-ngatur hantu. biasanya kan mereka yang di gangguin terus. ya, itung-itung pembalasan.
Kakinya kembali berjalan menuju ke tujuan awal yaitu Kulkas. saat sudah berada di depan kulkas , tangannya terulur untuk membuka pintu. namun kulkas di hadapannya malah goyang-goyang.
Rania menoleh ke arah lain, lalu menatap ke lampu gantung yang tak jauh dari sana. tapi aman-aman saja, gak ada gempa. tapi kulkasnya ko bisa goyang sendiri?
Rania mendengus, ulah hantu lagi. hantunya lagi lapar kali ya, tau aja di kulkas banyak makanan. tapi jangan sampai kue tar kesukaannya di embat. oh tidak! dia sudah sempat merayu Syalfa untuk memakan makanan itu lagi, awalnya sahabatnya itu bersih keras agar Rania tidak memakan kue itu lagi. karena saat itu Rania sudah habis hampir 8 potong. terlalu banyak kata Syalfa, dan itu tidaklah baik.
Nah sekarang, mumpung sahabatnya lagi sibuk di sana. Rania ingin makan kue nya kembali. sebelum kembali untuk bergabung membicarakan permasalahan yang rumit itu. tentu Rania butuh asupan gizi bukan? ada anaknya di dalam sini. perlu makan berkali kali lipat biar perut kenyang, mikir juga lancar, hati pun senang.
"Hei hei" Rania memukul mukul pintu kulkas. "kamu itu kenapa goyang goyangin kulkas? Laper kamu? jangan di minta makan disini, aku ga punya makanan hantu. minta sana sama si aki, pasti bawa kembang tujuh rupa banyak tuh, aku ga punya stok kembang. jadi minggir- minggir" tangannya mengibas- ngibas seakan mengusir seekor kucing.
bukannya berhenti mendengar ocehan Rania, kulkasnya malah bergoyang lebih kenceng.
"AKI!!!!! " teriak Rania yang sudah jengkel.
"Ada apa?"
"AKII!!" Rania kembali memanggil aki, lama-lama merinding juga dia .
"Aki sedang bersama yang lain, biar aku bantu ada apa?" terdengar suara kembali menyahut.
"Siapa kamu?" tanya Rania memberanikan diri
"Aku Hena"
"Oooh, itu apa kamu tidak lihat. kulkasku bergoyang-goyang? cepet ajak tuh temenmu pergi. jangan disitu, kalau laper kasih tuh dia makan kembang, biar ga nyari makanan di dapurku lagi" seru Rania.
"Baik"
setelah mendapat jawaban dari Hena, kemudian kulkas itu kembali tenang. Rania tersenyum lebar lalu mulai kembali membuka pintu kulkas.
Rania melihat kue tar nya yang tinggal separuh,"Yes! kue kuh masih aman" tangannya bergegas mengambil dan langsung memakannya dengan nikmat.
Setelah selesai makan kue, Rania mencuci tangannya sampai bersih dan meminum segelas air putih .
"emm, kenyang!" Tangannya mengusap-ngusap perutnya yang masih datar itu." ahh senangnya" Rania bersenandung kecil kakinya kembali melangkah menuju ruang tamu. tempat semua orang masih berkumpul disana.